Search This Blog

Labels

alam (8) amal (45) anak (315) anak yatim (75) bilingual (21) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (85) dhuafa (6) for fun (12) Gene (168) guru (68) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (32) hukum (57) hukum islam (52) indonesia (487) islam (543) jakarta (27) kekerasan terhadap anak (371) kesehatan (94) Kisah Dakwah (13) Kisah Sedekah (9) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (22) KPK (12) Kristen (14) lingkungan (18) mohon bantuan (13) muallaf (51) my books (2) orang tua (11) palestina (33) parenting (2) pemerintah (99) Pemilu 2009 (36) pendidikan (497) pengumuman (23) perang (9) perbandingan agama (12) pernikahan (11) pesantren (48) politik (111) Politik Indonesia (29) Progam Sosial (15) puasa (35) renungan (188) Sejarah (5) sekolah (94) shalat (11) sosial (281) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

26 August, 2026

Berhutang, Ingin Bunuh Diri?

Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin saya nasehati seorang pria di Indonesia yang berpikir untuk bunuh diri karena “punya hutang”. Jumlahnya puluhan juta, dan itu cukup membebani dia sampai menjadi depresi dan ingin mati. Saya jelaskan: Dunia ini tidak nyata! Cepat atau lama, kita akan masuk kuburan. Jadi uang memang dibutuhkan, tetapi jangan sampai uang menjadi “raja” yang mengatur pola pikir kita. Allah Maha Kaya. Bukan “Lumayan Kaya”. Saya bertanya, “Apa tidak mungkin Allah berikan uang tambahan besok?” Dia jawab (dengan suara kecil dan lemas), “Iya, bisa saja...” Tetapi ketahuan dari intonasi suaranya bahwa dia tidak yakin!

2. […] Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya,
3. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. […]
(Surah At-Thalaq 65:2-3)

Saya habiskan beberapa jam untuk motivasi dia. Saya bahas orang yang lebih menderita, yang badannya cacat, yang sakit keras, yang hidup di zona perang, dsb. Mereka masih bisa bertahan. Dan apakah nanti enak di dalam kuburan? Bisa bawa laptop? Ada wifi? Ada kopi? Kalau menghabiskan masa ribuan tahun di situ, dan hanya bisa berpikir (atau menyesal), coba menghitung APA yang dibawa sebagai “tiket masuk Surga”? Dia setuju, lebih baik menambahkan amal dan ibadah sekarang. Saya suruh dia main ke panti asuhan dan bermain dengan anak-anak itu. 

Banyak orang putus asa secara mudah, menjadi depresi, berhenti shalat, merasa marah pada Allah, atau bahkan berpikir untuk bunuh diri. Tetapi kuburan itu BUKAN suatu tujuan yang perlu dikejar, karena nanti juga datang sendiri. Yang perlu dilakukan setiap hari bukan memikirkan penderitaan yang terasa sekarang, tetapi memikirkan betapa untungnya kita karena masih diberikan waktu untuk menambahkan amal ibadah. 

87. “[…] dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.”
(QS. Yusuf 12: 87)

Saya jelaskan bahwa uang yang saya bawa dari Indonesia sudah habis, dan sekarang pakai kartu kredit terus. Ketika pergi naik taksi ke acara pemakaman, saya sempat memikirkan biayanya, lalu ingat bahwa dunia ini tidak nyata, dan Allah Maha Kaya. Jadi saya bismillah dan berangkat. Uang memang dibutuhkan, tetapi jangan biarkan uang mengatur niat baik kita. Allah Maha Kaya. Bukan “Lumayan Kaya”. 

Saya di negara asing sekarang, jauh dari tempat yang menjadi kampung halaman saya selama 30 tahun. Jauh dari komunitas Muslim, masjid, dan makanan halal. Uang saya sudah habis, dan saya juga berhutang lebih dari dia! Jadi seharusnya sayalah yang telfon dia, dan menangis, dan bilang ingin bunuh diri. Kok saya malah tenang, dan dia yang stres? Bedanya di mana? Bedanya adalah saya lebih yakin pada Allah daripada dia. Kalau punya uang, atau tidak ada uang, kita harus tetap yakin pada Allah, dan berusaha melakukan kebaikan setiap hari. 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang membantu seorang Muslim menghilangkan kesulitan yang ada pada dirinya dari kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan hilangkan baginya kesulitan dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat kelak. [...].” (HR Muslim)

Dia berterima kasih kepada saya dan merasa wajib balas budi. Saya jelaskan. Dia tidak perlu membalas apa pun. Saya membantunya karena Allah. Jadi Allah yang akan berikan balasan kepada saya. Semua bantuan yang dia terima itu berasal dari Allah, bukan dari saya. Allah yang mengirim saya untuk menolong dia. Jadi kalau umpamanya ada teman yang mengirim pembantunya untuk jemput dia, dan bawa ke hotel bintang 5, dan di kamar hotel sudah disiapkan uang, makanan, dan pakaian mewah sebagai hadiah, maka dia TIDAK PERLU berterima kasih kepada pembantu itu. Dia harus berterima kasih kepada TEMANNYA yang MENGIRIM pembantu tersebut. 

Jadi Allah yang merupakan “temannya”, dan Allah yang berbuat baik kepadanya. Saya hanyalah hamba Allah yang sampaikan bantuan tersebut, atas nama Allah. Jadi dia bisa membalas pertolongan Allah itu dengan menjadi Muslim yang baik, yang ramah dan mulia, dan selalu siap membantu orang lain. Dan Allah akan menjadi senang dengannya karena dia bersyukur dan paham bahwa pertolongan itu berasal dari Allah, bukan dari pembantu (manusia) di depannya. 

Semoga bermanfaat sebagai renungan, terutama bagi orang yang terbebani oleh masalah ekonomi. Ingat: Allah Maka Kaya. Bukan Lumayan Kaya. Jangan pernah berputus asa terhadap Rahmat dari Allah. Dan jangan pernah berpikir bahwa Uang Allah sudah habis, dan anda tidak akan bisa terima lagi. Allah Maka Kaya. Bersabar dulu, dan berdoa, dan YAKIN pertolongan Allah akan datang pada waktunya yang sudah ditentukan sebelum anda lahir. Allah Maha Kaya dan Maha Kuasa. Dan di kuburan tidak ada kopi, jadi buat apa mau pergi ke sana dengan cepat?! 

Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto


 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...