Monday, March 24, 2008

Bersikap baik pada ilmu dan nasehat dari orang lain


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ada teman di milis yang bertanya tentang hukum patung karena ada info dari teman/saudara bahwa patung tidak boleh dalam Islam. Dia sendiri sudah diberitahu tentang hal ini oleh orang lain, tetapi dia abaikan ilmu/nasehat itu. Saya mengirim komentar kepadanya seperti di bawah ini (namanya dihapus). Mungkin bermanfaat buat yang lain juga.

*****

Saya ingin sedikit komentari kalimat kamu yang ini:

“Terus ada juga beberapa teman yg bilang seperti itu [=patung dilarang] tapi aku gak peduli sambil membantah”

Kalau diberikan nasehat, atau ilmu, dari orang lain, kenapa sikap pertama yang keluar adalah membantah? Kalau kamu tahu bahwa ilmu kamu terbatas, mungkin lebih baik terima dulu sambil mencari klarifikasi dari sumber yang lain. Saya juga sering mengalami hal yang sama, di mana ada orang lain (termasuk juga guru saya Kyai Masyhuri) yang menyampaikan ilmu tentang Islam, tetapi saya tidak merasa yakin pada penjelasannya. Karena itu, dan karena sering terjadi, akhirnya saya membentuk sikap di mana saya terima dulu, dengan banyak bertanya2 kepada orang itu, dan setelah pulang saya mencari informasi lagi di internet. Saya juga suka telfon/sms ustadz yang lain dan bertanya kepada mereka. Setelah mendapatkan informasi yang sama dari 3 ustadz yang saya kenal dan hormati, akhirnya saya terpakasa menerima kenyataan bahwa saya salah, dan bantahan saya hanya berasal dari hati saya dan latar belakang saya, dan bukan sesuatu yang timbul dari ilmu Islam yang dalam.

Saya anjurkan agar kamu membangun sikap dan sifat yang sama. Kalau ada info baru dari teman, terima saja dulu dan banyak bertanya kepadanya. Kalau dia sekedar ngomong saja padahal tidak tahu, maka pasti akan cepat ketahuan (karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan lagi). Tetapi kalau dia bisa menjawab, dan bersikap yakin pada apa yang dia sampaikan, tidak usah menolak, tetapi terima dulu sambil mencari konfirmasi dari orang lain (misalnya dengan bertanya di milis kita).

“Terus pamanku melarang di rumah ada patung2 dengan dalih " nanti malaikat enggan masuk ke rumah kita." katanya.

Aku membantah lagi...(dalam hati) . " masa gara2 benda2 itu, malaikat gk mau masuk ke rumah padahal kan masih ada yg sholat, ngaji, dll di rumah.”

Di sini kelihatan lagi. Paman sudah nasehati dengan baik, tetapi daripada terima saja dulu, kamu cepat menolak, padahal tidak punya ilmu tentang itu.

Di sini kelihatan suatu sikap yang sedikit berbahaya buat kita semua, yaitu sikap “Masa begitu?”

Kata kamu, “masa gara2 benda2 itu, malaikat gk mau masuk ke rumah padahal…” Kalau tidak hati-hati, sikap ini bisa menjadi berbahaya terhadap aqidah kita (seperti yang telah terjadi pada orang JIL).

Contoh:

Masa Allah yang Maha Penyayang mau bakar orang di neraka tanpa ampun? Masa begitu?

Masa ada orang baik-baik (non-Muslim) yang berdoa, terus doanya tidak diterima oleh Allah? Masa begitu?

Masa tidak ada Nabi lagi setelah Muhammad SAW padahal kita sangat membutuhkan seorang nabi baru yang sesuai dengan zaman ini? Masa tidak ada?

Masa Al Qur’an tidak boleh ditulis kembali sehingga sesuai dengan zaman ini? Masa tidak boleh diperbarui?

Dan seterusnya. Sikap “masa begitu?” ini tidak berasal dari ilmu, dan bukan hasil analisa. Ini semata-mata nafsu manusia yang bicara, dan kalau kita terlalu banyak mendengarkannya, maka kita bisa menjadi sesat dengan cepat sekali.

Kalau kita mau berbeda pendapat dengan orang lain tentang ilmu agamanya, maka itu boleh, tetapi lebih baik kalau kita juga menggali ilmu dan berdebat dengannya dengan cara yang mulia untuk sama-sama mencari kebenaran. (Bisa jadi kita lebih paham dan bisa mengajar dia, atau bisa jadi dia yang lebih paham dan bisa mengajar kita.)

Niat yang baik untuk menggali ilmu dengan cara seperti itu tidak akan terwujud selama kita bersikap “masa begitu?” saja.

Di lain waktu, kalau ada teman yang memberikan nasehat kepada kamu, coba terima saja dulu, dan bertanya-tanya kepada teman itu (perkara itu dikaji lebih dalam). Pikirkan. Cari informasi sendiri di internet (misalnya, cari di Eramuslim, atau Syariah Online, dan sebagainya) dan bertanya kepada ustadz atau teman yang lain yang ilmu agamanya lebih tinggi.

Setelah itu, kamu harus merasa yakin terhadap apa yang telah disampaikan oleh teman/saudara itu dari awalnya, kalau memang sesuai dengan apa yang didapatkan dari semua sumber yang lain. Dan setelah itu, kamu berstatus sebagai orang yang punya ilmu (tentang perkara itu). Dan karena itu, kamu juga punya kewajiban untuk menyampaikan ilmu itu kepada orang lain di lain kesempatan. Jangan anggap diri kamu masih “tidak tahu/tidak paham” kalau sudah pernah mengkaji suatu perkara dan sudah puas dengan jawaban/solusi/hukum yang telah dipelajari.

(Jadi, di lain hari, kalau ada teman kamu yang bertanya tentang hukum patung di dalam Islam, Insya Allah kamu berani untuk menjawab karena kamu sudah belajar dan sudah paham.)

Semoga bermanfaat.

{Kalau ada yang mau baca tentang hukum patung, silahkan lihat di sini, antara lain: Larangan Patung -Syariah Online.}

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene


No comments:

Post a Comment