Search This Blog

Labels

alam (8) amal (45) anak (315) anak yatim (75) bilingual (21) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (84) dhuafa (6) for fun (12) Gene (168) guru (68) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (32) hukum (57) hukum islam (51) indonesia (487) islam (541) jakarta (27) kekerasan terhadap anak (371) kesehatan (94) Kisah Dakwah (13) Kisah Sedekah (9) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (22) KPK (12) Kristen (14) lingkungan (18) mohon bantuan (13) muallaf (49) my books (2) orang tua (11) palestina (33) parenting (2) pemerintah (99) Pemilu 2009 (36) pendidikan (497) pengumuman (23) perang (9) perbandingan agama (12) pernikahan (11) pesantren (48) politik (111) Politik Indonesia (29) Progam Sosial (15) puasa (35) renungan (187) Sejarah (5) sekolah (94) shalat (11) sosial (281) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

28 April, 2008

Hamas Kecam Rencana Gus Dur Menghadiri Perayaan 60 Tahun Israel

Rabu, 23 April 2008

Daripada merayakan penjajahan Israel terhadap Palestina, lebih baik menjenguk dan membantu 1,5 juta rakyat Palestina di Gaza yang sedang kelaparan dan krisis bahan bakar, karena diblokade Israel. Demikian pendapat Dr Musa Abu Marzuk, Wakil Kepala Biro Politik Hamas dalam Wawancara Khusus dengan Hidayatullah.com.

Hidayatullah.com--Rencana mantan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid untuk menghadiri perayaan 60 tahun berdirinya negara Zionis Israel, bulan Mei mendatang, dikritik oleh tokoh pejuang kemerdekaan Palestina, Dr Musa Abu Marzuq.

Ditemui oleh Hidayatullah.com di kantornya di Damaskus beberapa jam yang lalu, Abu Marzuq, yang menjabat Wakil Kepala Biro Politik Hamas (Gerakan Perlawanan Islam untuk Kemerdekaan Palestina) menyebut rencana itu, "sungguh-sungguh memalukan."

Menurut Abu Marzuq, merayakan 60 tahun berdirinya Zionis Israel sama halnya merayakan pembantaian, pengusiran, perusakan kebun-kebun dan penjajahan atas rakyat Palestina dan Masjidil Aqsa.

"Bagaimana mungkin seorang Muslim seperti Abdurrahman Wahid tega ikut serta merayakan kezaliman atas saudara-saudara Muslimnya sendiri?" tukasnya.

Menurut Abu Marzuq, kalau Presiden AS George Bush menghadiri perayaan seperti itu, dirinya masih bisa memahami, tapi kalau seorang bekas presiden dari sebuah bangsa Muslim terbesar di dunia yang melakukannya, "sungguh memalukan."

Dr Musa menyarankan kepada tokoh-tokoh Indonesia untuk datang sendiri melihat keadaan saudara-saudaranya di Gaza.

"Sudah berbulan-bulan, 1,5 juta saudara-saudara Anda, terutama anak-anak, saat ini hidup tanpa bahan bakar, tanpa obat-obatan dan makanan yang sangat terbatas karena diblokade oleh Zionis Israel," jelasnya.

Namun, Abu Marzuq mengingatkan, bahwa Israel tidak mungkin memberikan izin kepada siapapun untuk menyaksikan kekejaman mereka atas para penduduk Gaza.

"Minggu lalu, bekas (Presiden AS Jimmy) Carter juga dilarang Israel masuk ke Gaza," katanya.

Karena masuk ke Gaza tidak mungkin, saat ini, ia menyarankan para tokoh Muslim Indonesia agar mengunjungi para pengungsi Palestina di Yordania, Mesir dan Suria. "Ada 6 juta saudara-saudara Anda bangsa Palestina yang sekarang diusir oleh Zionis Israel dan terpaksa hidup di pengungsian," katanya.

Menanggapi langkah-langkah pemerintah Otoritas Palestina di bawah Mahmud Abbas yang menambah terus jumlah "duta besar" Palestina di berbagai negara, Abu Marzuq mengatakan, bahwa dirinya tak merasa ada masalah dengan itu.

Sejak sepuluh tahun silam, sudah lebih dari seratus negara yang memiliki duta besar atau perwakilan PLO. "Yang terpenting," kata Abu Marzuq, "para duta besar itu bekerja untuk kepentingan kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa Palestina. Jangan sampai mereka memperkeruh suasana dengan menjelek-jelekkan kelompok tertentu yang mengakibatkan lemahnya persatuan bangsa Palestina."

Ketika berkunjung ke Indonesia beberapa bulan silam, Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas di depan tokoh-tokoh Indonesia menyebut Hamas sebagai "kriminal". Namun Abu Marzuq enggan menanggapi pernyataan-pernyataan yang bernada kampanye hitam itu.

Menurutnya, apapun yang dikatakan oleh Mahmud Abbas tentang Hamas, tidak akan banyak pengaruhnya bagi kepentingan Palestina.

"Sebab dunia sudah bisa menyaksikan," ujarnya, "siapa yang benar-benar bekerja untuk kemerdekaan Palestina, dan siapa yang hanya bikin masalah."

Menurut Abu Marzuq, saat ini ada upaya keras untuk membangun citra, seakan-akan Gaza di bawah Hamas adalah Korea Utara yang kacau-balau dan pemerintahnya salah urus. Sedangkan Tepi Barat adalah Korea Selatan yang modern dan kaya raya.

"Tapi kami ingin menyampaikan, bahwa prioritas pekerjaan kami adalah rekonsiliasi rakyat Palestina, keselamatan mereka dan dikembalikannya hak-hak mereka di manapun mereka berada," kata Abu Marzuq.

Sejauh ini Mahmud Abbas telah melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Zionis Israel Ehud Olmert sebanyak 51 kali. "Hasilnya bukan saja nol, malah semakin buruk," simpul Abu Marzuq.

Dr Musa Abu Marzuq lahir di Gaza tahun 1951. Setelah menyelesaikan kesarjanaan tekniknya di Universitas Ayn Syams, Kairo ia bekerja di bidang industri di Uni Emirat sampai tahun 1981. Sepuluh tahun kemudian ia menyelesaikan studi S-3 di Amerika Serikat.

Di Biro Politik Hamas (Harakah Muqawwamah Al-Islamiyah), Abu Marzuq adalah wakil dari Khalid Misy'al yang pernah diwawancarai majalah Suara Hidayatullah, edisi September 2006.[Dzikrullah, Khadijah, dan Kaisya Fatina (fotojurnalis) dari Damaskus/www.hidayatullah.com]

Sumber: Hidayatullah.com

27 April, 2008

Irak, dari 1001 Malam ke Sejuta Janda

Senin, 7 April 2008 | 15:01 WIB

SEBUAH mobil meledak di sebuah kios es krim yang sangat populer di Baghdad. Api membakar bangunan di sekitarnya sedangkan pecahan bom menembus tubuh-tubuh manusia tak berdosa yang kebetulan berada di situ. Tujuh belas orang tewas dan puluhan lainnya luka.

Serangan bom pada hari pertama bulan Agustus 2007 itu hanya sehari dua menghiasi halaman koran-koran di seluruh dunia. Setelah itu segera dilupakan orang, karena tersaji berita-berita serangan berikutnya yang kadang menelan korban lebih banyak.

Namun insiden itu mengubah nasib Maysa Sharif (28). Seketika itu juga ia bergabung dengan hampir sejuta perempuan Irak lain yang menjadi janda karena suami mereka terbunuh dalam tiga kali perang dan era Saddam yang bergelimang darah.

Besarnya jumlah janda itu menjadi malapetaka tersendiri bagi Irak yang entah kapan menjadi negara damai. Tanpa jaring pengaman sosial dan lapangan kerja yang sangat minim, para janda itu tidak banyak punya pilihan untuk menghidupi keluarganya dan sangat tergantung pada belas kasihan orang lain yang lebih beruntung.

Maysa sedang hamil lima bulan dan pagi itu ia sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya ketika ledakan itu menggetarkan rumahnya di pusat Baghdad. Ia langsung lari ke tempat suaminya, Hussein Abdul-Hassan menjaga kios rokoknya. Laki-laki itu dilihatnya sudah tergeletak di tanah.

"Pecahan bom menembus badannya dan kepalanya terkuak. Mata dan mulutnya juga terbuka," kata Maysa menuturkan pengalamannya pagi itu.

"Sebenarnya saya ingin memeluknya, tapi polisi menyeret saya menjauh. Mereka khawatir ada ledakan susulan," tambahnya.

Mimpi buruknya belum berakhir. Saif, anak laki-lakinya yang baru berusia 7 tahun, waktu itu ikut sang ayah berjualan. Bocah itu tidak ditemukannya. Ia baru mendapat kabar, Saif meninggal di rumah sakit ketika jenazah sang suami sedang diantar untuk dimakamkan di kota suci Najaf.

Iring-iringan jenazah lalu balik ke Baghdad, lalu meletakkan jenazah Saif di peti yang sama. "Mereka melarang saya melihat jenazah anak saya. Saya juga dilarang ikut ke Najaf, karena saya sedang hamil. Saya tidak percaya Saif meninggal, sampai saya kemudian menerima surat kematiannya," katanya.

Maysa kini tinggal bersama tiga anaknya, Ali (10), Tabarak (2) dan Abdullah yang namanya dipilih Hussein malam sebelum kematiannya. Mereka tinggal di sebuah kamar di rumah kakak ipar Maysa di pusat Baghdad.

Bagaimana masa depan Maysa dan ratusan ribu janda lain di Irak? Tidak jelas. Dengan prioritas perjuangan pemerintah sekarang untuk melepaskan diri dari krisis politik dan perang yang memasuki usia enam tahun, maka rintihan perempuan seperti Maysa jelas terabaikan.

Menurut hasil survei Samira al-Moussawi, anggota parlemen yang dikenal dengan pembelaannya terhadap para janda, jumlah janda di seluruh Irak mencapai 738.240 orang. Rentang usia mereka mulai dari 15 tahun hingga 80 tahun pada Januari 2007. Jumlah itu hasil hitungan sejak perang Iran-Irak 1980-1988. Termasuk di dalamnya yang ditinggal suami yang meninggal secara alami.

Menteri Urusan Perempuan Nirmeen Othman mengingatkan bahwa persoalan ini bisa menjadi krisis sosial di masa damai. Ia memperkirakan jumlah janda di Irak sekarang 1,3 juta. Generasi berikutnya pasti terancam, katanya.

Sebuah sekolah dasar baru saja dibuka untuk menampung 640 anak yatim piatu di Sadr City, Baghdad. Kepala sekolahnya, Asma Karim mengatakan, mereka berada di situ karena tidak ada jaminan masa depan bila terus tinggal di rumah.

"Orang-orang tersisa yang mau merawat anak anak ini lebih memikirkan bagaimana mereka bisa bertahan hidup, soal pendidikan nomor kesekian," kata Asma.

Al-Moussawi, geolog yang beralih menjadi politisi, mengaku kewalahan dengan permintaan bantuan, termasuk 448 surat yang dikirimkan ke kantornya baru-baru ini dalam sebuah kantong plastik dari kawasan Syiah, Diwaniyah. "Tidak ada satu pun strategi. Kalau pun ada strategi untuk mengatasi masalah sosial ini adalah untuk kaum perempuan, bukan anak-anak," katanya.

Ia sekarang sedang mengajukan program berbiaya 1 juta dolar (sekitar Rp 9 miliar). Jumlah yang sangat kecil bagi negara kaya minyak seperti Irak yang anggaran belanjanya mencapai 48 miliar dolar AS. Program itu untuk memberikan pendidikan keterampilan bagi para janda dan meningkatkan pendapatan mereka. Sayangnya kabinet menolak program itu.

Umm Hiba (38) ibu dua anak yang tinggal di utara Baghdad menyalahkan diri sendiri atas kematian sang suami. Waktu itu, 27 Januari 2007, ia menyuruh suaminya ke pasar membeli yogurt untuk makan malam yang sedang dimasaknya. Sebuah mortir mengakhiri hidupnya.

"Itu salah saya. Kalau saya tidak menyuruhnya, dia pasti masih hidup bersama anak-anak," katanya sambil menangis dan menggendong anak laki-lakinya yang baru berusia 2 tahun.

Bersama anak perempuannya yang berusia 7 tahun, mereka tinggal di kamar belakang sebuah rumah. Di rumah itu ia tinggal juga ibu mertua yang buta dan keluarga lain. Ia membangun sebuah kamar mandi dan dapur darurat di situ.

Keluarga dan tetangganya mengumpulkan uang untuk biaya pemakaman suaminya. Namun ia terpaksa menjual furnitur untuk membeli domba untuk kurban peringatan satu tahun kematian laki-laki itu. Harga domba untuk menjalankan tradisi itu tidak cukup dibeli dengan uang pensiunnya yang cuma 62 dolar per bulan.

Umm Hiba mengaku selalu gagal mendapat pekerjaan. Setiap lamaran kerja selalu berakhir dengan penolakan. Sebenarnya ia masih bisa bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sekolah. Namun ia ogah. "Saya punya ijazah SMA. Malu kan kerja seperti itu," katanya.

Uang pensiun itu semakin lama makin tidak bisa mencukupi untuk membeli makanan dan pakaian yang harganya terus naik. Di Irak semuanya mahal, kecuali nyawa manusia yang sangat murah," katanya.

Sebagai perbandingan, ketika Saddam masih berkuasa, janda korban perang akan mendapat jatah tanah, biaya pemakaman dan uang pensiun yang cukup.

Suami Jalila Hasan, Kadhum Mohammed berusia 29 tahun waktu ia tewas dalam perang Iran-Irak. Waktu itu Jalila masih berusia 17 tahun dan mendapatkan pensiun. Bahkan pemerintah memberinya pilihan pesangon, mobil atau uang tunai dengan jumlah setara. Jalila memilih yang kedua. "Dibanding sekarang, dulu kami lebih diperlakukan lebih baik. Tidak dibiarkan dalam kemelaratan," katanya.

Jalila yang sekarang tinggal bersama ibunya di Sadr City masih mendapatkan pensiun 80 dolar per bulan, tetapi nilainya sekarang sudah merosot jauh.

Afifa Hussein ditinggalkan sang suami Uraibi Hamid (58) yang tewas ditembak orang tak dikenal 14 Juli lalu di Samara. Tinggallah sekarang Afifa dengan delapan anaknya. Ia harus berjuang merawat dua putranya yang cacat dan seorang putrinya yang sakit-sakitan. Untuk mendapatkan uang tambahan bagi keluarganya, putranya yang berusia 19 tahun menjadi sopir taksi, sebuah profesi yang amat berbahaya di Irak sekarang.

Seorang putrinya putus sekolah karena tidak ada biaya, sedangkan satu putra lainnya yang trauma keluar dari rumah itu dan tinggal bersama keluarga di tempat lain.

Kisah memilukan lain meluncur dari mulut Badriyah Hamid (40), perempuan Syiah dengan 10 anak. Ia bekerja hingga larut malam di sebuah sekolah di desa Rashidiyah yang didominasi warga Sunni pada 23 Mei 2007. Saat itu ia mendengar suaminya, Fadhil Jafar, tewas ditembak dan mayatnya dibuang di pinggir jalan.

"Saya lari ke tempa itu bersama semua anak saya, kami memeluk mayatnya. Dia ditembak enam kali di punggung dan kepalanya," kata Badriyah.

Pembunuhan itu membuat salah satu putranya menderita amnesia, tidak bisa lagi membaca dan menulis, sehingga dikeluarkan dari sekolah. Namun sebagai keturunan Kurdi yang tangguh, Badriyah tidak menyerah begitu saja pada keadaan.

Lalu ia mengajak seluruh keluarganya pindah ke rumah keluarga suaminya. Namun ia kemudian khawatir anak-anak perempuannya akan dipaksa kawin dengan anak laki-laki keluarga itu. Jadi dengan uang sumbangan para tetangga ia pindah dari situ ke sebuah rumah dua kamar bersama anak-anaknya.

Untuk menyambung hidup, ia kadang-kadang mendapat pekerjaan sebagai petugas kebersihan, namun tetap saja uang yang dihasilkan tidak cukup. Ia khawatir, tanpa suami, anak-anaknya menjadi tidak terkendali, misalnya menjadi pengedar narkoba atau pengaruh buruk lainnya.

"Suami saya adalah segalanya dalam hidup saya. Tanpa dia, hidup ini terasa sangat sulit, karena tidak ada yang bisa membantu dan tidak ada yang bisa mengisi celah yang ditinggalkannya. Di samping harus mengatasi persoalan keuangan, saya juga harus menjaga moral anak-anak saya dan melindungi mereka dari lingkungan yang jahat," kata Badriyah.

Kisah Masya, Jalila, Afifa dan Badriyah secara total mengubah gambaran Irak sebagai negeri indah yang digambarkan dalam Kisah 1001 Malam. Kini Irak menjadi negeri sejuta janda dengan berjuta-juta anak yang tidak jelas masa depannya. Kalau saja perang berakhir, belum tentu penderitaan para janda ini turut berakhir.(AP)

Sumber: Kompas.com

23 April, 2008

Zalimnya Pemerintahan Ini…


26 Mar 08 13:54 WIB

Oleh Rizki Ridyasmara

Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik utuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.

Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. “Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?” tanya saya.

Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. “Gak ada minyaknya…”

Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. “Saya bingung… saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa… modal gak ada…keterampilan gak punya….” Pak Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.

“Maaf dik saya menangis, saya benar-benar bingung… mau makan apa kami kelak.., ” ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya.

Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. “Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini …”

Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.

Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. “Dik, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja… “ Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.

"Dik, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati... mungkin kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah..." Pak Jumari menerawang.

Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.

Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.

Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut ‘anggaran negara’ digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah!

Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa zalimnya pemerintahan kita ini!

Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.

Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan… Di tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.

Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. “Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta…” Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. Alhamdulillah, saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.

Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar… Mudah-mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di mahkamah akhir kelak… Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah…

Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah...

Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat... Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal...

Amien Ya Allah…

Sumber: Oase Iman di Eramuslim

22 April, 2008

Tawaran Reality Show Digunakan untuk Perkosa Anak


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Apa kira-kira yang bisa terjadi bila anak kecil menjadi sangat yakin bahwa mereka bisa masuk reality show, menyanyi atau menari sebentar, dan langsung menjadi kaya dan terkenal? Anak yang menjadi korban di dalam berita ini, tidak ditawarkan uang saja. Tetapi mereka ditawarkan ‘mimpi’ menjadi idola masyarakat. Mungkin ‘mimpi’ itu lebih kuat dorongannya dan nilai jualnya dari sekedar uang tunai saja.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

***************************

Serang - Firman Hadisusanto alias Valentino Vario (23), pemilik Sanggar Tari Ananda Sriwijaya, Kompleks Pipitan, Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang yang didakwa mencabuli 12 anak remaja umur 11-13 tahun, dihukum penjara lebih ringan 2 tahun dari tuntut Tri Megawati, Jaksa Penuntut Umum (JPU) 8 tahun penjara, dengan alasan tidak menggunakan kekerasan.

Oleh : Lulu Jamaludin

Keringanan dari tuntutan ini diberikan Majelis Hakim yang terdiri dari Masrimal, Ito Suhud dan Bambang DS, diantaranya karena dalam persidangan terbukti tidak ditemukan kekerasan atau ancaman pada korban. Valentino hanya membujuk rayu mereka mengikuti kemauan terdakwa. Selain itu, dari 12 anak remaja korban pencabulan Valentino, hanya 5 anak yang benar disodomi. Sisanya disuruh memegang kemaluan terdakwa.

“Kami sependapat dengan JPU, terdakwa melanggar Undang-Undang (UU) No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 82. Tapi, karena hanya lima yang disodomi dan tidak ditemukan kekerasan oleh terdakwa pada korban, diputuskan hanya 6 tahun penjara. 2 tahun lebih ringan dari tuntutan JPU,” kata majelis hakim.

Juga keterusterangan Valentino, pemuda asal Lampung dan penyesalannya dan janjinya tidak akan melakukan perbuatan yang sama, menjadi pertimbangan Majelis Hakim meringankan hukuman terdakwa. “Juga terdakwa berjanji kepada Allah, tidak akan mengulangi lagi,” ucap Masrimal. Selain hukum 6 tahun penjara, Valentino, mantan Satpam PT Eltri, Cikande itu didenda sebesar Rp40 juta dan biaya perkara Rp1.000.

Sidang beragendakan putusan majelis hakim, berlangsung setengah jam. Semua pengunjung menyimak serius amar putusan yang dibacakan hakim. Salah satu pengunjung memakai kerudung hitam dan baju hitam, sejak awal hingga selesai dibacakannya putusan, selalu menangis. Anaknya salah satu korban sodomi Valentino.

Atas putusan ini, JPU, terdakwa maupun Mufti Rahman, kuasa hukum terdakwa, belum menyatakan keberatan. “Kami pikir-pikir majelis,” kata Mega.

Dewi, salah satu orang tua korban mengatakan, kecewa dengan putusan hakim. Perbuatan terdakwa sudah jelas merusak jiwa, fisik dan masa depan korban. “Hukumannya kurang tinggi, masak cuma 6 tahun,” katanya.

Terbongkar Karena Ledekan

Perbuatan sodomi dan pencabulan Valentino yang kerap dipanggil om Tino dilakukan di sanggar tarinya, Ananda Sriwijaya Blok B No 3, Komplek Puri Citra Pipitan, Desa Pipitan, Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang.

Sejak Juli ~ Desember 2007 , Valentino telah melakukan pencabulan terhadap MM (12), YM (12), AP (12), IR (12), IS (11), GY (13), DA (12), AL (12), GB (13), AW (11), KK (12) dan SN (12). Semuannya anggota Seni Tari milik Valentino.

Mereka diiming-imingi bisa masuk televisi, jika mau melakukan perbuatan pencabulan atau sodomi. Anak-anak yakin dengan kemampuan Valentino memasukan mereka ke acara televisi, karena sebelumnya Sanggar Tari Ananda Sriwijaya pernah mengikuti acara reality show pencari bakat pemain lenong di sebuah televisi swasta.

Setelah berlatih lenong atau kabaret di sanggar tari Ananda Sriwijaya, salah satu anggota sanggar diminta memijat badan Valentino. Kemudian disuruh membelai badan Valentino. Terakhir diminta memasturbasi dan mengoral alat vital Valentino. Jika memungkinkan, Valentino memaksa melakukan sodomi. Jika ada anak yang menolak kemauan Valentino, ia mengancam mengeluarkan mereka dari sanggar dan tidak diikutsertakan dalam acara reality show lenong.

Semua korban saling mengetahui perbuatan terdakwa pada dirinya masing-masing. [Tetapi karena begitu besar keinginan mereka masuk reality show, mereka diam dan nurut!] Sehingga diantara mereka sendiri dan Valentino terbiasa saling ledek menggunakan kata-kata jorok yang menggambarkan perlakuan Valentino pada mereka.

Awal Desember 2007, entah kenapa Valentino tidak bisa menerima ledekan dari anggota-anggota sanggarnya. Terutama ledekan dari MM, sehingga Valentino menamparnya.

Kakak MM melihat kejadian tersebut dan memahami arti kata-kata yang dilontarkan MM. MM didesak oleh kakak dan orangtuanya untuk menceritakan kejadian sebenarnya. Akhirnya MM mengaku telah dicabuli oleh Valentino. Kaget mendengar pengakuan MM dan tidak terima anaknya diperlakukan tidak senonoh oleh Valentino, orang tua MM pun melapor ke polisi. (edited by gabriel)

Sumber: Bantenlink.com

21 April, 2008

Kepsek Siapkan “Tim Sukses” UN

JAKARTA - Menjelang pelaksanaan ujian nasional, Bisnis Jakarta menemukan indikasi kecurangan. Modus kecurangan ini dilakukan secara sistematis dan terkoordinasi dengan baik. Sejumlah sekolah swasta di Jakarta membentuk “Tim Sukses UN.” Tim ini dibentuk langsung oleh kepala sekolah dalam sebuah rapat guru. Rapat kemudian menunjuk guru-guru bidang studi menjadi tim inti.

Seorang guru di sekolah swasta di bilangan Jakarta Barat--- yang tidak mau dikorankan namanya--- menuturkan secara detail seluk beluk “Tim Sukses UN” ini. Sekitar dua pekan silam, kepala sekolah tempatnya mengajar mengumpulkan para guru. Guru bidang studi yang diujikan, seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, IPA ditugasi menjadi tim siluman.

Nama-nama mereka sejatinya telah didaftarkan sebagai guru pengawas di sekolah lain. Tetapi, karena masuk tim sukses UN, kehadiran para guru ini akan diganti oleh guru lain atau staf sekolah. “Saya bertugas sebagai pengawas UN di sekolah lain. Pengawasan dilakukan sistem silang. Nanti, pada hari H, saya tidak akan datang ke sekolah tersebut. Nama saya digantikan guru lain. Guru itu akan memakai nama saya. Saya diminta stand by di sekolah pukul 5.30 WIB. Selanjutnya, saya tinggal menunggu instruksi selanjutnya,” tegas guru swasta ini kepada Bisnis Jakarta.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sekolah ini juga membentuk Tim Sukses UN yang sama. Tugasnya mengambil lembar soal dan mengerjakan soal ujian nasional. Selanjutnya, tim ini mendistribusikan kunci jawaban ke murid-muridnya dengan berbagai cara. Salah satunya, siswa diminta pergi ke toilet. Di toilet, guru akan memberikan kunci jawaban. Siswa kemudian diminta mendistribusikan lembar jawaban itu ke teman-temannya.

Modus lain, kata guru ini, lembar jawaban siswa yang sudah dikumpulkan dibuka kembali di ruang kepala sekolah. Saat para pengawas dan tim independen dijamu makan-makan, tim sukses kemudian membuka lembar jawaban siswa. Para guru kemudian mengerjakan soal itu. Jawaban yang salah dihapus dan diganti yang benar. “Targetnya yang penting lulus,” imbuhnya.

Tak cuma itu, para pengawas yang sebagian besar direkrut dari mahasiswa bisa diajak kerja sama. Jika pengawas kebetulan lulusan sekolah tersebut, ia bisa diajak bekerja sama melakukan kecurangan, baik mendistribusikan lembar jawaban atau memberi kesempatan tim sukses membuka lembar jawaban dan dikerjakan kembali oleh para guru.

Untuk pekerjaan berat ini, para guru diberi tambahan honor. “Teman saya guru matematika tahun lalu diberi Rp 1 juta. Tahun ini belum tahu jumlahnya. Saya diminta datang dan mengerjakan soal siswa. Itu saja. Modusnya belum diketahui, bergantung situasi di lapangan,” akunya.

Prinsipnya, ia menolak melakoni tugas ini. Ia pun menyampaikan keberatan. Tetapi, pihak sekolah memaksanya untuk terlibat dalam tim sukses UN ini. Karena belawanan dengan hati nuraninya, ia menceritakan semuanya kepada Bisnis Jakarta. Pada saatnya nanti, ia pun akan menuturkan bagaimana liku-liku tim sukses UN sekolahnya bekerja. “Saya tetap akan bocorkan ke Anda,” akunya. (her)

**************

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Maaf, saya tidak bisa menemukan sumber asli dari artikel ini. Sudah saya carikan di Bisnis-Jakarta.com, tapi tidak ketemu.

Hanya ada post di situs seperti ini.

Yahoo groups

Google groups

Mungkin yang asli sudah dihapus dari situs Bisnis-Jakarta.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

18 April, 2008

Substance Not Sound Bytes


By Ralph Nader

In this year’s presidential campaign, the major media want you to focus on the candidates’ gaffes, their tactics toward one another’s gaffes, the flows of political gossip and four second sound bytes.

Over and over again this is the humdrum pattern. Is Obama an elitist because of what he said about small towns in Pennsylvania? Why do Hillary and Bill exaggerate? Will Bill’s mouth drag Hillary down? Will Barack’s pastor drag him down? What about the gender factor? The race factor? Will they figure?

Who has more experience on Day One? What is McCain’s wizardry over the reporters on the campaign trail? Can McCain project any human warmth? Which state must Hillary win and by what margin to continue in the race?

On the Sunday talk shows, it is the same couple dozen members of the opinion oligopoly. There is Bill Kristol bringing home the neocon bacon with dreary frequency. There is the James Carville/Mary Matalin spouse show featuring their squabbling over ideology.

Meanwhile the daily struggle of the American people, absorbing the results of the power abuses by the rich, powerful and corporate, continues outside this inbred force field of insipid coverage and commentary.

The people hear nothing regarding what McCain, Obama and Clinton will do about runaway drug, gasoline, and heating oil prices, not to mention what these Senators have already not done in these areas of public outcry.

Disintegration is everywhere. Public works are crumbling—schools, clinics, public transit, libraries, drinking water and sewage-treatment plants. Tax dollars are being used to destroy more of Iraq and to subsidize or bail out companies recklessly run by obscenely overpaid CEOs. Public deficits are soaring.

Corporate criminals laugh all the way to the bank and back. Eighty percent of the workers have been falling behind while the growth of the economy, until last October, made the rich richer and the hyper-rich go off the charts.

One of three workers lives on Wal-Mart wage levels. Nearly fifty million Americans are without health insurance. Eighteen thousand of these Americans die each year because they cannot afford health care, according to the Institute of Medicine. The recession deepens.

The corporate giants are abandoning millions of American workers as they move whole industries to dictatorial regimes abroad where political elites dictate wages, ban independent trade unions, and given sufficient grease, reduce other costs for these companies. Only American CEOs are not outsourced in this mad dash for greed and profits.

All our democratic institutions—courts, agencies, legislatures—are bypassed by “pull-down” autocratic trade treaties like the secretive World Trade Organization and NAFTA.

Wall Street operators seethe with reckless risks and then expect Washington to bail them out. Sure, why not? Washington is run by Wall Street executives on temporary job assignment in high government positions. The big corporations are big government.

Consumers are facing rapidly rising food prices, more home foreclosures, and rising rents. They have lost control over their money, as shown by the daily gouging by credit card companies, cell phone operators and the thousands of imposed fees, penalties, and charges, so well described in the new book /Gotcha Capitalism/ by MSNBC reporter Bob Sullivan. Poverty increases.

Each year, about 58,000 Americans die from air pollution (EPA figures), and 100,000 patients lose their lives from medical negligence in hospitals and many more from hospital-induced infections. Have you heard any of the major campaigns pay any attention to these grim casualty levels?

Anxious workers feel shut out – they are disrespected, denied claims, arbitrarily laid off and just plain helpless on the shifting sands and seas of corporate globalization.

Fully 81 percent believe the country is going in the wrong directions. Almost as many believe corporations have too much control over their lives. And 61 percent polled say the major parties are failing.

Now turn on the television and radio coverage of the presidential campaign. How much of the above is reflected in the incessant distractions about tactics, gaffes and the fervid money-raising race?

Can the press and pundits ever be serious if the people do not grab hold of politics and make them become serious about their pleas, their plight and their revulsions? If voters want a concise mission statement, read the preamble to the Constitution, which starts “We the People…” /not/ “We the Corporations….”

There is a responsibility attached to those words.

Source: Nader.org

Kekuatan Asing di Belakang Ahmadiyah?


Jumat, 18 Apr 08 07:00 WIB

Assalamu 'alaikum, pak ustadz.

Saya agak curiga bahwa gerakan Ahmadiyah yang sudah divonis sesat ini tidak kunjung dilarang di Indonesia. Jangan-jangan pemerintah kita ini memang diancam oleh kekuatan asing dan tidak punya nyali untuk melarangnya.

Bagaimana kita memahami situasi seperti ini pak ustadz, mohon pencerahannya, syukran jazila

Wassalam

Sarif

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sejak awal mula sejarah berdiri Ahmadiyah, keterlibatan pihak asing sudah sangat kentara. Penjajah Inggris memang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada gerakan ini di India, serta rela memberikan dana yang tidak terbatas demi tegaknya dakwah Ahmadiyah.

Padahal seluruh ulama di dunia telah bersepakat untuk menyebut bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari agama Islam, karena prinsip dasarnya bertentangan dengan akidah Islam. Yang utama karena menjadikan Mirza sebagai nabi dan menerima wahyu.

Namun Ahmadiyah sangat bermanfaat buat penjajah Inggris saat itu, sebab Ahmadiyah akan membuat jihad dan perlawanan umat Islam terhadap Inggris akan mengendor. Dengan keberadaan Ahmadiyah, penjajah tidak perlu lagi capek-capek menghadapi rakyat, biar saja rakyat dilawan oleh rakyat juga.

Inggris cukup mengadu domba sesama bangsa India, sambil memberikan dukungan penuh kepada aliran sesat Ahmadiyah.

Di dalam buku Tabligh-i-risalat, vol. VII halaman 17, Mirza menulis:

"Aku yakin bahwa setelah pengikut-pengikutku bertambah, maka mereka yang percaya pada doktrin jihad akan makin berkurang. Oleh karena menerima aku sebagai Messiah dan Mahdi maka sekaligus berarti taat pada perintahku, yaitu dilarang berjihad terhadap Inggris. Bahkan wajib atas mereka berterima-kasih dan berbakti pada kerajaan itu."

Jadi sejak awal Ahmadiyah memang alat yang digunakan oleh penjajah Inggris untuk meredam jihad dan perlawanan umat Islam India. Maka kalau sekarang ini Ahmadiyah terkesan dibackingi oleh negara-negara besar, rasanya memang ada benang merahnya.

Sebab buat apa lagi pemerintah merasa takut untuk melarang gerakan Ahmadiyah, kalau bukan karena takut tekanan pihak asing. Pemerintah SBY sekarang ini sudah didukung oleh semua ulama, bahkan Badan Pengawasan Aliran Kepercayaan pun sudah menetapkan bahwa Ahmadiyah itu sesat. Bola sekarang berada di tangan pemerintah.

Logikanya, apa sih susahnya mengeluarkan pengumuman sesatnya Ahmadiyah? Kenapa sebegitu loyo pemerintah untuk melindungi akidah bangsa ini dari paham sesat Ahmadiyah? Jangan-jangan ada apa-apanya.

Maka kalau kita kaitkan dengan keterlibatan penjajah Inggris saat mendirikan Ahmadiyah di India dahulu, rasanya tidak aneh kalau keberadaan Ahmadiyah ini memang didukung oleh kekuatan asing, yang membuat pemerintah kita kelihataan jadi aras-arasan, takut melarang, atau berlagak pilon, atau entah kenapa, yang jelas sikap pemerintah yang plin-plan itu sangat menunjukkan bahwa ada tekanan international dari luar. Entah siapa mereka.

Empat Negara Asing Menekan Indonesia

Dan logika yang kami sebutkan di atas ternyata terbukti. Statemen dari pak Nasarudiin Umar yang menjawab sebagai Dirjen Bimas Islam Departemen Agama secara tegas telah membenarkan teori itu.

"Memang ada empat negara yang mengimbau agar Ahmadiyah tak dibubarkan. Yaitu dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan satu lagi saya lupa. Suratnya ditujukan ke Menteri Agama dan ada tembusannya ke saya." begitu ujar beliau beberapa waktu yang lalu.

Apa yang diungkapkan oleh pak Nasarudin ini sebuah pernyataan jelas dan tanpa malu-malu. Dan semua ini menjelaskan dengan mudah, mengapa sampai hari ini pemerintah masih 'sakit gigi' untuk melarang Ahmadiyah secara terbuka.

Meski pak Nanasrudin mengatakan bahwa pemerintah tidak terpengaruh dengan tekanan itu, namun yang namanya ancaman tetap saja ada dampak psikologisnya. Semakin lama pemerintah bersikap plin-plan, maka semakin membutikan bahwa tekan asing itu memang ada dan berjalan dengan sangat efektif.

Penjelasan Nasarudin kemudian dikuatka oleh ketua MPR-RI, Dr Hidayat Nur Wahid, MA. Dalam salah satu kesempatan beliau mengatakan bahwa manuver beragam yang dilakukan oleh pihak tertentu yang menggangap pembubaran Ahmadiyah sebagai pelangaran HAM dalam beragama perlu dicurigai, karena dikhawatikan itu salah satu cara-cara yang dilakukan pihak asing untuk merusak kedaulatan Indonesia.

"Yang kita khawatirkan itu cara pihak asing untuk melakukan intervensi terhadap kedaulatan Indonesia, melalui pendanaan kepada LSM yang vokal terhadap isu HAM, "ujarnya.

Pemerintah Wajib Melindungi Umat Islam

Padahal seharusnya pemerintah memikirkan nasib 200 juta umat Islam di negeri ini yang agamanya dirusak, diobok-obok, dihina dan dilecehkan oleh kekuatan asing yang anti Islam itu.

Atau jangan-jangan, memang ditunda-tundanya pelarangan itu disengaja untuk memancing terjadinya tindak anarkhi berikutnya. Tujuannya agar stigma bahwa di Indonesia ada Islam ekstrem semakin laku didagangkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan di dunia internasional.

Mirza Ghulam Ahmad: Tipikal Kaki Tangan Penjajah

Sosok Mira Ghulam Ahmad ternyata tipikal seorang yang menjilat kepada pemerintah penjajah Inggris. Kita bisa membuktikan dari tulisan-tulisannya yang menunjukkan kesetiaan, ketundukan serta penyerahan diri totalnya kepada sang penjajah.

Padahal dunia tahu bahwa Inggris tidak lain hanyalah penjajah, yang datang ke India untuk merampas negeri, mengangkangi sekian banyak asset-asset negeri itu, melebarkan kekuasaan serta menjadikan kemuliaan penduduk India menjadi kehinaan.

Namun seorang Mirza malah berpihak kepada penjajah dan tega mengkhianati saudara sebangsanya sendiri. Dia adalah seorang kaki tangan penjajah, yang merelakan dirinya dijadikan alat untuk merobohkan kemuliaan bangsa India. Dalam beberapa bukunya, kita bisa melihat bagaimana sesungguhnya sikapnya kepada Inggris.

Sebagian besar perjalanan hidupku ialah mendukung dan membela pemerintah Inggris... Saya selalu menganjurkan agar setiap Muslim haruslah menjadi pengabdi pada pemerintah ini, dan sanubari mereka janganlah ada sedikitpun niat meniru-niru perbuatan menumpah- numpahkan darah oleh Imam Mahdi atau Messiah yang begitu fanatik memberi ajaran-ajaran bodoh dan sempit." (Lihat Tiryacal-Qulub halaman 15 blirza)

Di lain tulisan, dia juga mengatakan bahwa bangsa India seharusnya berterima kasih kepada penjajah Inggris

"Sesungguhnya tidak menyempurnakan hak atau tidak berterima kasih kamu pada Inggris berarti tidak menyempurnakan hak atau tidak berterima-kasih kamu kepada ALLAH." (Lihat At-Tabligh halaman 41)

Maka sebaiknya pemerintah kita ini segara sadar dan tahu diri, tidak ada gunanya selalu mengikuti kemauan asing. Kenapa sih tidak sekali-sekali mandiri dan punya harga diri.

Jangan mau hanya dijadikan hewan sirkus yang ditabuhi genderang, lalu berjoget mengikuti irama buatan penjajah. Kita sudah merdeka sejak tahun 1945, tapi kenapa mental terjajahnya masih saja melekat. Apakah karena kita terlalu lama dijajah Belanda?

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: Eramuslim

Budaya Saling Memberi Nasehat


Khutbah Jum'at

11/4/2008 | 04 Rabiul Akhir 1429 H |

dakwatuna.com - Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Sering kita dengar dari keterangan dan penjelasan para ulama, para kiayi, ustazd, dan muballigh bahwa tugas paling penting dari para Rasul adalah menyampaikan risalah Allah swt. kepada ummat manusia. Urgensi isi risalah para rasul itu sama, yaitu “agar manusia menyembah hanya kepada Allah dan mengingkari semua bentuk sesembahan selain Allah (thaghut).”

Ternyata selain tugas mulia dan suci ini, para nabi banyak disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai pemberi nasehat. Hal ini disebabkan karena manusia tidak cukup hanya menerima risalah dakwah Islam saja. Akan tetapi juga membutuhkan pemberi nasehat dan peringatan dalam hidupnya, karena manusia adalah mahluk pelupa dan pelalai, bahkan makhluk yang banyak berbuat kesalahan. Oleh karena itu, Allah swt. menyatakan:

Wal ashri, innal insaana lafii khusrin, illalladziina aamanuu wa ‘amilush-shaalihaati watawaa shaubil haqqi watawaa shaubish-shabri.

“Demi masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Asr)

Semangat surat Al-Asr ini menjelaskan keharusan setiap orang untuk beriman dan beramal sholeh, jika ingin selamat baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan iman dan amal sholeh saja ternyata masih merugi, sebelum menyempurnakannnya dengan semangat saling memberi nasehat dan bersabar dalam mempertahankan iman, meningkatkan amal shaleh, menegakkan kebenaran dalam menjalankan kehidupan ini.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Sedemikian pentingnya prinsip “saling memberi nasehat” dalam ajaran Islam, maka setiap manusia pasti membutuhkannya, siapapun, kapanpun, dan di manapun dia hidup. Layaklah kalau dikatakan bahwa “saling memberi menasihat “ adalah sebagai sebuah keniscayaan yang harus ada pada setiap muslim.
Namun sangatlah disayangkan jika ada di antara kita yang menganggap sepele soal nasehat ini. Atau merasa dirinya sudah cukup, sudah pintar, sudah berpengalaman sehingga tidak lagi butuh yang namanya nasehat dari orang lain. Padahal dengan menerima nasehat dari orang lain pertanda adanya kejujuran, kerendahan hati, keterbukaan dan menunjukkan kelebihan pada orang tersebut.

Kalimat “nasaha” yang artinya nasehat, makna dasarnya adalah menjahit atau menambal dari pakaian yang sobek atau berlubang. Maka orang yang menerima nasehat artinya orang tersebut siap untuk ditutupi kekeruangan, kesalahan, dan aib yang ada pada dirinya. Sedangkan orang yang tidak mau menerima nasehat menunjukkan adanya sifat kesombongan, keangkuhan, dan ketertutupan pada orang tersebut.

Saking sedemikian pentingnya nasehat ini, Nabi saw. bersabda:

Dari Abi Amer atau Abi Amrah Abdullah, ia berkata, Nabi saw. bersabda, “Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan orang-orang biasa.” (HR. Muslim)

Dari hadist di atas dapat kita pahami bahwa memberi dan menerima nasehat adalah berlaku untuk manusia, siapapun dia, apapun kedudukan dan jabatannya, tanpa kecuali.

Hadist di atas juga menjelaskan kepada kita bahwa agama akan tegak manakala tegak pula sendi-sendinya. Sendi-sendi itu adalah saling menasehati dan saling mengingatkan antara sesama muslim dalam keimanan kepada Allah, keimanan kepada Rasul, dan keimanan kepada Kitab-Nya. Artinya, agar kita selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dari Allah dan Kitab-Nya dan mentauladani sunah-sunah Rasul-Nya.

Sedangkan bentuk nasehat kepada para pemimpin adalah ketaatan dan dukungan kita sebagai rakyat kepada para pemimpin Islam dalam menegakkan kebenaran, mengingatkan mereka jika lalai dan menyimpang dengan cara yang bijak dan kelembutan, meluruskan mereka jika menyimpang dan salah. Sedangkan nasehat untuk orang-orang biasa adalah dengan memberi kasih sayang kepada mereka, memperhatikan kepentingan hajat mereka, menjauhkan hal yang merugikan mereka dan sebagainya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Di dalam Al-Qur’an, Allah swt. mengisahkan tentang bagainama Nabi Musa a.s., seorang nabi dan rasul yang ternyata dapat menerima nasehat dari salah seorang kaumnya.

wa jaa-a rajulun min aqshal madinati yas’aa, qaala yaa muusaa innal mala-a ya’tamiruuna bika liyaqtuluuka, fakhruj innii laka minan nashihiin. Fakharaja minhaa khaa-ifan yataraqqabu, qaala rabbi najjinii minal qaumizh zhaalimiin.

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: Ya Tuhanku selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzalim itu.” (QS. Al-Qashash: 20-21)

Lalu bagaimana dengan kita yang orang biasa yang bukan Nabi dan Rasul? Sudah barang tentu sangatlah membutuhkan nasehat. Kita senantiasa membutuhkan nasehat dari orang lain. Demikian juga harus bersedia memberi nasehat kepada orang lain yang memohon nasehat kepada kita.

“Hak seorang muslim pada muslim lainnya ada enam: jika berjumpa hendaklah memberi salam; jika mengundang dalam sebuah acara, maka datangilah undangannya; bila dimintai nasehat, maka nasehatilah ia; jika memuji Allah dalam bersin, maka doakanlah; jika sakit, jenguklah ia; dan jika meninggal dunia, maka iringilah ke kuburnya.” (HR. Muslim)

Dengan saling menasehati antara kita, maka akan banyak kita peroleh hikmah dan manfaat dalam kehidupan kita. Akan banyak kita temukan solusi dari berbagai persoalan, baik dalam skala pribadi, keluarga, masyarakat bangsa bahkan Negara.

Karenanya nasehat itu sangatlah diperlukan untuk menutupi kekurangan dan aib yang ada di antara kita. Karena nasehat itu dapat memberi keuntungan dan keselamatan bagi yang ikhlas menerima dan menjalankannya. Karena saling menasehati itu dapat melunakkan hati dan mendekatkan hubungan antara kita. Karena satu sama lain di antara kita saling membutuhkannya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Saling menasehati antara sesama muslim terasa semakin kita perlukan, terutama ketika tersebar upaya menfitnah adu domba antara sesama muslim yang datang dari orang-orang kafir, munafik, dan orang-orang fasik yang ingin melemahkan umat Islam sebagai penduduk terbesar negeri ini. Mereka tidak senang terhadap kesatuan dan persatuan umat Islam.

Demikian pula ketika mendekati hari-hari menjelang pesta demokasi seperti pilkada, pilgub, pemilihan umum, dan sebagainya. Terkadang panasnya suhu politik menyulut sikap orang in-rasional (tidak rasional) dan emosi di tengah masa, bahkan dapat mengarah ke sikap anarkhis dan merusak.

Dalam situasi seperti itu, kita sering lupa akan makna ukhuwah Islam. Lupa tugas amar ma’ruf nahi mungkar dan lupa tugas dan kewajiban untuk saling menasehati dengan cara saling kasih sayang antara kita.

Semoga Allah swt. senantiasa memberikan pemahaman kepada kita akan arti pentingnya saling memberi nasehat antara kita. Semoga kita mampu memberi nasehat dan senang menerima nasehat dari siapapun, selama tidak bertentangan dengan nilai kebenaran dan kabaikan, sehingga kita dapat terhindarkan dari bahaya adu domba dan fitnah yang dapat memecah belah umat Islam, masyarakat, bangsa, dan Negara. Barakallu lii walakum….

Sumber: Dakwatuna.com

HOAX: Editor Denmark yang terbakar hidup2

Berita palsu dalama BAHASA INDONESIA:
Cartoonist 'Jyllands Posten’ yang menghina Rasul kita lewat karikaturnya dengan bencana kebakaran yg menimpa bersama keluarganya. Beliau terbakar hidup-hidup bersama keluarganya, juga tidak lupa ikut semua harta seisi rumahnya....habiiiiiiis. Pemerintah Denmark sangat merahasiakan, menyembunyikan bahkan menutup-nutupi berita ini dari media massa dan khayalak ramai. Sebarkan berita ini booooo.... biarkan teman2 yang beriman melafazkan "Subhaaanallah" atas kebesaranNya mengazab orang2 yang berani melecehkan RasulNya.
****************
Assalamu'alaikum wr.wb.,
Tidak ada berita asli mengenai kematian pembuat kartun ini di semua situs berita resmi, situs umum dan semua blog.
Artinya, seorang pembuat kartun terkenal bisa wafat, gedungnya terbakar, tetapi semua situs berita, semua situs umum dan semua blog tidak melipat kejadian ini sama sekali. Apakah mungkin pemerintah Denmark atau pemerintah yang lain bisa mengendalikan begitu banyak sumber informasi di internet?

Artinya, informasi ini tidak benar, alias rekayasa. Tetapi karena banyak orang menerima dalam bentuk email, mereka sebarkan dan post di milis tanpa berfikir atau tanpa cek dan recek. Hasilnya, banyak orang menjadi percaya karena terima email yang sama beberapa kali (“Kalau ada di email, pasti benar!)
Beritanya juga sangat keliru karena ada 12 pembuat kartun (bukan 1 saja). Info dalam bahasa Inggris (sumber utama dari berita palsu ini) mengatakan THE ARTIST WHO DREW (yang berarti hanya 1 orang yang membuat kartun, beda dengan salah satu artist (= “one of the artists”). Kalau memang salah satu dari 12 orang itu telah wafat, maka menyebutkan namanya tidak bisa menyakitinya. Kok namanya tidak disebut?

Ada juga email satu lagi yang setara dalam bahasa Inggris yang menggantikan kata ARTIST dengan EDITOR. Tetap juga tidak benar.
Baik editor maupun 12 pembuat kartun tersebut masih hidup. Dan bahkan salah satu pembuat kartun itu memberikan interview sekitar 2-3 minggu yang lalu (bulan Maret 2008), dan saya baca hasil interview di situs berita resmi, lengkap dengan fotonya.
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Versi BAHASA INGGRIS/English Version
Subject: Editor Denmark yang terbakar hidup2
'Danish Editor burnt alive'
The editor of the Danish newspaper 'Jyllands Posten' was burnt to death when a fire mysteriously broke out in his bedroom, a Saudi newspaper claims.

[This very similar email is also on the internet:]
Breaking news message: News Flash .!!!!!
The artist who drew the pictures of the Prophet Muhammed (P.B.U.H) has died in a fire. He was burned alive. Denmark government is hiding the news from the public and everyone has got to know. Plz spread this (its the price one must pay 4 the insult of s Prophet)
The editor of the Danish newspaper 'Jyllands Posten' was burnt to death when a fire mysteriously broke out in his bedroom, a Saudi newspaper claims. According to the newspaper, the editor was sleeping in his bedroom when the fire ravaged his bedroom. He and his newspaper became controversial when it had published blasphemous caricatures of Prophet Muhammad (PBUH).

The paper claims that the Danish govt is trying to cover up the news of the death. He was hit by divine retribution, the paper added. Muslims, all over the world, strongly denounced this blasphemous act and massive protests were held in all Muslim countries including Pakistan. Text messages and emails that claim that the editor or the cartoonist has been burnt alive have also been circulating since Tuesday, lending support to this report. The paper named the editor as Elliot Back. However, Back is merely a senior in Computer Science at Cornell University, who had published the caricatures on his website. Name of the culture editor of Jyllands Posten, who commissioned the caricatures, is Flemming Rose. Jens Julius is the name of one of the cartoonists that drew the images. There were 12 cartoonists in all, who according to the BBC have gone into hiding.

16 April, 2008

KPI Peringatkan "Mamamia Show" Karena Mengganggu Waktu Maghrib


Rabu, 16 Apr 08 05:40 WIB

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat memberikan peringatan keras terhadap tayangan program televisi berupa ajang kompetisi bernyanyi secara langsung (live) "Mamamia Show" dan sejenisnya (“Star Dut” dan “Super Seleb Show”) yang mengganggu ibadah sholat Maghrib yang wajib dilaksanakan umat Islam

Protes KPI itu dilayangkan setelah mendapatkan masukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU), serta menerima protes dari sejumlah elemen masyarakat.

“Selain mengganggu penonton di rumah, KPI pusat juga mendapatkan keluhan bahwa di studio Indosiar tidak disediakan tempat shalat untuk penonton acara reality show tersebut,” kata Ketua KPI Pusat Sasa Djuarsa Sendjaja dalam surat yang dilayangkan ke PBNU, Selasa(15/4).

Berdasarkan pemantau, tayangan kompetisi bahkan dimulai sebelum waktu shalat maghrib tiba dan berakhir hingga larut malam. Indosiar hanya memberikan jeda waktu untuk adzan maghrib beberapa menit saja, kemudian acara dilanjutkan kembali.

Kalaupun dipersiapkan tempat shalat, pihak Indosiar tidak mungkin bisa menampung ratusan penonton yang hadir, sambil menyiapkan tempat berwudhu sekaligus. Sementara itu, banyak di antara keluarga peserta dan para penonton yang hadir tampak berbusana muslim dan dipancing untuk bersorak sorai pada menit-menit shalat maghrib yang sangat pendek sekitar 65 menit.

KPI meminta pihak Indosiar memindahkan jam tayang ”Mama Mia Konser” dan program ajang kompetisi sejenis pada pukul 19.00 waktu setempat. Selain itu, lanjut Sasa, jam tayang program tersebut juga dapat mengganggu waktu belajar anak-anak.

Bahkan, KPI beranggapan program pemilihan bakat itu masih menampilkan lelucon-lelucon kasar dalam dialog antara pembawa acara dan komentator.

“KPI Pusat mengingatkan Indosiar untuk senantiasa memperhatikan peraturan-peraturan terkait isi siaran dalam Undang Undang Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran, ” sambung Sasa Djuarsa.(novel/nu.ol)

Sumber: Eramuslim

*************

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ternyata, kalau ada kesempatan muncul di tivi, dan ketawa2 bersama dengan para artis, banyak ibu2 yang berbusana Muslim (dan bapak2 juga) siap tinggalkan ibadah wajib. Tapi kalau ibu itu disuruh lepaskan jilbab supaya bisa masuk tivi, apakah dia mau? Saya yakin banyak yang akan menolak, tapi kalau diajak mengabaikan ibadah wajib, no problem. Yang penting masuk tivi deh. Ha ha, hi hi. Menjadi terkenal. Sholat maghrib? Apa itu?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

14 April, 2008

Pemotongan Dana BOS


Biaya Pendidikan di Pundak Rakyat

Sabtu, 12 April 2008 | 01:42 WIB

Jakarta, Kompas - Pemotongan anggaran bantuan operasional sekolah untuk buku menambah beban masyarakat. Buku pelajaran merupakan salah satu biaya terbesar yang harus ditanggung masyarakat dalam menempuh pendidikan dasar. Seharusnya, bantuan untuk buku pelajaran ditingkatkan, bukannya dipotong.

Seperti diwartakan sebelumnya, anggaran BOS untuk buku yang semula Rp 432 miliar dipotong Rp 166 miliar, sedangkan beasiswa bagi siswa miskin Rp 359 miliar jadi Rp 71,85 miliar.

Warga pinggir Kali Grogol di daerah Kemandoran Pluis, Jakarta, Jumina (36), Jumat (11/4), mengatakan, anaknya di kelas VI sebuah sekolah dasar negeri di Palmerah selama satu semester terakhir tidak punya buku pelajaran sama sekali. Untuk belajar sehari-hari, mempersiapkan ujian akhir sekolah berstandar nasional, anaknya terpaksa meminjam buku teman atau belajar di rumah teman.

”Saya waktu itu tidak punya uang, sekarang juga tanggung, sudah mau lulus. Total harga buku lebih dari Rp 100.000 dan tidak bisa dicicil sedikit-sedikit. Saya mana punya uang sekaligus banyak begitu. Apalagi adiknya yang duduk di kelas II juga minta dibelikan buku pelajaran,” ujar Jumina yang mengandalkan pendapatan dari jualan mi ayam.

Keuntungan bersih berjualan adalah Rp 20.000-Rp 40.000 setelah naiknya harga sejumlah bahan baku seperti harga minyak. Dia membayar kontrak rumah Rp 250.000 per bulan dan uang saku Rp 1.000 untuk setiap anaknya. Jumina mempunyai empat anak, dua duduk di kelas II dan kelas VI SD. Satu anak berumur empat tahun, yang tertua baru putus sekolah di kelas II SMA.

Anaknya yang kelas II dipinjami tiga buku dari sekolah. Sisanya masih harus membeli. Anaknya yang kelas VI tidak mendapat pinjaman buku. Mendengar dana BOS buku dipotong, dia hanya berkata, ”Yah, seperti biasa aja.... Pasrah.”

Kaseh (35), warga di daerah yang sama, mengeluhkan hal serupa. Seorang anak Kaseh duduk di kelas I SMP swasta dan seorang lagi di kelas II SD negeri. Sumber penghasilannya dari usaha sablon. ”Anak saya yang kelas I SMP semester terakhir harus beli buku Rp 113.000, tidak boleh dicicil dan harus dibayar satu bulan. Kalau tidak ada uang, tidak ada buku. Terpaksa utang sana-sini. Kemarin dia minta Rp 15.000 untuk LKS (buku Lembar Kerja Siswa),” ujarnya.

Kaseh juga harus membeli buku untuk anaknya yang kelas II SDN Rp 250.000 untuk satu tahun. Mereka sulit bertukar buku karena buku antarsekolah berlainan. Bahkan, setiap angkatan di satu sekolah pun sering berbeda bukunya.

Mereka memang tak dipungut lagi iuran sekolah bulanan setelah ada BOS, tetapi bagi mereka biaya buku saja sudah sangat berat. ”Buat saya, orang susah, seharusnya pendidikan mah gratis. BOS harusnya ditambah,” ujarnya.

Aktivis pendidikan dari Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marginal, Fitri, mengatakan, pemotongan anggaran oleh pemerintah terhadap beasiswa bagi anak miskin dan BOS buku mencerminkan betapa biaya pendidikan semakin dilimpahkan kepada masyarakat.

Padahal, bantuan yang ada pun belum memadai untuk menjamin akses masyarakat ke pendidikan dasar. ”Ini tentu tidak menguntungkan bagi masyarakat miskin dan semakin menambah hambatan mereka dalam mengakses pendidikan dasar. Padahal, mereka sangat membutuhkan dan masih meyakini pendidikan merupakan modal untuk mengubah nasib mereka,” ujar Fitri.

Negara saat ini memang harus berhemat untuk dapat maju dan berjalan, tetapi seharusnya tidak berhemat dalam hal pembangunan pendidikan. Peningkatan sumber daya manusia akan dapat meningkatkan perekonomian, kesejahteraan, dan keberdayaan masyarakat. (INE)

Sumber: Kompas, 12 April 2008

************************

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Anehnya, saat baca berita ini, saya jadi ingat rencana Diknas untuk menghabiskan ratusan milyar untuk membangun SBI – Sekolah Bertaraf Internasional, yang akan memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak2 pilihan.

Hmmmm…

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Fatwa Dr. Yusuf Qordhowi Tentang Halalnya 0.5% Alkohol


Jumat, 11 Apr 08 09:57 WIB

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.

Ustadz, Bagaimana tanggapan ustadz tentang fatwa Dr.Yusuf Qordhowi tentang halalnya minuman beralkohol yang berkadar 0.5%? Apa landasan beliau? Bukankah ada hadits yang menyebutkan bahwa minuman yang memabukan baik sedikit atau banyak tetap haram.

Terima kasih atas jawabannya.

NK

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya Syeikh Al-Qaradawi bukan menghalalkan khamar. Yang beliau sebutkan adalah kadar maksimal Alkohol yang masih bisa ditolelir dalam suatu obat atau makanan. Dan tidak ada yang salah dalam masalah ini.

Bahkan LPPOM MUI malah lebih longgar ketika memberikan batasan, mereka menyebut kadar nilai 2%, jauh lebih banyak dari yang disebutkan oleh Al-Qaradawi.

Bukankah Banyak dan Sedikit Tetap Haram?

Benar sekali bahwa banyak atau sedikit tetap haram, tetapi kita harus perhatikan dulu, yang disebut banyak atau sedikit itu apanya?

Bukan kadar Alkohol tapi khamar. Khamar itu mau diminum cuma setetes atau mau ditenggak seember, sama-sama haram. Tapi Alkohol tidak sama atau tidak identik dengan khamar. Inilah titik masalahnya.

Kita bisa katakan bahwa Alkohol adalah senyawa kimia, sedangkan Khamar adalah karakter suatu bahan makanan, minuman atau benda yang dikonsumsi.

Definisi khamar tidak terletak pada susunab kimianya, tapi definisinyaterletak pada efek yang dihasilkannya, yaitu al-iskar (memabukkan). Maka benda apa pun yang kalau dimakan atau diminum akan memberikan efek mabuk, dikategorikan sebagai khamar.

Maka definisi khamar yang benar menurut para ulama adalah'segala yang memberikan efek iskar (memabukkan)'. Dan definisinya bukanlah 'semua makanan yang mengandung Alkohol'.

Sebab menurut para ahli, secara alami beberapa makanan kita seperti besar, singkong, duren dan buah lainnya malah mengandung Alkohol. Namun kita tidak pernah menyebut bahwa berat itu haram karena mengandung Alkohol.

Dan karena definisinya segala benda yang memberikan efek iskar, maka ganja, opium, drug, mariyuana dan sejenisnya, tetap bisa dimasukkan sebagai khamar. Padahal benda itu malah tidak mengandung Alkohol.

Daun ganja kering yang dilinting seperti rokok, rasanya tidak mengandung Alkohol, tapi dia tetap dikatakan sebagai khamar. Karena daun itu memabukkan kalau dihisap asapnya.

Senyawa Alkohol sendiri kalau kita minum, bukan efek al-iskar (mabuk) yang dihasilkan, melainkan efek al-mautu.

Al-Mautu? Apa itu?

Al-mautu artiya kematian. Coba saja minum alkohol 70% yang kita beli di Apotek, tidak usah banyak-banyak, segelas saja, insya Allah langsung innalillahi.

Dalam dalam kadar yang kecil dan sedikit, Alkohol aman bagi tubuh dan juga tidak memberi efek al-iskar, juga tidak memberi efek al-mautu. Karena itu banyak ulama dan lembaga pengawas makanan yang membolehkan khamar dengan kadar tertentu, terutama untuk larutan obat.

Dan karena Alkohol tidak identik dengan khamar, maka bila jumlahnya sedikit masih bisa ditolelir.

Lalu Bagaimana Mengukur Al-Iskar?

Kepolisian biasanya memang mengukur apakah seseorang mabuk atau tidak, mengunakan kadar Alkohol dalam darah. Padahal dalam syariah Islam, cara pengukuran seperti itu tidak pernah dilakukan.

Sebab fenomena al-iskar itu mudah sekali diketahui, sama saja dengan menyebutkan beda orang yang tidur dengan yang tidak tidur. Tidak perlu diukur dengan beragam pengukuran hingga sampai REM segala.

Pokoknya anak kecil juga tahu membedakan, mana tidur dan mana melek. Sederhana sekali karena syariah Islam itu memang sederhana saja.

Kalau mau tahu apakah sebuah minuman bersoda itu sudah termasuk khamar atau bukan, suruh saja kucing atau kelinci meminumnya. Kita lihat efeknya, kalau hewan itu jalannya sempoyongan lantaran teler nenggak minuman itu, nah ketahuan deh bahwa minuan itu khamar. Maka otomatis kita sebut minuman itu khamar, meski tidak ada alkoholnya.

Tapi kucing atau kelincinya harus yang sehat wal afiat, jangan kucing yang kerjaannya mabok juga. Yang begitu sih tidak bisa dijadikan ukuran. Habis, tiap hari kerjaannya nenggak bir, AO, mansion, vodka, topi miring, dan sejenisnya. Kucingnya harus kucing yang belum pernah mabok sebelumnya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: Eramuslim

11 April, 2008

Penjelasan Fatwa Syekh Yusuf Al Qardhawi: Minuman Boleh Mengandung Kadar Alkohol

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ada pembaca blog yang minta penjelasan tentang dua buah berita (lihat di bahwa) yaitu fatwa Syekh Yusuf al Qardhawi yang menyatakan minuman boleh mengandung kadar alkohol, kemudian MUI membenarkan fatwa tersebut. Berikut ini, saya ingin menyampaikan ilmu yang pernah didapatkan dari guru saya almarhum KH Masyhuri Syahid (ahli fiqih dan anggota MUI) karena kita pernah membahas perkara tersebut di kelas fiqih.

Insya Allah, fatwa dari Syekh Yusuf al Qardhawi benar. Insya Allah, tanggapan dari MUI juga benar.

Yang diharamkan Allah di dalam Al Qur’an adalah khamar, yaitu sebuah minuman yang dibuat dengan sengaja, dan sengaja diciptakan dengan kadar alkohol dengan tujuan memabukkan si peminum. Jadi, kalau ada minuman/makanan selain dari itu, yang tujuannya tidak untuk memabukkan, apalagi kalau kadar alkohol muncul secara tidak sengaja dan tidak diatur, maka hal itu diperbolehkan dan tidak diharamkan kebanyakan ulama.

Tetapi perlu diketahui bahwa ada juga pendapat sebagian ulama yang sangat hati-hati, bahwa kadar alkohol seberapapun di dalam makanan atau minuman apapun adalah alasan untuk mengharamkannya. Jadi mereka haramkan apapun yang punya kadar alkohol, termasuk tape dan durian. Ada pula pendapat yang menyatakan makruh (tidak haram, tetapi lebih baik ditinggalkan).

Kata Syekh Yusuf al Qardhawi:

"Keberadaan alkohol dalam proporsi 5 per seribu (0,5 persen) itu tidak dilarang karena itu adalah jumlah minimal, khususnya ketika itu dihasilkan dari fermentasi alami. Oleh karena itu tidak ada yang salah dengan meminum minuman itu," tulis Qardhawi.

Kata MUI:

Ketua MUI Amidhan mengatakan harus teliti melihat konteks fatwa Qardhawi. Ulama Mesir itu menyikapi minuman berenergi di Qatar yang mengeluarkan fermentasi.

"Minuman berenergi bukan khamar, mungkin keluar fermentasinya berupa zat ethanol. Kalau kadarnya di bawah 1 persen itu ditolerir," kata Amidhan kepada detikcom, Jumat (11/4/2008).

Minuman berenergi, menurut Amidhan, tidak dimaksudkan untuk menjadi minuman memabukkan. Angka 1 persen adalah batas yang dinilai tidak akan menyebabkan mabuk. Masyarakat harus membedakannya dengan khamar seperti arak, bir atau wine yang memang sengaja dibuat untuk memabukkan.

Jadi, di sini menjadi jelas bahwa konteks dari fatwa tersebut sangat penting. Yang dibicarakan Syekh Yusuf al Qardhawi adalah minuman berenergi. Bukan bir atau wiski yang mempunyai kadar alkohol yang rendah.

Mungkin dari pandangan orang biasa, tidak ada bedanya. Tetapi dari pandangan ulama fiqih tetap ada bedanya. Kalau kadar alkohol 0,5% itu muncul di dalam sebuah mimuman berenergi, maka hal itu hanya merupakan hasil alami dari proses fermentasi. Hal ini belum tentu disengaja, dan juga belum tentu bahwa kadar alkohol dikontrol supaya persis sama di dalam setiap botol. (Tetapi untuk bir dan lain-lain, kadar alkohol sangat dikontrol, dan bahkan ditulis di botolnya biar peminum bisa tahu).

Ternyata, tidak ada bar dan klub malam di mana orang masuk dan pesan minuman berenergi karena berniat mabuk. Dan produsennya juga tidak menciptakan produk tersebut dengan niat memabukkan orang. Justru sebaliknya, dia ingin menyehatkan orang, dan tidak membicarakan bagaimana caranya mengatur kadar alkoholnya, atau bagaimana supaya peminum bisa menjai mabuk atau kecanduan. Dia juga tidak berusaha mendapat akses untuk memasukkan produknya ke bar dan klub malam supaya minuman berenergi itu bisa dijual di sana dan bersaing langsung dengan bir, wiski, vodka, dan lain-lain.

Jadi, statusnya tetap sebagai minuman berenergi yang karena proses fermentasi alami, ternyata muncul kadar alkohol kecil. Hal yang setara bisa terjadi dengan buah yang diawetkan, minuman yang mengandung bahan-bahan tertentu seperti gula, saus di dalam botol seperti saus teriyaki dll., makanan seperti tape, dan juga bisa ada secara alami di dalam buah seperti durian. Dalam semua kasus ini, alkoholnya tidak diciptakan dengan niat memabukkan orang, jadi tidak bisa disamakan dengan minuman beralkohol seperti bir dan wiski (khamar) yang hanya diciptakan untuk memabukkan.

Tetapi, kalau misalnya ada kasus di mana satu orang paham bahwa minuman berenergi tersebut mengandung kadar alkohol yang kecil, dan dia dengan sengaja minumnya berkali-kali setiap hari biar bisa merasa “mabuk” maka minuman itu (bagi dia) sudah menjadi sama dengan khamar (bir, wiski, dll.), jadi bagi dia minuman itu memang harus diharamkan. Tetapi buat tentangganya yang hanya minumnya sewaktu-waktu karena ingin merasa segar, tidak berniat menjadi mabuk, dan tidak menyamakan fungsinya dengan bir, dan tetap akan beli walaupun tidak ada kadar alkohol sama sekali, maka Insya Allah tidak haram dan tidak bisa disebut “khamar”. Coba berfikir seperti ini: kalau ada orang yang kecanduan bir yang tahu bahwa di bar tertentu, semua bir, wiski, vodka dan minuman lain tidak punya kadar alkohol sama sekali, apakah dia masih akan masuk dan pesan minuman itu bila ternyata tidak bisa mabuk? Pasti dia tidak mau karena niat dia beli minuman itu adalah biar bisa merasa “mabuk”.

Jadi, minum berenergi yang punya kadar alkohol kecil berbeda dengan bir. Bir yang punya 0% alkohol tetap tidak diizinkan oleh ulama, karena setelah diteliti, tetap ada kadar alkoholnya, walaupun sangat kecil. Lalu apa bedanya?

Bedanya adalah bir 0% itu diciptakan oleh perusahan yang memproduksikan bir. Jadi, mereka sangat peduli pada “khamar” karena merupakan bisnis utama mereka. Kalau mereka membuat sebuah minuman dengan kadar alkohol yang sangat rendah, kita tidak bisa tahu “niat” mereka apa. Misalnya, mereka punya tujuan untuk membiasakan masyarakat dengan minuman tersebut, supaya di masa depan lebih mudah bagi masyarakat untuk “pindah” ke produk utama mereka, yaitu bir yang beralkohol tinggi.

Jadi, barangkali bir 0% itu hanya merupakan trik marketing mereka supaya di masa depan banyak orang menjadi senang minum bir yang beralkohol. Kita tidak tahu. Tetapi yang jelas, sebagai perusahaan minuman keras, mereka sangat peduli pada kadar alkohol karena itulah ilmu mereka dan mereka sangat pintar dan sangat peduli pada proses mengatur kadar alkohol di dalam minuman mereka.

Sebaliknya, kalau kita bertanya kepada produsen minuman berenergi tentang kadar alkohol di dalam setiap botol dan apa yang dia lakukan untuk mengatur tingkat alkohol tersebut supaya rata dalam setiap botol, mungkin dia akan menjawab, “Emang gue pikirin?” karena dia sangat tidak peduli pada hal itu. Dia tidak merasa sebagai penjual minuman beralkohol dan tujuan dia bukan untuk memabukkan orang. Beda dengan produsen bir.

Kesimpulannya, kalau mau setuju dengan pendapat sebagian ulama yang sangat hati-hati, silahkan tinggalkan semua makanan dan minuman yang punya kadar alkohol, walaupun sangat kecil. Kalau mau anggap makruh (tidak haram, tetapi lebih baik ditinggalkan) silahkan juga, dan kedua sikap ini sangat baik dan mulia. Dan yang terakhir, ada pendapat bahwa minuman tersebut tidak sama dengan “khamar” yang Allah haramkan, karena tidak diproduksi dengan niat memabukkan orang.

Silahkan pilih salah satu pendapat yang diyakini. Dari pembicaraan yang panjang dengan guru saya KH Masyhuri Syahid, saya merasa yakin pada pendapat terahkhir (tidak haram karena tidak sama dengan khamar). Tetapi kalau ada teman yang berbeda pendapat karena ingin hati-hati, silahkan. Kita tidak perlu ribut tentang hal seperti ini. Yang penting kita menggali ilmu dan meyakini salah satu pendapat tersebut.

Semoga bisa dipahami. Mohon maaf bila ada kesalahan.

Wabillahi taufiq walhidayah.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

11/04/2008 07:00 WIB

Fatwa Qardhawi Soal Alkohol Jadi Kontroversi

Fitraya Ramadhanny - detikcom

Baca di sini: Detik.com

11/04/2008 08:10 WIB

MUI Benarkan Qardhawi Soal Minuman Beralkohol

Fitraya Ramadhanny – detikcom

Baca di sini: Detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...