21 December, 2020

Apa Allah Yang Menyesatkan Manusia, Atau Manusia Yang Mau Sesat?

[Pertanyaan]: Pak Gene, di Surah Al-An’am ayat 4, disebutkan “mereka" (manusia kafir) berpaling. Sedang di Surah Ibrahim ayat 4 disebutkan Allah yang menyesatkan siapa yang dikehendaki. Bagaimana manusia bisa berpaling kalau Allah-lah yang menyesatkan?

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Bagaimana mereka bisa berpaling sendiri, kalau Allah yang menyesatkan? Insya Allah ini bisa dipahami secara mudah dan logis. Sebelum kita lahir, Allah tahu sebagian orang akan memilih jalan sesat. Orang itu sudah ditentukan akan sesat, dan Allah yang “sesatkan” mereka, di atas keinginan mereka sendiri. Ini setara dgn orang yang sengaja pilih jalan yang salah (misalnya pakai narkoba, dan tidak mau berhenti). Kita tahu mereka akan ke jalan yang salah. Dinasihati, mereka tetap salah, dan tidak mau diluruskan. Kalau kita fasilitasi mereka (misalnya, kasih tempat aman utk pakai narkoba), atau tidak fasilitasi, mereka akan tetap memilih jalan itu.

Contoh: Ada anak yang mau ikut konser band metal. Dilarang oleh orang tua karena mereka tahu dia akan pesta narkoba di sana. Kalau mereka larang, dia pergi. Kalau mereka izinkan dan kasih uang, dia juga pergi. Jadi mereka kasih izin dan uang, atau tidak kasih izin dan uang, dia tetap pergi, dan tidak mau dilarang.

Allah juga tahu orang2 kafir itu akan sesat, jadi Allah kasih tiket gratis naik bis ke Kota Sesat, karena mereka memang mau ke sana. Jadi, mereka “disesatkan” oleh Allah (=diberi kemudahan untuk menjadi sesat), karena Allah sudah tahu mereka akan tetap pilih jalan itu. Ada orang lain yg bisa dapat hidayah, dan mereka adalah orang2 yang Allah tahu akan bersedia menerima hidayah. Kita anggap semua orang punya “kesempatan yg sama”. Tapi Allah Maha Tahu: Semua orang tidak sama. Sebelum kita lahir, Allah sudah tahu siapa yang mau memilih utk beriman dan siapa yang tidak.

Dalam sebuah eksperimen, orang tua taruh kue di depan anak, dan melarang dia makan lalu ditinggalkan. Orang tua tahu karakter anaknya dan tahu apakah anaknya akan makan atau tidak. Mungkin 95% lebih dari prediksi orang tua ttg anaknya terbukti benar. Tapi dalam beberapa kasus, anak dianggap tidak akan makan, lalu dia makan. Orang tua salah prediksi, walaupun sangat kenal karakter anaknya.

Sedangkan, ALLAH TIDAK PERNAH SALAH. Kalau Allah catat bahwa orang A akan menjadi kafir, sebelum diciptakan, maka orang itu (apapun yang terjadi) akan tetap kafir. Dan sebaliknya, kalau Allah catat bahwa orang B akan beriman (dari lahir, atau masuk Islam), maka orang itu akan beriman. Allah Maha Tahu, dan Maha Benar, dan Allah tidak bisa dibuat kaget dgn pilihan kita. Manusia tidak sama. Kita anggap sama, tapi Allah Lebih Tahu.

Tetapi masih KITALAH (manusia) yang memilih dalam kehidupan di dunia ini, untuk menjadi beriman atau kafir. Dan bahasa “Allah menyesatkan” adalah bahasa metaforis. Jangan dipahami dengan makna orang itu ingin sekali beriman, lalu Allah memaksakannya menjadi sesat. Lebih tepat dianggap orang itu sudah memilih sesat, dan Allah sudah tahu dia tidak pernah akan mau beriman, lalu Allah kasih tiket bis yg gratis ke Kota Sesat, dan bilang “Naik saja kl mau. Gratis!” dan orang itu pilih sendiri utk naik bis itu, dan senang, karena sesuai keinginannya sendiri. Jadi Allah “menyesatkan dia” dengan cara mempermudah dia jalan ke tujuannya, ke jalan yang sesat, karena dia memang mau ke sana. Allah kasih perjalanan gratis, atau tidak, orang itu akan tetap pilih utk pergi ke Kota Sesat. Jadi kita yang memilih sendiri untuk menjadi orang beriman atau menjadi kafir. Semoga bermanfaat. Semoga jelas dan logis.
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
-Gene Netto

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...