Di Amerika, seorang polisi datang ke rumah orang dan temukan bayi yang tidak bernafas. Ambulance sudah dipanggil, tetapi belum sampai. Jadi polisi itu ikuti pelatihannya, dan langsung mulai Resusitasi Jantung Paru (RJP-CPR). Syukur, bayi itu mulai bernafas lagi dan selamat. Kalau hal yang sama terjadi di Indonesia, bayi yang tidak bernafas itu akan "dibawa lari ke puskesmas". Dan setelah perjalanan 20 menit, di luar dugaan, anak yang tadinya mati tetap saja mati. Siapa yang bisa menyangka? Anak yang tidak bernafas selama 20 menit kok bisa tetap mati ya? Kenapa dokter tidak bisa hidupkan kembali?
Di negara maju, polisi, guru, satpam, petugas, dan orang yang kerja dalam ratusan bidang lain yang berhadapan dengan anak dan rakyat umum, diwajibkan belajar Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR). Di Indonesia, daripada belajar RJP, semuanya belajar kalimat sakral untuk membahas mayat anak yang mustahil dibantu, yaitu: “Ini Musibah, dan Takdir Allah, dan Kami Tidak Menyangka!”
Di negara lain, anak diselamatkan. Di Indonesia, anak dikuburkan. Kesannya di sini terlalu sulit untuk “belajar” cara menyelamatkan anak yang tidak bernafas, walaupun hanya butuh beberapa jam saja. Lebih mudah hafal kalimat sakral yang bantu semua orang lepaskan segala bentuk tanggung jawab, dan salahkan Tuhan saja.
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto
Rekaman Bodycam Menunjukkan Polisi Amerika Memberikan Resusitasi Jantung Paru pada Bayi
https://www.youtube.com/watch?v=fbZQf7XNALw
Search This Blog
Labels
Popular Posts
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Seperti biasa, ini kisah rekayasa, dengan menggunakan nama orang yang benar. Prof. Fidelma O'Leary mema...
-
Assalamu’alaikum wr.wb. Ini Bab Pertama dari buku saya Mencari Tuhan, Menemukan Allah.(Baru terbit dalam bahasa Inggris. Bahasa Indonesia be...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Email yang menyatakan Sunita Williams menjadi Muslim adalah rekayasa dan sudah ada lebih dari satu versi...
-
Assalamu'alaikum wr.wb. Kemarin saya sibuk ketemu orang bule yang masuk Islam karena mau menikah dengan wanita Indonesia. Saya diberi...
-
Sebelas anak, usia 4 sampai 11 tahun, diiming-iming ikan cupang. Lalu disodomi oleh seorang pemuda usia 19 tahun. Itu sudah merupakan suatu ...
-
Pertanyaan Assalamu'alaikum wr.wb., Saya mau bertanya kalau orang Muslim boleh mendoakan orang non-Muslim? Kalau ada teman atau sauda...
-
Oleh Dr. Yusuf Qardhawi Setiap yang keluar dari tubuh manusia – karena melihat pemandangan-pemandangan yang merangsang...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Minggu kemarin saya carikan video tawuran pelajar di YouTube dengan menggunakan kata kunci “tawuran” dan j...
-
MUI Sesalkan Izin untuk Yayasan Mahanaim Yayasan ini kerap mengkristenisasi berkedok kegiatan sosial. Sabtu, 22 November 2008 pukul 15:54:00...
-
Assalamu’alaikum wr.wb., Ini satu bab dari buku saya "Mencari Tuhan, Menemukan Allah" (Searching for God and Finding Allah). Awal...
14 January, 2026
Rekaman Bodycam Menunjukkan Polisi Amerika Memberikan Resusitasi Jantung Paru pada Bayi
Anak Yang Tidak Bernafas Hanya Bisa Diselamatkan Dengan Resusitasi Jantung Paru
Kapan rakyat Indonesia akan diberitahu bahwa seorang anak yang dibawa jalan-jalan selama 20 menit dalam keadaan tidak bernafas mustahil hidup kembali? Kalau tidak dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR) langsung di saat itu, di tempat kejadiannya, maka tidak mungkin anak itu bisa diselamatkan. “Dibawa lari ke rumah sakit” sama dengan “menjamin kematiannya”. Tetapi dalam semua berita baru, setiap kali orang dewasa ketemu anak yang tidak bernafas, yang baru saja tewas (biasanya tenggelam), tindakan yang sama selalu dilakukan: Mereka MENJAMIN anak itu mati dengan dibawa jalan-jalan selama 20 menit dalam keadaan tidak bernafas. Sudah jelas mereka “ingin menyelamatkan” anak itu. Tetapi tindakannya justru merupakan jaminan anak itu mati.
Kalau seluruh rakyat dan semua anak sekolah bisa dididik tentang bahayanya demam berdarah, cara memberantas telur nyamuknya, dan cara hindari gigitan dari satu jenis nyamuk saja, pada jam tertentu saja, kenapa tidak bisa dididik juga tentang kewajiban melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR) langsung pada saat ketemu anak yang baru tenggelam atau tewas? Info demam berdarah bisa disebarkan, sampai semua orang hafal. Kenapa info RJP tidak bisa disebarkan juga? Berapa banyak anak bangsa harus tewas secara sia-sia, karena nyaris tidak ada orang dewasa yang mengerti apa yang perlu dilakukan?
Anak yang baru saja tenggelam atau tewas BISA hidup kembali kalau dilakukan RJP dalam waktu 5-10 menit. (Kalau sudah tewas 30 menit lebih, tidak berguna lagi.) Kalau pemerintah tidak mau bertindak, rakyat bisa! Semua orang tua bisa minta pengurus sekolah dan pesantren melakukan pelatihan 1 hari. Karyawan bisa usulkan di PT-nya. PNS bisa minta diadakan di semua lembaga dan kementerian. Kalau dimulai sekarang, mungkin pada tahun depan kita bisa melihat berita yang berbeda: Anak yang tenggelam DISELAMATKAN dan hidup kembali karena dilakukan RJP dengan cepat!! Tetapi kalau 100 juta orang dewasa dan 80 juta anak sekolah dan santri juga diam dan tidak mau bertindak, maka berita tidak akan berubah: Anak yang baru saja tewas dijamin tidak bisa diselamatkan, karena dibawa jalan-jalan keliling kota sebelum dinyatakan “tetap mati” di puskesmas. Mau lihat berita yang mana?
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto
Bocah 4 Tahun di Jambi Tewas Saat Bermain dalam Wahana Istana Balon
Beberapa saat setelah balon dilipat, orang tua korban datang mencari anaknya. Pemilik kemudian membuka kembali lipatan balon dan menemukan korban dalam keadaan tidak sadarkan diri. G langsung dibawa ke RS DKT Sungai Penuh, namun dinyatakan meninggal dunia.
https://www.detik.com
Apa Netizen Indonesia Dahsyat?
[Komentar]: Dahsyatnya ulah netizen Indonesia. Suami istri yang diserang oleh netizen dalam kasus tumbler ketinggalan di KRL itu bisa gila!
[Gene]: Dahsyat? Saya tidak percaya!! Netizen Indonesia tidak ada hebatnya dalam pandangan saya. Pahlawan kesiangan, yang nyaris tidak berguna. Suka-suka mereka mau marah pada siapa, dan pada waktu dan keadaan yang tidak bisa diprediksi. Dalam kasus tumbler ketinggalan di kereta api itu, 1 petugas dipecat, Netizen membuat kasusnya viral, sampai suami-istri itu terpaksa minta maaf. Gara-gara satu pria yang hanya dipecat saja.
Jumlah anak yang dicabuli, diperkosa, diperkosa bergilir, disodomi, dibunuh, atau menjadi korban bullying (dan sebagian juga bunuh diri), atau alami kekerasan di rumah, di sekolah, atau di jalan, mungkin mencapai sekian ribu kasus setiap bulan. Mana netizen? Diam terus. Puluhan santri bisa mati di pesantren, disebabkan kelalaian dan kebodohan para pengurus yang anggap tempat konstruksi aman bagi anak. Netizen diam juga. Enam anak mati karena tenggelam dalam kubangan di Balikpapan, lalu TIGA hari setelah itu, enam santri yang lainmati dalam kubangan di Bangkalan. Netizen diam juga.
Hampir setiap hari ada berita tentang anak yang dicabuli oleh bapak tirinya. Ada begitu banyak kasus sampai saya tidak simpan datanya karena capek menghitungnya. Netizen diam juga. Hampir setiap hari ada berita tentang anak yang tenggelam, lalu orang dewasa setempat membawa lari anak yang tidak bernafas ke puskesmas. Setelah 20 menit di jalan, dalam keadaan mati, tetap saja mati di puskesmas. Bisa diatasi kalau 100 juta dewasa dan 80 juta anak diajarkan tentang Resusitasi Jantung Paru (RJP-CPR). Tetapi pemerintah malas peduli. Netizen diam juga.
Mau saya teruskan dengan daftar seratus poin lagi yang menggambarkan ketidakpedulian dari pemerintah dan netizen terhadap masalah yang serius dan butuh perhatian? Tetapi ketika ada urusannya tumbler hilang dan 1 orang dipecat, kita sangat bisa bergantung pada hebatnya netizen Indonesia. Paling cepat lari ke barisan depan demi urus tumbler dan pekerjaan 1 orang. Luar biasa. Perjuangannya bisa lebih hebat dari Avengers (kalau tumblernya Iron Man hilang)!!
Sekelompok santriwati yang diperkosa oleh ustadznya di pesantren mungkin sangat berharap bisa dapat perhatian dan kepedulian seperti itu. Tetapi tidak pernah ada. Seorang anak SMP yang diperkosa bergilir oleh 8 teman lalu hamil, dan orang tua pelaku malah ancam korban, sangat berharap bisa dapat perhatian dan kepedulian seperti itu. Tetapi tidak pernah ada. Semua orang tua yang anaknya tewas dalam kegiatan resmi dari sekolah atau pesantren, lalu dengar komentar, “Ini Musibah, dan Takdir Allah, dan Kami Tidak Menyangka!” lalu tidak pernah ada pihak yang dianggap salah, atau ditangkap, atau dihukum, sangat berharap bisa dapat perhatian dan kepedulian seperti itu. Tetapi tidak pernah ada.
Jadi apa hebatnya Netizen Indonesia? Dan kapan kita bisa lihat netizen bersatu untuk MENOLONG ratusan ribu anak yang sangat membutuhkan pertolongan, tetapi malah lebih sering diabaikan dan didiamkan oleh semua pihak?
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto
Kenapa Petugas Damkar Indonesia Tidak Punya Masker Oksigen?
Sebuah pesantren di Jakarta Selatan kebakaran di basement. Santri berusaha padamkan api (tanpa ilmu, tanpa alat) sebelum petugas Damkar datang. Hasilnya, 23 santri sesak nafas dan dibawa ke rumah sakit. Saya cari videonya, dan di semua situs berita, saya lihat kalimat yang sama: PETUGAS DAMKAR KESULITAN PADAMKAN API KARENA TIDAK BISA MASUK BASEMENT KARENA ASAPNYA TEBAL. Saya bingung. Buat apa masker dan tabung oksigen bagi petugas Damkar kalau mereka takut pada asap? Lalu saya perhatikan videonya. Tidak ada satupun petugas yang pakai. Kok bisa?
Indonesia, negara yang makin maju, dengan kereta cepat, industri pesawat, membuat kapal dan kapal selam sendiri, bisa kirim TNI dengan fasilitas lengkap ke negara lain untuk menjaga kedamaian, tetapi petugas Damkar TIDAK PUNYA MASKER DAN TABUNG OKSIGEN??? Pada tahun 2025??? Sebuah alat cukup sederhana yang sudah menjadi standar di semua negara barat sejak 1950, tetapi 75 tahun kemudian, Indonesia masih belum punya? DI IBU KOTA NEGARA?? Sehingga ketika terjadi kebakaran, petugas Damkar hanya bisa lihat dari kejauhan karena takut pada asap tebal???
Siapa yang merasa malu?
-Gene Netto
Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Kebakaran: 23 Santri Merasa Sesak Nafas
https://www.nu.or.id
Ponpes Al Mawaddah di Jagakarsa Terbakar, Sejumlah Santri Jatuh Pingsan
https://www.youtube.com/watch?v=zDIXf5A3wn8
Sakit, Kok Malah Bersyukur?
Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin saya sakit kepala keras, meriang, dan lemas. Sepanjang hari kemarin ada sakit kepala ringan. Setelah maghrib, ada niat makan dan tidur cepat. Lalu saya dapat permintaan bicara dengan anak perempuan yang sudah murtad selama 2 tahun. Walaupun kurang enak badan, saya terima, dan diskusi lewat telfon dengan anak itu dan ibunya selama 3 jam. Ketika selesai, sudah jam 11 malam, saya belum makan, dan sudah mulai meriang. Jadi saya makan dulu, minum obat, dan tidur. Saat bangun subuh, sakit kepalanya tambah keras, jadi saya minum obat lagi dan tidur. Ketika bangun jam 2 siang, sakit kepala lebih keras lagi, dan saya merasa lebih meriang, dan mual, dan lemas.
Saya berbaring di kasur dan mulai bersyukur. Kok Malah Bersyukur? Kenapa? Karena saya sadar bahwa punya kamar yang aman dan bersih, yang bebas dari segala gangguan. Ada listrik, AC, komputer, internet, HP, uang, kamar mandi yang bersih, makanan di dapur, tidak ada luka di tubuh, dan ada rumah sakit dan apotek yang dekat kalau dibutuhkan. Alasan-alasan untuk bersyukur ada ratusan, bahkan ribuan, kalau mau disadari. Apapun keadaan kita, apapun kondisi fisik kita, apapun lokasi kita, selalu ada banyak orang lain yang alami kesulitan yang lebih besar lagi. Dan kalau Allah berikan rasa sakit sekecil apapun, dijamin dosa kita akan diampuni. Alhamdulillah.
Semua orang bisa langsung mengeluh dan “salahkan Tuhan” kalau mau! (Kenapa saya harus sakit, padahal kemarin malam saya berdakwah, dan ada banyak tugas lain yang mau dikerjakan sekarang?!) Tetapi keluhan itu tidak membawa manfaat. Jadi orang yang beriman kepada Allah tidak akan mencari “alasan untuk mengeluh” tetapi malah akan mencari “alasan untuk bersyukur”. Dan kalau kita sadar atas semua nikmat yang Allah berikan, sangat tidak mungkin kita sanggup “bayar kembali” kepada Allah. Dan Allah juga tidak minta. Yang diminta oleh Allah sederhana saja: Beriman kepada Allah, selalu berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mencari alasan untuk bersyukur! Dan ketika kita bersyukur, Allah berjanji bahwa kita akan diberikan lebih banyak kenikmatan lagi. Alhamdulillah. Kita wajib shalat, tetapi saya tidak sanggup bersujud karena rasa sakit akan bertambah, dan alhamdulillah boleh shalat duduk!! Alhamdulillah x 1.000.
7. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14:7)
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto




