Search This Blog

Labels

Popular Posts

14 October, 2026

Bahayanya Membawa Anak Muslim Ke Negara Barat

Assalamu’alaikum wr.wb. Sesudah shalat Jumat, saya bertemu seorang pemuda dengan tato di muka, leher, dan lengan. Saya kira dia muallaf baru dari suku Maori, karena pernah lihat beberapa orang seperti itu. Tiba-tiba dia berkomentar, “Saya dari Afghanistan!” Saya kaget. Berarti dia Muslim dari lahir? Kok penampilannya seperti ini? Setelah dia pergi, ada teman yang menjelaskan.

Dulu, ada ratusan keluarga dari Afghanistan yang pindah ke Selandia Baru. Banyak yang membawa anak kecil, yang masuk sekolah di sini. Setelah tinggal di sini 10 tahun, dan alami pengaruh dari sekolah, masyarakat, TV, dll. banyak dari anak itu mulai berubah. Di usia remaja dan pemuda, ada yang berhenti shalat, berzina, minum alkohol, pakai narkoba, berjudi, murtad, dll. Orang tuanya adalah Muslim yang baik, jadi anaknya juga diajarkan shalat, dll. Tetapi pengaruh dari lingkungan begitu besar, tidak ada yang tahu anak mana yang akan terjerumus dan mana yang akan selamat. 

Teman saya jelaskan, dari semua anak yang menyimpang itu, sebagian tetap rusak, tetapi sebagian yang lain bisa diselamatkan. Walaupun ada bekas-bekasnya, seperti tato di muka, dsb. Mungkin ada pemuda lain yang punya anak di luar nikah, kena penyakit, berhutang dari perjudian, dll. 

Ketika kami masih membahas pemuda itu, ada pria Malaysia yang dikenalkan kepada saya. Sudah puluhan tahun tinggal di Selandia Baru. Dia dengar percakapan kami dan tambahkan informasi tentang anak-anak keturunan Malaysia yang juga tidak shalat, murtad, dll. Dalam 1 generasi saja. Tanpa survei ribuan orang, saya tidak bisa jelaskan apakah anak yang menyimpang, berhenti shalat, atau murtad itu merupakan mayoritas, minoritas besar, atau minoritas kecil. Yang jelas “ada”, dan “banyak”, karena setiap kali saya ketemu 1 orang baru, selalu ada kisah yang serupa tentang anak-anak dari komunitasnya. 

Juga ada orang Indonesia yang hubungi saya dari berbagai negara dengan kisah serupa. Tidak berarti semua anak berakhir begitu. Tetapi ada banyak WNI yang “bangga” karena anaknya masih shalat, padahal mereka baru lihat 1 generasi saja. Paling banyak 2 generasi, karena sudah ada cucu sekarang, setelah 40 tahun tinggal di negara barat. Bagaimana dengan cicit? 

Kalau anda pernah lihat video dari orang Indonesia yang mengaku “berhasil hidup sebagai Muslim” di negara barat, dan bisa menjaga keimanan diri dan keluarganya, mohon dipahami bahwa mereka sedang menjual sebuah fatamorgana. Ibaratnya rumah saya kebakaran tetapi saya selamat, bagaimana kalau saya membuat video bahwa, “Kebakaran rumah tidak sebahaya itu, dan siapa saja yang mengalaminya bisa survive, dan tidak perlu takut pada api, karena saya menjadi buktinya bisa selamat!!” Lalu anda tidak melihat video kebakaran rumah selain yang satu itu. Mau percaya bahwa kebakaran rumah “aman”?? Tentu saja tidak benar. Tapi kalau sumber informasinya hanya 1 video yang bilang “aman”, bagaimana bisa tahu apa yang benar?

Video tentang Muslim dari Indonesia yang “berhasil” di negara barat adalah pengalaman mereka pada saat ini, jadi mau dibanggakan. Tetapi saya berani jamin 1.000%, kalau 5 tahun di depan, anak mereka menolak shalat dan mengaku ateis, tidak mungkin mereka akan membuat video baru dan jelaskan bahwa hidup di negara kafir berbahaya. Kerusakan keluarga seperti itu akan DIRAHASIAKAN secara mutlak karena mereka malu dan takut menjadi sasaran gosip. Neneknya saja tidak akan dikasih tahu, apalagi kita!!

Jadi tolong berpikir secara dalam dan shalat istikharah berkali-kali sebelum ambil keputusan membawa anak ke negara barat. Makin lama saya berada di Selandia Baru, makin banyak kisah kerusakan, kegagalan, dan penderitaan orang tua yang disampaikan kepada saya. Yang bahagia? Ada. Pada saat ini. Karena anaknya “belum murtad” dan cucunya belum ada. Lima atau 10 tahun lagi, bagaimana? Mau ambil risiko? Silahkan. Mau berenang di sungai karena tidak yakin ada buaya juga silahkan. Saya hanya bisa berikan peringatan. Orang tua yang harus ambil keputusan. Dan anaknya harus menjadi korban dulu, baru orang tua itu akan menyesal.

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...