Search This Blog

Labels

Popular Posts

14 October, 2026

Umat Islam di Negara Barat - Kehidupan Dalam Sangkar Emas

Assalamu’alaikum wr.wb. Setelah tinggal di Selandia Baru beberapa minggu, saya bertemu seorang imigran dari Afghanistan dan dia menceritakan banyak hal yang mengejutkan tentang kehidupannya di sini. Setelah 10 tahun tinggal di negara maju ini, dia merasa tidak bahagia, dan mengatakan banyak teman Muslimnya menyesal datang ke negara ini. Dia seorang tukang yang dipanggil untuk kerja di rumah orang, jadi dia bergantung pada warga lokal untuk telfon dan memesan jasa. Tetapi setelah dia menyebutkan nama Muslimnya, banyak orang berubah, dan tiba-tiba tidak membutuhkan bantuan lagi.

Orang di jalan dan toko bertanya kepadanya dan keluarganya, “Kalian berasal dari mana?” Istrinya juga sering diminta melepas jilbabnya! Setelah menjelaskan mereka berasal dari Afghanistan, pertanyaan selanjutnya adalah, “Mengapa kalian berada di sini?” Beberapa orang lokal tidak senang dengan peningkatan imigrasi dan mereka kecewa dengan pemerintah karena membiarkan lebih banyak “orang berkulit coklat dan hitam” datang ke sini. Mereka mengatakan sekolah dan rumah sakit “penuh karena imigran”.

Saat melamar kerja dengan nama Muslim, mereka ditanya, “Apakah anda seorang Muslim? Jadi, anda harus berhenti kerja untuk salat? Dan berpuasa saat Ramadhan? Jadi hal-hal itu akan merugikan perusahaan kami, betul?” Rupanya, sebagian dari perusahaan tersebut sangat membutuhkan pekerja tambahan, dan hanya mau mempekerjakan Muslim karena penduduk lokal kulit putih tidak tersedia.

Satu keluarga datang dari Afghanistan. Setelah anak-anak mereka dewasa, sang ibu ceraikan suaminya. Salah satu anak perempuan menikah dengan pria non-Muslim, menjadi hamil, lalu bercerai juga. Dan anak-anak itu berhenti melaksanakan salat karena mereka hidup seperti orang Barat, tanpa agama. Akibatnya, orang tua menjadi depresi, dan anak-anak juga depresi, dan orang tua menyesal pernah datang ke sini.

Ada tekanan untuk “berasimilasi” dan menjadi seperti penduduk lokal, hanya berbicara dalam bahasa mereka, berpakaian seperti mereka, makan seperti mereka, minum alkohol dan berjudi seperti mereka, menikmati kehidupan ini seperti mereka, dan mengganti budaya sendiri dengan budaya mereka. Jika anda mau melakukan itu, maka anda akan dianggap “imigran yang baik”. Dan jika anda ingin mendapatkan pekerjaan, mungkin lebih baik mengubah nama juga. Buang nama “Muhammad Salahuddin” dan jadilah “Dean”, supaya rakyat lokal lebih mudah menerima anda.

Banyak orang tua Muslim khawatir tentang masa depan anak dan cucu mereka. Akankah mereka kehilangan identitas mereka? Seorang pria berkata, “Lebih baik hidup miskin di negara asal saya di mana anak-anak saya beriman kepada Allah, daripada tinggal dalam istana di Barat tetapi anak-anak saya menjadi tersesat!” Jadi, jika seseorang ingin tinggal di negara maju untuk dapat “kehidupan yang lebih baik” di negara Barat yang bagus, bersih, dan maju, tetapi setelah bertahun-tahun, anak-anaknya telah kehilangan iman, bahasa, dan budaya mereka, lalu apa sebenarnya yang didapatkan oleh orang tua itu? Faktanya, mereka kehilangan semua yang penting bagi mereka.

Seorang insinyur IT Muslim mengatakan bahwa di hampir setiap pekerjaan yang dia lamar, pekerjaannya akan menguntungkan AS dan Israel. Semua sistem IT dan jaringan keamanan terhubung dengan negara-negara tersebut. Jadi, dia berhenti bekerja di bidang itu, lalu kesulitan mendapatkan pekerjaan karena nama Muslimnya, dan kemudian menjadi sopir taksi saja.

Banyak orang mengatakan ada berita rutin tentang usaha kecil yang bangkrut di Selandia Baru. Setiap tahun, semakin sulit mendapatkan pekerjaan, dan banyak orang pindah ke Australia atau Amerika untuk mencari pekerjaan dan gaji yang lebih tinggi. Jadi, pemerintah Selandia Baru mendatangkan lebih banyak imigran untuk melakukan pekerjaan yang tidak diinginkan penduduk lokal (seperti menjadi tukang kebersihan, sopir, dll.) dan juga mendatangkan dokter imigran (dan pekerja profesional yang lain), setelah banyak dokter dan perawat lokal juga pergi ke luar negeri untuk dapat gaji yang lebih tinggi. Semua orang yang saya ajak bicara (orang lokal dan imigran) mengeluhkan kondisi ekonomi, biaya hidup yang tinggi, dan betapa sulitnya untuk maju. Selain kelas menengah atas dan orang kaya, semua orang lain tampaknya “menderita” dan tidak bahagia.

Seorang bapak berkata, ketika dia berada di Afghanistan, ada bahaya fisik terus disebabkan perang selama 20 tahun. Tetapi di Selandia Baru, ada "bahaya spiritual" terus, dan itu terasa lebih buruk daripada bahaya perang!! Saat ada bahaya fisik dari perang, dia hanya dalam bahaya ketika bom jatuh di dekat rumahnya. Tetapi di sini, ada bahaya spiritual tanpa henti. Setiap hari, keluarganya menghadapi tekanan untuk "berasimilasi" dan membuang hal-hal yang penting bagi mereka: Agamanya, bahasanya, budayanya, dan bahkan nama mereka juga. Lalu, apa yang akan terjadi pada anak dan cucu mereka di masa depan? Jadi, dia menyesal datang ke sini dan sedang membuat rencana pulang kampung ke Afghanistan, dan beberapa orang tua lain mengatakan hal yang sama kepada saya.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi umat Islam di Indonesia agar bisa merenung kembali tentang keinginan mereka untuk tinggal di negara Barat. Dan juga bisa lebih bersyukur atas semua nikmat yang Allah SWT berikan ketika anda diizinkan lahir dan menetap di Indonesia seumur hidup. Kalau anda mau komplain tentang semua hal yang “rusak”, harus dipahami bahwa di negara lain juga banyak yang rusak dulu. Tetapi setelah rakyat BERSATU dan berjuang bersama, mereka berhasil memperbaiki negaranya, menjadi negara maju. Anda juga bisa.

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...