Monday, March 03, 2008

Kelaparan, Ibu Hamil Meninggal

[Konglomerat Indonesia jangan baca ya. Takutnya nanti ada rasa aneh di dalam dada. Sebenarnya, itu rasa malu, tetapi karena anda tidak terbiasa dengan perasaan itu, malah dianggap penyakit berat sehingga Bapak/Ibu Konglomerat langsung terbang ke Singapura untuk check-up. Berlian 100 karat jangan lupa bawa juga ya Pak Konglomerat. Takutnya dia kesepian kalau ditinggalkan di rumah sendirian tanpa ada yang menciumnya setiap hari.]

Kelaparan, Ibu Hamil Meninggal

(01 Mar 2008, 457 x)

Laporan : Rahim dan Amiruddin

Disusul Putra Kedua, Anak Bungsunya Juga Kritis. MAKASSAR--Suasana di salah satu rumah yang terletak di Jalan Dg Tata I Blok 5, tampak lain dari biasanya. Puluhan warga di sekitar lorong itu, berkumpul dan tampak larut dalam suasana duka berbalut kesedihan.Salah seorang tetangga mereka, Dg Basse, 35, yang sedang hamil tujuh bulan, meninggal dunia bersama jabang bayi yang dikandungnya, sekira pukul 13.00 Wita. Tragisnya lagi, hanya berselang lima menit, Bahir, 5, anak ketiganya, juga menyusul meninggal.

Ibu dan anak ini meninggal akibat kelaparan setelah tiga hari tidak pernah menelan sebutir nasipun.

Hal sama nyaris menimpa, Aco, 4, anak bungsu mendiang Basse. Untung saja, sebelum ajal datang menjemput, warga sekitar bergegas membopongnya ke ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Haji.

Pada saat itu, kondisi Aco sudah sangat parah. Jangankan bergerak, mengedipkan kelopak matanya terlihat susah.

Basri, 40, suami dan ayah korban, yang sehari-harinya bekerja sebagai pengayuh becak, tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya bisa tepekur menyaksikan orang-orang terdekat dan amat dicintainya, telah meregang nyawa satu persatu setelah ia tiba di rumah.

Satu-satunya yang dia mampu lakukan hanya “memboyong” jazad istri dan seorang anaknya ke kampung halamannya di Kassi, Kabupaten Bantaeng, dengan ditemani Baha, 7, anak keduanya. Sementara untuk menjaga anak bungsunya yang dibawa ke Rumah Sakit Haji, Basri hanya memercayakan kepada anak sulungnya, Salma yang baru berusia 9 tahun.

“Sehari-hari memang sering terdengar suara anak-anak itu menangis. Kalau keluar rumah, biasanya kita tanya kenapako menangis nak. Katanya, mereka lapar,” tutur Mina, 42, tetangga korban yang sempat ditemui, kemarin.

Penuturan Mina ini juga diperkuat dengan hasil pemeriksaan tim medis RS Haji yang menangani anak bungsu mendiang Basse. Dokter jaga UGD RS Haji, dr Putu Ristiya mengatakan, Aco positif menderita gizi buruk.

Saat baru tiba di rumah sakit, kata Putu, kondisi kesehatan anak itu mengalami dehidrasi berat. Beratnyapun hanya 9 kg. Nanti setelah diberi cairan dua botol, kondisinya agak membaik. “Padahal untuk anak seusia ini (Aco, red) berat idealnya 15-20 kg. Jadi, ini positif marasmus (gizi buruk),” kata Putu Ristiya.

Berpenghasilan Rp5 Ribu

Bagaimana sebenarnya kehidupan Basri dan mendiang Basse? Menurut penuturan Mina, selama ini, ekonomi keluarga pengayuh becak itu memang sangat memprihatinkan. Penghasilan yang diperoleh tiap hari rata-rata hanya Rp5 ribu hingga Rp10 ribu saja. Akibatnya, untuk membeli beras amat kesulitan.

“Kalau mereka beli beras satu liter, biasanya itu untuk mencukupi makan selama tiga hari. Sehari semalam mereka cuma bikin bubur satu kali,” tutur Mina.

[…]

Bayangkan, mereka makan tanpa sayur. “Paling kalau makan kuahnya pakai minyak bekas penggorengan. Karena tidak punya uang untuk beli ikan, mereka juga hanya makan garam. Saya tahu, sebab saya sering melihat mereka makan dan memberinya ikan,” ungkap Hasna.

Sempat Dibacakan Surah Yasin

TRAGIS dan menyedihkan, memang. Kalimat itulah yang terasa pas disematkan untuk keluarga Basri. Dalam sehari, dia kehilangan istri, anak, dan jabang bayi dalam kandungan istrinya; Basse.

Rumah kayu yang berdiri di ujung lorong blok 4 Jl Dg Tata I, menjadi saksi bisu begitu beratnya hidup di Kota Makassar. Rumah tersebut tampak sangat kontras dengan rumah di sekelilingnya. Letaknya juga agak tersembunyi, sehingga tak tampak jelas dari luar.

Di atas rumah panggung itulah Basri dan keluarganya tinggal sejak lima bulan lalu. Sebagai pengayu becak dengan berpenghasilan pas-pasan, kondisi tempat tinggal Basri begitu memprihatinkan. Bagian atas rumah yang ditempatinya dibagi empat petak. Untuk dapur, ruang tengah, ruang tidur, serta gudang.

Di tempat itu, jangan berharap mencari lemari atau perabot mahal lainnya. Sebab di situ hanya ada karung-karung berisi pakaian, rak piring, satu kompor, satu tungku, serta sejumlah peralatan masak, seperti panci dan piring tua, serta dua kasur usang.

Di atas kasur itulah, Basse dan anaknya, Bahir, meninggal karena kelaparan dan sakit. “Dia pertama sakit pada Kamis, sore. Saat itu, sepanjang malam ia menangis dan berteriak kesakitan. Ia sempat tidur saat Jumat subuh, namun hanya beberapa menit lalu terbangun lagi dan menangis kembali,” tutur Hasna, tetangga Basri yang menemani Basse hingga ajal menjemput.

Bahir sendiri yang sakit lebih awal, sempat dibawa ke salah seorang mantri bernama H Idris di Bonto Duri. Namun, langsung dirujuk ke RS. Karena tak punya uang, Hasna lalu membawa mereka ke klinik Rezki. Di situ, Hasna sempat memelas sebelum akhirnya diberi obat mahal dengan hanya membayar Rp10 ribu.

Menurut Hasna, malam sebelum meninggal, Basse berak-berak puluhan kali. “Setiap dikasi sarung, pasti berak lagi. Saya tidak bisa menghitung berapa kali, yang pasti puluhan kali,” katanya. Sebelum meninggal, Hasna sempat memanggil seorang ustaz bernama Syamsuddin. “Pak Syamsuddinlah yang membacakan yasin dan menuntun untuk salawat. Makanya di kamarnya ada Alquran,” beber Hasna.

“Saat akan meninggal, pak ustaz memegang satu tangannya dan sebelah lagi saya yang pegang. Saat akan meninggal, Basse baru terlihat tenang. Ia meninggal kira-kira pukul 13.00. Sebab saat itu, baru saja selesai salat Jumat,” sambung Hasna.

Dg Kanang, tetangga lainnya, membenarkan begitu menderitanya Basse sebelum meninggal. “Saya bahkan tidak bisa lagi tidur sejak bangun tengah malam karena dia (Basse, Red) menangis dan berteriak terus,” katanya. (him-amr)

Sumber: Fajar Online

3 comments:

  1. ssalamua'laikum wr. wb.

    Sampai kapan berita2 seperti ini akan berakhir. Saya merasa heran apakah keluarga Basri tidak memiliki saudara atau tetangga? Seandainya kita semua mempunyai kepedulian kepada sesama insyaallah kejadian ini tidak akan pernah ada.

    Mengapa tetangga atau saudara Basri yg mampu tidak mau membantu hanya untuk meminjamkan atau membelikan beras untuk sekedar makan mereka. Untuk berbuat baik tidak harus dilakukan pada lingkup yang besar atau luas tapi dimulai dari linkungan terdekat seperti keluarga & tetangga.

    Andaikan setiap kita mempunyai keikhlasan untuk berbagi dan tidak hanya memikirkan diri sendiri insyaallah saudara2 kita yang tidak beruntung akan bisa menikmati kehidupan ini sesuai dengan hak mereka, karena disetiap harta yg kita miliki ada hak orang miskin & anak yatim.

    Keluarga Basri bisa saja menuntut pemerintah, karena sesuai dengan pasal 34 UUD 1945 bahwa Fakir Miskin & Anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara. Disini terbukti bahwa Negara telah gagal melaksanakan kewajiban tersebut.

    Untuk pemilik berlian 100 karat, tolong dong berbagi lebih lagi dengan kami oarng miskin. Do'a orang2 miskin insyaallah akan lebih makbul. Kami do'akan semoga harta kalian ditambahkan lagi, jangan lupa untuk berbagi dengan kami.

    Andaikan banyak orang seperti Mr. Gene, akan berkuranglah penderitaan orang miskin diINDONESIA. Hidup Pak Guru. Anda andalah contoh buat saya.

    Hari ini saya banyak berandai-andai, mudah2an suatu saat bisa menjadi kenyataan.

    Wassalamua'laikum wr. wb.

    ReplyDelete
  2. Komentar dari teman lewat email:

    Sungguh tragis, dan sangat memprihatinkan, bangsa indonesia dulu tekenal sekali dengan semangat kekeluargaan, gotong royong, dllnya yang menyiratkan rasa empati antar sesama baik itu kaya,miskin ataupun biasa-biasa.. Apakah seiring dengan kemerosotan ekonomi, kemorosotan akhlaq juga segala rasa menjadi mati?

    Jika mendapat berita semacam ini saya juga merasakan nyeri di dada oleh akibat keprihatinan yang mendalam, apakah pak rt setempat atau para tetangga di sebelah2nya begitu tidak peduli atas ketidak berdayaan dan kelaparan yang terjadi di lingkungannya? sampai harus terjadi kelaparan sekeluarga begitu..apakah pak ustadz itu hanya bisa membacakan yasin saja tidak memberi mereka makanan,minuman dan pengobatan.. jadi selama ini kemana ketika tangan2 yang membutuhkan pertolongan menengadah meminta sesuap nasi ataupun sebutir nasi..apakah mereka memalingkan wajahnya? itu kan di makasar bukan? yg merupakah salah satu kota terbesar di wilayah timur indonesia?
    Para tetangga mendengar jeritan lapar itu hampir setiap hari.. apakah mereka berbuat sesuatu untuk sekedar menghalau rasa lapar dan dahaga? apakah mereka menyapa atau bertanya kenapa si anak selalu menangis ataukah mereka sangat jengkel mendengar jeritan itu sehingga berdo'a agar jeritan tangis itu cepat lenyap...
    Ya Allah maafkan atas segala prasangka buruk dan ketidak berdayaan hambamu dalam memberikan pertolongan ataupun berbuat lebih untuk saudara2 hamba ini.. semoga pintu maaf dan ridho selalu terbuka untuk umat-Mu yang tidak berdaya ini...

    hanya sepotong keprihatinan
    :-D

    ReplyDelete
  3. baca berita begini, jadi sedih dan ngeri, sedihnya udah jelas, ngerinya kalau itu terjadi dg tetangga kita, atau orang yg kita kenal, dan kita ngga berbuat apa2 yg berarti untuk membantu dia...kalau sampe kejadian begini, dan sbg tetangganya ngga peduli, udah pasti kita yg jadi tetangganya bakal dilempar Malaikat ALLAH kelubang neraka...ngeri..
    Gimana perasaan pak rt/rw/lurah/walikota/gubernur/presiden ya???

    ReplyDelete