Thursday, June 11, 2009

Bayi Prematur Jadi Buta, Keluarga Laporkan RS Omni ke Polisi

Rabu, 10/06/2009 15:56 WIB
Ken Yunita - detikNews
Jakarta - Rupanya tidak cuma Prita Mulyasari yang merasa dizalimi RS Omni International Alam Sutera. Perasaan itu juga dirasakan seorang ibu bernama Juliana.

Kuasa hukum Juliana, Slamet Yuwono menduga, rumah sakit berlabel internasional itu telah melakukan malpraktek terhadap 2 putra kembar Juliana, Jared dan Jayden. Dugaan malpraktek tersebut menyebabkan salah satu anak Juliana buta.

"Hingga menyebabkan salah satunya mengalami kebutaan," kata Slamet kepada detikcom, Rabu (10/6/2009).

Pengacara dari tim OC Kaligis itu mengatakan, pihaknya akan melaporkan RS Omni International dengan pasal 360 KUHP dan pasal 79 UU Praktek Kedokteran.

"Kita sudah melaporkan ke Polres Tangerang, tapi kita diarahkan ke Polda Metro Jaya biar tidak salah penanganan," kata Slamet.

Lalu kapan akan ke Polda Metro Jaya? "Kalau tidak sore ini ya besok pagi," kata Slamet.

Informasi yang diterima detikcom, peristiwa ini terjadi sekitar setahun yang lalu. Pada 26 Mei 2008, Juliana melahirkan dua anak kembar prematur. Kedua anak yang diberi nama Jared (1,5 kg) dan Jayden (1,3 kg) itu dirawat dalam incubator selama 42 hari.

Kondisi fisik Jared dan Jayden sebenarnya baik-baik saja, namun mata kedua bayi tersebut bermasalah. Mata Jayden mengalami silinder 2,5 sedangkan Jared lebih parah karena kedua matanya buta.

Diduga, masalah kedua bayi mungil itu terjadi karena dokter specialis anak yang menangani Jayden dan Jared kurang mengkontrol bahkan tidak melakukan SOP (Standar Operasional Prosedure). Jared diduga mengalami kebutaan fatal akibat kelebihan oksigen selama berada di inkubator di ICU.

Setelah dirawat di RS Omni International, Juliana sempat membawa kedua Jayden dan Jared untuk diperiksa di Klinik Mata Nusantara di Kebon Jeruk. Hasil pemeriksaan menyatakan, sel syaraf mata Jared lepas dari retina sudah mencapai stadium 4. Jared pun tidak bisa melihat.

Juliana juga sempat membawa Jared ke RS Aini dan hasilnya pun sama. Tidak menyerah, Juliana pun terbang bersama Jared ke Westmead International Children Hospital di Sydney namun tetap tidak ada harapan.

Hasil pemeriksaan dari 3 RS itu menyatakan, Jared menjadi buta akibat kelebihan oksigen selama di inkubator. (ken/iy)

Sumber: Detiknews.com

2 comments:

  1. Komentar dari teman:

    Bayi prematur memang riskan sekali. Anak saya ada yang lahir prematur, 7 bulan, wah orang tua, terutama suami harus sangat sigap, jangan percaya saja kepada rumah sakit.

    Saat itu, inkubator bayi saya pernah terlalu panas, thermostatnya tidak jalan. Wah saya sudah heboh, panggil suster ke sana kemari. Minta ganti inkubator.Tetapi inkubator yang baru, pemanasnya malah mati-hidup... walah!

    Kemudian masalah pemberian ASI, wah jadi masalah juga..rumah sakit maunya susu formula..katanya khusus untuk bayi prematur...10 hari berat badannya nggak naik-naik...pokoknya heboh...padahal ASI ibunya sudah bisa keluar...

    Akhirnya saya putuskan untuk diambil saja, bawa pulang, dirawat secara tradisional, pakai inkubator botol sirup yang diisi air panas, alhamdulillah ada keluarga istri yang bantu jaga 7 x 24 jam, gantian, saya, istri saya, dan keluarga lain...sekarang sehat! sudah 7 tahun

    Tentu saja ketika meminta untuk "cabut" saya harus menandatangani pernyataan untuk tidak menuntut dokter dan rs kalau terjadi apa-apa.

    Tips buat keluarga muda: Jangan percaya 100% ke satu dokter atau RS saja.

    Alhamdulillah karena saya suka baca buku, termasuk buku-buku kesehatan keluarga, perawatan bayi, anak dsb maka ketika terjadi masalah bayi prematur saya sangat terbantu untuk menentukan dan mengambil sikap.

    ReplyDelete
  2. banyaknya kasus2 seperti ini, bikin kepercayaan kepada tenaga medis dan rumah sakit disini berkurang.

    Tadi pagi pun, teman saya cerita: ketika atasannya hamil, karena si ibu itu memiliki penyakit bawaan yg resikonya besar, dokter di jakarta, malah menyarankan aborsi saja, masih kurang percaya dengan diagnosa dokter dijakarta, dia ke singapura, dan dokter disana, malah bilang kehamilan itu masih bisa dipertahankan dengan kontrol khusus dan sebagainya, sambil merobek surat rekomends dokter dr jakarta. sekarang anaknya lahir alhamdulilah sehat wal afiat.

    Kasus ibu juliana ini, tadi pagi diangkat di SPI tvone, dengan penuh emosi si ibu ini jg bilang, kenapa dia memilih Omni, karena alasan merk 'Internasional'nya itu, dan dia yakin bisa lebih bagus pelayanannya, namun kenyataannya mengecewakn, dia cuma nuntut permintaan maaf dr pihak rumah sakit, kasusnya sudah lama bergulir, terus ketika lewat line telepone pihak TV menghubungi direktur RS Omni: jawabannya cuma: iya bu kami ikut prihatin.., nanti kami tindak lanjuti dsb.., lalu ketika dicecar terus oleh presenter Tv, si direktur RS omni: halo..halo..ya..halo..halo..suaranya kecil tidak terdengar..maaf..lalu sambungan telpon diputus*
    *buat saya malah menggelikan, jangan2 cuma akting saja, toh saya pikir lokasi OMNI bukan ditengah hutan belantara yang jaringan telponnya jelek, atau paling tidak dia kan bisa sambil nonton TV lihat ibu juliana dengan keluh kesahnya di TV"

    walaupun dalam UU dinyatakan bahwa pasien bisa menuntut ganti rugi materiil 2 milyar ke RS jika menuntut, kata ibu juliana: hak kesehatan anaknya tidak bisa digantikan dengan uang! emang.

    Kesimpulannya: tutup aja tuh Omni Hospital, karena lokasinya strategis mending diganti buat bangunan taman jajan aja, seberangnya kan ada Mcd..????**:P

    ReplyDelete