Wednesday, June 10, 2009

The Big Picture: Scenes from the Zoo

So cute!

Scenes from the zoo.

3 comments:

  1. Subhanalloh keren abis tuh foto-foto, ada Jamila, Jasmin, Sophia, Safitri.....(nama-nama manusia).

    Menurutku foto yg paling keren adalah gambar katak kuning, dimana ya bisa dapat katak itu?

    Yang paling hebat adalah standar pelayanan kesehatan pada hewan di kebon binatang. Orang Miskin di Indonesia ga bakalan deh dapat pelayanan kesehatan sebagus itu....Hmmmm

    ReplyDelete
  2. Biar kalian semua tahu aja, di negara barat seperti Australia ada organisasi khusus untuk melindungi binatang. Di manca negara, namanya mirip. SPCA, atau RSPCA.
    Di Australia, ada RSPCA = Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals. (Di Amerikan “royal” dihilangkan). Mereka dapat dukungan dari pemerintah, dan dari masyarakat secara luas. Nggak pernah kehabisan sumbangan dari rakyat.

    Tugasnya sederhana: menjadi advokat hukum dan sosial atas nama binatang yang tidak punya suara atau hak pilih.
    Membunuh binatang untuk dimakan bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah “menyiksa” binatang, tanpa tujuan sama sekali selain mau menyiksa binatang. Dan UU dibuat serupa, dan dijaga oleh polisi secara benar.

    Kalau anda bunuh seekor anjing karena dia liar dan berbahaya, dengan sekali tembak/suntik atau yg lain, no problem. Tapi kalau anda memukul anjingnya dengan tongkat selama beberapa minit, sehingga dia mati dari luka2nya secara pelan, anda akan ditangkap oleh polisi. Minimal ditilang ratusan dolar. Maksimal dipenjarakan untuk beberapa tahun.

    Masyarakat diajarkan dari SD bahwa manusia yang berbudaya tinggi pasti peduli dan sayangi binatang. Binatang ternak memang untuk kita makan, tetapi tidak berarti kita tidak peduli pada mereka selama hidup. Dan untuk non-binatang ternak, lebih peduli lagi.

    Terus terang, saya jadi sedih melihat begitu banyak orang yang simpan burung besar dalam kandang kecil, hanya untuk menghibur diri sendiri. Kakatua ditangkap, dikasih kandang 2x lebih besar dari badannya, dan kakinya dirantai. Selama di australia dan selandia baru, saya hampir tidak pernah melihat yang serupa.

    Di australia, yang umum adalah seperti yang dilakukan orang tua saya: buah dan roti (yang dibeli secara sengaja, atau yang bekas dari apa yang kita makan) ditaruh di halaman depan/belakang rumah biar burung mau datang sendiri. Orang sengaja memilih dan menanam pohon yang sudah ketahuan sebagai kesukaan burung tertentu. Tinggal tanya saja ke tukan yang jual pohon, sudah informasi umum di sana. Kalau tanam pohon X, nanti burung ini bakalan datang. Kalau pohon Y, burung lain akan datang (karena suka buahnya dll).

    Anak kecil begitu peduli pada koala, kuskus, burung, ikan, kucing, anjing, dan lain2. Saat saya kuliah, tahun pertama saya tinggal di asrama di kampus. Di depan ruang tivi ada pohon besar, dan ada semacam kuskus (possum) yang suka datang lewat batang pohon dan berdiri depan jendela mencari makanan. Ada juga sejenis kuskus kecil (flying fox) yang bisa terbang jarak pendek karena ada kulit di antara kaki dan tangannya. Panjang badannya hanya 15 cm. Dia datang juga setiap beberapa hari dan sangat suka kalau dikasih madu diatas roti. Dijilat2, dan kalau madunya ditaruh diatas jari tangan dia jilat2 juga.

    Oleh karena itu, kita suka sisakan buah dan taruh di situ untuk mereka. Bulunya halus sekali, dan mereka tidak takut/marah kalau disentuh pada saat dikasih makanan.
    Tidak ada satupun dari teman2 yang berfikir untuk tangkap mereka, taruh di kandang dan pelihara bisa kita bisa senang melihat mereka setiap saat. Kita justru lebih senang kalau mereka datang secara ikhlas karena mereka percaya pada kita sebagai orang baik, dan mereka tidak terancam.

    Kalau hal yang sama terjadi di indonesia, saya kira mereka (binatang itu) pasti ditangkap dan dijual, dan orang kaya seperti kita akan pelihara mereka dalam kandang kecil dengan rantai di kakinya.

    Saya sering merasa sedih sekali bahwa orang tua dan guru yang kafir telah berhasil mengajarkan anaknya yang kafir untuk peduli pada ciptaan Allah lebih dari ummat Nabi Muhammad sendiri.

    Dalam konteks ini, kalau mau cari orang yang sangat islamiah, silahkan cari di negara kafir. Di sana nuansa Islam terasa sekali (dalam konteks sayang pada binatang sebagai mahluk yang tidak boleh dianiayi secara kejam).

    ReplyDelete
  3. Di indonesia yang masih menjadi masalah dasar adalah sama: faktor ekonomi, kemiskinan, pendidikan:
    kalau ketiganya timpang dan pengetahuan dasar tentanng perlindungan hewan tidak dipahami secara luas, Hukum yang lemah dan bisa dijual beli:
    maka tidak heran kalau keanekaragamn hewan diindonesia mendekati kepunahan: Harimau sumatra, badak bercula 1 , elang jawa, orang utan dsb

    Jual beli hewan illegal: alasannya selalu sama : untuk kebutuhan hidup, lagi2 faktor ekonomi, harga yang menggiurkan di pasar gelap.

    Kalau Om gene pernah ke jogja, coba lha mampir ke Pasar Burung Ngasem di belakang kraton JOgja, Saya jamin pasti bisa menemukan hewan yg dilindungi UU, dijual sembunyi2. Dan itu sudah rahasia umum.

    Kalau dinegara berkembang dan masih miskin, rasanya masih sulit ingin menyamakan diri dengan negara maju dalam hal perlindungan binatang, selalu terkendala dana.

    Jangankan untuk pelayanan kesehatan hewan, untuk pelayanan kesehatan rakyat pun masih compang camping.

    Mungkin dengan memberikan edukasi mendasar pada anak2 sekolah agar melindungi dan menyayangi hewan, lalu hukum yang benar2 bisa ditegakkan. Hal itu bisa dicapai..

    kalau di australian bisa ada kus2 atau koala yang mendekat, dan mampir untuk mencari makan di kampus Om gene dulu , itu hewan ciri khas australia kan ya..
    *** saya jadi membayangkan***
    DI indonesia..
    menyediakan makanan, atau apa yg dilakukan seperti Om gene, lalu yang datang adalah hewan khas indonesia: badak, komodo..rasanya....mengerikan:)

    ReplyDelete