Thursday, July 10, 2008

Pengakuan Guru: Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Kacau!


Dear all,

Berikut ini saya sampaikan sebuah pengakuan dari seorang pendamping sekolah rintisan SBI [Sekolah bertaraf Internasional] di Jakarta yang mengeluhkan betapa kacaunya suasana pembelajaran di kelas rintisan SBI tersebut. Saya berharap agar surat ini dibaca oleh para petinggi Depdiknas agar mereka segera mengevaluasi program yang salah konsep ini.

Salam, Satria Dharma

#####

Pak Satria, saya salut berat dengan Anda. Andaikan saja ada orang yang berani menyampaikan semua ini ketelinga mentri pendidikan, semoga masih bisa mendengar kami yang di lapangan.

Saya guru pendamping sekolah rintisan SBI di Jakarta. Mau nangis darah rasanya menyaksikan pembodohan murid-murid saya yang tercinta ini oleh ambisi nggak jelas decision maker pendidikan kita. Pengajaran dilakukan oleh satu guru bidang dan satu guru pendamping bahasa Inggris. PAda hari-hari pertama saya masuk di kelas ini, murid-murid dengan antusiasnya berbahasa inggris dengan sesamanya dan dengan para guru. Tetapi lama-kelamaan antusiasme mereka meredup manakala guru-guru bidang (fis, kimi, mat, dan bio) ini tidak dapat merespon dalam Bahasa Inggris yang baik. Kalau murid bertanya dalam Bahasa Inggris, maka saya harus menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian guru menjawab dalam Bahasa Indonesia yang kemudian saya terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Saya merasa ini semua knonyol sekali. Kami tidak sedang berada di kelas bilingual di Canada tapi di Indonesia yang semua pihak mengerti bahasa Indonesia. Lama-kelamaan anak-anak malas bertanya dalam Bahasa Inggris. Saya harus seringkali mengingatkan mereka, tapi saya paham betul mengapa mereka jadi enggan berbahasa Inggris. Tambahan lagi, sukar bagi para guru senior ini untuk berbahasa Inggris yang baik karena faktor usia. Ketika mereka berbahasa Inggris sepatah dua patah kata, murid-murid tersenyum-senyum dan melirik saya. Bahkan salah satu murid mendekati saya usai pelajaran dan berkata, “Bapak dan ibu guru itu sudah deh berbahasa Indoneisa saja, bahasa Inggrisnya nggak becus…kacau…membingungkan…!” Para guru ini bukannya tidak menyadari hal ini. Mereka seringkali mengeluhkan perasaan ketersinggungan mereka ditertawakan murid. Para guru yang sejatinya digugu dan ditiru malah jadi bahan olok-olokan murid. Dan saya di tengah menyaksikan dagelan yang sama sekali nggak lucu ini setiap hari, para guru dan murid yang sama-sama frustasi korban ambisi yang nggak jelas.

Selain mendampingi murid di kelas, saya sempat juga mentraining mereka dengan ‘English for teaching survival’ misalnya percakapan membuka dan menutup kelas, kalimat-kalimat perintah di kelas, hingga masuk ke istilah-istilah khusus untuk 4 mata pelajaran IPA. Wuih, saya merasa ‘hebat’ sekali (hebat dalam tanda kutip loh)mempelajari lagi persamaan reaksi kimia, logaritma, tatanama makhluk hidup, dll. Saya merasa perlu belajar dulu materi yang akan diajarakan para guru di kelas nanti supaya saya bisa membantu mereka menerjemahkan ke Bahasa Inggris. Tapi jujur aja pak, saya mabok! Tambahan lagi susah sekali mengajak para bapak dan ibu guru untuk duduk dulu bersama saya merencanakan materi pengajaran. Idealnya, sebelum mengajar, saya dan guru bidang duduk bersama mendiskusikan materi ajaran dan cara penyampaiannya dalam Bahasa Inggris,sehingga ketika berada di kelas mereka sudah bisa menggunakan sendiri istilah-istilah khusus mata pelajaran yang diajarkan. Tapi ini jarang sekali terjadi. Para guru yang terhormat ini justru sibuk bermain game komputer di sela-sela waktu senggang mereka di ruang guru.

Ketika akan ujian, mereka meminta saya menerjemahkan soal-soal ke dalam Bahasa Inggris. Dan ketika mengoreksi, saya harus mendampingi mereka. Hal ini harus saya lakukan karena beberapa kali murid-murid saya komplain gurunya menyalahkan jawaban esai berbahasa inggris mereka karena faktor keterbatasan para guru dalam memahami tulisan berbasa Inggris. Asal tahu saja, hasil test TOEFL rata-rata murid jauh lebih tinggi dari para guru bidang ini.

Saya ingin sekali berhenti jadi pendamping kelas kelinci percobaan ini. Tapi saya sangat menyukai mengajar dan berada diantara murid-murid saya. I love these young energetic people so much.

You can see all comments on this post here:

Sumber: SatriaDharma.com

#####

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Pengakuan ini sesuai dengan apa yang sudah dikuatirkan oleh kami sebelum program ini dimulai. Kritikan terhadap program SBI sudah ditulis oleh saya dan pakar pendidikan seperti Pak Satria Dharma dari tahun 2007. Karena Diknas tetap menjalankan program ini tanpa persiapan yang dibutuhkan, sekarang terbukti (lewat pengakuan seorang guru) sebagai progam yang kacau, tidak bertanggung jawab, dan habiskan uang yang cukup banyak (dari pajak anda dan iuran sekolah yang anda bayar) tanpa memberi hasil yang dijanjikan.

Kapan negara ini akan mendapatkan pemerintah yang peduli pada pendidikan?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

Beberapa tulisan tentang SBI:

- Komentar Rencana Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)

- Sekolah Bertaraf Internasional tidak berjalan dengan baik

- Membahas Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di milis SD Islam

- Sekolah Bertaraf Internasional : Quo Vadiz?

7 comments:

  1. Assalamu'alaikum wr.wb.

    halo tetangga, gimana kabarnya??hehehe...

    btw, kapan negara indonesia mau peduli dengan pendidikan?

    ehmmm..kayaknya masih butuh waktu cukup lama. sistemnya sudah kadung kadung kacau sampai ke tulang sum-sum. ngomong2 sudah tahu sejarahnya pendidikan indonesia sejak jaman kolonial sampai sekarang belum??benar-benar payah...
    wah, kebetulan saya bikin tulisannya kemarin, tapi belum saya postingin. besok aja ah..hehehe...

    kayaknya saya setuju banget sama sidiknas ala Finlandia. kayaknya asyik...

    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    NAKULA

    ReplyDelete
  2. Assalammualaikum..

    Di daerah lebih kacau lagi, dana SBI digunakan buat jalan-jalan ke LN, dengan dalih studi banding. Ketika di kelas pun, kebanyakan guru masih menggunakan bahasa Indonesia...

    Sebenernya mau dibawa kemana sih pendidikan Indonesia?..

    gitu-gitu aja... cape de'... :)

    Wassalammualaikum...
    Ameliasari

    ReplyDelete
  3. Beberapa teman-teman anak saya (dari SMA yag berbeda-beda) baru pulang dari luar negeri ikut ortunya studi atau penelitian di negara berbahasa Inggris. Mereka bukan orang kaya sekali (umumnya peneliti pegawai negeri), makanya dimasukkan ke sekolah negeri. Bahasa Inggris mereka hebat sekali, pronunciation dan naturalness-nya, haiyah,,,bikin guru-guru bahasa Inggris di sekolah pada ngeper. Anak saya juga bahasa Inggrisnya rada lumayan, pronunciationnya lebih keren dari ortunya dan guru sekolahnya. Bahasa Inggrisnya selalu the best (boleh ya numpang bangga). Anak-anak remaja ini sering komplain kualitas bhs inggris gurunya di sekolah yang jauh dari yg mereka harapkan. Mereka ingin mempertahankan kemampuan berbahasa inggris mereka dengan tetap menggunakannya sehari-hari di rumah maupun di sekolah. Tapi di sekolah mereka sering diledek sok pamer, mentang-mentang pernah sekolah di luar. Padahal bisa mencapai native like language production itu nggak gampang. Kalau orang tuanya kaya, mereka bisa praktek ngomong di kursus yang ada native speakernya. Tapi sayangnya mereka nggak mampu bayar mahal. Anda tahu apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan membentuk club bahasa inggris, tanpa guru, tanpa orang tua, kumpul 2 minggu sekali ngobrol-ngobrol ngalor ngidul dalam bahasa inggris yang baguus sekali tanpa takut dibilang sok bule. Mereka menemukan komunitasnya dengan biaya nol. Katanya Club ini boleh diikuti siapapun dari sekolah manapun asal murid SMP SMA di Tangerang. Gratis tis tis tis.Tapi ini baru obrolan mereka. Ada yang bisa kasih ide bagaimana supaya bisa terlaksana dengan baik? Mereka mau mengkampanyekan 'jangan takut berbahasa inggris meskipun kere.' Berbahasa inggris kan nggak diharamkan oleh agama apapun toh?

    ReplyDelete
  4. Saya mau menanggapi pertanyaan Bapak/Ibu Ahuahu220490 tentang klub Bahasa Inggris anak SMP/SMA di Tangerang. Senang rasanya kalau mendengar para remaja berinisiatif melakukan kegiatan positif. Idenya bagus dan cukup solid. Supaya tambah menarik, bisa ditentukan tema/topik yang akan dibahas di setiap pertemuan. Akan lebih baik lagi kalau komunitas ini bisa membuat "book club" Bahasa Inggris. Wahhh... jadi mau ikutan saya :). Too bad I graduated from high school more than 10 years ago hee hee hee...

    ReplyDelete
  5. Yth Bapak/Ibu ahuahu220490

    Saya ingin sedikit berbagi pengalaman tentang English Club. semoga bermanfaat.
    Tapi waktu itu english club kami khusus untuk komunitas muslim.

    Sekitar tahun 2000/2001 secara tidak sengaja saya mengetahui ada english club di Masjid Al Ittihad di Tebet Mas Indah, karena setiap ahad /minggu pagi saya ikut pengajian di sana.

    Waktu pertama kali saya bergabung English Club ini belum digarap secara serius dan dikomandani oleh dua teman dari Makasar, rupanya di Makasar English Club merupakan kegiatan yang sangat populer.

    Pada waktu itu saya sedang les bhs inggris, jadi sy mengajak teman-teman les untuk bergabung. Alhamdulillah anggota English Club bertambah banyak. Dari sinilah akhirnya kami sepakat untuk membentuk english club yang serius, artinya ada struktur kepengurusan. Karena kegiatan masjid Al-ittihad memang sudah bagus maka english club menjadi bagian dari bidang pendidikan.

    Kami membuat brosur yang ditempel di Masjid, dibagikan di tempat les bahasa inggris, dan ditempat kerja masing-masing anggota. Dari sinilah English club kami menjadi besar dan mempunyai anggota yang banyak.

    Adapun waktunya adalah hari ahad/minggu dari jam 10 s.d 12 siang, sehinga setelah selesai english club kita sholat zuhur berjamaah.

    Cara yang kami terapkan adalah kombinasi acara yaitu:
    1. Acara debat.
    Setiap minggu pertama kami meminta salah satu teman untuk menyampaikan suatu artikel, topiknya bebas. Setelah artikel selesai di bacakan acara selanjutnya adalah berdebat mengenai isi artikel tersebut, setiap orang dipersilahkan untuk menyampaikan pendapat dan yang lain boleh mendebat.

    2. Game
    Untuk menghindari kejenuhan ( karena capek berbahasa inggris)biasanya kita membuat game yang kita ambil dari buku panduan game berbahasa inggrid. Acara ini biasanya benar-benar ramai karena untuk bisa memainkan game setiap peserta harus bisa memahami intruksi yang berbahasa inggris.

    3. mengundang Native speaker.
    Dalam satu bulan sekali kita mengundang bule, baik itu muslim atau non muslim. Untuk acara seperti ini biasanya seluruh anggota english club datang semua ( ga tau kayaknya kalo ama native speaker pada antusias bgt deh). Sayangnya sekitar dua tahun mengelola club ini, kami tidak berhasil mendatangkan Gene Netto, waktu itu alasannya sibuk sekali.

    4. mengundang English Club lainnya.
    Waktu itu kami mengundang english club dari masjid Al-Azhar, anggota mereka hampir seluruhnya sangat fasih berbahasa inggris, untuk berbagi pengalaman dalam pengelolaan english club Dan yang lainnya saya lupa dari mana.

    5. Mengadakan kegiatan english club di tempat wisata.
    Kami pernah melakukannya di taman bunga cibubur dan kebun binatang ragunan.

    Anggota kami juga pernah diundang untuk mengisi acara di RRI progama ... (saya lupa programa 11/111) dalam program bahasa inggris.

    Tak lupa dalam bulan Ramadhan kami juga mengadakan buka bersama, jadi acara english clubnya kita mulai dari jam 16 sore sampai bedug magrib.

    Subhanalloh english club kami waktu itu benar-benar bagus, karena memang didukung oleh teman-teman yang berkomitment tinggi terhadap kegiatan english club.

    Tapi akhirnya setelah satu persatu pengurus english club kami menikah dan saya pindah ke Tangerang...english club kami berhenti dengan sendirinya.

    Mudah-mudahan cerita ini bisa diambil manfaatnya.

    ReplyDelete
  6. Turut senang dan bangga atas kemandiriian dan keberhasilan English club Anda. Akan saya sampiakan ke anak-saya. Thanks

    ReplyDelete
  7. eeee...ala dalah....wong jepang aja gak mau pake bhs inggris kok, orangnya juga pinter2 biar g pake english, mana ada tulisan english d jepang..... orang semua ilmu ditransfer pake bhs jepang kok, knp kita tdk? mahal bayar guru yang sok rada inggris...gitu

    ReplyDelete