Friday, July 25, 2008

Saya Lebih Mau Kelaparan Daripada Kirim Anak Saya Ke SD Negeri


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Teman saya mengirim tulisan ini kepada saya untuk disebarkan kepada orang lain sebagai sebuah peringatan. (Dia juga seorang guru seperti saya). Untuk orang tua yang tergolong mampu di Indonesia, ada sekolah swasta yang mahal, tetapi untuk orang yang miskin, hanya ada sekolah negeri yang jauh dari standar tinggi yang layak. Staf di sekolah tersebut juga mungkin tidak kompeten menjadi guru dan tidak mengerti pendidikan (juga belum tentu punya ijazah pendidikan). Saya tidak bisa bayangkan masa depan bangsa ini seperti apa setelah puluhan juta anak tidak mendapat kesempatan menuntut ilmu yang baik dan mereka dengan mudah bisa diberi julukan seperti ‘autis’, ‘anak nakal’, dan lain-lain oleh guru mereka yang tidak kompeten. Walaupun saya sering membicarakan masalah pendidikan di sekolah swasta, tidak secara automatis berarti sekolah negeri adalah institusi pendidikan yang lebih baik.

Di dalam salah satu post di blog, saya sudah memberi pendapat saya bahwa Solusi Masalah Pendidikan ada di Tangan Orang Tua. Tetapi kalau orang tua tidak mau ambil tindakan secara pribadi dan bersatu untuk menuntut hak pendidikan buat semua anak bangsa, dan selalu mengharapkan bahwa ‘orang lain’ akan tangani masalah ini, saya yakin tidak akan ada perubahan dalam waktu singkat.

Kapan bangsa ini akan mendapatkan pemerintah yang peduli pada pendidikan?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

##########

Pagi ini saya masuk kantor telat. Pada saat saya masih di rumah bikin kopi, pembantu saya berkomentar bahwa anaknya menjadi bermasalah di sekolah. Saya kaget dengan pernyataan tersebut karena anaknya baru masuk Kelas 1 SD pada minggu yang lalu. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi ‘bermasalah’ hanya dalam satu minggu? Saya bertanya kenapa.

“Dia tidak bisa menulis dan para gurunya sudah mengatakan dia anak malas dan tidak mau berusaha.”

Saya tarik nafas panjang dan mulai menjelaskan tentang pendidikan di sekolah negeri di sini yang memang kurang layak karena seringkali tidak sesuai dengan teori perkembangan anak kecil. Saya jelaskan bahwa anak saya juga berumur 6 tahun dan baru masuk sekolah, dan juga baru mulai belajar menulis. Saya jelaskan bahwa memang tugasnya seorang guru untuk mengembangkan motivasi intrinsik untuk belajar [yang berarti guru harus mengembangkan niat seorang anak untuk mau belajar sendiri tanpa disuruh] dan saya mengatakan saya yakin anaknya tidak senang belajar menulis karena pelajaran dari guru tidak terasa menarik atau bermanfaat. Anak itu pasti ditekankan dengan cara yang tidak benar oleh gurunya. Proses belajar mesti menarik dan membahagiakan buat anak-anak karena kalau mereka menjadi bosan, mereka tidak akan mau belajar.

Ibu itu mendengar dengan baik, dan setuju dengan komentar saya, lalu tiba-tiba dia bertanya, “Apa itu autisme?”

Tentu saja saya langsung merasa sangat kaget dan bertanya kenapa dia mau tahu tentang itu.

“Karena gurunya mengatakan anak saya autis!”

“….APA???? Guru anak kamu di SD mengatakan anak kamu autis???”

Perlu saya jelaskan bahwa anak tersebut juga datang ke rumah saya setiap hari setelah sekolah. Dia main bersama dengan kedua anak kandung saya dan menunggu ibunya selesai kerja supaya mereka bisa pulang bersama. Saya sangat kenal anak pembantu saya ini dan saya sering memperhatikan dia bermain dengan anak saya. Dia berkomunikasi dengan baik, senang dengan semua macam mainan anak, punya daya imaginasi yang baik, dan seterusnya. Semua tanda-tanda anak autis justru TIDAK KELIHATAN di dalam perilakunya, dan sebagai seorang anak kecil yang biasa, dia sangat mirip dengan anak saya yang seumur dengan dia.

Kenapa dia bisa dikatakan ‘autis’ oleh guru SDnya? Apakah karena dia tidak menjawab gurunya dengan baik? Karena dia tidak mau nurut?

Siapa gurunya yang merasa sanggup bicara seperti ini? Sepertinya dia tidak punya latar belakang di bidang psikologi anak. Dan ternyata sang guru jelaskan kepada ibu ini bahwa dia ‘bisa tahu’ anak autis karena pernah dapat 1 anak autis di dalam kelasnya beberapa tahun yang lalu!

Jadi, menurut guru ini, seorang anak bisa dikatakan autis bila dia:

· Tidak bisa menulis setelah duduk di kelas satu SD selama 1 minggu

· Tidak nurut dengan guru saat disuruh menulis

Bagaimana dengan tanggapan orang tuanya? Tentu saja mereka tidak tahu apa-apa tentang autisme dan mereka langsung percaya ada masalah dengan anaknya karena SEORANG GURU sudah mengatakan begitu, berati pasti benar kalau seorang GURU yang mengatakannya.

Orang tua yang awam ini membuat solusnya sendiri sebagai terapi autis untuk anak mereka: anak itu (yang berumur 6 tahun) dimarahi oleh bapaknya, disuruh pergi dari bapak karena dia bikin bapak malu dengan autisnya, dan sama ibunya DIHUKUM dengan latihan menulis berjam-jam di rumah setiap hari. Tetapi anehnya, tegoran keras dan hukuman ini tidak berhasil mengobatinya dan anaknya tetap ‘autis’ karena tetap tidak mau nurut dengan guru di kelas pada saat dipaksakan menulis!

Saya habiskan banyak waktu pagi ini dengan mencari dan download info tentang autisme dalam bahasa Indonesia supaya bisa meyakinkan pembantu saya bahwa anaknya bukan penderita autis dan dia hanya seorang anak biasa yang mendapat guru yang tidak mau direpotkan dengan mengajar skil menulis di kelas satu SD.

Saya sangat tidak suka sikap banyak orang sekarang yang dengan buru-buru siap memberi julukan pada seorang anak pada saat ada tanda-tanda awal dari suatu sikap yang ‘tidak normal’. Setiap anak adalah manusia yang berbeda, individu, unik, dan istimewa. Kenapa tidak bisa dihargai begitu saja?

Saya jadi memikirkan anak saya yang sangat pintar dan sensitif. Bagaimana nasibnya bila dia juga dapat guru yang sama di sekolah yang sama? Guru itu akan mengatakan apa tentang anak saya? (Saya hampir tempatkan anak saya di SD yang sama juga karena takut sekolah swasta terlalu mahal untuk keluarga saya).

Pada umur 6 tahun, dia masih baru mulai belajar membaca dan menulis, punya kepribadian yang sensitif, mengubah mood dengan cepat, sangat logis, dan seterusnya. Pada suatu saat dulu, dia menjadi bosan di TK, lalu dia keluar dari kelas dan pulang sendiri (rumah saya tidak terlalu jauh). Tetapi, syukurlah, guru di TK swasta itu bisa mengatasi masalah ini dengan baik, tapi memberikan julukan buruk kepadanya, tanpa memberikan hukuman, dan tanpa mengganggu hatinya. Memang benar, ada sebagian anak di masyarakat yang punya gangguan belajar yang menghambat proses belajar mereka di sekolah. Tetapi kita mesti lebih berhati-hati dalam menentukan anak mana yang ‘bermasalah’.

Apakah ada masalah dengan anak atau dengan sistem pendidikan di mana anak hanya bisa dihargai bila mereka 100% rukun dalam semua perkara seperti klon? Apakah ada masalah dengan anak atau dengan gurunya yang tidak mengerti bedanya antara pelajaran yang dipusatkan pada anak (disebut child-centered) dan pelajaraan yang dipusatkan pada guru dengan sisitem hafalan saja (teacher-centered, rote learning). Apakah ada masalah dengan anak atau dengan gurunya yang tidak mengerti macam-macam metodologi pendidikan dan psikologi anak? Seharusnya pertanyaan inilah yang perlu ditanyakan sebelum anak kita di kelas satu SD boleh dikatakan ‘autis’, ‘tidak pintar’, ‘anak nakal’, ‘bermasalah’ dan seterusnya.

Saya bekerja dengan keras sekali supaya anak saya bisa masuk sekolah swasta yang baik. Yang saya anggap ‘baik’ itu bukan ditentukan oleh nilai di rapor anak saya atau rankingnya di kelas, tetapi didasarkan pada satu pertanyaan sederhana. Pada saat saya bertanya kepada anak saya berumur 6 tahun tentang kenapa dia suka sekolah, dia selalu jelaskan bahwa dia suka sekolah karena para gurunya sayangi dia dan itulah jawaban yang paling saya inginkan. Dia masuk sekolah dengan semangat dan punya semangat untuk belajar terus karena gurunya sangat baik terhadap dia dan bisa mendidiknya dengan cara yang layak untuk seorang anak kecil. (Dan karena itu, kedua anak saya tetap pada sekolah swasta yang sama untuk TK dan SD).

Terus terang, saya lebih mau kelaparan (untuk menghemat uang) daripada kirim anak saya ke SD Negeri.

Semoga bermanfaat,

Seorang Ibu di Jakarta

7 comments:

  1. Komentar dari seorang teman lewat email:

    >>Saya mengalami hal yang sama dengan Faiz. Dengan harapan supaya ia sejak dini mengenal masyarakat yang heterogen dari berbagai lapisan kelas, kami memasukkannya ke sekolah dasar negeri di dekat rumah kami dulu di Cipayung, Jakarta Timur. Ini sekolah terbaik di kecamatan.

    Tapi akhirnya saya tak tahan dan memindahkannya ke sekolah swasta di Depok. Di sekolah, Faiz tak boleh bertanya --padahal di rumah kami membiasakannya untuk bertanya. Ia tak boleh menjawab dengan kreatif pertanyaan-pertanyaan terbuka seperti, "Sepulang dari kantor, Ayah melakukan apa?" Jawabannya harus persis sama seperti di buku, "Ayah beristirahat." Padahal, kita tahu, ada sejuta jawaban yang benar untuk pertanyaan ini. Kejengkelan saya memuncak ketika protes saya pada guru justru dijawab dengan memarahi Faiz di kelas, bukan dengan menjawab protes saya, sampai Faiz berkata, "Ayah jangan protes lagi deh sama guru. Aku yang jadi sasaran di kelas." Bagi saya, pola pendidikan ini sama sekali tidak bermanfaat untuk mengembangkan kepribadian dan rasa ingin tahu anak --bekal penting di masa dewasanya nanti. Belum lagi hukuman fisik yang menimpa sejumlah kawan sekelasnya.

    Di sekolah yang baru, Faiz demikian suka dengan lingkungan, guru dan kawan-kawannya hingga ia selalu berusaha berangkat sepagi mungkin.

    Alhamdulillah, mungkin saya termasuk diantara orang tua yang, seperti Gene bilang, beruntung karena Allah cukupkan rizqi kami untuk menyekolahkan Faiz di tempat yang lumayan mahal. Tapi sebagian besar teman Faiz di sekolah dasar negerinya masih melanjutkan pendidikan yang sama, dan mau tidak mau, harus menjalani metode pendidikan yang tidak mendidik ini.

    Saya sedih membayangkan 'education gap' yang makin lebar ini, padahal kita juga tahu bahwa pendidikan merupakan salah satu cara untuk melakukan mobilisasi vertikal. Tentu saja kita harus menghargai inisiatif-inisiatif seperti Dompet Dhuafa yang menyekolahkan anak-anak berbakat dan tidak mampu di SMART Eklesensia Indonesia, Universitas Paramadina yang menyisihkan 2,5% kursinya bagi pemuda tidak mampu di sekitar kampus, Yayasan Pribadi yang memberi beasiswa bagi para pelajar berpotensi hingga Rumah-rumah Baca dan Hasilkan Karya (Cahaya) yang dikelola Forum Lingkar Pena. Tapi inisiatif-inisiatif swasta ini jelas tidak cukup untuk menjangkau jutaan pelajar yang terserak di seluruh Indonesia. Harus pemerintah yang melakukannya. Depkeu bersikeras sudah mengucurkan anggaran pendidikan lebih dari 20% dari APBN, sebagaimana amanat konstitusi. Tapi uang saja tidak cukup bukan? Butuh komitmen dan kerjasama seluruh aparat pemerintah untuk membuat seluruh anak negeri ini memperoleh pendidikan dasar dan menengah yang layak sehingga mereka bisa menjangkau masa depan yang lebih baik.

    Salam

    ReplyDelete
  2. Pengakuan dari guru sekolah negeri

    Saya tidak terlalu terkejut mendengar kisah-kisah buruk anak yang bersekolah di sekolah negeri. Dari hasil observasi lapangan dengan mendampingi guru di sekolah negeri, saya sependapat dengan Anda. Di sekolah negeri satu kelas 30 -45 anak berjejalan. Dengan jumlah anak sebegitu banyak, sukar bagi guru untuk mengharapkan anak-anak (apalagi SD) duduk diam dan mendengrakan guru berbicara. Di mata para guru, proses belajar adalah menjadi copy cat gurunya, berbicara dan berfikir sperti mereka. Sekolah yang saya dampingi termasuk (konon menurut diknas) adalah sekolah-sekolah unggulan. Tetapi dari 1 hari jam belajar kurang dari 60%nya dihadiri oleh guru pengajar dikelas. Selebihnya anak-anak dibiarkan 'belajar sendiri' dengan berbagai alasan, mulai dari guru yang harus rapat, ada tamu, pelatihan, mengunjungi teman sejawat sakit (mengapa dilakukan di jam kerja ya?) serta ber-MLM di ruang guru. Ketika guru hadir di kelas pun, pembelajaran sangat tidak efektif. Misalnya dalam pembelajaran Bahasa Inggris, murid-murid diminta presentasi tentang pet berkelompok 5 orang. Ketika presentasi hanya satu anak (dan biasanya yang paling pintar)saja yang berbicara dan 4 lainnya seperti boneka pajangan berdiri di depan kelas. Tidak ada feeback yang diberikan guru meskipun saya melihat ada beberapa kesalahan bahasa yang umum dilakukan murid dan cukup mengganggu pemahaman yang sangat bermanfaat jika dibahas. Saya sungguh tidak heran kalau setelah 3+3+3= 9 tahun belajar Bahasa Inggris dari kelas 4 SD -3 SMA kemampuan berbahasa Inggris mereka tidak lebih dari yes/no/I don't know and I love you. Kalaupun ada anak yang kemampuannya lebih dari itu mungkin mereka les di luar atau mendapatkan cukup exposure berbahsa Inggris dari TV, lagu,bacaan, maupun internet.

    Guru-guru di sekolah negeri umumnya memiliki kemampuan akademis dan metode pengajaran yang tidak memadai untuk layak disebut guru. Saya mengerti mengapa seseorang lulusan SPGA bisa menjadi guru bahasa Inggris dimana bahasa Inggrisnya sukar dipahami dan bagaimana seseorang lulusan IKIP jurusan Bahasa Inggris dan telah mengajar di SMA 20 tahun tidak bisa membedakan dan membandingkan fungsi simple present and present perfect tense. Beliau hanya tahu formulasi tense nya saja tanpa memahami dengan benar penggunaanya dari sisi makna. Bahkan ketika berbicara, bahasa Inggrisnya sangat kaku. Alasannya:
    1. Guru sekolah negeri tidak direkrut dengan melewati ujian kemampuan bidanganya. Dahulu, ketika melamar jadi PNS tesnya adalah psikotes, pengetahuan umum dan pengetahuan Pancasila. Saya tidak tahu bagaimana dengan seleksi calon guru negeri sekarang.
    2. Guru bahasa Inggris di sekolah negeri tidak dijaga mutu akademisnya. Ketika saya mengajar di satu kursus Bhs Inggris yang paling populer di Indonesia, setiap tahun para pengajar wajib mengikuti proficiency test. Berdasarkan hasil prof test ini ditentukan tingkat kenaikan hourly rate-nya. Guru yang kemampuan proficiency-nya jalan di tempat penghasilannya juga jalan di tempat dan jumlah jam mengajarnya lebih sedikit dibandingkan yang profieciency-nya meningkat.
    3. Di tingkat wilayah, ada banyak supervisor mata pelajaran yang mestinya berkeliling memantau dan menjadi tempat konsultasi para pengajar. Akan tetapi yang saya lihat di lapangan, ketika berkunjung ke sekolah mereka tidak masuk ke kelas-kelas dan mengamati guru mengajar. Mereka biasanya akan menghabiskan lebih banyak waktu ngobrol dengan kepsek dan pulang setelah mendapatkan salam tempel dari beliau. Sesi konsultasi lebih ditekankan pada ada atau tidak adanya lesson plan buatan guru yang akan dijadikan bukti laporan kunjungan kepada atasanyya dikantor.
    4. Ada MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) lintas sekolah yang sedikitnya melakukan pertemuan 1 bulan sekali. Tetapi di lapangan fasilitas ini nyaris tidak berfungsi. Presentasi yang dilakukan dalam pertemuan MGMP lebih banyak dihabiskan dengan perdebatan seputar kapan tunjangan ini itu bisa mereka terima, bagaimana mengisi berkas-berkas administrasi sekolah, dan sejenisnya. Kalaupun ada presentasi dari sesama guru, seringkali presentasinya tidak menjawab kebutuhan guru yang paling mendesak, misalnya bagaimana meningkatkan motivasi siswa belajar di kelas, bagaimana meng-handle kelas besar untuk kegiatan speaking. Seringkali juga presentasi dilakukan dalam Bahasa Indonesia (padahal semua yang hadir adalah guru Bhs. Inggris) dengan alasan agar pesan tersampaikan secara utuh dan menghindari kesalahpahaman. Atau yang mempresentasikan sama bloonya dengan yang mendengarkan. Guru-guru swasta sering menganggap menghadiri MGMP sebagai sebuah beban. Mereka benar, nyaris tidak ada pembelajaran dari MGMP ini. Tambahan lagi acara sering molor dan agenda pertemuan tidak jelas. Sekolah-sekolah swasta yang cukup bermodal memilih untuk memanggil pelatih dari universitas atau mengirimkan para gru pada sesi-sesi pelatihan di Sampoerna Teacher Training atau di UI. Guru-guru sekolah negeri umumnya harus berjuang sendiri untuk memintarkan dirinya.
    5. Guru sekolah negeri tidak dapat dipecat meskipun profesional mengajarnya sangat rendah. Hanya menteri pendidikan yang dapat memecat mereka. Ada juga sekolah negeri dengan komite sekolah yang sangat berdaya sehingga dapat mendesak kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas guru dengan berusaha mencari guru pendamping yang lebih berkwalitas. Guru pendamping ini diseleksi oleh komite sekolah dan dibayar dengan dana komite sekolah.
    6. Kepala sekolah banyak yang tidak punya cukup waktu untuk menggiring para guru untuk lebih profesional. Kepala sekolah sibuk ’mengemis’ ke pemerintah tentang betapa bututnya bangunan fisik sekolah sehingga murid-murid harus belajar dengan atap yang bocor di sana-sini. Kemudian pemerintah merenovasi sekolah mereka menjadi mentereng. Rengekan mereka tidak berhenti, selanjutnya mereka mendesak pemerintah dan komite sekolah untuk membelikan peralatan belajar canggih seperti laptop, in-focus, CCTV, class (home) theater dengan TV seukuran gajah. Bahkan yang lagi trend sekarang adalah meminta dirinya dan kroninya di sekolah dibiayai studi banding ke Australia dan Inggris seperti bapak-bapak di DPR itu dengan alasan mempersiapkan SBI (Sekolah Berstandard Internasional).

    Kesimpulan saya, murid-murid di sekolah negeri nyaris tidak mendapatkan apa-apa dari sekolah. Kalau anak ibu pintar disekolah, mungkin karena sudah in-born. Kalau dia disekolahkan ditempat yang baik, saya percaya kualitas anak ibu bakal lebih melesat. Hanya anak-anak yang cerdas dan independent learner saja yang bisa survive belajar di sekolah negeri. Jika anak ibu termasuk yang biasa-biasa saja, sukar untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya. Apalagi anak-anak yang kemampuannya di bawah rata-rata, mereka akan tergerus oleh keliaran suasana sekolah negeri.

    Hasil keberadaan mereka di sekolah-sekolah negeri seperti di atas adalah anak-anak yang tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang berkepala dan berhati kosong. Mereka yang bekerja tanpa melibatkan otak dan hatinya, persis seperti sekawanan zombie. Merekalah yang kita lihat sehari-hari; para guru yang mengajarkan anak kita di sekolah, para pegawai negeri lainnya, para pejabat, para anggota DPR, dll. Mungkin dulu mereka pernah melewati masa-masa pembentukan di sekolah-sekolh negeri semacam ini sehingga mereka menjadi orang yang tegaan, tega menipu rakyat dan mencuri dana BOS anak-anak miskin. Sungguh, saya menjadi sangat emosional ketika harus menceritakan kebobrokan di sekolah negeri.

    Sebagai orang tua dan guru, setiap kali saya melihat proses pembodohan anak-anak di kelas-kelas, hati saya rasanya teriris-iris dan marah sekali. Saya sangat beruntung punya pilihan untuk tidak mengirim anak-anak saya ke sekolah sampah semacam ini. Beberapa teman saya berusaha untuk memasukkan anaknya ke sekolah ungulan di tempat saya bekerja dengan cara menyogok jutaan rupiah, meskipun saya sudah menceritakan kondisi sekolah sejujurnya, tentang kualitas guru dan system pembelajaran di kelas. Anehnya, mereka tetap lebih percaya pada nama besar sekolah ini. Dengan alasan, jika anaknya bersekolah di sekolah negeri, mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk masuk UI dan ITB. Benarkah?

    Orang tua yang sebenarnya mengetahui dan memiliki kebebasan finansial untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya, tetapi memilih untuk menutup mata demi gengsi anaknya diterima di sekolah negeri unggulan, wajib merasa bersalah kalau kelak anak-anak ibu juga berkualitas sampah. Saya sangat setuju dengan ibu yang memilih untuk kelaparan daripada membiarkan anaknya diproses menjadi zombie di sekolah-sekolah negeri berkualitas sampah.

    Semua yang saya ceritakan ini bukanlah lagu baru. Kalau pendidikan di sekolah memang bermutu dan dapat diandalkan, kursus-kursus bahasa Inggris, bimbel, dan les-les pelajaran di rumah-rumah tidak akan tumbuh menjadi bisnis yang subur. Mengapa anak-anak kita tidak bisa pe-de hanya dengan mengandalkan pengajaran di sekolah untuk menghadapi UAN dan test masuk sekolah? Mengapa mereka baru merasa pede setelah mengikuti bimbel luar sekolah dengan membayar jutaan rupiah untuk mendapatkan kesempatan digeber 1-2 bulan penuh dari pagi hingga sore mengunyah soal-soal test masuk universitas?

    Selama 3 tahun belajar di sekolah, apa yang dilakukan/ dipelajari anak-anak kita? Kalau punya waktu silahkan hitung berapa banyak uang dan waktu yang telah dihabiskan untuk mengirimkan anak-anak kita ke sekolah, lantas hitung bagaimana output yang didapatkan mereka. Mahal dan murah tidak bisa dihitung dari berapa yang Anda bayarkan tetapi diperbandingkan dengan apa yang kita dapatkan dari pembayaran tsb. Mengirimkan anak ke sekolah negeri, meskipun yang katanya unggulan sekalipun, bisa lebih mahal dari pada di sekolah swasta yang bermutu. Sudah waktunya kita berhenti menilai kualitas sekolah dari segi kemasan sekolah unggulan, sekolah negeri berstandard internasional, sekolah negeri kategori mandiri, bla..bla..bla....
    JANGAN MAU DITIPU LABEL SEKOLAH YANG DIBERIKAN DIKNAS. JANGAN PERCAYA DENGAN HASIL EVALUASI SEKOLAH YANG DILAKUKAN DIKNAS. JANGAN PERCAYA DENGAN HASIL UJIAN NASIONAL. JANGAN PERCAYA DENGAN PIALA SELEMARI YANG DIPAJANG DI LOBY SEKOLAH. INI BUKAN INDIKATOR SEKOLAH BERKUALITAS

    Sekolah-sekolah negeri menjadi unggul bukan karena sistem dan guru-gurunya berkualitas unggulan (jauh panggang dari api), tapi karena mereka berkesempatan memilih input yang berkualitas dibandingkan sekolah lain. Jadi sekolah itu unggul karena memang anak bapak dan ibu sudah unggul ketika memasuki sekolah tersebut, bukan karena dijadikan unggul oleh sistem sekolah. Jangan tergiur dengan jumlah siswa yang memenangkan segala macam lomba dari lomba makan kerupuk tingkat sekolah hingga olimpiade fisika tingkat dunia. Sekolah nyaris tidak melakukan apa-apa terhadap anak-anak yang memang dari rumah sudah unggul. Tidak selayaknya sekolah menjual prestasi mereka untuk menipu orang tua murid seolah-olah merekalah yang telah bekerja keras mengantarkan anak-anak kita menjadi unggulan. Kalau anak Anda bodoh, jangan berharap untuk jadi pintar, meskipun kemungkinan ini ada (dengan cara sekolah berkolaborasi untuk memanipulasi nilai raport dan ujian nasional sehingga anak ibu berkesan ’pintar’ di atas kertas). Tulisan saya ini pasti akan sangat menyakitkan bagi teman-teman saya sesama guru. Tetapi begitulah yang saya lihat di sekolah negeri di mana saya bekerja sampai detik ini.

    Kalau Anda termasuk orang tua yang tidak punya pilihan selain menyekolahkan anak di sekolah negeri, masih ada harapan untuk menghindari anak-anak Anda terperangkap dalam zombinisasi. Ayolah, bapak dan ibu...jadilah orang tua yang kritis. Kritiklah kami para guru dan kepala sekolah sepedas-pedasnya. Jangan hanya manggut-manggut di rapat komite. Kalau teman-teman saya memble dan kepala sekolah cuex terhadap kualitas pengajaran sekolah, mungkin karena Anda juga memble, tidak mau peduli pada pendidikan anak-anak sendiri dan percaya seratus persen pada pembodohan yang dilakukan sekolah yang konon berlabel ’unggulan’. Anda menuntut guru bekerja keras, bagaiman kalau dimulai dengan Anda menunjukkan kepedulian pada kualitas dengan mengeritik kami di rapat komite.Dengan adanya undang-undang sisdiknas, bapak dan ibu punya power dan berhak untuk ikut campur merubah sekolah ke arah yang lebih bermutu. Kami para guru perlu disentil dan dibangunkan dari ketidakpedulian kami. Oh ya, kalau mengkritik jangan cuma berani di milis. Bicaralah di rapat komite, galang dukungan dari sesama ortu. Atau kalau sekolah tetap tidak peduli, tulis saja di koran ternama. Karena bagi sekolah, nama baik lebih penting dari realitas. Biasanya mempan. Jadilah ortu yang kritis, kalau memang Anda mencintai putra-putri Anda dan ingin melihat mereka tumbuh menjadi yang terbaik dari diri mereka masing-masing.

    Ayo lah...jangan memble dan cuex. Jangan beraninya ngedumel di belakang. Ayo ngomong di rapat komite, tulis di koran, atau lapor DPRD komisi pendidikan dan KPK!

    ReplyDelete
  3. Tolong kalau Anda menyekolahkan anak di program R/SBI dan berpenyakit jantung, JANGAN BACA dialog di bawah ini.

    Mau berbagi cerita lagi, boleh ya?
    Begini, barusan saya chatting dengan teman saya sesama pendamping kelas bilingual di sekolah lain. Dia bercerita ttg pengalaman rapat pertamanya dengan team kelas bilingual di sekolahnya hari itu. Ini laporannya.

    Hari ini kami mengadakan rapat koordinasi tentang pelaksanaan program SBI. Masalah utama yang dibahas adalah keluhan murid dan ortunya ttg minimnya penggunaan bhs inggris di kelas. Murid-murid kelas 1 (SMA) komplain dan sering menegur guru karena tidak berbahasa Inggris di kelas, padahal mereka (murid2) kalau menggunakan Bhs Indonesia kena penalti (skor kelakuannya dikurangi)

    Sekedar info, kami baru punya 1 kelas bilingual dg jumlah murid 25. Tetapi pejabat yang mengerumuni program ini buanyak sekali. Ada direktur RSBI, manager (RSBI), koordinator, wali kelas (2 org), team konsultan mata pelajaran science dan bhs Inggris (dari universitas , 3 professor 3 master 1 bule) yang nongol 1 kali dalam 6 bulan, bahkan 2 diantaranya belum pernah nongol sampai setahun. 1 assistent bahasa [teman saya] yang kudu stanby di kelas, babysitting the kids. Dan 16 guru mata pelajaran.

    Hari ini semuanya hadir di rapat, kecuali manager kurikulum dan kepsek..


    Guru A: Kami diprotes murid karena tidak menggunakan Bhs Inggris di kelas.
    Sebentar-sebentar murid X meneriakkan saya, ”English please.” Ih, sebel. Saya
    kan nggak kepengen ngajar di kelas bilingual ini kerna inggris saya jelek. Katanya saya bakal didampingi oleh guru bahasa Inggris, kok sampe saat ini mana tuh orangnya?
    Guru B: Betul. Saya juga diprotes murid karena sering salah pengucapannya. Kayaknya
    malu deh ditegur siswa .
    Guru C: Ah, masak sih? Saya kok nggak mengalami masalah itu. Pada saat pertama kali masuk kelas, saya sudah kasih tahu kondisi bhs Inggris saya yang belepotan jadi belum berani berbahasa Inggris di kelas . Mohon maklum. Gitu.
    Direktur: Lha, ibu nggak bisa gitu dong. Kan kta semua pengajar kelas bilingual.
    Sekolah sudah menghabiskan dana 300 jutaan lebih setahun ini untuk mengirim kita ke kursus paling hebat. Kita ini guru-guru pilihan untuk mengajar murid-murid pilihan. Semua guru bilingual wajib pakai Bahasa Inggris, terutam pengajar science dan matematika. Ingat loh murid sdh bayar spp jauh lebih mahal dg harapan gurunya speaking English.
    Guru C: setahun mah memang belum apa-apa. Katanya guru RSBI dikasih waktu 3 tahun untuk belajar Bhs Inggris di EF. Ini kan baru setahun, belum bisa diharapkan banyak dong. Apalagi yang dipelajari di kursus tuh nggak nyambung dengan kebutuhan saya ngajar. Saya perlu pake terminology matematika dan percakapan antara murid-guru. Itu yang ingin saya pelajari. Bukannya percakapan membooking hotel kayak di EF.
    Manager: Bahasa Inggris jangan dianggap beban dong. Sekolah- sekolah bertaraf internasional itu kan nggak cuma ditandai dengan penggunaan Bhs Inggris. Kalau ibu dan bapak datang tidak telat, dan mengajar dengn perhatian penuh, ini kan juga salah satu indikator pendidikan bertaraf internasional. Coba teman-teman pakai tuh buku2 Cambride yang disediakan sekolah. Oh ya, kita sudah habiskan dana 400 jutaan untuk beli buku Cambridge segitu banyak. Tolong dong dibaca-baca. Dari catatan sekertaris kelas, hampir semua anak di kelas ini meminjam dan tentunya membaca buku-buku itu di rumah. Tak satupun nama guru tercatat dalam buku peminjaman. Lha, gimana toh? Malu kan sama murid kalau mereka bertanya soal yang ada di buku Cambridge, terus kita bilang, ”Maaf ibu belum baca,nak.”
    Direktur: Begini ya, saya jadi inget dulu waktu dipaksa kawin sama pacar saya. Katanya kalo mau kawin jangan tunggu kaya, tunggu punya kerjaan dulu, rumah dulu, mobil dulu, dst. Yang penting kawin aja dulu, ntar rejeki juga datang, yang penting kerja keras dan berdoa. Bener kan, setelah saya menikah rasanya rejeki ngejar-ngejar saya tuh. Begitu juga dg RSBI ini, kita jalan dulu deh dengan modal apa adanya. Terus belajar mumpung pemerintah masih mau bayarin.
    Guru D: Di rapat komite kemaren ada ortu yang menawarkan jasa mengajar kimia di kelas bilingual. Kebetulan dia S2 nya di Inggris. Beliau pensiunan dari lembga penelitian punya pemerintah, jadi bisa membantu di kelas ini.Eh, sebenarnya sudah ada 3 ortu yang menawarkan diri.
    Manager: Ah, bayarannya pasti mahal! Kita nggak mampu.
    Guru D: Nggak kok. Mereka bilang mau kerja sukarela, kalo hanya seminggu sekali.
    Direktur: Maaf bapak2 dan ibu2. Asal tahu saja tujuan program ini adalah untuk meningkatkan profesional kita, bukan orang tua. Dengan adanya program ini kita dipaksa untuk belajar. Lagi pula saya nggak percaya penawaran mereka bener-bener gratis.
    Manager: Setuju. Lagipula kalau mereka ikut mengajar nanti murid-murid akan membanding-bandingkan kita dengan mereka. Lama-lama mereka protes, yang ngajar ortu kami aja deh, bapak dan ibu dipensiundinikan karena dianggap kurang pinter. Gimana coba?
    Guru E: Wah, jangan sampe deh kita diganti. Saya udah keburu nyicil motor nih [cicilannya dibayar dari insentif ngajar kelas bilingual]

    ReplyDelete
  4. Assalamu'alaikum,

    Setelah membaca artikel (titipan teman) Bapak, dan juga komentar dari yang lain, tangan rasanya gatal ingin nimbrung. Perkenankan saya memperkenalkan diri. Saya seorang perempuan Indonesia yang kebetulan beruntung untuk mengecap pendidikan dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi, di sekolah negeri. Hasil dari pendidikan sekolah negeri di negeri tercinta Indonesia--yang katanya kualitasnya jelek dan sebagainya--adalah: saya bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di negara tetangga, juga di Universitas Negeri-nya. Dan sekarang saya juga beruntung bisa melanjutkan sekolah ke salah satu negara Eropa, di Universitas Negeri juga. Jadi, tolong jangan sama-ratakan kualitas sekolah negeri yang kebetulan Anda mendapat pengalaman buruk, dengan kualitas pendidikan sekolah negeri se-Indonesia. Entah sudah berapa banyak lulusan luar negeri yang saya tahu yang mengecap pendidikan dasarnya di Indonesia di sekolah negeri. Dan kami bangga dengan kenyataan bahwa kami adalah produk sekolah negeri.

    Just my two cents.

    Wassalamu'alaikum,
    Rina

    ReplyDelete
  5. Orang yang punya bakat untuk menjadi pintar akan menjadi pintar tanpa lihat dia sekolah di mana. Mungkin yang tepat adalah kita bisa mengatakan banyak orang menjadi pintar WALAUPUN mereka masuk sekolah negeri. Tidak berarti mereka menjadi pintar DISEBABKAN sekolah negerinya. Dan kalau ada kualitas pendidikan yang lebih layak di sekolah negeri, bisa jadi stok orang pintar di sini bisa bertambah banyak. Tetapi karena hanya ada sekolah negeri untuk mayoritas anak, hanya anak yang berbakat saja yang menjadi pintar, dan sisanya kurang dibantu.
    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  6. Rina, bersyukurlah Anda karena Anda adalah berlian. Saya juga punya banyak teman sekaliber berlian sperti Anda, yang walau dicemplungkan di got sekalipun masih tetap bersinar. Coba kalau dulu Anda di sekolah yang lebih bagus, mungkin Anda jadi Presiden di sini. Jangan marah dong. Gimana kalau Anda mengajar di sekolah negeri? Kami butuh sekali orang pintar seperti Anda. Butuh banget. Mau kah? Salam

    ReplyDelete
  7. tolong donk jgn pake kata "kualitas sampah"...sy juga lulusan negri dr kecil smp kuliah, k2 kakak sy jg, tp mrk akhriny pergi k prancis n italy utk lanjut studi, cm sy yg smp saat ini msh memilih d negara sndr walau kesemptn skolah d LN berdtgan 2x. skolah negri memang bnyk mslh, tp tdk berarti mrk bs dijudge dgn kata "sampah", anak sy jg skrg di skolah negri, apa itu berarti sy berdosa pd anak saya krn tidak menyekolahkn dia d swasta pdhl sy mampu menyekolahkn dia d skul swasta? apa memang swasta lbh baik dr negri? memang ada bbrp permslhan yg sy temui di skolah negri spt gaya pengajaran guru d kelas, serta isi buku pelajaran yg dipakai (pdhl buku pelajaran mrk terbitan Erlangga kec utk LKS) ketika sy tanya k bu guru, guru-ny cm jwb dia mengajarkan berdsrkan buku pelajaran yg ada dn jwban soal2 ulangan memang hrs berdsrkn buku teks..tp apa hal ini cm terjd di skolah negri????keponakan2 sy yg skolah d swasta, murid2 privat sy yg skolah di swasta bagus jg msh sering bertemu dgn mslh gaya pengajaran n kurikulum. ibu2 mrk malah sering konsul sm sy, gmana mestiny..kalo memang skolah swasta mrk yg mahal bs menjwb kebutuhan mrk, mrk jg pasti ga akan manggil guru privat spt sy utk membantu anak mrk..jd tdk peduli skolah apapun yg menjadi pilihan, qt tdk bisa mengalihkan tgjwb pengajaran sepenuhny kpd skolah n guru, stiap skolah ada plus n minus, stiap guru ada kelebihan n kekurangan, bgtu pula ortu, n stiap individu anak adalah unik. sampai saat ini bnyk ortu yg sibuk memikirkan skolah apa yg baik utk anak sy, malah ga bnyk yg berpikir yg mahal psti bagus, yg gratis pasti jelek.tp kebanyakan tdk berpikir bahwa pendidikan yg paling awal n paling bagus itu dimulai dari rmh, dimulai dari ortu, pembangunan karakter yg efektif di mulai dr kecil yg pastinya hrs ditangani oleh ortu sndr (tidak dgn pengasuh or pembantu).ortu adalah role model pertama bagi anaknya, gmana cara anda mendidik anak, begitulah anak anda akan tumbuh.oleh sebab itu stiap individu anak adalah unik. jgn hanya menyalahkan sistem pendidikan ttt, krn yg membangun sistem adalah manusia. Yang penting adalah mencari solusi, memberi solusi, bukan mencaci. Anak sy di skolah ckp pendiam, kata gurunya dlm hal tny jwb tdk terlalu aktif pdhl nilainy bagus2, n di rmh sgt cerewet n kritis, ketika di t4 les inggris jg dia yg paling aktif n kritis. Guru negriny sering memperhatikan anak sy yg katany kdg2 kurang semangat di kelas, lalu sy diskusikan brg dgn guruny apa yg menjadi mslh sbnrny, n guruny mau mendengarkan, n stiap anak diperhatikan oleh dia, n akan dilaporkan k ortu kalau ada kejanggalan yg terjd d kelas, malah suka di-sms sm guruny. skolah negri anak sy, satu kelas hny menerima 28 murid, tdk spt di negri lainnya. n ortu2 di sini pd kritis smua. Jd klo ada mslh sm anak sy, yg terutama sy koreksi adalah diri sy terlbh dahulu (mgkn sy terlalu galak akhr2 ini, mgkn dia kurang dpt perhatian dr sy). terlepas dr gaya pengajaran mrk yg msh aga konservatif, slbihny sy ga pny mslh d negri, krn sy jg turut membangun frame berpikir anak sy di rmh, di skolah tdk ada plajaran prktikum sains yg fun, sy ajak anak sy sndr utk bereksperimen d rmh, kami akan baca buku ensiklo bersm, menggambar bersama,bernyanyi bersma, ntn variety show korea bersama,jika dia tdk memperoleh kebebasan berekspresi n berpikir di skolah maka d rmh dia bs melakukanny dgn bebas walau ttp ada batasny. Lagipula di dunia ini memang tidak ada yg 100% bebas, tdk peduli di dunia skolah manapun maupun dunia kerja manapun.

    ReplyDelete