Search This Blog

Labels

Popular Posts

18 July, 2018

Dulu Ada Masa Emas Umat Islam. Apa Bedanya Dengan Sekarang?

[Pertanyaan]: Pak Gene. Di zaman “Islamic Golden Age” ada banyak ilmuwan Muslim yang Polymath [= ahli di berbagai bidang]. Contohnya, Ibn Rushd, Alhazen, Ibn Sina, Al Khwarizmi dsb. Bagaimana para orang tua mereka bisa mendidik anaknya menjadi cerdas begitu?

[Gene]: Assalamu'alaikum wr.wb. Mungkin orang tua di zaman itu sering diskusi dan membaca, dan mendidik anaknya dengan cara itu. Sedangkan sekarang, anak dibiarkan nonton video di HP, main game, nonton TV, main di luar sampai malam, merokok seperti bapaknya, dan pacaran di usia SMP. Hal-hal itu lebih umum daripada membaca buku. Dari mana semua anak akan dapat kebiasaan baca buku, menggali ilmu, dan diskusi dengan logika kalau tidak diberi contoh? Apalagi kalau banyak orang tua paling senang dengan anak yang selalu diam, nurut, dan tidak berani berbeda pendapat atau berdebat? Tata cara berdebat dengan logika adalah sebuah keahlian yang perlu dipelajari.

Jadi mungkin kunci utamanya untuk dapat masa emas umat Islam lagi adalah sistem pendidikan yang baik di dalam keluarga, dan juga sistem pendidikan yang baik di sekolah, pesantren, universitas, dan masjid. Buku, artikel, dan karya tulis yang berikan wawasan perlu diutamakan. Perbedaan pendapat dan kritikan dari anak harus diterima dengan lapang dada. Semua anak harus diberi semangat untuk mencari ilmu dari para ahlinya, lalu ditambahkan lagi oleh para anak dengan analisis dan pendapat dari diri sendiri, daripada sebatas menerima secara taklid buta, tanpa pernah dipikirkan lagi. 

Pada saat ini, buku tidak diminati secara umum, dan pendidikan bagi anak di rumah bukan untuk sering baca buku, tapi sebatas "cepat selesaikan PR", tanpa perlu tahu apakah bermanfaat atau tidak! Bagi para orang tua, perlu dipahami bahwa riset membuktikan bahwa mayoritas dari PR (di seluruh dunia) kurang penting, dan bedanya di ujian akhir antara anak yang dikasih ribuan jam PR, dan anak yang jarang dikasih, hanya sebatas 4 poin saja. Jadi anak yang hampir tidak pernah kerjakan PR dapat skor 84% daripada 88%. Segitu saja bedanya.

Lalu setelah selesaikan PR, banyak anak boleh main HP, main game, dan nonton TV berjam-jam setiap hari. Kalaupun ada sebagian anak yang membaca buku, penelitian menunjukkan bahwa anak Indonesia pada umumnya tidak memahami apa yang mereka baca! Disebut “buta huruf secara fungsional” (functionally illiterate). Artinya, mereka bisa baca teks, tetapi tidak akan memahami maknanya secara mendalam. 

Perbedaan pendapat bisa membuat sebagian orang marah. Hasilnya, seringkali, orang yang teriak paling keras dan menjadi paling marah dibiarkan “menang” dalam sebuah diskusi. Orang lain mundur karena takut ribut dengan pemarah itu. Dan orang-orang yang berpendapat di TV atau media sosial bisa dianggap lebih utama dan lebih memahami perkaranya, daripada ahli yang berilmu. Contohnya, ada yang berkata, “Saya tidak peduli ulama MUI ngomong apa, saya tetap anggap artis itu benar!” Jadi kalau mau menciptakan generasi emas lagi, mungkin kita harus kembali pada buku dan pendidikan yang berkualitas, terutama pendidikan agama!

11. […] Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah 58:11)

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barang siapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kembalikan anak Muslim ke buku dan cara diskusi yang baik, yang akan mencerdaskan mereka. Mendidik anak bahwa ilmu dan fakta yang benar adalah kebenaran, dan tidak berubah hanya karena orang yang berkuasa (seperti bapak, guru, dosen, atasan, dll.) punya pendapat yang berbeda. Orang tua dan guru harus siap "disalahkan" (pendapatnya diprotes dan dibantah) agar bisa menerima pendapat yang berbeda dari anak-anak. Kalau tidak mau berubah, dan tetap menganggap tugas anak yang paling utama adalah “nurut”, dan dilarang berpikir sendiri, generasi emas tidak akan muncul lagi. Tetapi dijamin kita bisa dapat generasi “penurut”, yang rajin lihat HP, media sosial, dan TV, rajin main game, rajin pakai AI daripada belajar dan berpikir sendiri, dan selalu siap “Diam Dan Taat” dengan siapa saja yang berkuasa di atasnya, walaupun orang itu salah. 

Semoga banyak orang tua dan guru punya kemauan untuk belajar, dan juga siap berubah (memperbaiki diri dulu) agar sanggup membangun generasi emas umat Islam yang baru. Lalu masa depan dunia ini akan berada di depan kakinya anak Muslim yang cerdas dan berwawasan luas. Aamiin, Aamiin, ya Rabbal ‘Aalamiin.

Semoga bermanfaat sebagai renungan. 
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu'alaikum wr.wb., 
-Gene Netto


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...