Assalamu’alaikum wr.wb.,
WHO minta semua pemerintah di seluruh dunia melarang iklan rokok. Mereka lihat betapa liciknya produsen rokok yang kehilangan profit di negara barat dan sedang pindah sasaran ke Asia dan negara berkembang.
Coba cari tukang yang tidak merokok. Sopir angkot, sopir bis, sopir taksi. Tukang becak. Pemulung yang sangat miskin pun masih bisa merokok.
Tetapi bukan orang miskin saja yang merokok. Di café dan rumah makan di Jakarta, kelihatan lebih banyak yang merokok daripada tidak.
Dokterpun banyak yang merokok.
Kapan ini akan berakhir?
Sayangnya, pemerintah masih “membutuhkan” uang pajak dari penjualan rokok. Hasil penjualan rokok juga membantu banyak pemilik warung yang hanya bisa hidup karena bisa dipastikan ada penjualan rokok setiap hari.
Di negara yang kekurangan stok beras, tanah yang bisa digunakan untuk menanam padi, jagung, dll, digunakan untuk tanam tembakau.
Kapan ini bisa berakhir? Sudah menjadi lingkaran setan.
Sekarang, dari produsen rokok, anak bangsa menjadi sasaran.
Kalau orang dewasa di negara barat makin sadar atas kerugian menjadi perokok, produsen rokok bukannya taubat dan mencari bisnis baru, tetapi hanya sebatas pindah sasaran saja. Anak bangsa yang dibidik sekarang.
Kapan pemerintah akan membentuk program yang baik untuk mengurangi kecanduan pada rokok, dan hilangkan ilkan rokok dari lingkungan kita? Siapa yang akan melindungi anak bangsa dari bahaya rokok bila orang tua tidak mau, pemerintah tidak mau, dan industri rokok malah menginginkan anak menjadi kecanduan?
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene
WHO: Larang Iklan Rokok
Minggu, 01 Juni 2008
Dalam peringatan hari tanpa tembakau Se-dunia setiap 31 Mei, Organisasai Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan negara-negara di dunia untuk melarang semua iklan rokok
Hidayatullah.com--WHO menuduh produsen rokok menggunakan teknik pemasaran yang semakin canggih untuk memikat anak-anak muda agar merokok, khususnya anak-anak perempuan di negara-negara yang lebih miskin.
Badan PBB itu mengatakan semakin sering mereka melihat atau mendengar iklan rokok, semakin besar kemungkinan mereka memulai kebiasaan itu. Imbauan itu disampaikan untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Se Dunia yang dicanangkan WHO. Organisasi itu mengatakan hanya 5% dari penduduk dunia yang melarang iklan, promosi dan pemberian sponsor dari rokok.
WHO mengatakan pembatasan yang berlaku saat ini tidak cukup untuk melindungi 1,8 miliar anak muda di dunia, yang menjadi sasaran iklan rokok di internet, majalah, film, konser dan acara olahraga.
'Pesan berbahaya'
Di Rusia, yang tidak banyak memiliki undang-undang anti-rokok, jumlah wanita dan anak perempuan yang merokok berlipat tiga dalam 10 tahun belakangan. Namun di Kanada, di mana iklan rokok sangat dibatasi, jumlah perokok di negara itu adalah yang terendah dalam 40 tahun. Inggris juga baru-baru ini mengumumkan rencana untuk melarang mesin penjual rokok, untuk mencegah anak-anak dan remaja merokok.
WHO juga menuduh pihak produsen rokok terus berusaha menarik calon perokok di kalangan anak muda dengan mengaitkan rokok dengan "kehidupan mewah, semangat dan daya tarik".
Sebagian besar perokok memulai kebiasaan ini sebelum usia 18 tahun, dengan hampir seperempat dari mereka pertama kali merokok pada usia di bawah 10 tahun, menurut badan PBB itu. Dalam survei WHO yang diselenggarakan di seluruh dunia pada anak-anak usia 13-15 tahun, 55% dari mereka mengatakan melihat iklan rokok di jalan, sementara 20% dari mereka memiliki barang yang memperlihatkan logo merek rokok.
Douglas Bettcher, direktur Kampanye Bebas Rokok oleh WHO, mengatakan larangan penuh perlu diterapkan untuk melindungi anak-anak muda dari pesan-pesan berbahaya dari rokok. [bbc/www.hidayatullah.com]
Sumber: Hidayatullah.com