Assalamu’alaikum wr.wb.,
Teman saya mengirim tulisan ini kepada saya untuk disebarkan kepada orang lain sebagai sebuah peringatan. (Dia juga seorang guru seperti saya). Untuk orang tua yang tergolong mampu di Indonesia, ada sekolah swasta yang mahal, tetapi untuk orang yang miskin, hanya ada sekolah negeri yang jauh dari standar tinggi yang layak. Staf di sekolah tersebut juga mungkin tidak kompeten menjadi guru dan tidak mengerti pendidikan (juga belum tentu punya ijazah pendidikan). Saya tidak bisa bayangkan masa depan bangsa ini seperti apa setelah puluhan juta anak tidak mendapat kesempatan menuntut ilmu yang baik dan mereka dengan mudah bisa diberi julukan seperti ‘autis’, ‘anak nakal’, dan lain-lain oleh guru mereka yang tidak kompeten. Walaupun saya sering membicarakan masalah pendidikan di sekolah swasta, tidak secara automatis berarti sekolah negeri adalah institusi pendidikan yang lebih baik.
Di dalam salah satu post di blog, saya sudah memberi pendapat saya bahwa Solusi Masalah Pendidikan ada di Tangan Orang Tua. Tetapi kalau orang tua tidak mau ambil tindakan secara pribadi dan bersatu untuk menuntut hak pendidikan buat semua anak bangsa, dan selalu mengharapkan bahwa ‘orang lain’ akan tangani masalah ini, saya yakin tidak akan ada perubahan dalam waktu singkat.
Kapan bangsa ini akan mendapatkan pemerintah yang peduli pada pendidikan?
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto
##########
Pagi ini saya masuk kantor telat. Pada saat saya masih di rumah bikin kopi, pembantu saya berkomentar bahwa anaknya menjadi bermasalah di sekolah. Saya kaget dengan pernyataan tersebut karena anaknya baru masuk Kelas 1 SD pada minggu yang lalu. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi ‘bermasalah’ hanya dalam satu minggu? Saya bertanya kenapa.
“Dia tidak bisa menulis dan para gurunya sudah mengatakan dia anak malas dan tidak mau berusaha.”
Saya tarik nafas panjang dan mulai menjelaskan tentang pendidikan di sekolah negeri di sini yang memang kurang layak karena seringkali tidak sesuai dengan teori perkembangan anak kecil. Saya jelaskan bahwa anak saya juga berumur 6 tahun dan baru masuk sekolah, dan juga baru mulai belajar menulis. Saya jelaskan bahwa memang tugasnya seorang guru untuk mengembangkan motivasi intrinsik untuk belajar [yang berarti guru harus mengembangkan niat seorang anak untuk mau belajar sendiri tanpa disuruh] dan saya mengatakan saya yakin anaknya tidak senang belajar menulis karena pelajaran dari guru tidak terasa menarik atau bermanfaat. Anak itu pasti ditekankan dengan cara yang tidak benar oleh gurunya. Proses belajar mesti menarik dan membahagiakan buat anak-anak karena kalau mereka menjadi bosan, mereka tidak akan mau belajar.
Ibu itu mendengar dengan baik, dan setuju dengan komentar saya, lalu tiba-tiba dia bertanya, “Apa itu autisme?”
Tentu saja saya langsung merasa sangat kaget dan bertanya kenapa dia mau tahu tentang itu.
“Karena gurunya mengatakan anak saya autis!”
“….APA???? Guru anak kamu di SD mengatakan anak kamu autis???”
Perlu saya jelaskan bahwa anak tersebut juga datang ke rumah saya setiap hari setelah sekolah. Dia main bersama dengan kedua anak kandung saya dan menunggu ibunya selesai kerja supaya mereka bisa pulang bersama. Saya sangat kenal anak pembantu saya ini dan saya sering memperhatikan dia bermain dengan anak saya. Dia berkomunikasi dengan baik, senang dengan semua macam mainan anak, punya daya imaginasi yang baik, dan seterusnya. Semua tanda-tanda anak autis justru TIDAK KELIHATAN di dalam perilakunya, dan sebagai seorang anak kecil yang biasa, dia sangat mirip dengan anak saya yang seumur dengan dia.
Kenapa dia bisa dikatakan ‘autis’ oleh guru SDnya? Apakah karena dia tidak menjawab gurunya dengan baik? Karena dia tidak mau nurut?
Siapa gurunya yang merasa sanggup bicara seperti ini? Sepertinya dia tidak punya latar belakang di bidang psikologi anak. Dan ternyata sang guru jelaskan kepada ibu ini bahwa dia ‘bisa tahu’ anak autis karena pernah dapat 1 anak autis di dalam kelasnya beberapa tahun yang lalu!
Jadi, menurut guru ini, seorang anak bisa dikatakan autis bila dia:
· Tidak bisa menulis setelah duduk di kelas satu SD selama 1 minggu
· Tidak nurut dengan guru saat disuruh menulis
Bagaimana dengan tanggapan orang tuanya? Tentu saja mereka tidak tahu apa-apa tentang autisme dan mereka langsung percaya ada masalah dengan anaknya karena SEORANG GURU sudah mengatakan begitu, berati pasti benar kalau seorang GURU yang mengatakannya.
Orang tua yang awam ini membuat solusnya sendiri sebagai terapi autis untuk anak mereka: anak itu (yang berumur 6 tahun) dimarahi oleh bapaknya, disuruh pergi dari bapak karena dia bikin bapak malu dengan autisnya, dan sama ibunya DIHUKUM dengan latihan menulis berjam-jam di rumah setiap hari. Tetapi anehnya, tegoran keras dan hukuman ini tidak berhasil mengobatinya dan anaknya tetap ‘autis’ karena tetap tidak mau nurut dengan guru di kelas pada saat dipaksakan menulis!
Saya habiskan banyak waktu pagi ini dengan mencari dan download info tentang autisme dalam bahasa Indonesia supaya bisa meyakinkan pembantu saya bahwa anaknya bukan penderita autis dan dia hanya seorang anak biasa yang mendapat guru yang tidak mau direpotkan dengan mengajar skil menulis di kelas satu SD.
Saya sangat tidak suka sikap banyak orang sekarang yang dengan buru-buru siap memberi julukan pada seorang anak pada saat ada tanda-tanda awal dari suatu sikap yang ‘tidak normal’. Setiap anak adalah manusia yang berbeda, individu, unik, dan istimewa. Kenapa tidak bisa dihargai begitu saja?
Saya jadi memikirkan anak saya yang sangat pintar dan sensitif. Bagaimana nasibnya bila dia juga dapat guru yang sama di sekolah yang sama? Guru itu akan mengatakan apa tentang anak saya? (Saya hampir tempatkan anak saya di SD yang sama juga karena takut sekolah swasta terlalu mahal untuk keluarga saya).
Pada umur 6 tahun, dia masih baru mulai belajar membaca dan menulis, punya kepribadian yang sensitif, mengubah mood dengan cepat, sangat logis, dan seterusnya. Pada suatu saat dulu, dia menjadi bosan di TK, lalu dia keluar dari kelas dan pulang sendiri (rumah saya tidak terlalu jauh). Tetapi, syukurlah, guru di TK swasta itu bisa mengatasi masalah ini dengan baik, tapi memberikan julukan buruk kepadanya, tanpa memberikan hukuman, dan tanpa mengganggu hatinya. Memang benar, ada sebagian anak di masyarakat yang punya gangguan belajar yang menghambat proses belajar mereka di sekolah. Tetapi kita mesti lebih berhati-hati dalam menentukan anak mana yang ‘bermasalah’.
Apakah ada masalah dengan anak atau dengan sistem pendidikan di mana anak hanya bisa dihargai bila mereka 100% rukun dalam semua perkara seperti klon? Apakah ada masalah dengan anak atau dengan gurunya yang tidak mengerti bedanya antara pelajaran yang dipusatkan pada anak (disebut child-centered) dan pelajaraan yang dipusatkan pada guru dengan sisitem hafalan saja (teacher-centered, rote learning). Apakah ada masalah dengan anak atau dengan gurunya yang tidak mengerti macam-macam metodologi pendidikan dan psikologi anak? Seharusnya pertanyaan inilah yang perlu ditanyakan sebelum anak kita di kelas satu SD boleh dikatakan ‘autis’, ‘tidak pintar’, ‘anak nakal’, ‘bermasalah’ dan seterusnya.
Saya bekerja dengan keras sekali supaya anak saya bisa masuk sekolah swasta yang baik. Yang saya anggap ‘baik’ itu bukan ditentukan oleh nilai di rapor anak saya atau rankingnya di kelas, tetapi didasarkan pada satu pertanyaan sederhana. Pada saat saya bertanya kepada anak saya berumur 6 tahun tentang kenapa dia suka sekolah, dia selalu jelaskan bahwa dia suka sekolah karena para gurunya sayangi dia dan itulah jawaban yang paling saya inginkan. Dia masuk sekolah dengan semangat dan punya semangat untuk belajar terus karena gurunya sangat baik terhadap dia dan bisa mendidiknya dengan cara yang layak untuk seorang anak kecil. (Dan karena itu, kedua anak saya tetap pada sekolah swasta yang sama untuk TK dan SD).
Terus terang, saya lebih mau kelaparan (untuk menghemat uang) daripada kirim anak saya ke SD Negeri.
Semoga bermanfaat,
Seorang Ibu di Jakarta