Wednesday, November 16, 2011

Tidak Ada Pemukulan Yang Wajar Terhadap Murid



(Membalas komentar dari guru di milis pendidikan).

Assalamu’alaikum wr.wb.,
(Ada guru yang mengatakan memukul siswa bukan masalah, selama pemukulan itu adalah pemukulan yang wajar. Saya balas dengan komentar sebagai berikut.)

Mohon maaf Pak, pemukulan yang “wajar” itu seperti apa? Bisa dijelaskan? Sekuat apa? Pada bagian tubuh apa? Apa memang ada cara mengukurnya? Apa ada alat di sekolah untuk mengukur tenaga dan kekuatan dari “pemukulan wajar” tersebut? Apa ada buku panduan yang sudah pernah dibagikan kepada para guru? Misalnya, dengan judul: “Kitab Pemukulan yang Wajar Bagi Guru - Cara Efektif untuk Memukul Anak Kecil Yang Tidak Sanggup Bela Diri Untuk Menjadikan Mereka Orang Sukses”.

Apakah ada buku seperti itu? Saya bisa beli buku itu dimana? Apa memang bisa diukur kekuatan yang digunakan dalam “pemukulan wajar” tersebut? Siapa yang menciptakan skala pemukulan wajar itu? Untuk gempa bumi, ada Skala Richter. Untuk pemukulan yang wajar terhadap siswa, pakai skala apa?

 (Anak pulang dari sekolah, dan komplain kepada Ibunya):
“Bu, tadi siang saya dipukul guru.”
“Waduh. Sampai tingkat berapa pemukulan itu pada Skala Pemukulan Umum?”
“Tadi diukur Pak Guru dengan Detektor Pemukulan Wajar. Hasilnya, 3,7.
“Wah, kalau itu masih pemukulan yang wajar saja. Belum pidana. Guru tidak bersalah. Lupakan saja.”

Terus, yang disebut pemukulan yang “tidak membahayakan” itu apa Pak? Apakah memang sudah ketahuan bahwa pemukulan tipe A pasti tidak akan menjadikan anak itu merasa trauma dan bunuh diri? Ada hasil riset itu di mana? Sepuluh ribu anak dipukul, dengan pemukulan wajar sekuat 2,5 pada Skala Pemukulan Umum, dan tidak ada yang bunuh diri? Ada riset itu Pak? Di mana? Saya belum pernah melihatnya.  
(Kemarin di milis, ada teman guru yang menjelaskan bahwa dulu saat dia masih anak sekolah, dia dan temah terdekatnya pernah dipukul dengan keras oleh guru. Dua hari kemudian, teman itu membunuh diri dan tinggalkan surat di kamar bagi sang guru!)

Bagaimana kalau ada anak yang mengalami trauma yang lain? Misalnya dia menjadi tidak semangat belajar, tidak dapat nilai tinggi dalam ujian, dan tidak berhasil menjadi dokter di kemudian hari, dan karena itu tidak berhasil menemukan obat baru untuk kanker? Cara mengukurnya trauma di dalam hati seorang anak itu bagaimana? Ada hasil riset itu di mana Pak?

Siapa yang membentuk sistem pemukulan yang wajar dan tidak berbahaya itu? Kalau tidak ada yang bisa membuktikan hasil riset itu di sini, maka saya anggap semuanya terbukti omong kosong. Dalam kata lain, anda mengajar dengan landasan omong kosong, bukan landasan ilmu pendidikan.

Selanjutnya, siswa yang anda sebutkan “keterlaluan” itu seperti apa? Buku teks pendidikan untuk guru yang menjelaskan itu, dengan semua bentuk perbuatan “keterlaluan” ada di mana Pak? Siapa yang membuat semua peraturan tersebut, tentang perbuatan mana yang “keterlaluan” dan boleh kena “pemukulan yang wajar”? Mana batasnya antara perbuatan keterlaluan dan perbuatan yang hanya menggangu saja? Apa bisa dijelaskan? Sekali lagi, semua itu adalah omong kosong. Tidak ada landasan ilmu pendidikan sedikit pun.

Apa anda puas kalau berobat ke dokter dan dia membuat diagnosis dan pengobatan terhadap anak anda dengan cara yang sama? Artinya, anda setuju kalau dokter menggunakan “teori medis yang aneh, berdasarkan omong kosong”? Atau apa anda berharap dokter yang merawat anak anda sudah memiliki ILMU di bidangnya, dan bisa menjelaskan semua tindakannya karena sudah merupakan standar di dalam profesinya?

Tolong jangan menjadi guru berbasis omong kosong. Menjadi guru profesional yang bertindak sesuai dengan ilmu pendidikan yang terbaik di dunia ini.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

1 comment:

  1. Saya jd ingat dulu wkt duduk di sekolah dasar tahun 1985.Salah seorang teman tdk bs menjawab soal matematika dg baik dan yg dilakukan guru saya adalah : menghampiri teman saya, memakinya dg kata2 yg merendahkan martabat kemanusiaan lalu..(maaf)meludahinya tepat di wajahnya!!padahal guru tsb mengidap TBC.Memang teman saya tdk dipukul,tp hal yg sudah berlangsung berkali2 itu membawa luka psikologis yg dlm pd diri teman saya.Apakah setelah itu ia menjadi pintar matematika?Sama sekali tidak.Bahkan jd trauma utk mempelajarinya.Yg ada hny rasa dendam termasuk bg siswa2 yg lain spt juga saya.Dan yg paling parah sekolah ternyata mendukung cara2 spt ini (warisan kolonial,krn mrk dulu jg dididik spt itu).Sungguh menyedihkan.

    ReplyDelete