Tuesday, June 17, 2008

BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Saya baru baca tulisan di Eramuslim ini (dari 1 bulan yang lalu). Ternyata, setelah harga BBM dinaikkan, ada perkara yang sangat penting yang dibahas habis-habisan oleh semua media swasta.

Dampak BBM naik terhadap rakyat? Tidak.

Dampak BBM naik terhadap bisnis kecil? Tidak.

Dampak BBM naik terhadap anak yatim yang putus sekolah karena jatuh miskin setelah makanan menjadi terlalu mahal dan tidak ada sisa uang lagi? Tidak.

Lalu apa yang dibahas? Anda pasti sudah tahu sendiri…. FPI !!!

Apakah ada dampak harga BBM naik terhadap rakyat miskin? Mungkin mereka semua begitu bahagia dengan melihat FPI dihujat terus di media massa sehingga rasa lapar di perut mereka jadi hilang.

Hiduplah media swasta yang peduli pada rakyat. Ehh, peduli pada profit. Ehh, peduli pada HAM di atas segala-galanya.

Rakyat yang lapar silahkan makan “Peneggakan HAM Goreng” dengan lauk “HAM Rebus” pada malam ini. Besok ada HAM saus tiram. Pasti sudah tidak lapar lagi.

Emang BBM naik dan rakyat jadi menderita? Masa? Kayanya tidak ada berita itu di media swasta…

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk

Rabu, 21 Mei 08 18:30 WIB

Kenapa pemerintah SBY-JK ngotot menaikkan harga BBM? Ternyata, hal itu dilakukan agar segera mencapai tingkat harga yang diinginkan oleh pemain asing. Jadi kenaikan BBM itu tidak untuk rakyat dan tidak juga untuk menyelamatkan APBN.

Demikian disampaikan Ismail Yusanto, Jubir Hizbut Tahrir Indonesia, saat berbicara di depan ratusan peserta acara diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38, bertema BBM Naik, SBY-JK Turun?, di Jakarta, Senin (19/5).

Menurut Ismail, kesimpulan itu berdasarkan pernyataan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro yang ditulis di Kompas, 14 Mei 2003. Purnomo mengatakan, “Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.”

Meski pernyataan itu sudah lama, tapi menurut Ismail kita baru menemukan faktanya sekarang. “Ini ironi, kita membeli minyak milik kita sendiri di halaman rumah kita, dengan harga yang ditentukan oleh asing, ” ujar Yusanto.

Saat ini saja, tambahnya, mengutip pernyataan Dirjen Migas Dept. ESDM, Iin Arifin Takhyan, di Majalah Trust (edisi 11/2004), terdapat 105 perusahaan yang sudah mendapat izin untuk bermain di sektor hilir migas, termasuk membuka stasiun pengisian BBM untuk umum (SPBU). Perusahaan migas raksasa itu antara lain British Petrolium (Amerika-Inggris), Shell (Belanda), Petro China (RRC), Petronas (Malaysia), dan Chevron-Texaco (Amerika).

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Serikat Pekerja Pertamina, Abdullah Sodik. Menurutnya, problem kelangkaan BBM itu sebenarnya diakibatkan oleh rusaknya sistem yang diberlakukan pemerintah, yang membuka peluang privatisasi pengelolaan gas. “Serta memberikan kewenangan kepada perusahaan asing dan domistik untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak. Bahkan dibiarkan juga untuk menetapkan harga, ” ujarnya.

Wajar bila kemudian, tambah Sodik, minyak dan gas yang ada di Indonesia ini sebagian besar dikuasai asing. Tercatat dari 60 kontraktor, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen. Selebihnya masuk kategori Major, seperti Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, Japex, yang menguasai cadangan minyak 18 persen dan gas 15 persen. “Sedangkan perusahaan independent menguasi cadangan minyak 12 persen, dan gas 5 persen, ” terang Sodik.

Melihat fakta itu logis bila kemudian kita mengalami masalah dengan BBM. Logis pula bila rakyat banyak yang menolak rencana pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi itu. Sebab rakyat lah akan menjadi korban akibat kebijakan yang tidak populis ini.

”Saya juga tidak setuju kenaikan BBM, ” ujar Abdullah Sodik. “Kita harus menyadari minyak bumi itu bukan dibuat oleh pemerintah. Tapi minyak bumi itu dibuat oleh Allah. Karena itu rakyat berhak mendapatkan subsidi. Kenapa ketika pemerintah menyubsidi rakyat sendiri pemerintah kalang kabut, ” tambahnya.

Ekonom Tim Indonesia Bangkit, Hendri Saparini, juga tidak sepakat bila harga BBM dinaikkan. Pertimbangannya adalah ekonomi. Ketika pemerintah mengatakan kita akan kolaps kalau tidak segera menaikkan harga BBM, maka publik harus tahu bahwa yang dimaksud kolaps menurut pemerintah itu adalah APBN. Sementara APBN itu terhadap kue ekonomi besarnya hanya 20 persen. “Jadi kalau harga BBM dinaikan, maka yang kena dampaknya 80 persen adalah rumah tangga dan industri, ” ujarnya.

Hendri mengatakan, kalau ada kenaikan harga minyak dunia, jika memang pemerintah itu akan menyelamatkan APBN maka semestinya pos yang boleh dikotak katik tidak hanya subsidi BBM. Karena kita punya pos-pos lain yang dalam kondisi darurat mestinya bisa direvisi. “Kenapa yang halal hanya subsidi BBM, kenapa pembayaran utang luar negeri menjadi tidak halal, ” ujar Hendri heran.

Ismail menegaskan ini semua terjadi karena adanya liberalisasi di sektor migas, yang merupakan bagian dari liberalisasi ekonomi, liberalisasi politik, liberalisasi sosial, budaya, pendidikan. Inilah yang harus dilawan. Sebab Indonesia makin hari makin menuju kepada negara liberal. “Dan siapa yang menjadi korban, kita semua, ” terangnya.

Solusi

Seperti dikatakan Hendri Saparini, pemerintah seharusnya tidak menaikan harga BBM, sebab masih banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan APBN, terkait meningkatnya harga minyak dunia itu. Peserta Diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan ke 38 mengusulkan solusi jangka pendek yang bisa dilakukan pemerintah:

Pertama, pemotongan bunga rekap di APBN sebesar 40-60 triliun.

Kedua, pemotongan bunga utang 95 triliun,

Ketiga, Winfall profit dari hasil minyak bumi tidak perlu dibagi ke daerah, tetapi digunakan untuk menutupi subsidi BBM.

Keempat, membatalkan kontrak/nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan minyak asing.

Dan kelima, mengubah sistem pengelolaan BBM, gas, batu bara dan energi lainnya dari swasta ke pengelolaan negara.

Terkait dengan wacana nasionalisasi perusahaan asing, Hendri Saparini mengatakan, “Kita memang selalu sering dicekoki bahwa nasionalisasi itu tidak boleh. Padahal banyak fakta, ketika negara lain melakukan nasionalisasi tidak ada masalah...Fakta terbaru, Inggris barus saja melakukan nasionalisasi bank –nya. Jadi jangan kita kemudian ditakut-takuti oleh sesuatu yang sebenarnya itu bisa terjadi di negara-negara maju, ” ujar Hendri.

Bukan hanya nasionalisasi, kata Hendri, kita juga selalu ditakut-takuti siapa pun yang menjadi presidennya dia pasti menaikan harga BBM. Padahal jawabannya tidak. “Pertama untuk beban subsidi misalnya, sekarang ini PLN masih menggunakan BBM. Kalau kemudian kita mengganti dengan gas maka tidak perlu ada tambahan subsidi. Masih juga ada hal lain. Jadi tidak sama. Bukan siapa pun presidennya akan menaikkan BBM, tapi kalau kebijakannya sama maka akan menaikkan BBM juga, ” ujar Hendri.

Ismail Yusanto mengatakan, kesalahan utama pengelolaan migas dan SDA kita adalah terjadinya transpormasi atau perpindahan dari State Business Management ke Coorporate Business Management. Oleh karena itu yang perlu dilakukan adalah mengembalikan bagaimana agar entitas negara itu kembali menjadi pilar utama pengelolaan SDA, termasuk migas. Untuk itulah, katanya perlu dilakukan perubahan total atas UU migas dan PMA yang ada. Juga perubahan atas mind set ideologi yang ada. [LI/Abu Ziad]

Sumber: Eramuslim.com

3 comments:

  1. artikel anda bagus dan menarik bagi pembaca di seluruh nusantara,promosikan artikel anda di www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!

    http://nasional.infogue.com/
    http://nasional.infogue.com/bbm_dinaikkan_agar_pemain_asing_masuk

    ReplyDelete
  2. Payah kalau pemimpin Negara tunduk kepada permintaan pihak asing daripada memikirkan nasib rakyatnya sendiri. Apakah kita tidak bisa hidup kalau tidak menggantungkan nasib kepada pihak asing. Negara Indonesia telah dikaruniai dengan berbagai macam sumber daya alam termasuk minyak bumi. Kita juga mempunyai sumber daya manusia lebih dari 200 juta. Kalau Sumber daya manusianya kurang bermutu, berikan pendidikan gratis kepada rakyat, siapa tahu generasi penerus dari kalangan rakyat yang kurang mampu bisa menjadi orang-orang yang berprestasi dan dapat bersaing dengan orang-orang dari negara asing sehingga kita tidak perlu menggantungkan diri kepada mereka.

    Saya tertarik dengan kebijakan kerajaan Malaysia untuk memotong 10% dari gaji seluruh menteri dan pejabat tinggi sebagai wujud kepedulian negara terhadap penderitaan rakyat pasca kenaikan BBM.

    Sementara Wapres Jusuf Kalla berpendapat bahwa tidak masuk akal kalau gaji pejabat Indonesia dipotong dengan alasan gaji pejabat Indonesia masih sangat rendah dibanding gaji pejabat di negara Malaysia dan Singapura. Kalau kita bandingkan gaji pejabat di negara Malaysia dan singapura lebih tinggi tentulah masuk akal, karena kesejahteraan rakyat dari kedua negara tersebut jauh lebih baik, jadi wajar kalau para pejabatnya mendapat gaji lebih tinggi. Di Indonesia walaupun gaji pejabat tidak tinggi tetapi tunjangannya besar, sama saja kan.

    Wassalam

    ReplyDelete
  3. "Lalu apa yang dibahas? Anda pasti sudah tahu sendiri…. FPI !!!"

    *** (diartiKel sebelumnya baca….” KUBU LIBERAL VERSUS ISLAM, PASCA MONAS” dieremuslim). Menambahkan saja, karena ada kaitanya.

    *** Saya rasa, masyarakat banyak hanya menerima begitu saja sumber berita baik di TV dan media lain tanpa menyaring dan menelaah lebih dalam dan mencari banyak tahu dari berbagai sumber berita. Jika seandainya banyak orang yang membaca informasi dan berita ini tentu saya rasa akan terulang kembali demo besar-besaran seperti pada 13 mei, 10 tahun yang lalu demo menuntut reformasi sedang sekarang menuntut BBM di kembalikan seperti semula.

    Tapi sebenarnya yang jadi titik permasalahan adalah “Keindividuan, gaya hidup, keserakahan dan kekuasaan” lebih diatas segalanya bagi mayoritas masyarakat Indonesia, perhatikan saja hanya masyarakat menengah kebawah yang ‘teriak’ dan ‘heboh’ tentang BBM tapi coba tanya masyarakat atas…, mereka tenang-tenang saja tentang BBM malah yang diributkan FPI yang terkadang mereka tidak terlalu tau informasi sejak awal tapi membawa dan mengatas namakan ‘PANCASILAis’ dan mendukung pembubaran FPI seperti statement dari anak mantan presiden pertama di TV.

    Dan perhatikan pula acara2 TV yang menyorot dan mengupas dampak BBM di masyarakat bawah di siarkan pada siang hari dan berapa banyak yang menonton pada acara di siang hari? Yang kita tahu rating tertinggi acara TV ada pada malam hari tapi apa yang di siarkan? SINETRON ABG yang sama sekali tidak menyuarakan kondisi dan situasi masyarakat kita yang terjadi sekarang ini.

    ACARA Seperti Soulmate show dsb acaranya si Eko (bahkan Ivan gunawan dan Ruben sempat mengatakan dalam candaannya ; “EGP BBM Naik mending kita HAPPY2, udah susah mikirin susah capek deh….”, dari perkatakan mereka kita bandingkan dengan mahasiswa (sudah tidak dibayar bahkan dilecehkan dan dikecilkan aparat dan pejabat, di pandang cari sensasi, gak ada kerjaan/tolol mau capek2/pecundang penyebab tawuran) bahkan diragukan dalam menyuarakan kepentingan masyarakat padahal mereka sudah susah2 turun kejalan meneriaki ‘BBM’, jelas beda sekali.

    Bisa kita bandingkan dan bayangkan ‘buah perkataan’ mereka yang asal bunyi dengan sementara kebanyakan masyarakat dengan suara mereka yang berbunyi ‘keluhan dan keresahan’ memikirkan bagaimana MAKAN mereka sehari-hari?.

    Dan kita perhatikan bagaimana segolongan pihak tertentu dengan berbagai kepentingan yang mereka pentingkan adalah perut-perut mereka yang sudah gendut, buncit saking kekenyangan masih juga tidak puasnya ‘ingin’ lebih dan lebih…., menarik dan mencari siapa yang mau digandeng dan mendukung untuk meloloskan program mereka dan ‘merekayasa’ apapun di media yang semata-mata mempengaruhi dan memprovokasi ‘penilaian dan penerimaan’ masyarakat terhadap suatu lembaga atau oranganisasi (FPI) dan pengkaburan ‘pemahaman’ dengan menaikkan nama Pancasila supaya keberadaan Ahmadiyah diterima di masyarakat.

    Sama persis ‘Motiv’ nya ketika kasus ‘Inulisasi’ sepertinya sekarang ini terulang lagi tetapi beda VERSI, FPI VS Ahmadyah mengandeng ‘Pancasilais’ sedang yang dulu (inul) dibantu berbagai elemen dari berbagai kepentingan mereka ikut campur, mengandeng selebritis untuk mendukung statement (pendangkalan makna) ‘pornografi dan porno aksi’ dengan kata kunci : ‘kebebasan ekspresi’ ….

    Ini ada sebuah pandangan dari obrolan singkat saya dengan supir angkutan, dia mengatakan, ‘BBM naik tapi kok masih macet aja ya???’, singkat dan sepintas tidak ada kaitannya tapi yang saya terjemahkan adalah BBM naik tapi industri motor dan mobil pertumbuhan penjualannya di Indonesoa sangat tinggi jadi sebenarnya Indonesia miskin tidak ?...

    Lebih butuh makan atau ‘gaya hidup’?, ketika diumumkan BBM naik saya sempat berfikir akan terjadi ada pemintaan dimasyarakat akan kebutuhan SEPEDA sebagai alternative transportasi jarak pendek/dekat. Wah, akan terlihat lagi dimana-mana orang naik sepeda seperti di BELANDA, dan sepertinya indonesia akan menjadi Belanda ke dua. Tetapi ternyata GK NGARUH !!!..., buat masyarakat menengah dan terutama masyarakat ATAS…, sepertinya mereka tidak peduli rakyat miskin yang entah sampai kapan mereka disebut MISKIN terussssssss….

    Pesis kata Ruben,“EGP BBM Naik mending kita HAPPY2, udah susah mikirin susah capek deh…”, jadi kita ‘disuruh’ gak usah mikir BBM, nonton ACARA mereka saja sampai perut kelaparan lalu jika mati tinggal jadi tontonan di TV…

    Rina

    ReplyDelete