Tuesday, June 10, 2008

Pembuangan makanan pada skala besar di Inggris

Riset menunjukkan bahwa warga membuang 3,6 JUTA TON makanan di Inggris dan Wales setiap tahun. Organisasi bernama Waste & Resources Action Programme (WRAP) menemukan kenyataan bahwa yang paling banyak dibuang adalah salad, buah dan roti, dan 60% dari semua makanan yang dibuang masih dalam keadaan belum tersentuh atau belum terbuka. Studi menganalisa makanan yang dibuang dari 2.138 rumah.

Studi menunjukkan bahwa makanan dengan nilai £9 milyar (sekitar $US 20 milyar) dibuang setiap tahun di Inggris dan Wales. Banyak yang dibuang karena kadaluwarsa atau dibuang dari piring makan (tidak dimakan).

Didasarkan data tersebut, WRAP membuat perkiraan bahwa 18% dari semua makanan di UK dibuang setiap tahun, dan keluarga yang punya anak membuang 27% dari makanannya. Studi juga menunjukkan bahwa dari makanan yang dibuang, yang senilai £1 milyar ($US 2 milyar) masih layak untuk dimakan (belum kadaluwarsa).

Hampir 25% dari makanan yang dibuang sudah mencapai atau melewati waktu kadaluwarsanya. Liz Goodwin, ketua WRAP, mengatakan pembuangan makanan ini punya dampak yang besar di lingkungan. Dan juga dianggap aneh karena harga makanan sedang meningkat, tetapi masih banyak makanan yang dibuang.

Dari makanan yang dibuang, 19% adalah roti, 18% sayuran, 18% daging dan ikan. Sebanyak 5.500 ekor ayam yang masih utuh dibuang setiap hari di Inggris (lebih dari 2 juta ekor per tahun). Sisa 21% terdiri dari macam2 makanan yang lain, seperti makanan siap saji. Sebanyak 440.000 bungkusan makanan siap saji dibuang setiap hari. Yoghurt sering dibuang, dengan 1,3 juta pot (bungkusan) dibuang setiap hari.

**********

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ketika warga Indonesia mati kelaparan, orang mampu di negara barat sering membuang makanan senilai puluhan milyar dolar. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah orang mampu di kota2 besar juga membuang banyak makanan yang masih layak makan?

Makanan yang dibuang juga menjadi sampah yang harus dikelola oleh orang lain. Ada biaya produksi, biaya transportasi, dan biaya lain-lain yang terkait, semuanya menjadi sia-sia.

Apakah mungkin orang kaya bisa mengurangi konsumsi makanan (yang berlebihan) dan salurkan kepada orang miskin?

Daripada dibuang ke tempat sampah, bisa dijadikan sarapan untuk pemulung dan orang miskin yang lain. Apakah mungkin? Apakah ada solusi untuk makanan yang dibuang setiap hari dari rumah2 orang kaya?

Berapa banyak warga harus mati kelaparan sebelum ada ide yang bagus dan praktis untuk menyelamatkan mereka?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

Sumber: BBC NEWS - Food waste on 'staggering' scale

8 comments:

  1. tunggu sebentar...Inggris itu kan masuk dalam keanggotaan negara2 G8 kan?

    yah, saya hanya bisa mengurut dada dengan 'nelangsa'. sementara para pengusaha Inggris berlomba-lomba mencari keuntungan besar dari negara-negara ketiga, mereka malah membuang-buang hasil keuntungan mereka yang melimpah dari hasil memotong hak kami hanya untuk sebuah kesia-siaan belaka.
    apa belum cukup kami -orang2 dari dunia ketiga- rela bersabar 'hasil kerja' kami kalian hargai dengan sedikit poundsterling? kenapa sekarang kami masih harus melihat kalian berfoya-foya dan menjadikan rejeki-rejeki itu sebagai sesuatu yang mubazir? dimana rasa syukur kalian pada Tuhan??

    Ya Allah, ampunilah mereka, semoga mereka segera sadar dan segera kembali ke jalan-Mu sebelum mereka tak lagi sempat bersyukur kepada-Mu.amin. kumohon dengan sangat ya Allah..sadarkanlah mereka!!

    ReplyDelete
  2. [komentar dari teman lewat email]

    Dear Gene,

    Sangat memprihatinkan sekali, harusnya kita bisa perbuat sesuatu untuk menyelamatkan makanan yang laik makan agar bisa tersalurkan ke orang yang tidka tercukupi makanan-nya..

    Aku jadi inget, beberapa tahun lalu,kami bertetangga dengan store manager atau apalah dari sebuah supermarket cukup terkenal di Jakarta, dia setiap tengah malam pulang ke rumahnya (yg kebetulan tetangga keluargaku) dengan membawa mobil box berisi sayur mayur, roti2 dan berbagai makanan yang laik makan dan setiap malam (pagi dinihari) rumahnya terbuka untuk para kaum termaginal agar bisa mendapatkan berbagai penganan gratis dari mobil box yg dia bawa..dengan mengambil langsung dari mobil box-nya itu....
    Waktu itu aku masih SMU, jadi belom terpikirkan bahwa betapa mulianya apa yang dilakukan oleh bapak tetanggaku itu..

    Sekarang ketika aku juga terlibat dalam gerakan pemulung buku, ide awalnya juga dari keprihatinku dan teman2 melihat banyaknya buku2 yang dibuang/diloakan begitu saja sementara di berbagai tempat banyak anak2 yang kurang beruntung yang bisa mendapatkan buku2 bagus karena mahalnya harga buku dan susahnya keberadaan buku di tempat mereka, jadi kamipun membentuk wadah yg dapat menampung buku2 bekas dan laik baca untuk bisa di salurkan ke anak2 yg tidak ter akses bahan bacaan berkualitas..

    Jadi Gene, kenapa kita tidak sama2 membuat suatu wadah organisasi yang bisa menampung bahan2 makanan yang masih laik makan untuk disalurkan ke kaum termarginal, karena aku juga tahu bangets ada pabrik produk makanan yg setiap tahunnya terpaksa membuang makanan yg sudah kadaluarsa.. jadi ideku kenapa kita meminta kepada mereka agar makanan2 yg hampir kadaluarsa (3-4 bulan lagi kadaluarsa) untuk di hibahkan saja ke organisasi kita terus kita salurkan tuh makanan tersebut ke mereka2 yg membutuhkannya..

    hanya sebuah pemikiran saja,
    Dwee

    ReplyDelete
  3. Assalamu'alaikum.

    Sungguh sangat memilukan, pada saat yang sama, sebagian manusia membuang-buang makanan, sebagian manusia yang lain mati kelaparan karena ketiadaan makanan.

    Kita hidup dalam satu bumi, seharusnya mampu berbagi untuk semua manusia sebumi.

    Kadang, saya sangat perih melihat kenyataan ada orang yang mampu memelihara hewan dengan biaya jutaan, menyediakan makanan yang mahal dan bergizi bagi hewan peliharaannya, sementara itu masih ada tetangganya, sesama manusia yang masih menahan lapar dan kekurangan gizi.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  4. Begitulah manusia. Aneh kan? Kalau orang ateis begitu, kita bisa paham. Tetapi kalau orang yang mengaku sebagai orang Kristen juga begitu, sangat aneh. Mereka percaya bahwa kita diciptakan oleh Tuhan dan ada sorga dan neraka yang menanti kita. Tetapi mereka hidup keenakan, tanpa mau peduli pada tetangga.
    Bagaimana kalau yang hidup seperti itu adalah orang Muslim? Lebih aneh lagi kan? Seharusnya peduli pada sesama, tetapi ternyata lebih peduli pada mobil Bentley-nya.

    Tadi saya lewati pernikahan di Balai Sudirman. Macet karena begitu banyak tamu mau masuk gedung. Dan juga di Hotel Gran Melia. Jadi berpikir: berapa ratus milyar yang telah dihabiskan pada mala mini, di DKI saja, cuma untuk pesta perkawinan???

    Kasihan anak yatim yang lapar. Tidak ada yang mau undang mereka ke pesta pernikahan… sekalipun yang menikah itu Muslim…

    Saya belum pernah melihat pernikahan yang pasang kotak amal di depan pintu masuk. Maksud saya, karena mereka tahu ribuan orang kaya mau datang, mereka gunakan sebagai kesempatan mengumpulkan uang buat anak yatim.

    Bayangkan kalau 1 hari setelah pesta pernikahan suami-isteri yang baru itu bisa mengantarkan ratusan juta kepada anak yatim. Kira-kira pernikahan mendapatkan berkah dari Allah atau tidak?

    Tinggal memberitahu semua tamu pada undangannya: “Tolong membawa sumbangan sebanyak2nya untuk anak yatim, dan taruh dalam kotak amal di pintu masuk gedung.”

    Apakah suatu saat bisa terjadi bahwa itulah yang umum, dan pesta gaya lama yang kumpulkan uang untuk pengantin saja menjadi langkah…?

    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  5. kenapa ga coba dikasih contoh dulu aja Mr. Netto??bikin pesta pernikahan dengan KOTAK AMAL di bagian penerima tamu...ntar saya daftar jadi PENERIMA TAMU-nya deh sama Raf...hehehehe...

    berikutnya, Insya Allah saya dan yang lain akan coba ikutin jejaknya. kita bantuin deh bikin trend mode baru, gimana??gimana??

    NAKULA

    ReplyDelete
  6. Assalamu'alaikum.

    Subhanallah, ide yang sangat mulia, memanfaatkan pesta pernikahan untuk mengumpulkan dana bagi anak-anak yatim piatu.

    Sungguh saya baru terfikir. Tapi saran saya sebaiknya diam-diam saja, para undangan tidak perlu diberitahu bahwa itu untuk amal kepada yatim piatu, karena bisa jadi yang tadinya memberi banyak karena untuk pengantin,jadi memberi sedikit karena tahu untuk anak yatim. hieks...hieks..hieks...

    Kemarin, Bapak Hidayat Nurwahid sudah memberi teladan dengan mengundang anak-anak yatim piatu di pesta pernikahannya. Alhamdulillah.

    Tahun lalu, teman saya malah meniadakan kotak amplop alias tidak menerima amplop, karena niatnya betul-betul untuk berbagi kebahagian bukan untuk balik modal atau mencari keuntungan. He...he..he..

    Kembali ke topik, kalau saja semua manusia mengenal sosok Rasulullah Muhammad SAW, dan mengikuti teladannya yaitu : "Makanlah jika kamu lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang", tentulah kita tidak perlu belanja bahan makan berlebihan sehingga akhirnya karena tidak sempat diolah kemudian dibuang-buang.

    sesungguhnya dari setiap rupiah yang kita belanjakan, akan ada pertanggungjawabannya dihadapan Allah.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  7. Menurut pendapat saya alangkah lebih baiknya nggak perlu mengadakan pesta yang mewah dan uang yang dianggarkan untuk mengadakan pesta disumbangkan untuk anak yatim dan orang-orang miskin, bukannya itu lebih mulia.

    Nakula, jangan-jangan kamu jadi penerima tamunya, itu kotak amal di bawa pulang hahahaha. Kabuuuur sebelum digetok sama Nakula.

    ReplyDelete
  8. Blogger bingilti said...

    "Kemarin, Bapak Hidayat Nurwahid sudah memberi teladan dengan mengundang anak-anak yatim piatu di pesta pernikahannya. Alhamdulillah."

    Hmmm, kalian belum tahu siapa yang memberikan idenya kepada staf Pak Hidayat ya? Hehehehe...

    Saya bukan orang yang asal ngomong.
    Ini baru satu hasil saja dari sekian usul saya yang alhamdulillah diterima oleh orang lain yang punya posisi untuk melakukan perubahan.
    Ada beberapa yang lain yang tidak sampai masuk ke berita, tetapi hasil nyata di lapangan ada. Hanya saja saya tidak ceritakan di blog saya. Hanya teman dekat saya yang tahu. (Takut dibilang ge-er atau sombong).
    Ada juga beberapa usul yang sudah disampaikan, sudah diterima, tetapi belum diumumkan ke publik. Tunggu saja sampai keluar...

    Tapi kalau sudah diumumkan, belum tentu saya mau mengaku bahwa ide itu dari saya. Biarkan saja orang lain yang dipuji-puji. Buat saya, yang penting adalah hasil nyata di lapangan, bukan pujian dari orang lain. Comment saya ini tidak usah ceritakan kepada orang2 lain ya, buat teman2 di blog saja ya. Terima kasih.)

    ReplyDelete