Sunday, July 12, 2009

Malaysia Berhenti Mengajar Matematika Dan Sains Dalam Bahasa Inggris. Indonesia Baru Mulai.

Assalamu'alaikum wr.wb.,
Di bawah ini ada email yang masuk ke milis pendidikan dari Sekjen Klub Guru Indonesia. Dia jelaskan bahwa Malaysia akan berhenti mengajar Matematika dan Sains dalam bahasa Inggris dan menggantikannya dengan bahasa Melayu. Setelah beberapa tahun mengajar Matematika dan Sains dalam bahasa Inggris, ternyata hasilnya kurang baik. Jadi, diambil keputusan untuk kembali mengajar kedua mata pelajaran itu dalam bahasa Melayu, atau bahasa Ibu anak2 di sana.

Sebaliknya, Indonesia lewat program Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) baru saja mulai mengajakarkan Matematika dan Sains dalam bahasa Inggris. Dan sekarang, program ini sedang dikembangkan dan disebarkan. Hasil dari negara lain membuktikan bahwa ini tidak baik untuk murid, tetapi Indonesia malah mulai dengan program yang sama.

Apakah orang tua di sini harus menunggu bertahun-tahun juga, dan melihat sendiri hasil yang buruk dari anak2 mereka, sebelum Diknas mau mengubah progam SBI dan mengajarkan anak Indonesia dalam bahasa Ibunya?

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene

********

Dear all, berita Jawa Pos ini cukup menarik untuk dicermati:

Ganti Bahasa Inggris dengan Melayu, Untuk Matematika dan Sains di Malaysia

Saat sekolah berlabel SBI di Indonesia, justru getol ingin "menginternasional" dengan memilih penggunaan bahasa Inggris untuk pembelajaran di kelas, termasuk mapel sains dan matematika, di Malaysia, yang terjadi justru sebaliknya. Kini Menteri Pendidikan Malaysia memutuskan melarang penggunaan bahasa Inggris untuk pengajaran sains dan matematika, lalu beralih ke bahasa Melayu sebagai bahasa ibu.

Alasan yang mengemuka, antara lain:
(1) setelah pakai bahasa Inggris, hasil akademis pelajar Malaysia di kedua mata pelajaran itu cenderung menurun.
(2) meski tidak gamblang diakui, ini juga karena ada tekanan publik, di mana dari demonstrasi politikus dan ahli bahasa -khususnya mayoritas etnis Melayu- terungkap bahwa kebijakan pemerintah tentang penggunaan bahasa Inggris yang sudah berlaku enam tahun tersebut menghambat upaya memodernkan bahasa ibu mereka (Melayu).

Di Malaysia, keputusan menggunakan bahasa Inggris untuk sains dan matematika diawali era Mahathir setelah menyadari kemampuan berbahasa Inggris lulusan sekolah menengah rendah -kalah bersaing oleh lulusan dari Singapura. Sepertinya ini juga idem dengan alasan penggunaan bahasa Inggris di sekolah SBI kita di Indonesia.

Jika di Malaysia "kebijakan" tersebut membuat nilai sains dan matematika justru jeblok, apakah hal sama akan terjadi di Indonesia? Bukan rahasia, bahwa guru-guru sains dan matematika di Indonesia juga kebanyakan bahasa Inggrisnya nggak fasih-fasih amat, malah muridnya mungkin lebih jago. Belum lagi ada istilah-istilah sains atau matematika yang kemungkinan guru kesulitan mencarikan padanannya dalam bahasa Inggris. Walhasil, tingkat kesulitan siswa justru double. Sudah susah memahami konsep dan materi pelajaran, ditambah lagi kesulitan menangkap apa yang dimaksud guru karena bahasa Inggris yang pas-pasan tadi.

Apakah kita mau belajar dari (kesalahan) Malaysia, dengan kembali menggunakan bahasa ibu (bahasa Indonesia) dalam sains dan matematika? Atau kita tunggu dulu nilai siswa jeblok dulu, baru kita insyaf?

Para guru sains dan matematika di milis ini, bersuaralah...
Jujurlah pada kami, Anda lebih senang pakai bahasa pengantar apa?
Lakukan evaluasi bila perlu, bagaimana kemampuan dan daya serap siswa Anda di kelas!
Agar pembaca berita ini juga tahu komentar Anda, saya berharap Anda berkenan memberikan komentar di situs Klub Guru:

Salam hormat,
Mohammad Ihsan,
Sekjen Klub Guru Indonesia

********
[Komentar dari seorang pelatih guru yang berpengalaman]:

Saya setuju untuk mempertimbangkan lagi pemakaian bahasa Inggris sebagai pengantar di RSBI. Seharusnya juga status RSBI/SBI ini juga dipertimbangkan ulang. Mumpung belum terlalu kronis penyakitnya.

1. Karena gurunya juga tidak fasih berbahasa Inggris, bagaimana bisa mengajar kalau terbata-bata?
2. Siswa akan lebih mudah paham terhadap konsep yang dipelajarinya jika memakai bahasa yang dia pahami. Jika memakai bahasa asing maka kesulitannya berlipat ganda, harus berpikir mengenai konsep pelajarannya juga mengenai bahasa asing itu sendiri.

Biarkan saja sekolah internasional, sekolah nasional plus berkembang dengan bahasa Inggrisnya. Pemerintah (sekolah negeri) tidak perlu ikut-ikutan. Seharusnya yang perlu dijadikan benchmark itu metode mengajarnya, administrasinya, dan kurikulumnya bukan soal bahasanya!

Agung

********
[Komentar Gene]:

Assalamu'alaikum wr.wb.,

Saya setuju sekali dengan semua komentar Agung. Menggunakan bahasa asing untuk belajar ilmu2 yang cukup berat adalah suatu tindakan yang sangat bodoh.

Seharusnya Diknas (kalau peduli pada pendidikan) membaca hasil riset dari manca negara, khususnya riset tentang program bilingual, di mana anak terpaksa belajar beberapa mata pelajaran dalam bahasa asing (atau hampir semua pelajaran, kalau pakai sistem “immersion”). Hasilnya sudah banyak, data sangat banyak yang bisa dipelajari. Seringkali, walaupun menggunakan sistem immersion, ada sekolah yang tidak memberikan pelajaran matematika dalam bahasa asing dan tetap dalam bahasa ibu karena dinilai akan terlalu berat untuk mempelajari 2 skil pada saat yang sama (bahasa asing dan matematika).

Kebanyakan murid yang belajar dalam bahasa asing mengalami berbagai macam kesulitan. Ada sebagian yang bisa berhasil. Tetapi cukup banyak perlu kelas2 khusus untuk memperkuat bahasanya yang kurang, dan tingkat drop-out bisa cukup tinggi, dengan berbagai macam alasan.

Dan itu yang terjadi di negara barat, di mana tingkat pendidikan gurunya jauh lebih baik dari sini, dan setiap sekolah punya guru yang ahli dalam pendidikan bahasa, dan juga punya guru yang sanggup mengajar dalam bahasa asing. Bagaimana kalau dilakukan di sini (di SBI), dengan kualitas guru yang cukup rendah, guru yang juga tidak lancar dalam bahasa asing yang digunakan, tanpa menghadirkan ahli bahasa, tanpa kelas khusus atau dukungan yang dibutuhkan dari sekolah untuk membantu anak2 yang mengalami kesulitan?

Bisa dijamin hasilnya akan sangat kacau. Dan walaupun Malaysia berstatus negara maju, mereka sudah mengakui bahwa ini memang menjadi suatu masalah, dan mereka sudah bertindak untuk melakukan perubahan.

Bagaimana dengan Indonesia? Jangan berharap! Masa ada Menteri Pendidikan dan petugas tinggi di Diknas yang mau mengaku bersalah, dan mengubah struktur dan cara mengajar dalam Sekolah Bertaraf Internasional?
Mereka pasti akan merasa malu dong, kalau terpaksa mengaku bersalah. Lebih baik membiarkan anak gagal dalam pelajaran matematika dan sains, biar nanti anak bisa disalahkan (bukan sistemnya). Dan kegagalan anak itu yang bakalan muncul nanti juga akan membuka peluang untuk menciptakan berbagai macam kesempatan emas bagi petugas Diknas untuk membentuk program2 pelatihan baru untuk guru, untuk anak, untuk kepsek, program bahasa, program matematika dan sains, program peningkatan kualitas pengajaran, dan sebagainya.

Semua program itu akan makan uang dari pemerintah (uang pajak dari orang tua, dan juga biaya masuk yang harus dibayar), dan tentu saja, akan ada peluang korupsi yang sangat baik bagi semua. Korupsi bisa dilakukan dengan cara menambahkan jumlah program yang diadakan (tambahan fiktif) sehingga anggaran juga harus naik, dengan potong biaya secara tidak benar sehingga program dibuat secara murah tetapi pemerintah bayar untuk program mahal, dan sebagainya. Dan program2 itu akan dibentuk setelah jelas ada nilai2 yang rendah dalam pelajaran matematika dan sains. Dan hal itu bakalan teerjadi bila kelas itu diajarkan oleh guru yang tidak lancar dalam bahasa asing, ada pelajaran yang tidak dipahami oleh murid, dan yang juga murid yang tidak lancar dalam bahasa asing sehingga sulit mengikuti tesnya.

Tetapi bisa dijamin semuanya akan berjalan terus. Kesempatan untuk korupsi dan usaha menjaga diri dari pengakuan yang memalukan akan selalu diutamakan di atas kebutuhan anak bangsa untuk mendapatkan sistem pendidikan yang berkualitas.

Kapan negara ini akan mendapatkan pemerintah yang benar-benar peduli pada pendidikan?

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene Netto

14 comments:

  1. Kenapa tidak melihat Singapura yang sukses menerapkan sistem bilingual?
    -surya

    ReplyDelete
  2. Saya tidak tahu kalau singapura berhasil dengan sistem bilingual. Saya kira memang bahasa nasional di singapura adalah bahasa inggris. Jadi anak2 di situ, setahu saya, kebanyakan belajar dalam bahasa inggris, kecuali dia masuk sekolah khusus yang ada program bilingual.

    Saya kopi ini dari Wikipedia. Membenarkan bahwa anak di situ memang belajar dengan bahasa inggris. Jadi, tidak ada banyak sekolah atau program bilingual. >>

    English is the medium of instruction in Singapore schools. All Singaporeans are required at least primary 6 education and must attend government schools as part of National Education.

    Many children attend private kindergartens until they start at primary school at the age of six. Singapore's ruling political party, the PAP, is the largest provider of preschool education through its community arm.

    English is the language of instruction for mathematics and the natural sciences. For the Chinese community, there are Special Assistance Plan schools which receive extra funding to teach in Mandarin along with English. Some schools also integrate language subjects with mathematics and the sciences, using both English and a second language.

    http://en.wikipedia.org/wiki/Singapore#Education

    ReplyDelete
  3. senang membaca balasan anda. :)


    pendidikan singapura mengakibatkan bilingualitas secara otomatis karena ada ujian kelulusan untuk bahasa inggris dan bahasa ibu dari tingkat sd hingga sma. secara 'superficial', orang-orang singapura bilingual setidaknya dari segi percakapan.


    ngomong-ngomong bahasa nasional singapura sendiri masih bahasa melayu. unik kan. :)


    begitupun, menurut saya model orang-orang di swiss atau eropa lebih baik lagi. saya sering cemburu dengan mereka yang bisa tiga bahasa sejak SD lagi karena pergaulan.


    ataupun depdiknas/sbi bisa mengadopsi gaya pesantren gontor yang lebih hebat lagi mengakibatkan trilingualitas: arab, inggris dan indonesia. :)


    hal di atas saya ketahui dari pengalaman pribadi karena sd, smp, sma dan kuliah saya di lima negara: nusantara (sg, id, my), london dan new york. :)


    mungkin bung gene bisa melihat model gontor lebih dalam. :)


    untuk menyentuh akar permasalahan (dari pemahaman saya yang sedikit), di malaysia inisiatif 'bahasa melayu' yang bung gene bilang lebih disebabkan alasan-alasan yang dikemukana oleh syed muhammad naquib al-attas dengan 'islamisasi ilmu pengetahuannya'.


    juga saya sadari mungkin fenomena bilingualitas/trilingualitas merupakan bagian dari kehidupan 'elit', baik dari segi ekonomi maupun 'kepintaran' (contoh: gontor hanya menerima siswa yang 'pintar').


    di sini lah mungkin kita bisa diskusikan lebih lanjut.


    -surya

    ReplyDelete
  4. oh, juga bahasa daerah jangan dilupakan. alhamduliLlah saya masih bisa bahasa Mandailing karena orang tua menggunakan bahasa itu di rumah. jadi quadrilingualitas dong. :)
    -surya

    ReplyDelete
  5. Ada banyak sekali orang indonesia yang bilingual. Pembantu di rumah saya bisa berbahasa Indonesia dan juga bahasa Jawa. Banyak sekali teman saya yang malah hanya bisa bahasa Indonesia saja, dari sekolah di jakarta, dan tidak lagi belajar bahasa daerah. Malah pembantu yang bisa 2-3 bahasa.

    Tentang Gontor, sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan ustadz lulusan Gontor yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Semuanya bahasa Inggris “Tarzan” (dan mereka sendiri yang mengatakan demikian, bukan saya). Pada saat anak belajar di sana, diwajibkan menggunakan bahasa Inggris atau Arab. Kalau pakai bahasa Indonesia, ada sangsi hukum, seperti rambutnya dicukur, atau harus bersihkan lapangan.

    Dari sisi pendidikan, ini sistem penekanan (extrinsic motivation) yang rata2 berakhir buruk. Setelah penekanan itu hilang (siswa lulus), maka niat untuk tetap menggunakan bahasa tersebut menjadi hilang juga. Mereka malah bersyukur tidak dipaksakan memakai bahasa Inggris lagi.
    Untuk bahasa Arab beda, karena mereka sendiri yang ingin belajar biar bisa menjadi ustadz. Tetapi untuk bahasa inggris, mereka dipaksakan dan tidak kelihatan ada manfaatnya belajar bahasa itu. Setelah lulus, langsung berhenti menggunakan bahasa Inggris karena memang tidak mau dari awalnya.

    Sistem pendidikan yang buruk seperti ini menunjukkan bahwa orang yang menciptakan sistem justru tidak mengerti metodologi pendidikan. (Ilmu agamanya mungkin sangat baik, tetapi ilmu agama tidak sama dengan ilmu pendidikan). Dan sistem ini tidak membuat anak senang belajar, senang menuntut ilmu, bangga dengan hasil yang dicapai (kelancaran dalam bahasa asing) karena semuanya dipaksakan terhadap mereka.

    Hasilnya: sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan ustadz lulusan Gontor yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Mungkin saja ada beberapa orang, tetapi saya belum pernah bertemu. Sudah berkali2 saya bertemu dgn ustadz lulusan Gontor, dan karena tahu di sana wajib belajar bahasa Inggris, saya ajak ngomong. Semuanya langsung bingung, dan tidak bisa berkomunikasi secara lancar. Kalau saya ketemu lulusan Gontor, kita selalu menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi, karena kalau menggunakan bahasa inggris, saya cepat menjadi bingung karena tidak paham apa yang mereka katakan.

    ReplyDelete
  6. [bagian 2]:
    Dari beberapa tahun yang lalu, setelah diskusi dengan Syafii Antonio ttg Gontor, saya punya niat untuk pergi ke Gontor dan coba memberikan masukan biar program pendidikannya diubah, supaya tidak menggunakan sistem paksaan lagi, tetapi gurunya malah belajar untuk menanam “intrinsic motivation” (motivasi dari dalam diri sendiri). Kalau bisa begitu, insya Allah semua ustdaz lulusan Gontor akan mau belajar bahasa inggris seumur hidup.

    Tetapi sampai sekarang saya belum punya waktu untuk datang ke sana, dan walaupun ada waktunya, saya tidak tahu kalau para pembina di sana bisa menerima perubahan terhadap sistem yang sudah begitu kuat, yang sudah digunakan selama puluhan tahun. Menurut mereka, sistem berhasil. Tetapi itu karena pandangan mereka terlalu terbatas. Ibaratnya mereka menilai hasil pendidikan dari angka 1-10. Kalau siswa mencapai tingkat 7, dinilai bagus. Tetapi bagi saya yang sudah lama pelajari pendidikan, saya menilai siswa dari 1-100 (hasil yang paling maksimal). Jadi kalau ada orang yang dengan bangga mengatakan siswanya mencapai nilai 7, bagi saya itu tergolong rendah sekali, karena saya punya penilaian sampai 100, dan bukan 10 seperti mereka.

    Kalau kurang paham maksud saya, coba pikir begini: pembantu rumah tangga diberikan roti dengan isi pisang dari toko roti, dan dinilai sangat enak dan lezat karena dulu di kampung tidak ada seperti itu. Jadi bagi dia, roti pisang lezat sekali, berarti sistem penilaian dia dari 1-10. Kalau saya rasakan roti yang sama, dan saya bandingkan dengan kue Black Forrest, maka roti tadi dinilai biasa saja. Berarti penilaian saya 1-100 karena termasuk Black Forrest pada tingkat yang sangat tinggi. Untuk pembantu, dia tidak paham apa itu Black Forrest dan juga tidak sanggup beli, jadi dalam penilaian dia, roti sudah enak sekali (“enak” bagi dia terbatas pada tingkat 10). Tetapi orang yang kenal Black Forrest akan punya penilaian yang berbeda, dan “enak” bisa dinilai lebih maksimal lagi, sehingga mencapai tingkat 100. Dalam penilaian orang ini, roti yang mencapai tingkat kelezatan 7 sangat biasa karena dibandingkan dengan kue yang mencapai tingkat kelezatan 100.

    Bisa paham? Dari pandangan saya, sistem pendidikan yang mengajarkan bahasa inggris di Gontor dan semua pesantren lain bisa dikatakan sangat minum, ataupun “gagal” karena hasilnya begitu kecil. Kalau saya bandingkan dengan lulusan ILP saja, dalam waktu 1-2 tahun saja di ILP satu orang bisa jauh lebih lancar dari anak yang masuk Gontor selama 9 tahun. Bagi orang yang bangga dengan Gontor sebagai sekolah agama, mereka pasti menilai program bahasanya bagus (mereka menilai dari 1-10). Tetapi bagi orang seperti saya yang terbiasa mendidik guru dan menulis kurikulum, dan sudah mengajar lebih dari sepuluh ribu murid di sini, hasil yang sama dianggap kecil sekali karena dinilai dalam sistem 1-100.

    Sebagai perbandingan, saya tidak pernah dipaksakan belajar bahasa Indonesia, dan anda bisa menilai sendiri bagaimana hasilnya. Saya selama belajar bahasa Indonesia selalu dapat guru yang mengajak, mendidik, menyemangatkan, menghargai, dan memberi rasa senang belajar, tetapi mereka sama sekali tidak pernah memaksa apalagi menghukum.

    Sistem mana yang hasilnya lebih baik?

    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  7. Assalamaualaikum

    Subhanalloh, kalau Gene udah bicara masalah pendidikan dan bicara masalah inggris, two thumbs up deh. Aku menunggu buku tentang pendidikan yang ditulis oleh Gene. Tahun 2015 udah kelar belum ya kira-kira?....

    Wasalam
    nit

    ReplyDelete
  8. Asslmkm..

    om sebelum ke gontor coba mampir ke kediri tepatnya daerah pare kediri, ada sebuah kampung sedikit pelosok:) hampir sebagian besar penduduknyanya, terutama yg sengaja kursus dan kost disana, berbahasa inggris, EECCC pare kediri
    http://eeccpare.blogspot.com/2008_04_01_archive.html

    >>>check aja blog EECCC>>>

    sekitar tahun 2000 saya pernah kesana untuk liputan, kampungnya sangat sederhana (itu dulu ya..sekarang ga tahu:)

    memang saya akui pendidikan bahasa di pesantren2 ga begitu fokus, itu sebabnya banyak alumni pesantren atau anak pesantren di daerah jawa timur dan jawa tengah mengisi liburan dan sengaja kursus ke pare kediri, selain lebih murah dengan biaya hidup yang juga murah ya dibanding di EF first, ILP, LIA atau wall street:), kalau kata teman dan saudara sepupu saya, kualitas pengajarannya lumayan bagus.

    kalau engga salah pendirinya juga alumni gontor.


    salaam

    ReplyDelete
  9. Nit, buku tentang pendidikan mudah untuk ditulis insya Allah. Tetapi buku pertama ini sangat rumit (Mencari Tuhan, Menemukan Allah). Itu karena saya bicarakan agama orang lain. Salah tulis dikit, mungkin ada orang yang menjadi marah sekali.
    Jadi, harus diselesaikan dengan sangat hati2 supaya hasilnya optimal dan orang lain mau membaca.

    ReplyDelete
  10. Rahma,
    Anak teman saya ke Kediri untuk kursus bahasa Inggris selama 1 bulan. Sekolah swasta dia di Jakarta membuat program wajib ke sana setiap tahun biar siswa belajar bahasa Inggris.
    Hasilnya: Sangat buruk. Tidak terlihat keistimewaan sama sekali di sana. Murid yang dikirim ke sana lebih lancar dari guru yang mengajarnya. Mereka tidur di kasur tua di lantai, dengan kamar mandi yang kotor. Orang tua keluarkan 75 ribu untuk makan setiap hari, tetapi seorang ibu yang terbang ke sana untuk periksa (setelah dapat laporan dari anaknya tentang buruknya kondisi di sana) dapat info dari ibu yang mengurus catering bahwa dia hanya dapat 15 ribu per anak per hari, bukan 75ribu. Pantasan makananya hanya tahu, tempe dan nasi selama 1 bulan.
    Anak itu rajin ke KFC di kota dan makan2 dengan uang sendiri!
    Intinya, sekolah swasta itu mendapat untung yang lumayan dari semua kegiatan, dan siswa tidak dapat apa2 yang berkualitas. Mereka duduk di kursi plastik di pinggir sebuah rumah, dan belajar berjam2 setiap hari dalam kondisi yang lebih parah dari apa yang diberikan kepada napi di penjara, kayanya.
    Dari 1 bulan itu, tidak kelihatan ada hasil sama sekali. Saya anggap program itu penipuan semata dan sudah anjurkan agar para orang tua menuntut sekolah. Tetapi kayanya mereka tidak berani, dan semua lagi sibuk pindahkan anak2nya ke sekolah swasta yang lain. (Biar ada orang tua lain yang bisa masuk dan menjadi korban juga!)

    Saya kira karena semua orang bicarakan kampung itu, banyak sekali orang lain buru2 buka tempat kursus di situ juga dengan landasan “asal ada” karena orang tua siap bayar. Hasilnya, ada ratusan tempat kursus, dan mungkin hanya 1-5 berkualitas. Sisanya hanya ingin mengejar profit dari orang tua bego di jakarta yang mau kirim anaknya ke sana karena melihat iklan di koran atau mendapat email dari orang yang tidak dikenal.

    Kalau mau belajar bahasa Inggris, daftar saja di ILP, EF, LIA atau kursus lain di Jakarta. Tidak usah ke Kediri.

    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  11. Assalamualaikum

    Gene, apa benar cerita anak sekolah di Jakarta les english ke Kediri?

    Kalau benar kok aneh banget ya? bukankah di Jakarta banyak sekali tempat les/ kursus english, dari yg murah, sedang, mahal sampai super mahal tersedia di Jakarta. Dan Isnya Allah mutunya bisa dipertanggungjawabkan.

    Oh ya Gene, kalau ga salah unsur kecerdasan itu ada 7, salah satunya adalah kecerdasan bahasa. Jadi ada banyak orang yang menguasai 3 , 4, 5 bahasa asing itu menunjukkan bahwa mereka cerdas dalam hal bahasa.

    Kalau aku lemah dalam hal bahasa, karena aku udah kursus di ILP, EEC, dan EF tapi aku masih ga bisa berbahasa Inggris ( nasib deh, kayaknya mesti tinggal di negara yang berbahasa inggris selama minimal 1 tahun).

    Tapi meskipun lemah dalam bahasa aku menguasai 3 bahasa ( Indonesia, Jawa, dan Palembang) he..he...he lumayan meskipun bahasa lokal.

    Maaf kalau ada kesalahan, dan untuk Gene, maaf udah menuhin blognya.

    Wasalamualaikum
    nit

    ReplyDelete
  12. Nit, tidak mungkin seseorang menguasaikan 3 bahasa lalu bisa dibilang lemah dalam mempelajari bahasa. Tidak masuk akal. Ibaratnya orang bilang dia lemah di bidang olah raga dan hanya menguasaikan sepak bola, senam, dan bulu tangkis tetapi tidak bisa main basket = lemah di bidang olah raga.
    Kalau kamu tidak bisa berbahasa inggris, berarti ada faktor lain, bukan kelemahan bahasa.
    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  13. Ok Gene. Thx, u are a nice teacher.

    ReplyDelete
  14. untuk penggunaan bahasa inggris dalam pengajaran dikelas memang harus disesuaikan dengan target akhirnya (ujiannya). Misalnya seklah nasional yang memang mengukuti ujian nasional sebaiknya menggunakan bahasa indonesia dalam pengaharannya, tetapi sekolah yang menyelenggarakan ujian internasional ( misal IGCSE) maka sebaiknya materi diajarkan dalam bahasa inggris.

    ReplyDelete