Beberapa hari yang lalu, saya makan bersama anak teman saya
yang sudah menjadi anak yatim.
Saya berusaha untuk sering bertemu dengan dia dan ajak pergi
kalau saya ada waktu kosong. Hampir setiap minggu diajak jalan, sehingga
sekarang kami menjadi cukup akrab.
Beberapa waktu yang lalu, dia tiba-tiba bertanya, “Om Gene
suka mobil apa?” Saya asal jawab “BMW” sambil senyum. “Kenapa BMW?” Karena
sejak kecil, saya sering dengar BMW itu mobil berkualitas tinggi dan
teknologinya bagus, dan saya suka barang berkualitas. Selain itu, BMW juga
kelihatan keren kalau lewat di jalan. Kenapa bertanya tentang itu?
Dia jawab. “Om Gene sering ajak saya jalan, tapi tidak punya
mobil. Kasihan tidak punya mobil. Jadi saya sudah mendoakan terus agar bisa
segera dapat BMW.” Ohh, begitu. Hahaha. Rumah dan uang juga tidak ada, tapi
mobil saja yang dia pikirkan. Hahahaa!!.
Saya jawab bahwa kalau seandainya saya dapat sebuah BMW,
saya tidak akan pakai. “Kenapa?” Saya bilang saya akan jual dan pakai uang
untuk bayar hutang dan sisanya dipakai untuk anak yatim saja. Dia gelengkan
kepala. “Nggak boleh. Harus dipakai Om!”
Lalu kita ketemu teman lain, yang mengerti tentang mobil.
Jadi diskusi antara mereka tentang BMW, vs Mercedes Benz, vs Audi. Hahaha. Si
anak bilang harus pakai SUV (mobil besar) bukan sedan karena Om Gene juga orang
besar. Akhirnya teman itu usulkan CRV saja. Katanya lebih murah, lebih irit dan
tidak begitu terkesan “mewah” seperti BMW atau Mercedes. Saya ditanya kalau
setuju. Iya, setuju aja sih.
Jadi sekarang doa anak yatim itu diralat: Allah diminta segera kirim CRV untuk Om Gene (bukan BMW lagi). Tapi ada syarat. Katanya nggak boleh dijual dan harus dipakai! Uang untuk anak yatim harus dapat dari tempat lain saja. Hahahaha!!!!
Jadi sekarang doa anak yatim itu diralat: Allah diminta segera kirim CRV untuk Om Gene (bukan BMW lagi). Tapi ada syarat. Katanya nggak boleh dijual dan harus dipakai! Uang untuk anak yatim harus dapat dari tempat lain saja. Hahahaha!!!!
Imut banget anak yatim!!! Kalau sudah sering bertemu dengan
anak yatim, bicara dengannya, melihatnya sebagai “anak asuh” dan siap memenuhi
kebutuhannya, hanya karena Allah, maka insya Allah cepat atau lama, daripada
kita yang memperhatikan anak yatim itu, malah DIA yang mulai MEMPERHATIKAN KITA.
Mana yang lebih enak? Mengajak anak yatim makan setahun sekali
pada waktu buka puasa di rumah? Atau memberikan santunan ke panti sebulan
sekali, tanpa ketemu anak yatimnya? Atau menjadi begitu dekat dengan satu atau
beberapa anak sampai bukan hanya kita yang memperhatikan mereka, tapi mereka
yang memperhatikan kita juga? Silahkan berpikir dan memilih sendiri.
Bagi saya, tidak ada yang lebih imut atau lebih mempesona
daripada seorang anak yatim yang mulai menghitung-hitung kebutuhan kita, dan
siap berdoa dengan sungguh-sungguh agar kita dapat apa yang kita butuhkan
(seperti rezeki, kenaikan pangkat, mobil, rumah, kesehatan, kemudahan dalam
bisnis, dan sebagainya). Bagaimana bisa tidak senyum kalau melihat seorang anak
yatim menjadi sibuk dan sangat serius menghitung kebutuhan kita? Hahaha.
Semoga bermanfaat,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto
No comments:
Post a Comment