Search This Blog

Labels

alam (8) amal (66) anak (317) anak yatim (96) bilingual (21) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (86) dhuafa (11) for fun (12) Gene (196) guru (68) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (33) hukum (58) hukum islam (51) indonesia (505) islam (545) jakarta (27) kekerasan terhadap anak (372) kesehatan (98) Kisah Dakwah (13) Kisah Sedekah (11) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (22) KPK (12) Kristen (14) lingkungan (18) mohon bantuan (20) muallaf (50) my books (2) orang tua (11) palestina (33) parenting (2) pemerintah (102) Pemilu 2009 (46) pendidikan (500) pengumuman (24) perang (10) perbandingan agama (12) pernikahan (11) pesantren (48) politik (113) Politik Indonesia (34) Progam Sosial (32) puasa (36) renungan (191) Sejarah (5) sekolah (94) shalat (11) sosial (299) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

01 August, 2008

Minuman Jajanan Anak Sekolah Terkontaminasi Bakteri Patogen

Thursday, 31 July 2008

Hidayatullah.com--Hasil riset yang dilakukan di 15 sekolah dasar (SD) di tiga wilayah DKI Jakarta menunjukkan, sebagian besar minuman jajanan anak-anak yang dijajakan di sekitar sekolah terkontaminasi bakteri patogen yang dapat menginfeksi saluran pencernaan.

Menurut hasil penelitian Diana E.Waturangi, Bibiana W.Lay dan Susan Soka dari Fakultas Teknobiologi Universitas Katolik Atmajaya Jakarta yang dipaparkan di Jakarta, Jumat, bakteri patogen pencemar minuman jajanan anak utamanya Eschericia coli, Vibrio cholerae, dan Salmonella typhi.

"Ini cukup membahayakan bagi kesehatan anak," kata Diana mengenai hasil penelitian yang dilakukan tahun 2006-2007 terhadap minuman pekat, minuman cair dan es batu yang dijajakan di 15 SD di Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur itu.

Dijelaskannya, produk jajanan yang terkontaminasi Eschericia coli dapat menyebabkan penyakit gangguan saluran pencernaan, Vibrio cholerae menyebabkan diare dan kolera dan Salmonella typhi dapat menyebabkan penyakit tipus.

"Yang lebih membahayakan, bakteri kontaminan minuman jajanan juga sudah resisten terhadap beberapa jenis antibiotik," kata Diana.

Menurut dia, lebih dari 70 persen Salmonella yang mencemari minuman jajanan anak resisten terhadap antibiotik amphicilin dan streptomicin, lebih dari 50 persen Vibrio resisten terhadap amphicilin dan streptomicin dan lebih dari 50 persen Eschericia resisten terhadap trimetoprim.

Selain resisten, ia melanjutkan, bakteri-bakteri patogen itu menurut hasil penelitian juga mempunyai sifat integron atau mampu menularkan sifat resistennya kepada bakteri yang lain.

"Bahkan beberapa diantaranya berasosiasi dengan integron kelas satu yang memungkinkan penyebaran gen resistensi terhadap antibiotik semakin cepat," kata Diana. [ant/www.hidayatullah.com]

Sumber: Hidayatullah.com

Minum Kopi Setiap Hari Melindungi Otak


Riset menunjukkan bahwa kopi bisa mengurangi risiko kena penyakit Alzheimer (pikun) di usia tua karena memblokir kerusakan di otak yang disebabkan kolesterol.

Kopi sudah dikaitkan dengan frekuensi penyakit Alzheimer yang lebih rendah, dan sebuah studi oleh peneliti AS yang diterbitkan di Journal of Neuroinflammation (Jurnal Inflamasi Otak) bisa menjelaskan kenapa. Di otak ada yang disebut blood brain barrier (sawar darah otak). Fungsinya adalah untuk melindungi otak dari zat-zat di dalam darah yang berbahaya. Di dalam percobaan, sawar darah otak lebih kuat di dalam kelinci yang diberikan kuantitas kopi yang setara dengan satu cangkir per hari.

Ternyata, kafein merupakan obat yang paling aman untuk memperkuat sawar darah otak. Sebagian studi yang lain menunjukkan bahwa kolesterol bisa membuat sawar darah otak agak “bocor” dan kondisi ini bisa membantu timbulnya penyakit Alzheimer. Di dalam tes, kelinci yang diberikan diet kolesterol tinggi selama 12 minggu dan sekaligus minum kopi, punya sawar darah otak yang jauh lebih kuat dibandingkan kelinci yang tidak minum kopi. Kolesterol tinggi juga merupakan salah satu indikator akan timbul Alzheimer, mungkin karena kolesterol merusak sawar darah otak.

Kesimpulannya: kalau mau punya otak yang sehat, tidak ada pilihan selain minum kopi setiap hari. (Hehe.) Kafein juga ada dalam coklat, jadi jangan takut makan coklat juga ya. Dan kalau isteri marah karena anda pulang malam setelah ngopi sama teman-teman kantor, bilang saja habis berobat! (Hehehe.)

Read the full article here:

Daily caffeine 'protects brain'

Story from BBC NEWS:

The Origin of Christmas

If you are interested to know the origin of Christmas, this site gives a brief and clear explanation. It also gives the background of many common features of Christmas such as Christmas Trees and Santa Claus.

The Origin of Christmas

29 July, 2008

Kesempatan Dakwah Untuk Penerjemah Muslim


[Mohon disebarkan]
Assalamu’alaikum wr.wb.,
Saya ingin mohon bantuan dari para penerjemah yang punya waktu kosong dan ingin berdakwah.
Setelah saya menulis artikel Sangat Dibutuhkan Situs yang Menjelaskan Ajaran Dasar Islam, ada seorang pembaca bernama Mas Cece yang ingin membantu para muallaf dengan cara membuat situs baru yang menjelaskan dasar-dasar Islam dalam bahasa Indonesia.
Karena sudah ada banyak sekali situs seperti itu di dalam bahasa Inggris, sepertinya cara yang paling mudah adalah menerjemahan teks yang sudah ada dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Cece sudah membuat situsnya, bisa dilihat di sini:
Dan daftar situs yang menejelaskan Islam dalam bahasa Inggris sudah ada di blog saya.
Juga bisa didapat dari blog saya: http://genenetto.blogspot.com/
(Lihat di sebelah kanan bawah, bagian: Learn About Islam.)
Buat yang ingin bantu, silahkan cari 1 artikel dari salah satu situs tersebut, dan hubungi Cece dulu. Jelaskan apa yang akan diterjemahkan. Cece akan membuat daftar biar 2 orang tidak mengerjakan terjemahan yang sama.
Setelah selesai, tinggal email kepada Cece dan dia akan upload ke situsnya.
Silahkan hubungi Cece untuk informasi lebih lanjut, atau silahkan hubungi saya juga.
Cece Yaya Sudarya : ceceys {at} gmail.com
Gene Netto : genenetto {at} gmail.com
Terima kasih kepada teman-teman yang bisa membantu.
Buat yang tidak punya waktu atau tidak sanggup membantu, tolong sebarkan email ini saja kepada teman-teman yang lain yang punya skil untuk menterjemahkan bahasa Inggris > Indonesia.
Semoga Allah memberikan kemudahan pada usaha ini.
[Mohon disebarkan]
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

27 July, 2008

Pengakuan Guru 3: Kualitas Sekolah Negeri Rendah

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Ini adalah pengakuan dari seorang guru yang ditinggalkan sebagai komentar di post "Saya Lebih Mau Kelaparan Daripada Kirim Anak Saya Ke Sekolah Negeri".

Orang tua harus mulai peduli dan menjadi siap bertindak terhadap situasi dan kondisi ini. Orang tua harus mulai peduli dan siap menuntut pendidikan yang layak untuk semua anak bangsa. Orang tua yang lebih mampu pasti bersyukur bisa mendapat pilihan untuk memasukkan anaknya ke sekolah swasta tetapi seharusnya tidak perlu.

Di Australia, sebagai contoh, jumlah sekolah swasta sangat sedikit karena sekolah negeri sudah berkualitas dan gurunya juga. Tetapi di sini, jumlah sekolah swasta meningkat terus karena orang tua belum mau menuntut pendidikan yang layak untuk semua anak bangsa. Kalau sekolah negeri sudah berkualitas, sekolah swasta tidak diperlukan, kecuali untuk golongan yang paling kaya atau buat orang yang inginkan pendidikan khusus (berbasis agama, dll.).

Orang tua harus mulai peduli. Orang tua harus bertindak. Kalau tidak, pemerintah bisa mengabaikan aspirasi anak bangsa dengan mudah, karena tidak ada yang mau membela hak pendidikan buat anak-anak ini.

Semoga situasi ini bisa segera berubah.
Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai renungan untuk para orang tua.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

#######

Pengakuan dari guru sekolah negeri

Saya tidak terlalu terkejut mendengar kisah-kisah buruk anak yang bersekolah di sekolah negeri. Dari hasil observasi lapangan dengan mendampingi guru di sekolah negeri, saya sependapat dengan Anda. Di sekolah negeri satu kelas 30 -45 anak berjejalan. Dengan jumlah anak sebegitu banyak, sukar bagi guru untuk mengharapkan anak-anak (apalagi SD) duduk diam dan mendengrakan guru berbicara. Di mata para guru, proses belajar adalah menjadi copy cat gurunya, berbicara dan berfikir sperti mereka.

Sekolah yang saya dampingi termasuk (konon menurut diknas) adalah sekolah-sekolah unggulan. Tetapi dari 1 hari jam belajar kurang dari 60%nya dihadiri oleh guru pengajar dikelas. Selebihnya anak-anak dibiarkan 'belajar sendiri' dengan berbagai alasan, mulai dari guru yang harus rapat, ada tamu, pelatihan, mengunjungi teman sejawat sakit (mengapa dilakukan di jam kerja ya?) serta ber-MLM di ruang guru. Ketika guru hadir di kelas pun, pembelajaran sangat tidak efektif. Misalnya dalam pembelajaran Bahasa Inggris, murid-murid diminta presentasi tentang pet berkelompok 5 orang. Ketika presentasi hanya satu anak (dan biasanya yang paling pintar)saja yang berbicara dan 4 lainnya seperti boneka pajangan berdiri di depan kelas. Tidak ada feeback yang diberikan guru meskipun saya melihat ada beberapa kesalahan bahasa yang umum dilakukan murid dan cukup mengganggu pemahaman yang sangat bermanfaat jika dibahas.

Saya sungguh tidak heran kalau setelah 3+3+3= 9 tahun belajar Bahasa Inggris dari kelas 4 SD -3 SMA kemampuan berbahasa Inggris mereka tidak lebih dari yes/no/I don't know and I love you. Kalaupun ada anak yang kemampuannya lebih dari itu mungkin mereka les di luar atau mendapatkan cukup exposure berbahsa Inggris dari TV, lagu,bacaan, maupun internet.

Guru-guru di sekolah negeri umumnya memiliki kemampuan akademis dan metode pengajaran yang tidak memadai untuk layak disebut guru. Saya mengerti mengapa seseorang lulusan SPGA bisa menjadi guru bahasa Inggris dimana bahasa Inggrisnya sukar dipahami dan bagaimana seseorang lulusan IKIP jurusan Bahasa Inggris dan telah mengajar di SMA 20 tahun tidak bisa membedakan dan membandingkan fungsi simple present and present perfect tense. Beliau hanya tahu formulasi tense nya saja tanpa memahami dengan benar penggunaanya dari sisi makna. Bahkan ketika berbicara, bahasa Inggrisnya sangat kaku. Alasannya:

1. Guru sekolah negeri tidak direkrut dengan melewati ujian kemampuan bidanganya. Dahulu, ketika melamar jadi PNS tesnya adalah psikotes, pengetahuan umum dan pengetahuan Pancasila. Saya tidak tahu bagaimana dengan seleksi calon guru negeri sekarang.

2. Guru bahasa Inggris di sekolah negeri tidak dijaga mutu akademisnya. Ketika saya mengajar di satu kursus Bhs Inggris yang paling populer di Indonesia, setiap tahun para pengajar wajib mengikuti proficiency test. Berdasarkan hasil prof test ini ditentukan tingkat kenaikan hourly rate-nya. Guru yang kemampuan proficiency-nya jalan di tempat penghasilannya juga jalan di tempat dan jumlah jam mengajarnya lebih sedikit dibandingkan yang profieciency-nya meningkat.

3. Di tingkat wilayah, ada banyak supervisor mata pelajaran yang mestinya berkeliling memantau dan menjadi tempat konsultasi para pengajar. Akan tetapi yang saya lihat di lapangan, ketika berkunjung ke sekolah mereka tidak masuk ke kelas-kelas dan mengamati guru mengajar. Mereka biasanya akan menghabiskan lebih banyak waktu ngobrol dengan kepsek dan pulang setelah mendapatkan salam tempel dari beliau. Sesi konsultasi lebih ditekankan pada ada atau tidak adanya lesson plan buatan guru yang akan dijadikan bukti laporan kunjungan kepada atasanyya dikantor.

4. Ada MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) lintas sekolah yang sedikitnya melakukan pertemuan 1 bulan sekali. Tetapi di lapangan fasilitas ini nyaris tidak berfungsi. Presentasi yang dilakukan dalam pertemuan MGMP lebih banyak dihabiskan dengan perdebatan seputar kapan tunjangan ini itu bisa mereka terima, bagaimana mengisi berkas-berkas administrasi sekolah, dan sejenisnya. Kalaupun ada presentasi dari sesama guru, seringkali presentasinya tidak menjawab kebutuhan guru yang paling mendesak, misalnya bagaimana meningkatkan motivasi siswa belajar di kelas, bagaimana meng-handle kelas besar untuk kegiatan speaking. Seringkali juga presentasi dilakukan dalam Bahasa Indonesia (padahal semua yang hadir adalah guru Bhs. Inggris) dengan alasan agar pesan tersampaikan secara utuh dan menghindari kesalahpahaman. Atau yang mempresentasikan sama bloonnya dengan yang mendengarkan. Guru-guru swasta sering menganggap menghadiri MGMP sebagai sebuah beban. Mereka benar, nyaris tidak ada pembelajaran dari MGMP ini. Tambahan lagi acara sering molor dan agenda pertemuan tidak jelas. Sekolah-sekolah swasta yang cukup bermodal memilih untuk memanggil pelatih dari universitas atau mengirimkan para guru pada sesi-sesi pelatihan di Sampoerna Teacher Training atau di UI. Guru-guru sekolah negeri umumnya harus berjuang sendiri untuk memintarkan dirinya.

5. Guru sekolah negeri tidak dapat dipecat meskipun profesional mengajarnya sangat rendah. Hanya menteri pendidikan yang dapat memecat mereka. Ada juga sekolah negeri dengan komite sekolah yang sangat berdaya sehingga dapat mendesak kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas guru dengan berusaha mencari guru pendamping yang lebih berkwalitas. Guru pendamping ini diseleksi oleh komite sekolah dan dibayar dengan dana komite sekolah.

6. Kepala sekolah banyak yang tidak punya cukup waktu untuk menggiring para guru untuk lebih profesional. Kepala sekolah sibuk ’mengemis’ ke pemerintah tentang betapa butuhnya bangunan fisik sekolah sehingga murid-murid harus belajar dengan atap yang bocor di sana-sini. Kemudian pemerintah merenovasi sekolah mereka menjadi mentereng. Rengekan mereka tidak berhenti, selanjutnya mereka mendesak pemerintah dan komite sekolah untuk membelikan peralatan belajar canggih seperti laptop, in-focus, CCTV, class (home) theater dengan TV seukuran gajah. Bahkan yang lagi trend sekarang adalah meminta dirinya dan kroninya di sekolah dibiayai studi banding ke Australia dan Inggris seperti bapak-bapak di DPR itu dengan alasan mempersiapkan SBI (Sekolah Berstandard Internasional).

Kesimpulan saya, murid-murid di sekolah negeri nyaris tidak mendapatkan apa-apa dari sekolah. Kalau anak ibu pintar di sekolah, mungkin karena sudah in-born. Kalau dia disekolahkan ditempat yang baik, saya percaya kualitas anak ibu bakal lebih melesat. Hanya anak-anak yang cerdas dan independent learner saja yang bisa survive belajar di sekolah negeri. Jika anak ibu termasuk yang biasa-biasa saja, sukar untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya. Apalagi anak-anak yang kemampuannya di bawah rata-rata, mereka akan tergerus oleh keliaran suasana sekolah negeri.

Hasil keberadaan mereka di sekolah-sekolah negeri seperti di atas adalah anak-anak yang tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang berkepala dan berhati kosong. Mereka yang bekerja tanpa melibatkan otak dan hatinya, persis seperti sekawanan zombie. Merekalah yang kita lihat sehari-hari; para guru yang mengajarkan anak kita di sekolah, para pegawai negeri lainnya, para pejabat, para anggota DPR, dll. Mungkin dulu mereka pernah melewati masa-masa pembentukan di sekolah-sekolh negeri semacam ini sehingga mereka menjadi orang yang tegaan, tega menipu rakyat dan mencuri dana BOS anak-anak miskin. Sungguh, saya menjadi sangat emosional ketika harus menceritakan kebobrokan di sekolah negeri.

Sebagai orang tua dan guru, setiap kali saya melihat proses pembodohan anak-anak di kelas-kelas, hati saya rasanya teriris-iris dan marah sekali. Saya sangat beruntung punya pilihan untuk tidak mengirim anak-anak saya ke sekolah sampah semacam ini. Beberapa teman saya berusaha untuk memasukkan anaknya ke sekolah ungulan di tempat saya bekerja dengan cara menyogok jutaan rupiah, meskipun saya sudah menceritakan kondisi sekolah sejujurnya, tentang kualitas guru dan system pembelajaran di kelas. Anehnya, mereka tetap lebih percaya pada nama besar sekolah ini. Dengan alasan, jika anaknya bersekolah di sekolah negeri, mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk masuk UI dan ITB. Benarkah?

Orang tua yang sebenarnya mengetahui dan memiliki kebebasan finansial untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya, tetapi memilih untuk menutup mata demi gengsi anaknya diterima di sekolah negeri unggulan, wajib merasa bersalah kalau kelak anak-anak ibu juga berkualitas sampah. Saya sangat setuju dengan ibu yang memilih untuk kelaparan daripada membiarkan anaknya diproses menjadi zombie di sekolah-sekolah negeri berkualitas sampah.

Semua yang saya ceritakan ini bukanlah lagu baru. Kalau pendidikan di sekolah memang bermutu dan dapat diandalkan, kursus-kursus bahasa Inggris, bimbel, dan les-les pelajaran di rumah-rumah tidak akan tumbuh menjadi bisnis yang subur. Mengapa anak-anak kita tidak bisa pe-de hanya dengan mengandalkan pengajaran di sekolah untuk menghadapi UAN dan test masuk sekolah? Mengapa mereka baru merasa pede setelah mengikuti bimbel luar sekolah dengan membayar jutaan rupiah untuk mendapatkan kesempatan digeber 1-2 bulan penuh dari pagi hingga sore mengunyah soal-soal test masuk universitas?

Selama 3 tahun belajar di sekolah, apa yang dilakukan/ dipelajari anak-anak kita? Kalau punya waktu silahkan hitung berapa banyak uang dan waktu yang telah dihabiskan untuk mengirimkan anak-anak kita ke sekolah, lantas hitung bagaimana output yang didapatkan mereka. Mahal dan murah tidak bisa dihitung dari berapa yang Anda bayarkan tetapi diperbandingkan dengan apa yang kita dapatkan dari pembayaran tsb. Mengirimkan anak ke sekolah negeri, meskipun yang katanya unggulan sekalipun, bisa lebih mahal daripada di sekolah swasta yang bermutu. Sudah waktunya kita berhenti menilai kualitas sekolah dari segi kemasan sekolah unggulan, sekolah negeri berstandard internasional, sekolah negeri kategori mandiri, bla..bla..bla....

JANGAN MAU DITIPU LABEL SEKOLAH YANG DIBERIKAN DIKNAS. JANGAN PERCAYA DENGAN HASIL EVALUASI SEKOLAH YANG DILAKUKAN DIKNAS. JANGAN PERCAYA DENGAN HASIL UJIAN NASIONAL. JANGAN PERCAYA DENGAN PIALA SELEMARI YANG DIPAJANG DI LOBY SEKOLAH. INI BUKAN INDIKATOR SEKOLAH BERKUALITAS

Sekolah-sekolah negeri menjadi unggul bukan karena sistem dan guru-gurunya berkualitas unggulan (jauh panggang dari api), tapi karena mereka berkesempatan memilih input yang berkualitas dibandingkan sekolah lain. Jadi sekolah itu unggul karena memang anak bapak dan ibu sudah unggul ketika memasuki sekolah tersebut, bukan karena dijadikan unggul oleh sistem sekolah. Jangan tergiur dengan jumlah siswa yang memenangkan segala macam lomba dari lomba makan kerupuk tingkat sekolah hingga olimpiade fisika tingkat dunia. Sekolah nyaris tidak melakukan apa-apa terhadap anak-anak yang memang dari rumah sudah unggul. Tidak selayaknya sekolah menjual prestasi mereka untuk menipu orang tua murid seolah-olah merekalah yang telah bekerja keras mengantarkan anak-anak kita menjadi unggulan. Kalau anak Anda bodoh, jangan berharap untuk jadi pintar, meskipun kemungkinan ini ada (dengan cara sekolah berkolaborasi untuk memanipulasi nilai raport dan ujian nasional sehingga anak ibu berkesan ’pintar’ di atas kertas). Tulisan saya ini pasti akan sangat menyakitkan bagi teman-teman saya sesama guru. Tetapi begitulah yang saya lihat di sekolah negeri di mana saya bekerja sampai detik ini.

Kalau Anda termasuk orang tua yang tidak punya pilihan selain menyekolahkan anak di sekolah negeri, masih ada harapan untuk menghindari anak-anak Anda terperangkap dalam zombinisasi. Ayolah, bapak dan ibu...jadilah orang tua yang kritis. Kritiklah kami para guru dan kepala sekolah sepedas-pedasnya. Jangan hanya manggut-manggut di rapat komite. Kalau teman-teman saya memble dan kepala sekolah cuex terhadap kualitas pengajaran sekolah, mungkin karena Anda juga memble, tidak mau peduli pada pendidikan anak-anak sendiri dan percaya seratus persen pada pembodohan yang dilakukan sekolah yang konon berlabel ’unggulan’. Anda menuntut guru bekerja keras, bagaiman kalau dimulai dengan Anda menunjukkan kepedulian pada kualitas dengan mengeritik kami di rapat komite. Dengan adanya undang-undang sisdiknas, bapak dan ibu punya power dan berhak untuk ikut campur merubah sekolah ke arah yang lebih bermutu. Kami para guru perlu disentil dan dibangunkan dari ketidakpedulian kami. Oh ya, kalau mengkritik jangan cuma berani di milis. Bicaralah di rapat komite, galang dukungan dari sesama ortu. Atau kalau sekolah tetap tidak peduli, tulis saja di koran ternama. Karena bagi sekolah, nama baik lebih penting dari realitas. Biasanya mempan. Jadilah ortu yang kritis, kalau memang Anda mencintai putra-putri Anda dan ingin melihat mereka tumbuh menjadi yang terbaik dari diri mereka masing-masing.

Ayo lah...jangan memble dan cuex. Jangan beraninya ngedumel di belakang. Ayo ngomong di rapat komite, tulis di koran, atau lapor DPRD komisi pendidikan dan KPK!

#######

Baca Juga:

Saya Lebih Mau Kelaparan Daripada Kirim Anak Saya Ke SD Negeri

Pengakuan Guru 2: Kelas “Bilingual” Kacau

Pengakuan Guru: Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) Kacau!

Solusi Masalah Pendidikan ada di Tangan Orang Tua

25 July, 2008

Saya Lebih Mau Kelaparan Daripada Kirim Anak Saya Ke SD Negeri


Assalamu’alaikum wr.wb.,

Teman saya mengirim tulisan ini kepada saya untuk disebarkan kepada orang lain sebagai sebuah peringatan. (Dia juga seorang guru seperti saya). Untuk orang tua yang tergolong mampu di Indonesia, ada sekolah swasta yang mahal, tetapi untuk orang yang miskin, hanya ada sekolah negeri yang jauh dari standar tinggi yang layak. Staf di sekolah tersebut juga mungkin tidak kompeten menjadi guru dan tidak mengerti pendidikan (juga belum tentu punya ijazah pendidikan). Saya tidak bisa bayangkan masa depan bangsa ini seperti apa setelah puluhan juta anak tidak mendapat kesempatan menuntut ilmu yang baik dan mereka dengan mudah bisa diberi julukan seperti ‘autis’, ‘anak nakal’, dan lain-lain oleh guru mereka yang tidak kompeten. Walaupun saya sering membicarakan masalah pendidikan di sekolah swasta, tidak secara automatis berarti sekolah negeri adalah institusi pendidikan yang lebih baik.

Di dalam salah satu post di blog, saya sudah memberi pendapat saya bahwa Solusi Masalah Pendidikan ada di Tangan Orang Tua. Tetapi kalau orang tua tidak mau ambil tindakan secara pribadi dan bersatu untuk menuntut hak pendidikan buat semua anak bangsa, dan selalu mengharapkan bahwa ‘orang lain’ akan tangani masalah ini, saya yakin tidak akan ada perubahan dalam waktu singkat.

Kapan bangsa ini akan mendapatkan pemerintah yang peduli pada pendidikan?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

##########

Pagi ini saya masuk kantor telat. Pada saat saya masih di rumah bikin kopi, pembantu saya berkomentar bahwa anaknya menjadi bermasalah di sekolah. Saya kaget dengan pernyataan tersebut karena anaknya baru masuk Kelas 1 SD pada minggu yang lalu. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi ‘bermasalah’ hanya dalam satu minggu? Saya bertanya kenapa.

“Dia tidak bisa menulis dan para gurunya sudah mengatakan dia anak malas dan tidak mau berusaha.”

Saya tarik nafas panjang dan mulai menjelaskan tentang pendidikan di sekolah negeri di sini yang memang kurang layak karena seringkali tidak sesuai dengan teori perkembangan anak kecil. Saya jelaskan bahwa anak saya juga berumur 6 tahun dan baru masuk sekolah, dan juga baru mulai belajar menulis. Saya jelaskan bahwa memang tugasnya seorang guru untuk mengembangkan motivasi intrinsik untuk belajar [yang berarti guru harus mengembangkan niat seorang anak untuk mau belajar sendiri tanpa disuruh] dan saya mengatakan saya yakin anaknya tidak senang belajar menulis karena pelajaran dari guru tidak terasa menarik atau bermanfaat. Anak itu pasti ditekankan dengan cara yang tidak benar oleh gurunya. Proses belajar mesti menarik dan membahagiakan buat anak-anak karena kalau mereka menjadi bosan, mereka tidak akan mau belajar.

Ibu itu mendengar dengan baik, dan setuju dengan komentar saya, lalu tiba-tiba dia bertanya, “Apa itu autisme?”

Tentu saja saya langsung merasa sangat kaget dan bertanya kenapa dia mau tahu tentang itu.

“Karena gurunya mengatakan anak saya autis!”

“….APA???? Guru anak kamu di SD mengatakan anak kamu autis???”

Perlu saya jelaskan bahwa anak tersebut juga datang ke rumah saya setiap hari setelah sekolah. Dia main bersama dengan kedua anak kandung saya dan menunggu ibunya selesai kerja supaya mereka bisa pulang bersama. Saya sangat kenal anak pembantu saya ini dan saya sering memperhatikan dia bermain dengan anak saya. Dia berkomunikasi dengan baik, senang dengan semua macam mainan anak, punya daya imaginasi yang baik, dan seterusnya. Semua tanda-tanda anak autis justru TIDAK KELIHATAN di dalam perilakunya, dan sebagai seorang anak kecil yang biasa, dia sangat mirip dengan anak saya yang seumur dengan dia.

Kenapa dia bisa dikatakan ‘autis’ oleh guru SDnya? Apakah karena dia tidak menjawab gurunya dengan baik? Karena dia tidak mau nurut?

Siapa gurunya yang merasa sanggup bicara seperti ini? Sepertinya dia tidak punya latar belakang di bidang psikologi anak. Dan ternyata sang guru jelaskan kepada ibu ini bahwa dia ‘bisa tahu’ anak autis karena pernah dapat 1 anak autis di dalam kelasnya beberapa tahun yang lalu!

Jadi, menurut guru ini, seorang anak bisa dikatakan autis bila dia:

· Tidak bisa menulis setelah duduk di kelas satu SD selama 1 minggu

· Tidak nurut dengan guru saat disuruh menulis

Bagaimana dengan tanggapan orang tuanya? Tentu saja mereka tidak tahu apa-apa tentang autisme dan mereka langsung percaya ada masalah dengan anaknya karena SEORANG GURU sudah mengatakan begitu, berati pasti benar kalau seorang GURU yang mengatakannya.

Orang tua yang awam ini membuat solusnya sendiri sebagai terapi autis untuk anak mereka: anak itu (yang berumur 6 tahun) dimarahi oleh bapaknya, disuruh pergi dari bapak karena dia bikin bapak malu dengan autisnya, dan sama ibunya DIHUKUM dengan latihan menulis berjam-jam di rumah setiap hari. Tetapi anehnya, tegoran keras dan hukuman ini tidak berhasil mengobatinya dan anaknya tetap ‘autis’ karena tetap tidak mau nurut dengan guru di kelas pada saat dipaksakan menulis!

Saya habiskan banyak waktu pagi ini dengan mencari dan download info tentang autisme dalam bahasa Indonesia supaya bisa meyakinkan pembantu saya bahwa anaknya bukan penderita autis dan dia hanya seorang anak biasa yang mendapat guru yang tidak mau direpotkan dengan mengajar skil menulis di kelas satu SD.

Saya sangat tidak suka sikap banyak orang sekarang yang dengan buru-buru siap memberi julukan pada seorang anak pada saat ada tanda-tanda awal dari suatu sikap yang ‘tidak normal’. Setiap anak adalah manusia yang berbeda, individu, unik, dan istimewa. Kenapa tidak bisa dihargai begitu saja?

Saya jadi memikirkan anak saya yang sangat pintar dan sensitif. Bagaimana nasibnya bila dia juga dapat guru yang sama di sekolah yang sama? Guru itu akan mengatakan apa tentang anak saya? (Saya hampir tempatkan anak saya di SD yang sama juga karena takut sekolah swasta terlalu mahal untuk keluarga saya).

Pada umur 6 tahun, dia masih baru mulai belajar membaca dan menulis, punya kepribadian yang sensitif, mengubah mood dengan cepat, sangat logis, dan seterusnya. Pada suatu saat dulu, dia menjadi bosan di TK, lalu dia keluar dari kelas dan pulang sendiri (rumah saya tidak terlalu jauh). Tetapi, syukurlah, guru di TK swasta itu bisa mengatasi masalah ini dengan baik, tapi memberikan julukan buruk kepadanya, tanpa memberikan hukuman, dan tanpa mengganggu hatinya. Memang benar, ada sebagian anak di masyarakat yang punya gangguan belajar yang menghambat proses belajar mereka di sekolah. Tetapi kita mesti lebih berhati-hati dalam menentukan anak mana yang ‘bermasalah’.

Apakah ada masalah dengan anak atau dengan sistem pendidikan di mana anak hanya bisa dihargai bila mereka 100% rukun dalam semua perkara seperti klon? Apakah ada masalah dengan anak atau dengan gurunya yang tidak mengerti bedanya antara pelajaran yang dipusatkan pada anak (disebut child-centered) dan pelajaraan yang dipusatkan pada guru dengan sisitem hafalan saja (teacher-centered, rote learning). Apakah ada masalah dengan anak atau dengan gurunya yang tidak mengerti macam-macam metodologi pendidikan dan psikologi anak? Seharusnya pertanyaan inilah yang perlu ditanyakan sebelum anak kita di kelas satu SD boleh dikatakan ‘autis’, ‘tidak pintar’, ‘anak nakal’, ‘bermasalah’ dan seterusnya.

Saya bekerja dengan keras sekali supaya anak saya bisa masuk sekolah swasta yang baik. Yang saya anggap ‘baik’ itu bukan ditentukan oleh nilai di rapor anak saya atau rankingnya di kelas, tetapi didasarkan pada satu pertanyaan sederhana. Pada saat saya bertanya kepada anak saya berumur 6 tahun tentang kenapa dia suka sekolah, dia selalu jelaskan bahwa dia suka sekolah karena para gurunya sayangi dia dan itulah jawaban yang paling saya inginkan. Dia masuk sekolah dengan semangat dan punya semangat untuk belajar terus karena gurunya sangat baik terhadap dia dan bisa mendidiknya dengan cara yang layak untuk seorang anak kecil. (Dan karena itu, kedua anak saya tetap pada sekolah swasta yang sama untuk TK dan SD).

Terus terang, saya lebih mau kelaparan (untuk menghemat uang) daripada kirim anak saya ke SD Negeri.

Semoga bermanfaat,

Seorang Ibu di Jakarta

24 July, 2008

Lebih utama makan atau berperang?

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Terasa sangat aneh bahwa pada saat negara maju membuang makanan pada skala besar (lihat Pembuangan makanan pada skala besar di Inggris), juga terjadi kelaparan di negara lain. Diperkirakan jutaan orang akan kena kelaparan di Africa kalau tidak segera dikirim makanan. (Gambar di sini: In pictures: Ethiopia's impending famine.)

Bagaimana dengan negara lain yang tidak masuk berita? Di indonesiapun juga terjadi kelaparan, hanya mungkin tidak separah yang di Afrika.

Di dunia modern ini, di mana astronaut bisa berada di stasiun luar angkasa, dan dokter bisa melakukan operasi dengan menggendalikan tangan robot lewat internet dari lain negara, sangat aneh bahwa masalah-masalah yang paling sederhana masih belum ditangani oleh pemerintah di masing-masing negara.

Bayangkan kalau pengeluaran AS untuk perang Iraq disalurkan kepada orang paling miskin di dunia. Bayangkan kalau penghasilan dari BBM dan Migas di Indonesia disalurkan kepada warga yang paling miskin daripada diberikan kepada perusahaan minyak kaya asal AS?

Masih ingat ini: “Wajar bila kemudian, tambah Sodik, minyak dan gas yang ada di Indonesia ini sebagian besar dikuasai asing. Tercatat dari 60 kontraktor, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen.” (Lihat BBM Dinaikkan Agar Pemain Asing Masuk).

Minyak dan gas dari Indonesia diambil oleh perusahaan minyak Amerika, dll. Mereka bayar pajak ke pemerintah Amerika, dan uang pajak itu dihabiskan untuk perang. Orang miskin yang lapar di Indonesia dan di Afrika dibiarkan mati kelaparan saja.

Ini dunia apa? Apakah bisnis memang begitu penting? Sepertinya sifat-sifat manusiawi makin hilang di dunia globalisasi. Yang ada persaingan bisnis yang meningkat secara tajam dan orang yang paling tidak mampu bersaing dibiarkan mati saja.

Demi uang. Demi profit. Demi kemenangan strategis dalam perang.

Anak yang dibesarkan di dalam dunia globalisasi seperti apa di masa depan…? Apakah masih akan ada “kepedulian sosial” dalam 20 tahun mendatang?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene

22 July, 2008

Translations Of The Qur'an In Various Languages

Translations Of The Qur'an In Various Languages
For those who need translations of Al Qur’an in other languages, it is available here. The text can only be read, and cannot be copied. The translations are provided from the King Fahd Holy Quran Printing Complex.

Translations of Al Qur'an in various languages
http://quran.com/1

Some of the languages are:
  • English
  • German
  • Chinese
  • Greek
  • Korean
  • Indonesian
  • Spanish
  • Urdu
  • Filipino
  • Thai
  • Turkish
  • Sindhi
  • And so on
[Indonesian language]

Terjemahan Al Qur’an dalam berapa bahasa

Untuk orang yang membutuhkan Al Qur’an dalam bahasa lain, disediakan di sini. Teks hanya bisa dibaca dan tidak bisa dikopi. Semua terjemahan ini disediakan oleh King Fahd Holy Quran Printing Complex.

Terjemahan Al Qur'an dalam berbagai bahasa 
http://quran.com/1

Contoh bahasa yang ada:
  • Inggris
  • Jerman
  • Cina
  • Yunani
  • Korea
  • Indonesia
  • Spanyol
  • Urdu
  • Filipino
  • Thai
  • Turki
  • Sindhi
  • Dan seterusnya

21 July, 2008

Solusi Masalah Pendidikan ada di Tangan Orang Tua


Assalamu’alaikum wr.wb.,

[Ada pembaca yang bertanya kepada saya tentang solusi terhadap masalah pendidikan yang saya bicarakan. Ini jawaban saya.]

Pak, saya sudah coba menjawab pertanyaan anda dalam komentar saya di post Pengakuan Guru 2. Saya yakin bahwa semua masalah ini bisa diselesaikan oleh orang tua yang peduli.

Kalau kita sedikit mempelajari sejarah serikat buruh di manca negara, kita bisa tahu bahwa demi kesejahteraan bersama, para pekerja bergabung dan menyatu di dalam sebuah serikat buruh.

Awalnya, mereka memang dilawan oleh pemerintah (dengan menggunakan polisi untuk memukuli mereka). Mereka juga dilawan oleh pemilik perusahaan, yang siap terima kerugian besar dengan menutup pabriknya, asal berhasil memecah-belahkan pekerja yang berprotes.

Di Inggris, ada sejarah mogok kerja satu kelompok yang berlangsung lebih dari 1 tahun lamanya. Para pekerja tidak mau kalah dan pemerintah/pengusaha juga tidak mau kalah.

Sejarah membuktikan bahwa walaupun menggunakan semua cara (polisi, ancaman hukum, pemerasan, ancaman fisik, sogokan, pemukulan, dll.) pemerintah pada akhir hari tetap kalah.

Kenapa?

Karena industri hanya ada selama ada pekerja. Tanpa pekerja, tidak ada industri. Yang namanya CEO atau direktur bukanlah orang yang membuat barang di pabrik. Sejarah serikat ini menunjukkan bahwa kalau suatu kaum benar2 kompak dan menuntut haknya, tanpa mundur, mereka insya Allah akan memang. Atau minimal bisa dikatakan mereka mempunyai kekuatan untuk bernegosiasi dengan pemerintah/pengusaha supaya mendapat hasil yang saling menguntungkan daripada menguntungkan satu pihak dan sangat merugikan yang lain.

Karena Indonesia belum melewati tahap perkembangan ini (satu bagian dari perkembangan demokrasi di manca negara), maka mayoritas dari pekerja di sini belum pernah bergabung dalam suatu serikat. Karena itu, orang tua biasa tidak punya konsep ini di dalam benak mereka. Mereka tidak berfikir untuk mogok. Mereka tidak berfikir untuk turun ke jalan dengan aksi damai dan menuntut haknya. (Sering dianggap tugas mahasiswa saja).

Menurut saya, hanya cara inilah yang paling mungkin memberikan hasil yang nyata dalam waktu dekat. Kalau menunggu partai politik yang bersih dan peduli mendapatkan kekuasaan di pemerintah, maka kita harus menunggu terlalu lama.

Bayangkan saja:

Senin depan, semua orang tua di seluruh Indonesia menolak bekerja/masuk kantor (selain fungsi umum yang penting/darurat – dokter, polisi, dll.) Semua pekerja biasa yang juga orang tua, dengan rukun, tetap di rumah dan tidak bekerja. Atau sekaligus, menghadiri demo rakyat 1 juta orang di semua jalan raya di semua kota.

Tututan orang tua hanya satu: pendidikan yang layak dari pemerintah untuk semua anak bangsa sekarang juga.

Kalau tuntutan tidak diterima, bulan depan orang tua janji mogok kerja lagi, tetapi untuk 3 hari, dan seterusnya. Kerugian negara bisa berapa untuk satu hari saja? Apakah mungkin pemerintah tidak takut dan abaikan aksi seperti ini? Saya yakin tidak mungkin.

Pengusaha pasti marah besar, dan mungkin juga ada sebagian orang yang dipecat, diancam akan dipecat, atau kena hukuman yang lain. Tetapi walaupun tingkat suksesnya hanya 60%, pemerintah pasti takut pada massa yang begitu kompak. Mereka pasti takut dilengserkan oleh rakyat yang menolak pemerintah. Ini yang terjadi pada Presiden Marcos di Filipina. Dia dijtatuhkan karena orang biasa turun ke jalan dan berdiri depan tentara. Mereka menolak Marcos karena inginkan perubahan. Ternyata, tentara ikut bersimpati pada mereka dan tidak bertindak. Akhirnya Marcos kabur ke luar negeri. (Kemarin di Myanmar aksi yang sama dimulai, tetapi tentara bertindak terhadap rakyat. Sayangnya, rakyat cepat kalah dan tidak mau teruskan perjuangannya.)

Dengan tindakan seperti ini, pemerintah akan sadar bahwa masyarakat TIDAK MENERIMA kelalaian mereka di bidang pendidikan. Tetapi masalah utama adalah masyarakat Indonesia belum berani untuk ambil tindakan seperti ini (berarti masih siap menerima kelalaian pemerintah). Di sini lebih banyak orang takut pada pemerintah daripada berani ambil risiko demi masa depan anak mereka dan semua anak bangsa sekaligus. Dan tindakan seperti ini hanya bisa berhasil kalau ada rasa perjuangan bersama, di mana semua orang tua saling peduli pada yang lain.

Saat ini, kalau anak tetangga putus sekolah, belum tentu kita peduli. Paling kita mengatakan sedih, dan tetap beli mobil baru, naik haji, bikin pesta pernikahan buat anak kita yang habiskan 200 juta, dan seterusnya. Belum ada rasa komunitas. Belum ada rasa “sama-sama punya anak, sama-sama peduli pada anak orang lain”.

Orang kaya peduli pada anak mereka saja. Mungkin orang miskin ingin mendapatkan kesempatan korupsi juga di kantor supaya anaknya bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan anaknya orang kaya. Tidak ada rasa komunitas. Tidak ada rasa saling peduli. Semua orang bertindak sendiri-sendiri, dan komplain sendiri-sendiri.

Kalau kita menjatuhkan beberapa tetes air mata di atas kepala pemerintah dan pejabat, kepala mereka menjadi sedikit basah dan cukup dilap dengan tisu. Lalu dilupakan. Kalau 100 juta orang tua menjatuhkan tetesan air mata mereka di atas kepala pemerintah pada saat yang sama, hasilnya adalah banjir raksasa. Mana mungkin diabaikan?

Orang tua harus bersatu dan menyusun strategi untuk melawan kebijakan pemerintah yang abaikan hak anak bangsa. Kalau tidak, tidak akan ada perubahan.

Semuanya ada di tangan orang tua. Mau bersatu, atau mau menangis sendiri? Terserah.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

19 July, 2008

Pengakuan Guru 2: Kelas “Bilingual” Kacau


Dalam pertemuan dengan seluruh orangtua murid calon kelas bilingual di satu SMP, saya berusaha untuk menyamakan ekspektasi mereka pada realitas yang kami miliki di sekolah. Lebih tepatnya lagi, saya berusaha untuk menurunkan ekspektasi mereka yang terlalu tinggi terhadap Bahasa Inggris para pengajar. Ada tiga kondisi dimana Bahasa Inggris akan digunakan. Garis besarnya, penggunaan Bahasa Inggris sbb:

Pertama, Bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa pengantar untuk membuka dan menutup kelas. Membuka kelas termasuk greeting, conducting an opening prayer, dan light talk [= pembicaraan ringan].

Kedua, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa untuk memberikan perintah sehari-hari dari guru ke murid-murid. Misalnya please open your book [at] page bla..bla..bla, come forward, work in pairs, put away your books, prepare a piece of paper, don’t cheat, and so on. Semua guru yang mengajar di kelas bilingual, kecuali guru Bhs Indonesia, wajib menggunakan Bahasa Inggris dalam dua kondisi di atas. Mereka telah dilatih berkali-kali untuk memastikan pronunciation-nya minimal comprehensible enough [dapat dipahami saja] bagi murid-murid. Kami tidak dapat berharap native-like language production [= tidak berharap penggunaan bahasa Inggris seperti native-speaker]. It’s simply far-fetched [= sangat tidak mungkin].

Ketiga, khusus untuk pengajar science, math, dan IT, mereka wajib menggunakan bahasa Inggris untuk penyebutan istilah-istilah khusus dalam pelajarannya. Prosedurnya begini, pertama-tama materi disampaikan sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia. Jika murid-murid telah memahami konsep dasar yang diajarkan, guru akan menjelaskan ulang konsep tersebut dalam Bahasa Indonesia tetapi menggunakan term-term khusus dalam Bahasa Inggris. Misalnya untuk mathematical operator symbols dibaca dalam Bahasa Inggris, luas bidang (area), keliling (perimeter, circumference) and so on. Untuk biologi, penyebutan bagian tanaman dalam bahasa Inggris, misalnya root, stem, leaf, branch, twigs… Tetapi susunan kalimat bahasa pengantar ketika guru menjelasakan baik dalam penjelasan pertama maupun berikutnya tetap dalam Bahasa Indonesia. Maka Bhs Inggris digunakan dalam menjelaskan pelajaran sebatas penggunaan istilah-istilah ilmiah. Saya punya alasan logis yang kalau dijelaskan disini bisa panjang. Yang pasti, hal ini akan mengurangi beban content teachers.

Penjelasan ini tidak memuaskan kepala sekolah, karena tidak ‘menjual’ sekolah. Salah satu ortu secara pribadi mengatakan pada saya bahwa beliau membatalkan anaknya masuk kelas ini karena berharap anaknya mendapatkan eksposure bahasa Inggris seketika dia menginjakkan kaki di gerbang sekolah. Ibu ini mengharapkan para guru bercasi-cis-cus dalam Bahasa Inggris di sekolah sebagaimana yang dilihatnya disekolah-sekolah berbahasa Inggris dengan immersion program. Again, it’s simply far-fetched [sangat tidak mungkin].

Saya jelaskan beberapa type dan kondisi program bilingual yang dikenal dalam literatur pengajaran Bahsa asing, mulai dari immersion program (mis di JIS, BIS), transitional, maintenance, dst. Guru-guru yang ada di sekolah kami tidak direkrut dengan kemampuan Bahsa Inggris yang memadai untuk mampu mengajar dalam immersion program. Lantas ibu ini bertanya, mengapa diberi label ‘bilingual’ kalau bahasa Inggris digunakan dalam kondisi yang amat sangat terbatas? Dan mengapa orangtua harus membayar jauh lebih banyak SPP dibanding kelas reguler sementara perbedaannya hanya sebatas fasilitas fisik saja. Saya tidak bisa menjawab. The principal was not happy, neither was the mother. But I’m glad to bring them back to reality. I’m not a good salesperson, indeed. Saya harus siap-siap cari kerjaan lain, mungkin semester depan she would kick me out [diusir kepala sekolah].

[Komentar dari Pak Satria Dharma]

Bravo untuk Anda! Jelas sekali bahwa motivasi para kepala sekolah RSBI ini adalah hendak MENIPU para orang tua dengan segala kamuflase yang bisa ia lakukan agar orang tua mau masuk ke program RSBI. Motifnya jelas sekali adalah UANG. Jadi sama sekali tidak ada idealisme disitu. Saya bersyukur bahwa Anda memutuskan untuk memenangkan hati nurani Anda dan bukannya ikut terseret permainan gila para kepala sekolah.

Saya benar-benar gregetan dengan situasi ini dan ingin mengajak Anda dan teman-teman lain untuk membongkar kebohongan program RSBI ini. Kalau tidak maka kita ikut berdosa membiarkan kebohongan ini berkelanjutan tanpa kita berusaha untuk mencegah.

Salam,

Satria

Sumber: (dari Pak Satria Dharma)

[Komentar dari Gene Netto]

Assalamu’alaikum wr.wb.,

Sekali lagi ada pengakuan dari seorang guru yang berani, yang jujur dalam menceritakan kondisi nyata dan kualitas sekolah yang sangat jauh dari harapan orang tua. Perlu dikumpulkan berapa banyak pengakuan seperti ini sebelum orang tua menyadari penipuan yang dilakukan terhadap mereka, baik dari sekolah atau kelas SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), maupun dari kelas bilingual di sekolah swasta?

Semua kelas ini punya landasan yang sama: UANG.

Ilmu yang diharapakan orang tua untuk anaknya adalah suatu hal yang belum tentu muncul, dan kalau memang ada sebagian anak yang mendapatkan ilmu bahasa Inggris yang diinginkan orang tua, belum tentu didapatkan dari sekolah. Justru sangat mungkin dia dapatkan dari internet, dari tivi kabel, dari dvd dan vcd, dari buku, dari kakaknya, dan seterusnya. Sekolah swasta dan kelas bilingualnya yang mahal itu belum tentu menjadi sumber utama dalam perkembangan bahasa anak-anak ini, terutama bila di dalam sekolah/kelas tersebut, tidak ada ahli pengajaran bahasa asing yang sudah tahu caranya mengajarkan bahasa asing dengan baik kepada anak kecil. Ada banyak sekali efek samping yang bisa muncul kalau bahasa asing diberikan dengan cara yang kurang baik. Tetapi jarang harapkan sekolah akan memberitahu orang tua/kustomer.

Kapan orang tua di Indonesia akan menjadi kompak dan menuntut sistem pendidikan yang berkualitas buat semua anak bangsa?

Orang tua mengharapkan dengan bayar mahal di sekolah swasta, minimal anak mereka menjadi lebih pintar daripada anak tetangga, dan dengan itu mendapatkan kesempatan yang lebih luas di dunia ini. Tetapi semua orang tua di seluruh nusantara mengharapkan hal yang sama buat anak mereka, baik orang tua itu direktur bank maupun supir taksi. Kapan orang tua di Indonesia akan bersatu dan dengan kepedulian pada SEMUA anak bangsa, bersuara keras dan menuntut hak pendidikan yang layak buat semua anak bangsa, tanpa lihat siapa bapaknya, atau berapa banyak uangnya?

Bangsa ini bisa maju kalau mayoritas dari penduduk mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu yang baik di dalam sekolah yang baik. Kapan para orang tua akan mulai peduli pada anak tetangga dan bergabung untuk menuntut perhatian yang wajar dari pemerintah negara ini untuk semua anak bangsa?

Semuanya ada di tangan orang tua.

Sekarang, yang kaya ditipu dengan sekolah SBI dan bilingual. Yang miskin diabaikan saja dan aspirasi mereka untuk anak mereka (yang persis sama dengan aspirasi orang kaya untuk anak mereka) sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Situasi dan kondisi ini tidak akan berubah sampai orang tua bergabung, dan mulai peduli pada anak tentangga dan pendidikan yang layak buat semua anak bangsa.

Bukannya itu hak mereka?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Gene Netto

18 July, 2008

Video Interogasi Tahanan Guantanamo Beredar


Rabu, 16 Juli 2008

Pertama kali, video interogasi tersangka “teroris” di kamp penjara Guantanamo Bay, Kuba, dipublikasikan. Video ini disebarluaskan secara online melalui internet

Hidayatullah.com--Video menampilkan Omar Khadr, pemuda berusia 16 tahun, yang ditahan di Afganistan di kala usianya baru mencapai 15 tahun. Dalam cuplikan video, ditampilkan Omar Khadir yang ditanyai tim pejabat Kanada di tahun 2003.

Pertanyaan yang diajukan menyangkut serangkaian peristiwa sebelum dia ditangkap oleh pasukan Amerika. Remaja yang ditahan Amerika tanpa melalui proses hukum selama lima tahun itu terlihat menangis dan mengeluhkan masalah kesehatannya. Beberapa kali terdengar ia berteriak "tolong saya". Ia juga menutupi wajahnya dengan telapak tangannya dan menarik rambutnya.

Warga Kanada itu dituduh melemparkan granat yang menewaskan seorang serdadu Amerika di Afghanistan pada tahun 2002.

Video itu dipublikasikan oleh tim pengacara Khadr menyusul putusan Mahkamah Agung bulan Mei bahwa pihak berwenang Kanada harus menyerahkan bukti yang memberatkan dia untuk memungkinkan memberikan pembelaan penuh atas dakwaan yang dialamatkan ke remaja tersebut.

Khadr, satu-satunya warga negara Barat yang masih ditahan di kamp tersebut, berusia 15 tahun ketika ditangkap pasukan Amerika dalam baku tembak di kamp yang dicurigai milik Al-Qaidah di Afghanistan.

Dia tampak menyingsingkan baju oranyenya untuk memperlihatkan kepada pejabat kementerian luar negeri dan agen-agen dari Dinas Intelijen Keamanan Kanada (CSIS) luka-luka di punggung, dan perutnya yang dia kata dia alami di Afghanistan.

"Saya bukan dokter, tapi saya saya rasa kamu mendapat perawatan kesehatan yang layak," kata salah seorang pejabat.

"Tidak. Anda tidak di sini...saya kehilangan kedua mata saya. Saya kehilangan kaki saya. Segalanya!" saat menyinggung bagaimana indera penglihatan dan kondisi kesehatannya terganggu.

"Tidak kamu masih punya mata dan kedua kaki kamu masih di ujung tungkaimu," kata seorang pejabat.

Selagi menagis sejadi-jadinya, Khadr berkali-kali mengatakan kepada tim pejabat tadi: "Anda tidak peduli dengan saya."

Penyiksaan

Dalam dokumen penyerta yang diungkapkan soal interogasi tersebut, Khadr juga mengatakan, dia disiksa selagi ditahan di pusat penahanan militer Amerika di pangkalan udara Bagram di Afghanistan.

Khadr, yang Kanada dan satu-satunya warganegara Barat membiarkan Guantanamo, begitu saja ditangkap selama pertempuran senapan dan menuduh melemparkan granat yang membunuh seorang tentara AS.

Petikan 10 menit dari 10 jam cuplikan film video dibuat umum oleh pengacara Khadr setelah putusan Mahkamah Agung pada Mei.

Khadr adalah tahanan termuda di penjara Teluk Guantanamo milik AS itu. Ayahnya dianggap tersangka donor Al-Qaidah. Khadr sendiri dituduh sebagai musuh perang di Afghanistan karena dicurigai terkait Al-Qaidah dan pembunuhan seorang tentara AS. Khadr ditahan 2002 silam. Ketika itu, ia masih baru berusia 15 tahun. Ia menghadapi sidang militer AS --yang dibentuk Presiden George W Bush pada akhir 2001 sebagai bagian dari ''perang melawan teror''. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Sumber: Hidayatullah.com

Lihat video di sini: You Tube

16 July, 2008

Wanita Karir Kerja di Luar Rumah


Kamis, 29 Mei 08 11:21 WIB

Assalamu 'alaikum ust yang mulia..

Era globalisasi ini banyak kita temukan wanita karir. yang ingin saya tanyakan, bagaimana jika wanita karir ini sudah menikah? Bukankah wanita harus taat kepada suaminya, wanita tidak boleh keluar rumah tanpa izin dari suaminya dan juga keluar rumah apabila ada keperluan saja.. Bagaimana menanggapinya ya ustaz? Syukran.

Ahmad Muharria

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya Islam tidak pernah mensyariatkan untuk mengurung wanita di dalam rumah. Tidak seperti yang banyak dipahami orang.

Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW melarang orang yang melarang wanita mau datang ke masjid.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ (رواه أبو داود وابن خزيمة واللفظ لأبي داود)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu mencegah perempuan-perempuan untuk pergi ke Masjid, sedangkan rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dan lafadz ini dari Abu Dawud).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَأْذَنَتْ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ فَلَا يَمْنَعْهَا (رواه البخاري)

Dari Abdullah Bin Umar dia berkata, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang perempuan di antara kamu minta izin (untuk berjama’ah di masjid) maka janganlah mencegahnya”. (HR Al-Bukhari dan Muslim, lafadz ini dari Al-Bukhari).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلَاتٌ (رواه أبو داود)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu mencegah kaum wanita untuk pergi ke masjid, tetapi hendaklah mereka keluar tanpa wangi-wangian.” (HR Abu Dawud).

Padahal di masjid sudah bisa dipastikan banyak orang laki-laki. Dan perjalanan dari rumah ke masjid serta begitu juga kembalinya, pasti akan bertemu dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Bahkan masjid Nabawi di masa Rasulullah SAW tidak ada hijabnya. Tidak seperti masjid kita di zaman sekarang ini yang ada tabir penghalangnya. Di masa kenabian, posisi jamaah laki-laki dan jamaah wanita hanya dipisahkan tempatnya saja.

Shaf laki-laki di bagian depan dan shaf wanita di bagian belakang. Anak kecil yang laki di belakang shaf laki dan anak kecil perempuan berada di sfah terdepan dari shaf perempuan. Dan tidak ada kain, tembok, tanaman atau penghalang apapun di antara barisan laki dan perempuan.

Jadi kalau dikatakan bahwa wanita itu haram keluar rumah, harus lebih banyak dikurung di dalamnya, rasanya tidak sesuai dengan apa yang terjadi di masa Rasulullah SAW dan salafus-shalih. Boleh dibilang mengurung wanita di dalam rumah adalah sebuah perkara bid'ah yang sesat.

Isteri Rasulullah SAW: Khadidjah radhiyallahu anha

Rasulullah SAW punya seorang isteri yang tidak hanya berdiam diri serta bersembunyi di dalam kamarnya. Sebaliknya, dia adalah seorang wanita yang aktif dalam dunia bisnis. Bahkan sebelum beliau menikahinya, beliau pernah menjalin kerjasama bisnis ke negeri Syam. Setelah menikahinya, tidak berarti isterinya itu berhenti dari aktifitasnya.

Bahkan harta hasil jerih payah bisnis Khadijah ra itu amat banyak menunjang dakwah di masa awal. Di masa itu, belum ada sumber-sumber dana penunjang dakwah yang bisa diandalkan. Satu-satunya adalah dari kocek seorang donatur setia yaitu isterinya yang pebisnis kondang.

Tentu tidak bisa dibayangkan kalau sebagai pebisnis, sosok Khadijah adalah tipe wanita rumahan yang tidak tahu dunia luar. Sebab bila demikian,
bagaimana dia bisa menjalankan bisnisnya itu dengan baik, sementara dia tidak punya akses informasi sedikit pun di balik tembok rumahnya.

Di sini kita bisa paham bahwa seorang isteri nabi sekalipun punya kesempatan untuk keluar rumah mengurus bisnisnya. Bahkan meski telah memiliki anak sekalipun, sebab sejarah mencatat bahwa Khadijah ra. dikaruniai beberapa orang anak dari Rasulullah SAW.

Isteri Rasulullah SAW: 'Aisyah radhiyallahu anha

Sepeninggal Khadijah, Rasulullah beristrikan Aisyah radhiyallahu anha, seorang wanita cerdas, muda dan cantik yang kiprahnya di tengah masyarakat tidak diragukan lagi. Posisinya sebagai seorang isteri tidak menghalanginya dari aktif di tengah masyarakat.

Semasa Rasulullah masih hidup, beliau sering kali ikut keluar Madinah ikut berbagai operasi peperangan. Dan sepeninggal Rasulullah SAW, Aisyah adalah guru dari para shahabat yang memapu memberikan penjelasan dan keterangan tentang ajaran Islam.

Bahkan Aisyah ra. pun tidak mau ketinggalan untuk ikut dalam peperangan. Sehingga perang itu disebut dengan perang unta (jamal), karena saat itu Aisyah radhiyallahu anha naik seekor unta.

Banyak Pekerjaan Yang Hanya Bisa Ditangani Wanita

Keluar rumahnya seorang wanita untuk bekerja pada hakikatnya memang dibenarkan dalam syariat Islam. Tapi memang tidak semua bentuk pekerjaan boleh dilakukan oleh para wanita. Hukumnya haram kalau wanita yang melakukannya.

Sebaliknya, realitas syariah menetapkan ada juga begitu banyak pekerjaan yang justru haram dilakukan oleh laki-laki. Harus dikerjakan oleh para wanita.

Maka kalau sampai para wanita dilarang mengerjakan pekerjaan yang memang menjadi tugasnya secara syar'i, jelaslah kita telah menjerumuskan umat Islam ke dalam lembah yang diharamkan Allah SWT.

Misalnya tugas membantu para wanita bersalin. Harusnya bukan dokter atau bidan laki-laki. Hukumnya justru haram kalau dokternya laki-laki. Dan sebaliknya, hukumnya fardhu bagi wanita untuk membantu proses persalinan.

Maka sekian juta wanita muslimah wajib keluar rumah untuk menjadi dokter dan para medis di klinik, rumah sakit, lab, dan sejenisnya. Karena ada sekian ratus juta penduduk dengan jenis kelamin wanita. Mereka butuh pelayanan kesehatan yang terkait dengan fisik. Maka hanya para wanita saja yang boleh melayani mereka.

Lebih besar dari itu, Islam mewajibkan para wanita belajar dan bersekolah, bukan hanya sampai tingkat pendidikan wajib 9 tahun, tapi juga sampai posisi yang tertinggi.

Dan untuk itu wajib ada guru yang berjenis kelamin wanita. Karena idealnya, harus ada sekolah khusus untuk para wanita. Dan oleh karena itu dibutuhkan jutaan guru yang berjenis kelamin wanita. Mereka wajib keluar rumah untuk mengajar. Dan para murid yang wanita, juga wajib keluar rumah untuk belajar.

Kalau dikatakan wanita tidak boleh keluar rumah, maka hukumnya bertentangan dengan realitas hukum fiqih yang ada.

Para Pengurung Wanita

Di dunia Islam memang ada sedikit kalangan yang punya kecenderungan ingin mengurung para wanita di dalam rumah. Alasannya karena para wanita sumber fitnah.

Alasan ini ada benarnya, namun pada batas tertentu sebenarnya sudah keterlaluan juga. Benar bahwa begitu banyak fitnah yang terjadi karena para wanita keluar rumah. Tidak ada yang menyangkal kebenaran hal itu. Dan kita pun cukup prihatin dengan berbagai kasus perzianaan yang begitu marak karena kita membiarkan para wanita keluar rumah.

Namun di sisi yang lain, tentu bukan pada tempatnya untuk begitu saja mengurung para wanita di dalam rumah. Sebab wanita bukan binatang peliharaan yang kerjanya hanya sekedar memuaskan nafsu seksual suami. Di sisi lain, wanita juga manusia, yang butuh berinteraksi dengan sesama jenisnya, juga dengan lingkungannya, termasuk dengan alam semesta.

Polemik Keshahihan Hadits: Wanita Adalah Aurat

Ada juga yang melarang wanita dengan menggunakan dalil merupakan hadits Nabi SAW.

عن عبد الله بن عمر: إن المرأة عورة, فإذا خرجت استشرفها الشيطان, وأقرب ما تكون من وجه ربها وهي في قعر بيتها. رواه الترمذي

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar marfu`an bahwa, "Wanita itu adalah aurat, bila dia keluar rumah, maka syetan menaikinya." (HR Tirmizy)

Dari segi matan, hadits ini memang cukup jelas menyebutkan tentang keluarnya wanita akan menjadikan para syetan beristisyraf. Sehingga secara sekilas di dalam kesan bahwa ketika seorang wanita keluar rumah, maka syetan akan menaikinya dan akan menjadi sumber masalah baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Karena itu banyak ulama yang ingin mengurung wanita di dalam rumah yang menjadikan hadits ini sebagai hadits 'gacoan'. Ke mana-mana yang disebut-sebut adalah hadits ini.

Tapi apakah benar hadits ini 100% shahih tanpa kritik?

Memang kalau Nashiruddin Al-Albani jelas menshahihkan hadits ini. Lihat kitab beliau Silsilah Ahadits Shahihah nomor 2688. Juga terdapat dalam Shahih At-Targhib 246, Shahih Tirmizy 936, Shahih Al-Jami' 6690, Shahih Ibnu Khuzaemah 1685.

Sebab isi hadits ini sejalan dengan pendapatnya yang ingin mengurung para wanita di dalam rumah.

Namun di sisi lain, tidak sedikit dari para ulama hadits banyak yang mempersoalkan kedudukan hadits ini. Alasannya ada beberapa hal, antara lain:

1. Sesungguhnya isnad hadits ini tidak tersambung kepada Rasululah SAW, isnadnya munqathi' (terputus). Karena Hubaib bin Abi Tsabit, salah seorang di antara mata rantai perawinya dikenal sebagai mudallis. Dia tidak mendengar langsung dari Ibnu Umar.

2. Dikatakan hadits ini shahih terdapat dalam Al-Ausath-nya At-Tabrani. Padahal Mu'jam At-Thabrani Al-Awsath bukan kitab sunan. At-Thabarani sendiri tidak meniatkannya sebagai kitab shahih. Beliau justru hanya sekedar mengumpulkan hadits-hadits yang ma'lul (bermasalah). Agar orang-orang tahu kemunkarannya.

Sayangnya, ada orang-orang yang datang kemudian, malah menshahihkan hadits-hadits di dalamnya. Seandainya Imam At-thabarani masih hidup dan tahu apa yang dilakukan orang-orang sekarang ini, pastilah beliau tidak menuliskannya.

3. Imam At-Thabarani pada dasarnya juga tidak meriwayatkan hadits itu di dalam Al-Awsathnya.

4. Dikatakan bahwa Ibnu Khuzaemah juga menshahihkan hadits ini. Padahal perkataan itu tidak lain adalah tadlis. Ibnu Khuzaemah tidak pernah menshahihkan hadits ini. Bahkan beliau menjelaskan 'illatnya. Beliau menuliskan sebuah judul: Babu Ikhtiyari Shalatil Mar'ah fi Baitiha 'ala Shalatiha fil Masjid, in tsabatal hadits.

Kata penutup in tsabatal hadits justru menunjukkan bahwa beliau belum memastikan keshahihan hadits itu.

Dan perdebatan antara para muhaddits tidak ada habisnya tentang keshahihan hadits ini. Sebagian bilang itu hadits shahih tapi yang lain bilang itu hadits yang bermasalah.

Maka ketika ada sebagian kalangan yang ingin mengurung wanita di dalam rumah dengan berdasarkan haditsi ini, tidak semua sepakat membenarkannya.

Syarat dan Adab Wanita Keluar Rumah

Meski pun tidak ada dalil yang qath'i tentang haramnya wanita keluar rumah, namun para ulama tetap menempatkan beberapa syarat atas kebolehan wanita keluar rumah. Sebab memang ada peraturannya, tidak asal keluar rumah begitu saja, sebagaimana para wanita di dunia barat yang tidak punya nilai etika.

1. Mengenakan Pakaian yang Menutup Aurat

Menutup aurat adalah syarat mutlak yang wajib dipenuhi sebelum seorang wanita keluar rumah. Karena Allah SWT telah berfirman dengan tegas di dalam Al-Quran:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang-oarang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka"(QS Al-Ahzaab 27)

2. Tidak Tabarruj atau Memamerkan Perhiasan dan Kecantikan

Wanita yang keluar rumah dan menutup auratnya, juga tetap harus menjaga dandanannya. Dia dilarang memamerkan perhiasan dan kecantikannya, terutama di hadapan para laki-laki. Karena Allah SWT telah berfirman di dalam Quran:

Janganlah memamerkan perhiasan seperti orang jahiliyah yang pertama` (QS Al-Ahzaab 33)

3. Tidak Melunakkan, Memerdukan atau Mendesahkan Suara

Selain itu para wanita yang keluar rumah juga diharamkan bertingkah laku yang akan menimbulkan syahwat para laki-laki. Seperti mengeluarkan suara yang terkesan menggoda, atau memerdukannya atau bahkan mendesah-desahkan suaranya.

Larangaannya tegas dan jelas di dalam Al-Quran, tidak ada urusan shahih atau tidak shahih, karena semua ayat Quran hukumnya shahih.

Janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melunakkan dan memerdukan suara atau sikap yang sejenis) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik` (QS Al-Ahzaab 32).

4. Menjaga Pandangan

Wanita yang keluar rumah juga diwajibkan untuk menjaga pandangannya. Bukan hanya laki-laki saja yang haram jelalatan matanya, tetapi wanita juga haram lirak-lirik.

Hal itu ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya:

Katakanlah pada orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ........"(QS An Nuur 30-31)

5. Aman dari Fitnah

Kebolehan wanita keluar rumah akan batal dengan sendirinya manakala ada fitnah, atau keadaan yang tidak aman. Hal ini sudah merupakan ijma` ulama.

Syarat ini didapat dari hadits Nabi SAW tentang kabar beliau bahwa suatu ketika akan ada wanita yan berjalan dari Hirah ke Baitullah sendirian tidak takut apa pun kecuali takut kepada Allah SWT.

6. Mendapatkan Izin Dari Orang Tua atau Suaminya

Ini adalah yang paling sering luput dari perhatian para muslimah terutama aktifis dakwah. Sebab sekali mereka ikut terjun dalam dunia aktifitas rutinitas, maka seolah-olah izin dari pihak orang tua maupun suami menjadi hal yang terlupakan. Padahal izin adalah hal yang perlu didapatkan dan tidak bisa disepelekan begitu saja.

Pada dasarnya memang wanita harus mendapatkan izin suami untuk keluar rumah. Dan ini sebenarnya sangat manusiawi sekali. Tidak merupakan beban dan paksaan atau menjadi halangan.

Izin dari suami harus dipahami sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian serta wujud dari tanggung-jawab seorang yang idealnya menjadi pelindung. Semakin harmonis sebuah rumah tangga, maka semakin wajar bila urusan izin keluar rumah ini lebih diperhatikan.

Namun tidak harus juga diterapkan secara kaku yang mengesankan bahwa Islam mengekang kebebasan wanita.

Wallahu a'lam bishshawab, wasalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: Eramuslim

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...