Sunday, May 09, 2010

Lulus Ujian Nasional? Kenapa Menjadi Bahagia #2

[membalas komentar dari teman di milis]

Assalamu'alaikum wr.wb.,

****Dulu waktu menjelang ujian nasional, saya tulis di milist ini untuk minta do'a kepada rekan - rekan guru milis, semoga anak - anak kami bisa berhasil mnyelesaikan UN ini dengan baik....Apakah ini salah pak....?

[gene] Tidak salah Pak. Insya Allah berdoa dengan niat baik akan selalu menjadi hal yang baik dan benar. Tetapi masalah yang saya lihat adalah apa yang kita doakan. Banyak sekali guru berdoa agar muridnya lulus UN. Tetapi berapa banyak guru berdoa agar UN (yang tidak adil) bisa dihilangkan? Kalau ada pilihan antara berdoa agar lulus, dan berdoa agar tidak perlu mengikuti tes itu, kenapa hanya doa pertama yang dilaksanakan oleh 2,7 juta guru dan bukan doa yang kedua yang diutamakan?

****Mungkin dalam hal ini kita berbeda tapi saya dengan bangga dan jujur bilang bahwa Kami Bangga anak - anak kami telah LULUS UN...dan itu kami menjamin demi Alloh, bahwa anak - anak kami mengejakan dengan jujur..tanpa beli kunci jawaban dan tanpa bocoran dari guru....

[gene] Coba berfikir tentang keadaan yang lain Pak. Bagaimana kalau anak2 kita akan dihajar saat mereka mau masuk IPDN (misalnya). Lalu bapak dan para guru yang lain berdoa, “Ya Allah, semoga anak2 kita tahan dipukuli dan dihajar di IPDN. Semoga mereka bisa tahan saat dianiaya. Semoga saya sudah cukup menyiapkan mereka dengan memukul mereka setiap hari di sekolah. Dan semoga hanya sedikit di antara mereka yang mati. Yang penting mayoritas selamat! Amin.”

Apakah berdoa untuk hal seperti itu pantas Pak? Kita berkali2 baca berita tentang anak yang dihajar saat masuk IPDN dulu. Lalu karena seluruh anak kelas kita mau daftar ke sana, kita berfikir, “Apa boleh buat? Sebaiknya saya menyiapkan mereka dengan memukul mereka secara keras sekarang di kelas, biar siap!” Dan setelah mereka masuk, kita sudah siap kalau beberapa dari mereka mati. Tetapi kita berharap kebanyakan bisa tahan dan lolos.
Bagaimana Pak? Kalau ada guru yang berdoa seperti itu, dan bersyukur kalau hanya sedikit anak mati saat dihajar di IPDN, apakah bapak akan anggap itu wajar-wajar saja?
Bukanya lebih baik bila proses pemukulan itu dihentikan, sehingga tidak ada satupun dari mereka yang dianiaya ataupun mati? Kenapa harus menyiapkan mereka untuk terima pukulan, dan mendoakan mereka supaya kuat untuk bertahan, dan hanya sedikit yang mati? Kenapa kita tidak kompak dan menolak perbuatan seperti itu terhadap anak2 kita?

Dari sisi pendidikan, saya tidak lihat bedanya antara situasi buruk seperti itu dan Ujian Nasional. Ujian itu sangat buruk, tidak adil, dan tidak bermanfaat. Malah merusak proses belajar-mengajar di dalam kelas, karena semua guru dan murid takut pada ujian itu. Semua takut, tidak suka, tetapi masih mau menjalankan seolah-olah ini semacam kitab suci yang turun dari langit dan tidak boleh diubah oleh tangan manusia. Satu manusia dengan pangkat presiden dan satu manusia dengan pangkat menteri suruh lanjutkan terus, lalu 2,7 juta guru, puluhan juta orang tua, dan puluhan juta anak sekolah mengatakan, “Kami siap diam dan nurut. Kami tidak berkuasa. Silahkan membuat kami takut terus!”

Ini hanya sebuah ujian. Dibuat oleh manusia yang biasa. Mayoritas dari guru, orang tua dan murid tidak suka dan tidak mau kerjakan. Tetapi setiap tahun, guru menjadi sibuk menyiapkan anak2 untuk mengikuti tes ini, dan berdoa agar bisa lulus.
Bagi saya tidak ada bedanya: kita mendoakan mereka agar lulus UN, atau kita mendoakan mereka agar tahan pukulan di IPDN dan hanya sedikit yang mati.

Keduanya merupakan situasi yang buruk. Keduanya mesti diakhiri, dan kita, 2,7 juta guru, punya kekuatan yang sangat luar biasa. Kalau kita semua berhenti mengajar, dan sekaligus duduk di jalan raya, negara ini bisa berhenti secara total, tanpa ada kegiatan sama sekali di seluruh negara.
Tetapi daripada kompak dan bicara kepada pemerintah sebagai ahli pendidikan, kita selalu merasa berada dalam posisi yang lemah, selalu takut, dan merasa hanya bisa berdoa agar murid kita bisa lulus semua, dan semoga hanya sedikit yang bunuh diri kalau tidak lulus.

Saya tidak menjadi seorang guru supaya saya akan dipaksakan mengajar dengan cara buruk, dan memberikan ujian yang buruk kepada siswa saya, dan merasa bahwa saya hanya bisa mendoakan mereka saja, biar hanya sedikit yang bunuh diri (daripada banyak).

Saya tidak mau ada satupun dari murid saya yang bunuh diri karena tidak lulus ujian.
Saya tidak mau ada satupun dari murid saya yang harus menghabiskan seluruh waktunya untuk ikuti les dan belajar, hanya untuk lulus satu ujian. (Dan itu juga mungkin tanpa paham karena yang penting dia tahu trik-triknya untuk mendapatkan jawaban yang benar pada saat ujian, dan itu yang seringkali diajarkan di dalam les. Paham adalah nomor dua.)
Saya tidak mau ada satupun dari murid saya yang merasa bahwa saya tidak akan membelanya. Saya gurunya. Saya punya kewajiban untuk bertindak atas nama mereka, untuk kepentingan mereka, dan melawan siapapun yang mau berbuat jahat terhadap mereka. Saya gurunya. Saya tidak bisa diam dan biarkan mereka menderita. Saya harus bersuara dan bertindak.

Tetapi sepertinya para guru Indonesia belum merasa seperti itu. Kebanyakan dari guru kita telah diajarkan di dalam sekolah untuk diam dan nurut. Dan sekarang, mereka memberikan pelajaran yang sama kepada generasi yang baru.

Sudah waktunya untuk berhenti paradigma itu.

Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Tolong baca ini juga:

"Penjajahan Mental" Dalam Pendidikan




3 comments:

  1. Saya merasakan semangat berjuang yang tinggi & berkobar-kobar dalam post ini.
    Terimakasih banyak sudah mau ikhlas berjuang untuk memperbaiki pendidikan disini.

    Kalo orang2 mau mencoba untuk berpikir secara terbuka dan lebih luas serta tidak ditunggangi "kepentingan materi pribadi" maka tidak akan sulit utk mengakui & menerima kebenaran.

    Gene Netto juga pahlawan tanpa tanda jasa seperti guru2 kami.
    Sekali lagi, terimakasih banyak ya
    *jadi terharu deh hiksss*

    Wassalam.

    ReplyDelete
  2. Dia bahagia karena anak lulus. Tetapi kalau dia berfikir secara dalam tentang apa yang terjadi terhadap anak saat mereka “lulus”, saya kira lebih tepat kita semua menangis dan merasa sebagai
    pengkhianat terhadap murid kita dan penghkianat terhadap cita2 pendidikan.

    Seorang dokter selalu berusaha untuk melindungi pasien. Kalau pemerintah suruh semua dokter kasih obat X, dan ketahuan berbahaya bagi pasien, dokter akan berprotes dan menolak. Mereka harus menjaga pasien di atas segala2nya.

    Seorang pengacara selalu berusaha untuk melindungi klien. Kalau pemerintah mau sidangkan, tetapi buktinya lemah sekali, atau kelihatan direkayasa oleh oknum polisi, maka pengacara akan berprotes dan menolak. Mereka harus menjaga klien di atas segala2nya.

    Seorang guru di negara maju selalu berusaha untuk menjaga dan mendidik muridnya. Kalau pemerintah mau berikan tes yang buruk dan tidak adil, maka guru akan berprotes dan menolak. Mereka harus menjaga murid di atas segala2nya.

    Tetapi bagaimana dengan para guru di Indonesia? Kalau disuruh memaksakan semua murid menjadi robot, yang hanya bisa setuju dengan jawaban yang “benar”, yang diberikan oleh pemerintah dan guru, dan tidak bisa berfikir sendiri, tidak bisa berfikir secara kreatif, dan hanya bisa diam dan nurut, maka dalam kondisi itu, para guru Indonesia juga diam dan nurut. Tidak ada yang mau berprotes, karena takut kehilangan pekerjaan, gaji, kesempatan naik pangkat, dll. Mereka tidak peduli murid mereka dijadikan robot.

    Yang penting guru tidak dirugikan.
    Yang penting, guru masih bisa makan.
    Apakah pantas kita bersyukur?

    Wassalam,
    Gene

    ReplyDelete
  3. tahu sendiri dinegeri ini pihak yang berani melapor akan jadi terlapor yang berani membongkar akan jadi tersangka yang jadi inisiator akan jadi terperiksa, hayoo siapa yang berani jadi korban pertama???

    ReplyDelete