Monday, April 06, 2009

Anak Dan Ular


Assalamu'alaikum wr.wb.,

Pada hari minggu kemarin, saya sempat melihat televisi di rumah teman. Biasanya saya tidak nonton tivi jadi kebetulan sekali saya lihat acara yang mau dibahas sekarang. Tayangan tersebut kelihatan sebagai iklan yang mempromosikan salah satu sekolah swasta temahal di Jakarta Selatan. Kalau tidak salah, durasinya sekitar 30 menit, tetapi saya hanya lihat 15 menit terakhir.

Di dalam tayangan itu, yang sepertinya bertujuan mempromosikan sekolah, saya melihat anak TK yang dibawa ke sebuah kebun binatang. Itu bukan masalah. Tetapi pada saat mereka diperkenalkan dengan berbagai binatang, ternyata juga ada ULAR yang dihadirkan. Anak-anak TK itu bukan dilihatkan ular saja, tetapi diajak maju dan memegang atau menyentuhnya. Ular yang ditunjukkan sepertinya jenis sanca (python), jadi itu memang tidak berbisa.

Pertanyaan saya adalah: apakah anak TK bisa membedakan antara ular yang berbisa dan ular yang tidak berbisa?

Saya merasa marah bahwa pihak sekolah bisa begitu bodoh sampai mereka membuat anak TK merasa “sayang” sama ular. Bayangkan kalau anak itu diajak menyentuh dan memegang ular sanca di kebun binatang. Lalu pada hari Sabtu berikut, dia berkunjung ke rumah neneknya di Sukabumi atau di Bogor. Saat dia main di sekitar rumah, dia lihat ular lagi. Lalu, sesuai dengan ajaran yang didapatkan di sekolah, dia maju dan berusaha untuk memegangnya. Ular itu pasti baik dan bersahabat, bukan? Ular suka dipegang, bukan? Tetapi ternyata, ular yang baru ini adalah ular KOBRA

Bisa bayangkan?

Pesan saya kepada orang tua:

Pertama: pemilik sekolah swasta anak anda adalah pengusaha (rata-rata). Dia tidak paham apa-apa tentang pendidikan! Dia melakukan tindakan yang dia anggap baik dan berguna menurut ilmu bisnis dia, dan dia tidak bisa berfikir seperti seorang guru, karena dia memang bukan seorang guru! Dia pengusaha!

Kedua: kalau ada orang tua yang mau berprotes dan mengatakan “Ahh, jangan berlebihan. Belum pernah ada kasus seperti itu, yaitu anak pegang ular di sekolah (atau acara sekolah di kebun binatang), lalu coba pegang ular di kampung, digigit dan mati. Belum ada kasusnya.” Kalau ada yang berkomentar seperti itu, maka, saya hanya ingin mengatakan: “Apakah anda mau anak anda menjadi kasus pertama???!!!” Kalau 1 juta anak TK diajarkan untuk memegang ular, dan tidak menjadi korban, tetapi anak anda berumur 5 tahun menjadi korban pertama, apakah anda mau?

Ketiga: kalau seandainya pernah ada kasus, apakah mungkin sekolah swasta tersebut akan biarkan info itu beredar? Bukannya mereka akan berusaha sekeras mungkin untuk menutupinya supaya tidak diketauhi oleh konsumen mereka (orang tua)? Kalau pernah ada kasus seperti itu, tentu saja pihak sekolah tidak mau disalahkan karena bisnis mereka akan rugi sekali kalau orang tua tahu bahwa pernah ada seorang anak yang diajarkan untuk memegang ular di sekolah, lalu digigit ular di kampung dan mati (atau juga mungkin sakit keras tapi tidak mati). Saya kira pengacara dari sekolah itu akan mengancam orang yang hendak membocorkan informasi tersebut. Milyaran rupiah dari orang tua adalah taruhannya. Sekolah tidak mau dirugikan tentu saja!

Keempat: pemilik sekolah (si pengusaha) tidak menganggap bahwa hal tersebut (yaitu mengajarkan anak TK memegang ular) adalah hal yang berbahaya karena ular sanca memang tidak berbisa. Tetapi anak TK justru TIDAK SANGGUP membedakan antara semua jenis ular yang ada (dan orang tuanya juga belum tentu sanggup). Jadi, bagi anak, semua ular itu akan dinilai sama. Ini salah satu sifat dari pemikiran seorang anak di mana semua yang setara dianggap SAMA. Hal ini menjadi salah satu landasan dari ilmunya psikolog anak terkenal seperti Jean Piaget pada puluhan tahun yang lalu. Anak melihat X lalu dianggap mirip sekali dengan Y (barang yang baru) jadi dia samakan dan mengatakan bahwa Xnya ada dua. Dia tidak sanggup membedakan, tetapi orang dewasa bisa. Makanya, kalau seorang anak kecil dikasih sesuatu yang mirip dengan X, dia akan mengatakan bahwa itu X juga, padahal orang dewasa bisa tahu dari bentuknya bahwa itu adalah dua barang (X dan Y) yang berbeda. Bagi anak, tidak ada bedanya.
Lalu bagaimana kalau anak lihat ular kobra atau ular lain yang berbisa? Apakah dia akan melihat ular yang berbahaya? Atau apakah dia akan melihat ular yang baik dan manis seperti yang dikasih lihat oleh Bu Guru di sekolah (atau kebun binatang)? Apakah anda mau anak anda menjadi korban pertama?

Kelima: baru 2-3 minggu yang lalu, ada teman saya yang tinggal di Jakarta Timur, yang ketemu ular kobra di depan pintu rumah. Ular itu berukuran 2 meter. Untungnya, anak teman itu masih kecil dan belum masuk TK jadi dia tidak berusaha memegang ular tersebut. Seminggu setelah itu, ada ular lain yang berhasil masuk rumah. Bagaimana kalau anak itu masuk TK di sekolah swasta yang bayarannya selangit dan justru diajarkan untuk memegang ular?? Lalu anak pulang ke rumah, dan… “Wahhh asyik… ada ular juga di rumah!!! Coba pegang ya, kaya di sekolah… yang diajarkan oleh Bu Guru!!”.

Keenam: walaupun anda bersedia memberikan ratusan juta rupiah kepada para pengusaha yang tidak punya latar belakang di bidang pendidikan, tidak secara automatis berarti mereka berhak membahayakan anak anda, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Saat saya belajar menjadi guru di Australia, kami diajarkan bahwa hanya ada satu peraturan yang penting di dalam sekolah: Anak Harus Selamat! Selain dari itu kalah penting. Percuma anda bayar ratusan juta kalau hasilnya adalah anak anda digigit kobra di kampung (setelah anak coba pegang ularnya).

Sekolah swasta tidak berhak mengajarkan anak TK anda untuk memegang binatang yang berbahaya karena bisa dijamin 100% mereka tidak akan mau disalahkan dan tidak mau bertanggung jawab bila anak anda mati setelah digigit ular di kampung. Saran saya, kalau sekolah anda mengirim anak ke kebun binatang, pastikan dulu apa yang akan dilakukan di sana. Dan kalau ada binatang yang akan dibawa ke sekolah, pastikan bahwa tidak ada yang berbahaya.

Kalau anak anda sudah lebih dewasa, sekitar 10-12 tahun, insya Allah dia sudah sanggup membedakan antara ular yang berbahaya dan yang tidak. Minimal, dia bisa paham untuk tidak langsung pegang, tetapi harus cek dulu jenis ularnya apa, dengan bertanya kepada orang tua dan sebagainya. Tetapi anak TK sama sekali TIDAK sanggup membedakan, jadi saya menilai tindakan sekolah swasta yang membuat anak TK “sayang” sama ular sebagai tindakan yang hampir bisa dikatakan kriminal dan sangat jauh dari sikap yang bijaksana bagi sebuah organisasi pendidikan. Apalagi bila dilakukan di negara seperti Indonesia di mana ular yang berbisa masih bisa ditemukan di dalam rumah orang di ibu kota.

Kalau anda tahu bahwa anak anda sudah pernah diajarkan oleh sekolah untuk memegang ular, saya sarankan dua hal:

Pertama, jangan meremehkan perkara ini. Kalau anda punya anak di bawah umur 10 tahun, duduk dengan anak anda dan jelaskan dengan suara yang tegas bahwa ular itu berbahaya sekali, dan sama sekali TIDAK boleh dipegang untuk alasan apapun. Kalau dia melihat ular di mana saja, dia harus langsung hindari dan panggil orang tua. Kalau dia sendirian, misalnya di halaman rumah atau di tempat lain, dia harus lari dan menjauhi ular itu. Tidak boleh diganggu, tidak boleh didekati, dan tidak boleh dipegang. Tanya kalau anak paham. Setelah beberapa hari, tanya lagi kalau ular boleh dipegang. Dan sekali lagi setelah 1-2 minggu. Lakukan lagi beberapa kali sampai anda yakin anak sudah paham dan tidak akan mau pegang ular di mana saja.

Kedua, saya sarankan agar anda mengirim surat ke pihak sekolah dan menyatakan bahwa anda sama sekali tidak senang bila anak anda diajarkan untuk “sayang” dengan binatang yang berbahaya. Sangat tidak pantas untuk mengajarkan anak TK memegang dan sayangi ular (walaupun hanya ular sanca), karena anak TK sangat tidak sanggup membedakan antara ular sanca dan ular lain yang berbahaya. Minta penjelasan dari pihak sekolah tentang kenapa mereka mengajarkan hal-hal yang berbahaya kepada anak anda. Dan minta janji dari mereka untuk tidak mengulanginya.

Secara pribadi, saya anggap tindakan ini dari sekolah swasta sama bodohnya dengan tindakan mengajarkan anak TK untuk memegang PISTOL. Kebanyakan orang tua pasti bisa paham sendiri bahwa akan sangat berbahaya dan bodoh kalau sekolah mengajarkan anak TK memegang pistol walaupun tidak ada pelurunya, jadi dianggap “aman”. Pistol yang tidak punya peluru itu mirip dengan ular sanca yang tidak punya bisa, jadi bisa dianggap “aman” juga! Tetapi efeknya terhadap persepsi anak kecil sama sekali TIDAK AMAN. Menurut pendapat saya, mengajarkan anak TK untuk memegang ular tidak berbeda dengan mengajarkan mereka untuk memegang pistol.

Karena sekolah swasta anak anda didirikan oleh pengusaha (rata-rata) maka anda sendiri harus waspada terhadap mereka. Mereka berharap anda akan bayar terus dan selama anda tidak sadar atas apa yang mereka lakukan, rekening mereka tetap penuh. Dan jangan terlalu berharap guru sekolah akan bertindak untuk menjaga kepentingan anak anda. Ada guru sekolah yang sangat baik (yang kerja dalam kondisi yang sulit, di bawah tekanan dari si pengusaha yang jadi pemilik sekolah), dan ada juga guru sekolah yang hanya dapat pekerjaan karena bisa berbahasa Inggris, padahal latar belakangnya di bidang ekonomi, psikologi, hukum, fisika, (atau yang lain), bukan pendidikan. Hal itu tidak berarti mereka orang jahat, hanya saja mereka tidak punya ilmu pendidikan, jadi pandangan mereka terhadap semua perkara berbeda dengan seorang guru.
Lebih para lagi bila guru anak anda adalah orang asing. Jangan heran kalau guru tersebut adalah mantan kuli bangunan di luar negeri. Tetapi di sini menjadi guru karena memenuhi syarat: berkulit pitih, hidung mancung, bisa berbahasa inggris = cukup untuk meyakinkan orang tua yang kaya bahwa sekolah tersebut adalah sekolah bilingual! Anda sendiri yang harus waspada!

Insya Allah semua anak dari orang tua yang membaca ini akan selamat dari gigitan ular berbisa, walaupun anak-anak anda telah diajarkan untuk merasa sayang pada ular oleh Bu Guru di sekolah. Amin.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum wr.wb.,
Gene Netto

2 comments:

  1. Assalamualaikum wr.wb.

    dear gene,

    saya penggemar blog anda..saya suka sekali tulisan2 anda..apalagi soal pendidikan di negeri ini..setiap pagi kalo buka internet, blog anda adalah salah satu yg saya buka pertama kali untuk dibaca..mencari tulisan2 terbaru anda

    membaca tulisan anda tentang "anda & ular", doooenggg...tulisan anda menampar saya..karena setahun yang lalu pas ke Ragunan, saya memduduk-kan anak saya , 2 tahun, di sebelah ular...(saya ga tau jenis apa)

    Masya alloh, saya sama sekali ga menyadari risiko yg bisa timbul dari tindakan saya tersbut...

    bener gene, waktu itu saya berpikir, ularnya aman2 saja (which is di tangan yg punya waktu itu), jadi pasti aman juga ama anak saya...

    Astagfirrullah...saya harus banyak belajar lagi ternyata untuk jadi orang tua...

    thanks Gene..tulisan anda menginspirasi saya pagi ini.....

    ReplyDelete
  2. >>Astagfirrullah...saya harus banyak belajar lagi ternyata untuk jadi orang tua...

    Assalamu'alaikum wr.wb.,
    Sama sama Ibu Dina. Tujuan saya membuat blog memang karena berharap bisa membantu banyak orang. Kalau ibu merasa sudah dibantu dengan tulisan itu, alhamdulillah.
    Ibu tidak perlu mengecek blog setiap hari kalau sibuk, tetapi bisa juga subscribe. Kalau subscribe, nanti akan dikirim email setiap kali ada post baru. Tempat untuk subscribe ada di sebelah kiri, di bawah bagian Labels dan Search This Blog. Tinggal klik pada ini: Subscribe to Gene Netto by Email dan mengikuti petunjuknya.

    Saya kira banyak orang tua tidak selalu sadar atas apa yang mereka lakukan sebagai orang tua (alias guru utama) terhadap anaknya. Saya sering sekali mendengar orang tua mengatakan X atau melakukan suatu tindakan yang saya yakini tidak baik. Tetapi saya tidak selalu bisa bicara. Kalau saya tidak kenal orang tua itu, dia akan tersinggung dan marah. Dan kalau saya kenal, dia akan merasa malu dan akan mau “membela diri” dengan mengatakan “tidak apa-apa” karena dia tidak mau dikoreksi. Kebanyakan orang tua merasa sudah sanggup menjadi orang tua dengan buktinya anak masih hidup dan belum menjadi penjahat. Selama anak masih hidup dan belum menjadi penjahat, banyak orang tua merasa puas dengan diri sendiri (dengan usahanya sebagai orang tua) dan tidak begitu tertarik untuk belajar tentang parenting. Padahal parenting yang baik dan ilmu pendidikan sangat mirip dan hampir sama.

    Tetapi ilmu pendidikan bagi guru lebih sulit lagi karena ruang gerak guru bisa dibatasi, sedangkan orang tua cukup bebas. Guru (di luar negeri, dan di sebagian sekolah di sini) tidak boleh memukul anak (menghukum secara fisik), tapi orang tua boleh/bisa. Guru hanya punya batas waktu beberapa jam untuk mengatur perbuatan anak, dan setelah itu menjadi urusan orang tua. Sedangkan orang tua bisa mengatur anak sepajang hari (terutama pada hari libur). Guru tidak bisa ambil sesuatu dari anak (seperti majalah, buku, tas, sepatu, sepeda), tetapi orang tua bisa ambil barang kesukaan itu untuk menghukum anak.

    Intinya, menjadi seorang guru yang baik bisa lebih sulit daripada menjadi orang tua yang baik. (Ini bicara dari suatu sisi saja, dan pada sisi yang lain, lebih sulit menjadi orang tua karena harus menjadi anak sepanjang hari bahkan sampai larut malam kalau sakit, dst.) Artinya, guru dan orang tua itu perlu bekerja sama dan saling membantu. Tetapi seringkali orang tua tidak mau kenal dengan guru anaknya (tidak begitu peduli pada dia) dan juga merasa “siapa saja bisa menjadi guru”. Yang benar adalah “siapa saja bisa berdiri di depan anak dan memberikan tugas” tetapi itu tidak sesuai dengan tujuan guru yang sebenarnya.

    Jadi kalau ada orang tua yang sadar bahwa dirinya tidak begitu tahu bagaimana caranya mendidik anak, dia perlu belajar sedikit untuk mendapat ilmu pendidikan. Kalau guru di sekolah sudah dinilai baik, minimal orang tua bisa bertanya kepada dia. Sekarang ada banyak majalah dan website yang mengajarkan skil parenting, dan ilmu itu sangat bermanfaat untuk semua orang tua, dan juga bermanfaat untuk semua anak yang membutuhkan orang tua yang baik.

    Prinsip saya, kalau ketemu anak yang bermasalah, selalu mulai dengan salahkan orang tuanya. Dari pengalaman saya, anak yang bermasalah punya orang tua yang bermasalah dalam 99,9999% dari kasus yang ada. Sisanya memang anak yang ditakdirkan menjadi anak jahat. Di depan umum, orang tua itu dianggap baik sekali, ramah, baik hati, bijaksana, dan seterusnya. Itu topeng yang mereka pakai di depan umum. Yang kenal orang tua yang sebenarnya hanyalah anak! Dan bila dia dapat orang tua yang tidak baik, yaitu mereka tidak paham tetang pendidikan dan bagaimana caranya untuk membesarkan anak dengan baik, maka hasilnya adalah anak yang bermasalah.

    Selamat belajar ya Bu. Kalau mau menjadi orang tua yang baik, jangan berhenti belajar. Cari ilmu terus, demi masa depan anak. Kalau sudah wafat, baru ada alasan untuk berhenti belajar. Selama Allah masih memberikan umur, berusaha untuk menambahkan ilmu terus dan membagikan ilmu itu dengan orang tua lain pada setiap kesempatan.

    Semoga bermanfaat,
    Wassalamu'alaikum wr.wb.,
    Gene

    ReplyDelete