Assalamu’alaikum wr.wb., Beberapa hari yang lalu, saya habiskan satu hari dengan seorang anak yatim yang saya kenal, yang sudah berusia 19 tahun. Saya bawa dia ke mall dan kami makan udon, es krim vanilla dan ngopi. Tapi kesukaan dia yg paling besar adalah Holy Cow. Dia makan dgn pelan dgn sikap khusyu sekali sampai tidak bicara utk 20 menit. Hahaha.
Saya jadi ingat sebuah hadiths. Rumah yang paling baik
adalah rumah dgn anak yatim di dalamnya. Tapi banyak orang merasa tidak bisa
jaga seorang anak yatim di rumah. Jadi pilihan lebih mudah adalah menjadi dekat
dgn seorang anak yatim, menjadikan dia anak asuh, sering bertemu, dan menolong
sebisanya. Lebih mudah, bisa berikan santunan rutin, walaupun jarang ketemu.
Lebih mudah, bisa berikan makanan sewaktu-waktu saja. Saya sering bahas anak
yatim dgn orang lain, dan sering dapat komentar, "Saya sudah makan bersama
saat buka puasa kok!" Banyak org anggap ketemu anak yatim setahun sekali
utk buka puasa "sudah cukup". Mereka merugikan diri sendiri.