Search This Blog

Labels

alam (8) amal (97) anak (324) anak yatim (117) bilingual (22) bisnis dan pelayanan (6) budaya (8) dakwah (89) dhuafa (18) for fun (12) Gene (223) guru (69) hadiths (9) halal-haram (24) Hoax dan Rekayasa (34) hukum (69) hukum islam (51) indonesia (593) islam (561) jakarta (34) kekerasan terhadap anak (378) kesehatan (100) Kisah Dakwah (12) Kisah Sedekah (11) konsultasi (13) kontroversi (5) korupsi (28) KPK (16) Kristen (14) lingkungan (19) mohon bantuan (40) muallaf (52) my books (2) orang tua (11) palestina (34) parenting (2) pemerintah (138) Pemilu 2009 (63) pendidikan (527) pengumuman (27) perang (10) perbandingan agama (11) pernikahan (11) pesantren (48) politik (127) Politik Indonesia (53) Progam Sosial (60) puasa (37) renungan (196) Sejarah (5) sekolah (95) shalat (10) sosial (324) tanya-jawab (15) taubat (6) umum (13) Virus Corona (24)

Popular Posts

16 November, 2011

Memukul Murid adalah Pelanggaran Profesi Guru


 
Assalamu’alaikum wr.wb. Ada banyak guru yang setuju dengan kebiasaan memukul, menampar, menjewer, melempar barang, atau memberikan hukum fisik kepada siswa, seperti push-up, lari lapangan, lompat jongkok, atau merangkak. Walaupun sudah ditinggalkan banyak guru, di bawah ancaman hukum, masih ada yang mendukung prinsipnya dan mengeluh bahwa mereka tidak boleh menggunakan kekerasan terus untuk “mendidik” anak, biar patuh. Ada juga sebagian guru yang sering menghina muridnya dengan hardikan tegas, dan itu tergolong kekerasan verbal, yang juga memberikan efek negatif. Semuanya dianggap boleh karena “niatnya mendidik”. Supaya lebih mudah dipahami kenapa hal ini salah, saya mau memberikan contoh dari profesi yang lain sebagai perumpamaan.

Para dokter mendapat pembinaan yang benar pada waktu kuliah. Ada proses diagnosis, pengobatan, operasi, terapi dan sebagainya, dan semuanya DIAJARKAN oleh dosen dan profesor yang ahli di bidang kedokteran. Dokter (sebagai anggota profesi) wajib melakukan tugas yang diajarkan oleh dosennya dan disepakati oleh para ahli profesinya. Begitu juga insinyur, arsitek, akuntan, pengacara, dan seterusnya.

Para guru anggota profesi juga, betul? Perlu proses pendidikan (kuliah) secara khusus selama empat tahun, dan banyak pelatihan sesudahnya, untuk menjadi seorang guru yang memahami ilmu pendidikan, betul? Atau apakah semua orang biasa seperti tukang sapu juga bisa menjadi guru SMA, tanpa pelatihan? Kalau kita yakin para guru juga anggota profesi, maka tidak ada bedanya antara guru, dokter, insinyur, arsitek, dan semua profesi yang lain. 

Bagaimana kalau misalnya, ada dokter yang memotong sebagian dari telinga anak untuk mengobati sakit kepalanya, padahal hal itu tidak pernah diajarkan kepadanya oleh dosen? Orang tua pasti marah, dan laporkan dokter itu ke polisi. Dokter itu akan ditanya, dari mana dapat cara pengobatan aneh seperti itu? Lalu, dokter akan menjawab bahwa dia pikirkan sendiri, dan anggap boleh, walaupun tidak diajarkan oleh dosen, walaupun tidak ada riset yang mendukung tindakan itu. Tetapi karena dilakukan dengan “niat mengobati”, bukan menyiksa, maka seharusnya boleh.

Dokter itu mungkin dipenjarakan, dan dicabut izin prakteknya, betul? Kenapa? Karena dia melakukan tindakan yang tidak dibenarkan di dalam profesinya oleh semua ahli, dan tidak didukung oleh riset, dan tidak pernah diajarkan dalam kuliah kedokteran. Dia sudah melanggar peraturan dasar profesinya. Dalam semua profesi, tindakan seperti itu dicap “pelanggaran profesi”. 

Kalau para guru adalah anggota profesi juga, tolong jelaskan: Di dalam mata kuliah mana semua guru diajarkan memukul atau memberikan hukum fisik kepada siswa?  Apa ada mata kuliah berjudul: “Tata Cara Memukul Siswa Dengan Niat Mendidik - 4 SKS”?

Tentu saja tidak ada mata kuliah seperti itu. Jadi ketika menggunakan kekerasan di sekolah, guru-guru tersebut sama dengan si dokter gila yang memotong telinga pasien. Dokter dan guru tidak pernah diajarkan untuk melakukan tindakan yang salah oleh dosennya. Jadi ketika mereka menciptakan sendiri tindakan tersebut (dan mengaku niatnya baik), tanpa latar belakang ilmu, dan tanpa hasil dari riset, maka secara otomatis mereka salah dan wajib disalahkan.

Semua guru yang memukul anak itu itu sedang melakukan EKSPERIMEN PSIKOLOGIS terhadap siswanya. Guru itu melakukan tindakan A (memukul), dan berhadap akan ada hasil B (siswa sukses). Tidak ada landasan riset yang membuktikan kebenarannya. Tidak diajarkan oleh dosennya. Jadi guru itu berharap saja bahwa usaha itu akan berhasil! Tanpa ilmu. Tanpa aturan baku dalam profesinya yang menjadi pedoman.

Guru itu tidak pernah dapat pelatihan profesi untuk memukul, memberikan hukuman fisik, atau menghina siswa! Jadi guru itu melanggar peraturan profesi (seperti si dokter gila) karena bertindak tanpa ilmu, tanpa hak, dan hanya mengikuti hawa nafsu diri sendiri karena merasa yakin “nanti anak itu akan menjadi baik”. 

Semua guru seperti itu perlu belajar menjadi sabar dan harus berubah. Mereka harus belajar ilmu pendidikan dan ilmu psikologi anak lebih dalam lagi, dan harus bertanya “Apa hal ini terbaik bagi semua siswa, dan sesuai dengan aturan profesi saya?” Kalau memukul siswa, memberikan hukuman fisik, dan menghina siswa adalah cara yang paling baik dan benar untuk membantu siswa menjadi manusia yang sukses, maka hal-hal itu PASTI diajarkan oleh semua dosen di semua Fakultas Pendidikan di seluruh dunia. Ternyata tidak! Bisa dijelaskan kenapa tidak diajarkan kalau memang begitu penting?

Semoga bermanfaat sebagai renungan. Dan semoga para guru bersedia untuk merenung dan belajar ilmu pendidikan dan ilmu psikologi anak yang dibenarkan dalam profesinya. 
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto

Artikel Lain Tentang Pemukulan Terhadap Siswa dan Anak







Sumber:

15 November, 2011

Fenomena Suporter Bayaran di Arena SEA Games

...Salah satu pelajar yang ditemui mengaku mereka datang dan mendukung negara lain karena disuruh guru pembimbing mereka di sekolah. "Kami disuruh pak guru memakai kaos Malaysia dan mendukung saat mereka bertanding," ujar salah satu siswi SMP di Palembang kepada okezone. Rata-rata pelajar ini tidak bisa menolak perintah guru mereka untuk ikut menyemarakan SEA Games walau harus mendukung negara lain. "Takut dimarahi kalau menolak ikut kak, kami ikut salah satu kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, angggotanya disuruh ikut semua," jelasnya.

….“Kami sangat menyayangkan kenapa mereka mau menggadaikan harga diri bangsa hanya karena diberi baju dan atribut negara lain," ujar Syamsul. Tanzil Zulkarnain, salah satu penonton yang melihat ulah tersebut hanya bisa menggelengkan kepala dan merasa heran. "Kalau yang bertanding Thailand lawan Laos, silahkan mereka dukung yang mana saja, tapi kalau Indonesia yang sedang bertanding, harus dukung Indonesia jangan negara lain," cetusnya.


12 November, 2011

Anak Muda Mencari Pekerjaan Baru


Assalamu’alaikum wr.wb.,
Ada pembantu di rumah saya yang sedang berusaha mencari pekerjaan baru untuk kakak laki-lakinya. Dia bisa menjadi penjaga toko, pembantu raumah tangga, penjaga kebun, tukang kebersihan, dsb.
Kalau ada yang bisa membantu dengan tawaran kerja, tolong hubungi saya di email (genenetto@gmail.com), atau juga boleh langsung ke HP dia saja. Terima kasih.

Nama: Radianto (Radi). Umur 23 tahun. Laki-laki. Lulus SD saja. Tidak merokok. Rajin shalat. Insya Allah berahklak bagus. Belum menikah. Nomor HP: 08170885233
Sekarang berada di Ciputat (masih kerja menjaga toko, tetapi mau cari kondisi kerja yang lebih baik). Pernah jaga toko, berdagang, jaga kandang ayam, jadi tukang bangunan, bisa jaga anak.
Belum bisa nyupir.
Mencari pekerjaan sebagai: Penjaga toko. Pembantu rumah tangga. Penjaga kebun. Tukang kebersihan. Office Boy. Dan sebagainya.
Terima kasih kalau bisa membantu.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene

10 November, 2011

Mengapa Bangsa Indonesia Kalah Kreatif Dari Negara-Negara Maju


Tulisan dari milis sebelah.

Mengapa Bangsa Indonesia Kalah Kreatif Dari Negara-Negara Maju

Sebenarnya ini adalah ringkasan dari buku Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland yang berjudul "Why Asians Are Less Creative Than Westerners"(Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dari negara-negara barat), tapi berhubung saya tinggal di Indonesia dan lebih mengenal Indonesia, maka saya mengganti judulnya, karena saya merasa bahwa bangsa Indonesia memiliki ciri-ciri yang paling mirip seperti yang tertulis dalam buku itu.

1. Bagi kebanyakan orang Indonesia, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, pengacara, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki banyak kekayaan.

2. Bagi orang Indonesia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku korupsi pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.

09 November, 2011

Kalau Memandang Anak Yatim, Kenapa Tidak Melihat Muhammad Bin Abdullah?


(Saya menulis artikel ini untuk membalas beberapa komentar yang masuk di blog dan facebook, berkaitan dengan anak yatim dan sikap saya kepada mereka. Semoga bermanfaat sebagai renungan.)
Assalamu’alaikum wr.wb., Terima kasih kepada semua teman yang kasih komentar yang mendukung tulisan saya tentang anak yatim kemarin. Saya sudah lama hidup seperti itu dengan niat memperhatikan dan membantu anak yatim sebanyak mungkin. Itu bukan sikap yang baru buat saya, dan teman lama yang kenal saya sudah tahu pemikiran saya memang seperti itu (dan belum berubah). Sejak saya masuk Islam, saya merasa harus ada usaha yang lebih untuk membalas semua kenikmatan yang Allah kasih kepada saya (walaupun memang tidak mungkin bisa dibalas). 

Saya sering melihat seorang anak yatim dan mulai bayangkan: Bagaimana kalau ini adalah anak yatim bernama Muhammad bin Abdullah (nama lengkapnya Nabi Muhammad SAW)? Dan saya bisa bertemu dengan dia, menghibur dia dan membuat dia bahagia, dan ajak dia untuk menjadi seorang anak yang baik, membina dia, dan menjadi orang yang selalu siap melindungi dan menjaga dia! (Memang tidak mungkin ketemu dengan Nabi SAW saat dia masih seorang anak, tetapi saya suka bayangkan sebagai renungan saja).
 
Apa yang akan saya lakukan untuk anak yatim itu, kalau saya tahu dia akan menjadi seorang pemimpin ummat Islam nanti, dan sekaligus memandang saya dengan rasa kasih sayang yang besar, seolah2 menjadi bapak angkat (di dalam hatinya) karena dia selalu merasakan kebaikan dari saya? Kalau saya tahu anak yatim yang kecil itu akan menjadi Nabi Muhammad SAW, saya pasti siap kasih segala sesuatu kepada dia, bahkan sampai menyimpan sisanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saya menjadi tidak penting lagi. Tetapi karena diberikan kepada Nabi Muhammad (yang masih seorang anak yatim) maka saya tidak bakalan sedih, kecuali mungkin akan ada rasa sedih bahwa saya tidak bisa kasih lebih banyak lagi kepada dia untuk membuat dia bahagia dan semangat.
Kalau dalam bayangan itu, saya merasa siap berbuat demikian untuk seorang anak yatim bernama Muhammad bin Abdullah (yang nanti saat dewasa akan menjadi Rasulullah SAW), kenapa saya TAKUT melakukan sebanyak mungkin untuk anak-anak yatim yang lain, yang banyak di antara mereka juga punya nama MUHAMMAD…! Mereka sama seperti Nabi kita yang pernah menjadi anak yatim yang kecil, lapar, takut, miskin dan tidak tahu masa depannya seperti apa. 
Kalau untuk seorang anak kecil bernama Muhammad bin Abdullah saya siap kasih segala-galanya, kenapa saya tidak mau kasih banyak juga untuk anak-anak yang lain, yang juga bernama Muhammad, yang juga dapat perasaan yatim yang pernah dirasakan oleh Nabi kita dulu? Kenapa mesti takut? Bukannya Allah itu MAHA KAYA, dan juga MAHA KUASA?
 
Kalau iya, kenapa kita selalu takut bahwa uang kita akan hilang? Kenapa cerita saya tentang 1 juta rupiah yang saya habiskan untuk sepatu bola dan tas (yang membuat anak yatim itu senyum terus sampai sekarang) dibilang boros, royal, berlebihan, atau terlalu mahal? Kalau diberikan kepada Muhammad bin Abdullah (yang hanya seorang anak yatim, dan belum menjadi Nabi Allah) apa komentar yang sama akan muncul dari mulut mereka juga? 
(Misalnya): Anda kasih anak onta yang mahal kepada Muhammad bin Abdullah? Buat apa? Dia hanya anak yatim! Kasih kuda jelek yang murah saja! Sudah cukup! Onta yang mahal buat kita. Dia tidak perlu. Dan jangan kasih kurma yang mahal dan lezat itu kepadanya. Kasih KFK (Kentucky Fried Kambing) saja. Sudah cukuplah. Jangan merepotkan diri. Buat apa? Si Muhammad itu hanya anak yatim. Dia tidak penting. Jangan habiskan uang untuk dia!
Apakah kita semua akan bicara seperti itu kalau bisa melihat orang baik hati yang mau memberikan sesuatu yang mahal kepada Muhammad bin Abdullah? 
Saya sudah sadar bahwa orang lain tidak bisa memahami saya. Tetapi saya merasa kasihan dengan orang itu yang tidak paham. Uang saya memang tinggal sedikit sekali pada saat ini, bahkan sampai saya belum pergi belanja ke Hero karena uang di tabungan tidak cukup untuk belanja. Tetapi saya tetap merasa tenang. Saya tidak merasa takut. Dan kalau disadari bahwa uang saya tinggal sedikit sekali, maka yang teringat setelah itu adalah senyumnya seorang anak yatim yang makin sedikit menangis karena masih rindu sekali dengan bapaknya. (Dan kemarin, dengan senyuman yang lebar, dia malah minta izin mentraktir saya makan, karena dia mengintip dan melihat jumlah uang yang tersisa di tabungan saat saya tarik uang di ATM). 
Dia bukan Muhammad bin Abdullah. Tetapi dia seorang anak yatim juga! Allah tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenal, memeluk dan menjaga seorang anak yatim bernama Muhammad bin Abdullah karena saya lahir jauh sesudah dia. Tetapi sebagai gantinya, maka atas nama Allah, saya masih bisa menjaga dan menghibur seorang Muhammad yang lain. Dan apapun yang terjadi besok, yang teringat adalah nikmatnya di muka anak itu pada saat saya beli makanan dan barang yang dia inginkan, dan membuat dia bahagia sekali. (Kemarin saya ajak dia nonton film karena sekolahnya libur. Sepanjang hari saya melihat dia senyum dan ketawa!)
 
Alangkah enaknya kalau kita bisa melakukan yang sama dengan Muhammad bin Abdullah, tetapi sudah tidak mungkin. Kenapa kita tidak berani melakukan yang sama untuk anak-anak yatim yang lain, seolah-olah kita sedang berhadapan dengan Muhammad bin Abdullah yang asli?  
Saya tidak punya banyak uang pada saat ini. Tetapi demi Allah saya sungguh merasa KASIHAN dengan orang yang punya deposito berisi ratusan milyar, yang hanya mau disimpan untuk diri sendiri saja. Dan kalau Allah menghendaki, besok saya juga bisa dapat milyaran rupiah, rumah, mobil, dan sebagainya. Tetapi selama ini, hampir semua orang menyalahkan saya dan suruh saya menghemat banyak uang untuk diri sendiri, untuk isi tabungan, beli rumah, mobil, dll. Selama 15 tahun menjadi seorang Muslim, saya tidak mendengarkan mereka, dan tetap menghabiskan uang saya setiap bulan untuk kepentingan orang Muslim yang lain. Ini pertama kali dalam 15 tahun saya mengalami masalah keuangan. Jadi buat saya, ini hanya sebuah cobaan kecil saja, yang insya Allah akan berlalu juga, dan saya akan kembali seperti dulu dengan memiliki banyak uang yang bisa digunakan untuk kepentingan ummat Islam.
Kalau mayoritas dari ummat Islam tidak paham saya, dan mau menyalahkan saya, atau bilang saya terlalu boros atau royal dengan anak yatim, silahkan saja. Saya tidak mencari “pembenaran” dari ummat Islam terhadap semua tindakan saya. Saya sudah dapat senyumnya seorang anak yatim kemarin, berkali-kali, ditambah banyak ketawa, pukul-pukulan, peluk-pelukan, dan saling bercanda dan menghibur satu sama lain seperti di antara saudara kandung.  Jadi buat saya itu jauh lebih nikmat daripada deposito berisi milyaran rupiah
Ada orang yang mau menjadi kaya sekali, dengan deposito yang besar, karena mereka mau dapat kenikmatan yang banyak untuk diri sendiri. Tetapi mereka tidak pernah akan dipeluk oleh deposito mereka. Saya lebih mau dipeluk oleh seorang anak yatim yang baik dan beriman kepada Allah, dan bayangkan kalau seandainya nama dia adalah Muhammad bin Abdullah, dan dia sayang betul kepada saya.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan orang-orang yang mengasuh (menyantuni) anak yatim di surga seperti ini.” Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya.
(HR. Bukhari).

Rasulullah SAW bersabda, “Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya…”
(HR. Ath-Thabrani).

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan Muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila dia berbuat dosa besar yang tidak terampuni.”
(HR. Tirmidzi)

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut yang disentuh tangannya.”
(HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Aufa)

Wabillahi taufik walhidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

08 November, 2011

Selandia Baru Adalah Negara Paling Islami di Dunia?

Keislaman Indonesia
KOMPAS | Sabtu, 5 November 2011 | 09:03 WIB
Oleh : Komaruddin Hidayat,
Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Sebuah penelitian sosial bertema ” How Islamic are Islamic Countries”  menilai Selandia Baru berada di urutan pertama  negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan  kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140. Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam  Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat  Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

"Kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah " Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim. Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

21 October, 2011

Mau Tahu Betapa Nikmatnya Kehidupan Anda? Nonton Ini Dan Jangan Putus Asa!

Assalamu’alaikum wr.wb.,
Apakah anda kadang merasa bahwa banyak orang lain selalu lebih hebat dan lebih beruntung? Sedangkan anda hanya orang biasa saja yang kena nasib buruk, atau nasib begitu-begitu saja dan selalu sulit untuk maju? Anda tidak bisa berbuat apa-apa? Tidak ada bakat? Tidak pernah beruntung?
Sesungguhnya anda sudah beruntung sekali, tetapi anda mungkin tidak sadar. Sudah dikasih orang tua yang baik, tempat tinggal, kesempatan sekolah, dan diajarkan menjadi seseorang yang beriman kepada Allah sudah merupakan banyak sekali kenikmatan yang mungkin tidak begitu disadari.
Setiap kali anda merasa tidak bisa berbuat apa-apa, dan orang lain selalu lebih hebat, mungkin saja anda tidak sadar bahwa ada orang lain lagi yang posisinya di bawah anda, yang kehidupannya lebih buruk, tanpa prestasi sekecil apapun. Tetapi dengan usaha sederhana saja, mereka ternyata bisa mencapai suatu keberhasilan yang besar. Berarti anda juga bisa. Yang dibutuhkan hanya keinginan untuk berusaha dan merasa yakin bahwa Allah akan selalu bersedia membantu anda.

Jangankan orang Muslim yang beriman dan bertakwa, orang non-Muslimpun juga dapat bantuan dari Allah untuk maju dan berhasil kalau mereka mau berusaha. Tetapi apakah anda yakin pada Allah?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...