Search This Blog

Labels

Popular Posts

24 January, 2026

Bagaimana Rakyat Indonesia Bisa Menjadi Cerdas?

[Komentar]: Saya tertarik dengan paradigma korupsi rendah di negara maju, disebabkan sistem pendidikan bagus. Memang cukup janggal, Indonesia dengan budaya dan pembelajaran keislaman yang kental tapi justru terpuruk dalam moral, khususnya kejujuran. Saya tidak memiliki gagasan tentang sebuah sistem untuk memperbaiki semuanya karena ternyata faktor-faktornya komplit dan bikin pusing.

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Tidak rumit. Tidak sulit. Tidak perlu bikin pusing. Sistem pendidikan yang bagus sudah ada di banyak negara. Contohnya, Finlandia, Denmark, Norwegia, Belgia, Jerman, Selandia Baru, Kanada, dll. Tinggal ditiru saja. Di atas sistem pendidikan sekolah itu, negara2 maju sediakan puluhan jalur bagi orang dewasa untuk belajar di komunitasnya. Ada gedung milik pemda yang khusus untuk belajar di mana2 (mirip banyaknya gedung puskesmas di sini). Ada aula, ruangan kelas, ada guru2 yang digaji, ada kelas sukarelawan, ada perpustakaan di semua kecamatan, dll. jadi akses terhadap pelatihan, ilmu, buku, dan pendidikan ada di mana2 bagi rakyat, baik anak maupun dewasa. Ada kursus yang murah, ada yang gratis. Banyak orang yang sudah pensiun malah siap menjadi pelatih. Ada yang digaji, ada yang sukarelawan. Membangun komunitasnya masing2. Sistemnya sudah begitu sejak puluhan tahun yang lalu. Sekarang juga ada versi online, lewat situs dan aplikasi, yang gratis atau murah juga. Di sini juga bisa. Tinggal ditiru saja sistemnya. 

Tetapi daripada bangun sistem seperti itu, pemerintah dan pemda selalu lebih sibuk buka lahan kelapa sawit, dan tambang batu bara, dan tambang migas, dan seterusnya. Dan juga sibuk isi rekening masing2 dan mencari kekuatan bisnis dan politik bagi diri sendiri dan keluarganya, untuk 700 turunan. DARIPADA berusaha membuat rakyat cerdas. Kalau rakyat Indonesia bersatu, kita bisa berusaha bangun sistem pendidikan berbasis komunitas seperti di negara maju itu. Tidak harus datang dari atas, dari pemerintah. Dari bawah juga bisa. Misalnya, ada banyak masjid dengan aula yang hanya dipakai untuk acara pernikahan, dan selain itu kosong. Kenapa tidak ada puluhan macam kelas di situ setiap hari? Semua kantor kecamatan ada aula, yang sering kosong. Kenapa tidak ada banyak kelas yang tersedia di situ? Semua desa ada kantor desa, dan sering ada aula kecil. Bisa menjadi kelas.

Tetapi rakyat harus bersatu dulu dan semangat berjuang. Tidak cukup diam saja dan menunggu “orang lain” melakukan perubahan. Rakyat harus ada kemauan untuk maju, dan siap berjuang sendiri. Tetapi kebanyakan orang malas berjuang. Maunya duduk manis di rumah, menunggu orang lain membuat anaknya cerdas. Dan kalau sudah dewasa dan menikah dan punya anak, buat apa perlu “belajar lagi” dan menjadi lebih cerdas lagi? Sekolah buat anak, bukan dewasa. Yang dewasa bisa duduk di sofa, merokok, minum kopi, dan nonton bola dan sinetron dan gosip tentang tetangga. Lebih enak daripada baca buku dan menuntut ilmu. Betul? 

Selama rakyat tidak mau berubah, negara ini tidak akan berubah. Tetapi kalau rakyat siap berubah, negara ini bisa maju cepat dan kalahkan banyak negara lain. Seharusnya INI yang menjadi temanya dalam khutbah Jumat dan semua pengajian, setiap minggu, selama 3 tahun, sampai terjadi perubahan!! Malah semua ustadz sibuk membahas kemenangan di surga dan hukum fiqih. Dan rakyat berusaha duduk di belakang dan cari tembok agar lebih enak tidurnya. 
 
11. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
(QS. Ar-Ra’d 13:11)
 
Coba cari ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum pemerintah mereka berubah dan membangun sistem pendidikan berkualitas, yang bisa dinikmati oleh rakyatnya tanpa perlu berjuang sendiri”. Apakah ada??? Tidak ada!!!! Kenapa? Karena kuncinya BUKAN di sisi pemerintah, tetapi berada di sisi “kemauan rakyat”. Jadi solusinya adalah: “Bangun. Bersatu. Dan Berjuang Bersama Teman2.” Dan kalau tidak mau, jangan salahkan pemerintah terus. Lihat diri sendiri di cermin, dan bertanya kenapa ilmu2 yang anda miliki tidak pernah diajarkan kepada orang lain!!

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah 
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 



22 January, 2026

Kenapa Ada Banyak Konflik Antara Siswa Dan Guru Sekarang?

[Komentar]: Menurut saya, kekerasan boleh kalau masih dalam koridor mendidik. Murid jadi takut, termotivasi belajar, dan hormati gurunya. Zaman dulu, guru pakai kekerasan, murid tidak marah, tidak dendam. Zaman dulu, guru dihormati.

[Gene]: Mohon maaf, tetapi orang yang anggap kekerasan dibutuhkan untuk anak belum memahami ilmu pendidikan, ilmu psikologi anak, dan ilmu parenting. Manusia mendidik anjing, kuda, dan binatang lain dengan kekerasan agar binatang itu taat. Apa cocok untuk manusia juga, yang punya otak? Tidak perlu dibedakan antara anjing dan manusia? Faktanya, banyak anak yang dipukul gurunya akan membencinya. Anak lebih mudah belajar dari orang yang disayangi, atau orang yang dibenci??

Murid tidak marah zaman dulu? Sudah survei berapa juta murid? Sudah baca berapa ratus artikel penelitian? Sudah bicara dengan orang tua yang anaknya bunuh diri setelah menjadi korban bullying dari gurunya? Sudah bicara dengan anak yang menjadi depresi? Sudah bicara dengan anak yang kecanduan narkoba? Atau apakah mereka tidak penting, dan boleh dibuang ke laut?

Saya koreksi pernyataan anda: “Zaman dulu, anak DIPAKSA menghormati guru dan DIANCAM kalau tidak.” Lalu, ketika ancaman itu dihilangkan, anak yang tidak menghormati gurunya tidak perlu takut. Mereka tidak dipukul, ditendang, dan nilainya tidak diturunkan! Hasilnya: Banyak anak tidak mau hormati sebagian guru. Tetapi ada guru2 lain yang tetap dihormati. Jadi bedanya bukan pada anak zaman ini. Bedanya ada pada faktanya bahwa ancaman terhadap anak sudah dihapus, tetapi sikapnya dan ilmunya banyak guru tidak berubah. 

Jadi, apakah sekarang SEMUA guru tidak dihormati oleh SEMUA anak dalam SEMUA sekolah? Tentu saja tidak. Banyak guru masih dihormati dan disayangi! Artinya, ada sebagian guru yang sikap pribadinya tidak terhormat (mereka sombong, kasar, pemarah, dll.). Jadi guru yang itu saja yang tidak dihormati. Tetapi ada banyak guru lain, yang hatinya penuh kasih sayang, dan sangat menghormati dan menghargai siswanya, dan mereka sangat dicintai oleh siswanya. 

Jadi yang muncul di media adalah kisah tentang guru2 yang kurang baik, lalu mereka bela diri dengan mantra, “Niat saya mendidik”. Tetapi faktanya adalah guru2 itu kurang baik, dan bertindak dengan sikap yang tidak terhormat. Mereka tidak mau belajar, dan hanya teruskan pola pendidikan yang mereka terima 20 tahun yang lalu. Dan oleh karena itu, guru2 yang itu saja yang TIDAK DIHORMATI oleh sebagian anak. Kenapa? Karena ancaman terhadap anak dihapus, tetapi banyak guru tidak mau berubah dan belajar. 

Sebagai perumpamaan, seorang bapak mau beli mobil baru. Dia terbiasa dengan jenis mobil yang diproduksi 100 tahun yang lalu, karena dipakai bapaknya. Mobil itu sangat tidak aman. Di toko Toyota, dia minta mobil seperti itu. Ditawarkan mobil baru, yang jauh lebih baik, dia menolak. Yang zaman dulu cukup bagus, kenapa harus berubah? Kalau berjalan dengan kecepatan 20 km/jam, akan aman. Kenapa anak muda sekarang mau berjalan 100 km/jam, dalam mobil yang aman? Yang salah anak muda sekarang!

Bapak itu cerdas? Atau bodoh? Sudah ada ratusan kemajuan dalam ilmu penciptaan mobil. Tetapi dia tidak peduli karena terbiasa dengan sistem lama! Bukan karena terbukti lebih baik, tapi karena terbiasa!! Itu setara dengan guru yang mau teruskan pola pendidikan zaman dulu (dari 50-100 tahun yang lalu), dan abaikan ratusan kemajuan dalam ilmu pendidikan, psikologi anak, dan parenting. Sekarang ada pilihan. 1) Mau belajar, dan siap berubah, sesuai zaman ini? Atau 2) Mau berpegang teguh pada hal yang berlaku di zaman dulu? Ilmu sudah berubah, tetapi sebagian guru menolak belajar lalu jadikan anak kambing hitam agar gurunya tidak perlu berubah! 

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto 



14 January, 2026

Rekaman Bodycam Menunjukkan Polisi Amerika Memberikan Resusitasi Jantung Paru pada Bayi

Di Amerika, seorang polisi datang ke rumah orang dan temukan bayi yang tidak bernafas. Ambulance sudah dipanggil, tetapi belum sampai. Jadi polisi itu ikuti pelatihannya, dan langsung mulai Resusitasi Jantung Paru (RJP-CPR). Syukur, bayi itu mulai bernafas lagi dan selamat. Kalau hal yang sama terjadi di Indonesia, bayi yang tidak bernafas itu akan "dibawa lari ke puskesmas". Dan setelah perjalanan 20 menit, di luar dugaan, anak yang tadinya mati tetap saja mati. Siapa yang bisa menyangka? Anak yang tidak bernafas selama 20 menit kok bisa tetap mati ya? Kenapa dokter tidak bisa hidupkan kembali?

Di negara maju, polisi, guru, satpam, petugas, dan orang yang kerja dalam ratusan bidang lain yang berhadapan dengan anak dan rakyat umum, diwajibkan belajar Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR). Di Indonesia, daripada belajar RJP, semuanya belajar kalimat sakral untuk membahas mayat anak yang mustahil dibantu, yaitu: “Ini Musibah, dan Takdir Allah, dan Kami Tidak Menyangka!” 

Di negara lain, anak diselamatkan. Di Indonesia, anak dikuburkan. Kesannya di sini terlalu sulit untuk “belajar” cara menyelamatkan anak yang tidak bernafas, walaupun hanya butuh beberapa jam saja. Lebih mudah hafal kalimat sakral yang bantu semua orang lepaskan segala bentuk tanggung jawab, dan salahkan Tuhan saja. 
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto 

Rekaman Bodycam Menunjukkan Polisi Amerika Memberikan 
Resusitasi Jantung Paru  pada Bayi
https://www.youtube.com/watch?v=fbZQf7XNALw 



Anak Yang Tidak Bernafas Hanya Bisa Diselamatkan Dengan Resusitasi Jantung Paru

Kapan rakyat Indonesia akan diberitahu bahwa seorang anak yang dibawa jalan-jalan selama 20 menit dalam keadaan tidak bernafas mustahil hidup kembali? Kalau tidak dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR) langsung di saat itu, di tempat kejadiannya, maka tidak mungkin anak itu bisa diselamatkan. “Dibawa lari ke rumah sakit” sama dengan “menjamin kematiannya”. Tetapi dalam semua berita baru, setiap kali orang dewasa ketemu anak yang tidak bernafas, yang baru saja tewas (biasanya tenggelam), tindakan yang sama selalu dilakukan: Mereka MENJAMIN anak itu mati dengan dibawa jalan-jalan selama 20 menit dalam keadaan tidak bernafas. Sudah jelas mereka “ingin menyelamatkan” anak itu. Tetapi tindakannya justru merupakan jaminan anak itu mati.

Kalau seluruh rakyat dan semua anak sekolah bisa dididik tentang bahayanya demam berdarah, cara memberantas telur nyamuknya, dan cara hindari gigitan dari satu jenis nyamuk saja, pada jam tertentu saja, kenapa tidak bisa dididik juga tentang kewajiban melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP - CPR) langsung pada saat ketemu anak yang baru tenggelam atau tewas? Info demam berdarah bisa disebarkan, sampai semua orang hafal. Kenapa info RJP tidak bisa disebarkan juga? Berapa banyak anak bangsa harus tewas secara sia-sia, karena nyaris tidak ada orang dewasa yang mengerti apa yang perlu dilakukan? 

Anak yang baru saja tenggelam atau tewas BISA hidup kembali kalau dilakukan RJP dalam waktu 5-10 menit. (Kalau sudah tewas 30 menit lebih, tidak berguna lagi.) Kalau pemerintah tidak mau bertindak, rakyat bisa! Semua orang tua bisa minta pengurus sekolah dan pesantren melakukan pelatihan 1 hari. Karyawan bisa usulkan di PT-nya. PNS bisa minta diadakan di semua lembaga dan kementerian. Kalau dimulai sekarang, mungkin pada tahun depan kita bisa melihat berita yang berbeda: Anak yang tenggelam DISELAMATKAN dan hidup kembali karena dilakukan RJP dengan cepat!! Tetapi kalau 100 juta orang dewasa dan 80 juta anak sekolah dan santri juga diam dan tidak mau bertindak, maka berita tidak akan berubah: Anak yang baru saja tewas dijamin tidak bisa diselamatkan, karena dibawa jalan-jalan keliling kota sebelum dinyatakan “tetap mati” di puskesmas. Mau lihat berita yang mana? 
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
-Gene Netto 

Bocah 4 Tahun di Jambi Tewas Saat Bermain dalam Wahana Istana Balon
Beberapa saat setelah balon dilipat, orang tua korban datang mencari anaknya. Pemilik kemudian membuka kembali lipatan balon dan menemukan korban dalam keadaan tidak sadarkan diri. G langsung dibawa ke RS DKT Sungai Penuh, namun dinyatakan meninggal dunia. 
https://www.detik.com



Kenapa Petugas Damkar Indonesia Tidak Punya Masker Oksigen?

Sebuah pesantren di Jakarta Selatan kebakaran di basement. Santri berusaha padamkan api (tanpa ilmu, tanpa alat) sebelum petugas Damkar datang. Hasilnya, 23 santri sesak nafas dan dibawa ke rumah sakit. Saya cari videonya, dan di semua situs berita, saya lihat kalimat yang sama: PETUGAS DAMKAR KESULITAN PADAMKAN API KARENA TIDAK BISA MASUK BASEMENT KARENA ASAPNYA TEBAL. Saya bingung. Buat apa masker dan tabung oksigen bagi petugas Damkar kalau mereka takut pada asap? Lalu saya perhatikan videonya. Tidak ada satupun petugas yang pakai. Kok bisa?

Indonesia, negara yang makin maju, dengan kereta cepat, industri pesawat, membuat kapal dan kapal selam sendiri, bisa kirim TNI dengan fasilitas lengkap ke negara lain untuk menjaga kedamaian, tetapi petugas Damkar TIDAK PUNYA MASKER DAN TABUNG OKSIGEN??? Pada tahun 2025??? Sebuah alat cukup sederhana yang sudah menjadi standar di semua negara barat sejak 1950, tetapi 75 tahun kemudian, Indonesia masih belum punya? DI IBU KOTA NEGARA?? Sehingga ketika terjadi kebakaran, petugas Damkar hanya bisa lihat dari kejauhan karena takut pada asap tebal??? 
Siapa yang merasa malu? 
-Gene Netto 

Pesantren Al-Mawaddah Ciganjur Kebakaran: 23 Santri Merasa Sesak Nafas
https://www.nu.or.id

Ponpes Al Mawaddah di Jagakarsa Terbakar, Sejumlah Santri Jatuh Pingsan
https://www.youtube.com/watch?v=zDIXf5A3wn8 



Sakit, Kok Malah Bersyukur?

Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin saya sakit kepala keras, meriang, dan lemas. Sepanjang hari kemarin ada sakit kepala ringan. Setelah maghrib, ada niat makan dan tidur cepat. Lalu saya dapat permintaan bicara dengan anak perempuan yang sudah murtad selama 2 tahun. Walaupun kurang enak badan, saya terima, dan diskusi lewat telfon dengan anak itu dan ibunya selama 3 jam. Ketika selesai, sudah jam 11 malam, saya belum makan, dan sudah mulai meriang. Jadi saya makan dulu, minum obat, dan tidur. Saat bangun subuh, sakit kepalanya tambah keras, jadi saya minum obat lagi dan tidur. Ketika bangun jam 2 siang, sakit kepala lebih keras lagi, dan saya merasa lebih meriang, dan mual, dan lemas. 

Saya berbaring di kasur dan mulai bersyukur. Kok Malah Bersyukur? Kenapa? Karena saya sadar bahwa punya kamar yang aman dan bersih, yang bebas dari segala gangguan. Ada listrik, AC, komputer, internet, HP, uang, kamar mandi yang bersih, makanan di dapur, tidak ada luka di tubuh, dan ada rumah sakit dan apotek yang dekat kalau dibutuhkan. Alasan-alasan untuk bersyukur ada ratusan, bahkan ribuan, kalau mau disadari. Apapun keadaan kita, apapun kondisi fisik kita, apapun lokasi kita, selalu ada banyak orang lain yang alami kesulitan yang lebih besar lagi. Dan kalau Allah berikan rasa sakit sekecil apapun, dijamin dosa kita akan diampuni. Alhamdulillah. 

Semua orang bisa langsung mengeluh dan “salahkan Tuhan” kalau mau! (Kenapa saya harus sakit, padahal kemarin malam saya berdakwah, dan ada banyak tugas lain yang mau dikerjakan sekarang?!) Tetapi keluhan itu tidak membawa manfaat. Jadi orang yang beriman kepada Allah tidak akan mencari “alasan untuk mengeluh” tetapi malah akan mencari “alasan untuk bersyukur”. Dan kalau kita sadar atas semua nikmat yang Allah berikan, sangat tidak mungkin kita sanggup “bayar kembali” kepada Allah. Dan Allah juga tidak minta. Yang diminta oleh Allah sederhana saja: Beriman kepada Allah, selalu berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mencari alasan untuk bersyukur! Dan ketika kita bersyukur, Allah berjanji bahwa kita akan diberikan lebih banyak kenikmatan lagi. Alhamdulillah. Kita wajib shalat, tetapi saya tidak sanggup bersujud karena rasa sakit akan bertambah, dan alhamdulillah boleh shalat duduk!! Alhamdulillah x 1.000.

7. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."
(QS. Ibrahim 14:7)

Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wa billahi taufiq wal hidayah 
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto  



22 December, 2025

Kalau Gene Netto Masuk Islam Karena Sinterklaus, Yang Murtad Menemukan Apa?

[Pertanyaan]: Setelah Gene tahu Sinterklaus tidak nyata, agama Kristen ditinggalkan. Lalu, orang yang murtad menemukan apa ya sehingga mau tinggalkan Islam?

[Gene]: Assalamu’alaikum wr.wb. Yang masuk Islam setiap tahun di Indonesia ada puluhan ribu orang. Semua masjid besar punya daftar. Tetapi yang murtad sedikit, dan polanya hampir selalu sama. Anak remaja atau pemuda murtad karena sebab ini: 1) Dia benci orang tuanya, ada masalah keluarga. 2) Ada pacar non-Muslim. 3) Belajar filosofi (SMA atau kuliah). 4) Merasa Muslim keturunan, mungkin agama lain “lebih baik”. 5) Ada kejadian aneh seperti mimpi melihat salib, dsb.

Semua orang itu hampir selalu tidak rajin beribadah dan ilmu agama Islamnya rendah. Yang punya masalah keluarga ingin mencari “kenikmatan” dalam agama lain. Ada yang murtad hanya untuk menyakiti orang tuanya. Ada rasa benci dan emosi, jadi mereka merenung: “Kalau Islam benar, kenapa bapak/ibu begini?” Dianggap orang tua Muslim seharusnya “sempurna”. Kalau tidak, Islam yang salah.

Yang punya pacar Kristen utamakan cinta terhadap pacar. Kalau ditanya kenapa lebih mencintai pacarnya, daripada Allah dan Rasulullah SAW, mereka tidak bisa menjawab. Yang belajar filosofi utamakan pemikiran orang non-Muslim zaman dulu, dan tidak peduli pada pemikiran Rasulullah atau Firman Allah di dalam Al Qur’an. Dianggap ahli filosofi lebih paham tujuan hidup daripada Nabi Allah!

Yang anggap dirinya “Muslim keturunan” merasa seharusnya cari agama sendiri. (Tetapi saat bapaknya bayar kuliah, mereka terima “uang keturunan”, tidak perlu dicari sendiri.) Yang dapat mimpi aneh, atau kejadian serupa, mencari penjelasan dari teman non-Muslim dan percaya pada jawabannya, dan tidak mencari penjelasan dari orang tua (yang dibenci) atau ustadz.

Selama 30 tahun berikan konsultasi, saya belum pernah dengar ada satu kasus di mana seorang Muslim pelajari ajaran Kristen dan Islam, pelajari Al Kitab dan Al Quran, lalu menggunakan LOGIKA untuk tinggalkan Islam dan memilih Kristen. Selalu dipilih karena masalah keluarga, pacar, merasa Islam keturunan, kejadian aneh, dsb. Yang belajar filosofi biasanya menjadi ateis dan meragukan semua agama. Jadi semuanya lepaskan akal yang sehat, dan mengikuti perasaan dan emosinya. 

Ada satu orang yang diskusi dengan saya dulu. Di mengaku: tidak tahu Alkitab ditulis siapa, dan tidak yakin dia “mengikuti Yesus” dengan benar. Dia sepakat: Yesus adalah orang Yahudi, baca Taurat, dalam bahasa Ibrani, di Sinagoge, pada hari Sabtu! Yesus tidak masuk gereja, pada hari Minggu, untuk baca Alkitab, dalam bahasa asing, melakukan Misa, bernyanyi, menatap salib, dan berdoa kepada Yesus, dalam bahasa asing, dan tidak pernah membahas Trinitas. Tetapi dia masih memilih agama Kristen karena mencintai pacarnya, dan “semua agama sama”, jadi semua orang baik pasti masuk surga. 

Kalau mereka menolak menggunakan logika, sulit dibantu. Allah sudah kasih mereka kenikmatan lahir sebagai Muslim, lalu mereka sendiri yang membuangnya. Tetapi kalau mereka bersedia diskusi berbasis logika, biasanya dalam beberapa jam (atau beberapa pertemuan) mereka kembali ke Islam. 

100. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.
(QS. Yunus 10:100)

Pesan Kepada Orang Tua: Membangun hubungan harmonis dengan anak. Sering peluk dan cium mereka, sampai dewasa (remaja juga butuh, laki-laki juga). Jangan menjadi marah. Kemarahan bukan solusi terhadap masalah: Hati anak perlu cinta, kasih sayang, diskusi, dan penerimaan, bukan kemarahan. Anak yang mencintai orang tuanya, akrab, sering dipeluk, dan dapat pendidikan Islam yang baik, akan taat pada orang tua, dan tidak akan murtad, insya Allah. Jawab pertanyaan mereka dengan logika, dan kalau sulit, cari bantuan. Insya Allah anak-anak Muslim yang dibesarkan seperti itu akan selamat, dan keimanan mereka terjaga. 

Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto 



17 December, 2025

Dakwah Berhasil Dengan Remaja Muslim Yang Mau Murtad

Assalamu’alaikum wr.wb. Dua hari yang lalu saya diskusi dengan seorang anak laki-laki yang merasa ragu terhadap kebenaran Islam, dan juga tidak salat selama beberapa tahun. Dia telah diskusi dengan teman Kristen, dan ingin mendalami agama lain karena berpikir mungkin lebih bahagia kalau tinggalkan Islam. Alhamdulillah, dia masih bersedia diskusi dengan saya ketika ibunya memberi saran. 

Kami diskusi selama hampir tiga jam. Saya jelaskan tentang agama Kristen, Alkitab, Yahudi, Taurat, Hindu, Buddha, Nirwana, dll. Ternyata, dia baru tahu sedikit, dan juga kurang paham ajaran Islam. Saya jelaskan, dalam semua kasus ada anak Muslim yang mau murtad, selalu ada pola yang sama. Saya sebutkan contohnya, lalu dia senyum lebar dan bilang, “Kok sepertinya membahas saya?!”

Sama seperti banyak orang lain yang ingin murtad, dia benci bapaknya. Banyak anak seperti itu tidak ingin memahami Islam, dan hanya ingin Islam disalahkan. Yang dipikirkan, kalau bapaknya jelek, tidak mungkin Islam benar! Kalau Islam benar, bapaknya akan ikuti ajaran Islam dan menjadi baik. Ternyata tidak begitu, jadi Islam yang harus disalahkan! 

Saya menjelaskan ajaran Islam kepadanya dengan landasan logika, dan kami diskusi secara baik. Ternyata, dia juga termasuk anak yang memang mencari jawaban, dan sangat senang bisa memahami Islam dan kehidupannya lewat lensa logika. Dia mengaku sudah 5 tahun tidak shalat, dan tidak pernah berdoa atau minta apapun dari Allah. 

Saya berikan perumpamaan. Kalau saya memberikan nomor HP presiden, dan saya berkata, “Presiden sangat bangga dengan kamu, dan inginkan kamu menjadi bahagia dan sukses. Jadi, kalau kamu perlu bantuan apa pun, pakai nomor ini, hubungi presiden, dan tinggalkan pesan suara. Presiden tidak bisa bicara dengan kamu, tetapi dia akan dengarkan pesan kamu, dan akan berusaha memberikan yang kamu minta.”

Kemudian saya bertanya, maukah kamu pakai nomor itu? Dia ketawa dan menjawab, Iya, tentu saja!!!!! Saya berkata, kamu bisa hubungi Tuhan Yang Maha Esa setiap hari, tinggalkan pesan, dan minta apa saja. Jadi, daripada telfon presiden, kenapa tidak “telfon Allah”? Dia jauh lebih berkuasa, dan satu-satunya orang yang menghalangi kamu dari hubungi Allah setiap hari adalah kamu sendiri!!

Dia ketawa dan langsung paham. Malam itu, ibunya memberi tahu saya bahwa dia langsung berubah setelah bicara dengan saya, menjadi lebih bahagia dan positif, dan ingin mulai belajar Islam lagi. Satu hari kemudian, anak itu kirim pesan kepada saya dan bilang dia mau pergi ke masjid untuk shalat. Saya kaget. Tidak menyangka dia akan berubah secepat itu. Alhamdulillah. Dia sudah berdoa (sesuai arahan saya), dan minta diberi petunjuk, minta dibuat yakin, dan minta bantuan dari Allah untuk berubah dan menjadi semangat shalat dan sering berdoa kepada Allah. Alhamdulillah, dalam 1 hari saja, doanya anak itu sudah dikabulkan. (Dan doanya saya dan ibunya juga!)

Saya jelaskan kepadanya bahwa itu cara termudah untuk mendapatkan BUKTI bahwa Allah selalu mendengarkan kita, yaitu minta kepada kepada-Nya sebanyak mungkin dan harus yakin bahwa Allah akan dengarkan kita. Semakin banyak yang kita minta, semakin banyak yang kita dapatkan. Alhamdulillah dia bisa langsung paham, dan tidak ingin tinggalkan Islam lagi. 

Semoga bermanfaat.
Wa billahi taufiq wal hidayah, 
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto



12 December, 2025

Kronologi 6 Santri di Bangkalan Tewas di Bekas Galian C, Berawal Saat 5 Santri Menolong 1 Temannya

Assalamu’alaikum wr.wb. Kemarin ada berita dari Balikpapan tentang 6 anak yang tenggelam di kubangan. Hari ini, ada berita itu lagi, tetapi saya bingung karena mereka dikatakan santri (kemarin tidak). Saya baca lagi dari atas dan baru sadar: INI KASUS BARU!! Tanggal 17 November 2025, ada 6 anak yang tenggelam dalam kubangan di Balikpapan. Tanggal 20 November 2025 ada 6 santri yang tenggelam dalam kubangan di Bangkalan, Jawa Timur!! Dalam 3 hari saja, 12 anak tewas secara sia-sia dengan cara yang sama. Dijamin semua orang akan berkata: “Ini Musibah, dan Takdir Allah, dan Kami Tidak Menyangka!”

Mohon tunggu dulu. Anak yang tenggelam tidak harus “tewas secara permanen”. Masih bisa hidup kembali KALAU ada yang melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP, atau CPR). Tidak sulit belajar. Cukup pelatihan beberapa menit, dan praktek pada boneka. Tetapi daripada belajar RJP, para guru, ustadz, dan orang dewasa yang lain selalu membawa anak itu ke puskesmas. Dan setelah TIDAK BERNAFAS selama 20 menit lagi, anak itu dinyatakan masih tewas.

Jadi anak-anak itu tidak tewas hanya karena tenggelam saja! Tetapi sebenarnya mereka tewas karena para guru, ustadz, dan orang dewasa yang lain melakukan kesalahan. Dan daripada belajar tentang Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR), 3 juta guru, dan 1 juta ustadz hanya angkat tangan dan berkata, “Kami tidak paham.”

Berdasarkan riset, anak yang sudah tenggelam 0–5 menit lalu menerima RJP/CPR, bisa langsung hidup kembali tanpa efek samping. Kalau tenggelam 6–10 menit lalu terima RJP/CPR, bisa hidup kembali tetapi ada risiko alami gangguan otak. Kalau 10–15 menit, sudah 50-50, dan risiko cacat otak tinggi. Kalau 15–25 menit, jarang bisa hidup kembali dan risiko cacat otak sangat tinggi. Dan kalau 25-30 menit atau lebih, kemungkinan hidup kembali hampir nol. 

Jadi ketika 80 juta anak Indonesia butuh guru dan ustadz yang mengerti RJP/CPR, tetapi semuanya “tidak paham” kenapa rakyat dan pejabat diam saja? Apa sulitnya pemerintah mewajibkan semua guru dan ustadz wajib belajar RJP/CPR dan dapat sertifikat P3K? Apa sulitnya 60 juta orang tua marah dan menahan SPP, dan memaksa guru dan ustadz belajar? Anak yang baru tenggelam butuh RJP/CPR. Tidak perlu dibawa jalan-jalan keliling kota! Dan kalau 3 juta guru dan 1 juta ustadz berkata, “Kami tidak tahu caranya,” ada solusi yang sederhana: BELAJAR!!!!!!!!

Semoga bermanfaat bagi para orang tua yang tidak ingin melihat anak bangsa tewas terus disebabkan para guru dan ustadz yang malas belajar!
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

Kronologi 6 Santri di Bangkalan Tewas di Bekas Galian C, Berawal Saat 5 Santri Menolong 1 Temannya 
https://surabaya.kompas.com




ANAK YANG BARU TENGGELAM BISA DISELAMATKAN!

*MOHON DISEBARKAN*

Assalamu’alaikum wr.wb. Banyak orang tidak tahu bahwa seorang anak yang baru saja tenggelam atau tewas BELUM “mati total”. Masih ada harapan bisa hidup kembali, tetapi ada syarat: Secepat mungkin, harus dilakukan *RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP-CPR).* Dicek dulu apa masih ada detak jantung. Kalau ada, berikan bantuan nafas. Kalau detak jantung dan nafasnya tidak ada, mulai kompresi dada 30 kali, bantuan nafas 2 kali, dan ulangi terus dengan pola itu selama 10 menit. 

*JANGAN DIBAWA LARI KE PUSKESMAS!!* Kalau korban dibawa jalan-jalan dalam keadaan tidak bernafas selama 15-20 menit, ketika sampai puskesmas, dijamin 100% akan tetap tidak bernafas! Artinya: Bawa pergi = Menjamin anak itu tewas!! Kalau mau diselamatkan, wajib laksanakan RJP-CPR SECEPATNYA di lokasi kejadian. 

Berdasarkan riset, anak yang baru tenggelam *0–5 menit* lalu menerima RJP/CPR, bisa langsung hidup kembali tanpa efek samping. Kalau *6–10 menit* lalu terima RJP/CPR, bisa hidup kembali tetapi ada risiko gangguan otak. Kalau *10–15 menit,* sudah 50-50, dan risiko cacat otak tinggi. Kalau *15–25 menit,* jarang bisa hidup kembali dan risiko cacat otak sangat tinggi. Dan kalau *25 menit* atau lebih, kemungkinan hidup kembali hampir nol. 

Resusitasi Jantung Paru (RJP-CPR) tidak sulit belajar. Cukup pelatihan 1 jam, dan praktek dengan boneka. Jangan biarkan anak Indonesia tewas terus hanya karena orang dewasa malas belajar. Kalau anda punya komunitas di sekolah, kampus, kantor, lembaga, jemaah pengajian, dll. coba cari informasi dari puskesmas atau rumah sakit terdekat. Hubungi petugas yang bisa datang dan memberikan pelatihan RJP 1 hari. 

Cukup belajar 1 kali saja, dan insya Allah akan diingat selama puluhan tahun. Sangat mudah dilaksanakan kalau sudah tahu caranya. Pahalanya sebesar apa kalau bisa selamatkan 1 nyawa? Jangan takut belajar! 
Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

*BERIKUT INI PROSEDUR RJP-CPR:*

(Teks ini diberikan sebagai informasi umum saja. Sangat penting anda dapat pelatihan resmi dari tenaga medis yang ahli, agar bisa dipahami secara baik.)

1. Pastikan lokasinya aman. 
2. Periksa kesadaran, detak jantung, dan nafasnya. 
3. Dongakkan kepala ke belakang, periksa dan buka jalur nafasnya. 
4. Kalau ADA DETAK JANTUNG, tetapi tidak bernafas, berikan bantuan nafas, tanpa berhenti.
5. Kalau TIDAK ADA DETAK JANTUNG, dan juga TIDAK BERNAFAS, mulai kompresi dada. 
6. Lakukan 30x kompresi dada, berhenti, berikan bantuan nafas 2x. 
7. Lanjut terus dengan kompresi dada 30x, bantuan nafas 2x. 
8. Kalau dalam waktu 15 menit tidak hidup kembali, boleh berhenti. 

Catatan: Kompresi dada diulang sebanyak 30 kali, dengan kecepatan 100‒120 kali/menit. Kompresi dada dilakukan dengan cepat dan kuat, dengan kedalaman minimal 5 cm dan maksimal 6 cm. (Tergantung usia korban, kegemukan, dll. Intinya, kalau kurang dalam, tidak berguna.) Untuk balita dan anak, lakukan kompresi dengan satu tangan. Untuk anak yang badannya besar, remaja, dan dewasa, pakai dua tangan. Lihat contohnya di video, dan cari pelatihan resmi agar bisa dipahami secara baik.

Ada banyak video teknik RJP-CPR di YouTube. Semoga bermanfaat untuk berikan gambaran umum, sebelum anda bisa dapat pelatihan resmi. 

Memahami CPR / RJP
https://gleneagles.com.my/id/accident-emergency/cpr

VIDEO: Resusitasi Jantung Paru
https://www.youtube.com/watch?v=2wZpmDXSvCA 

Video Edukasi RJP (Resusitasi Jantung Paru)
https://www.youtube.com/watch?v=6__UmK2KlOg 

Bantu Selamatkan Nyawa, Begini Trik CPR pada Orang Henti Jantung
https://www.youtube.com/watch?v=um8pk24DUCQ 

CPR compressions to Staying Alive by the BeeGees
https://www.youtube.com/watch?v=0wARruhshko 



04 November, 2025

Bayi Baru Lahir Ditemukan Tewas dalam Kantong Plastik di Kampar, Ada Bekas Gigitan Anjing

Hal yang sama terulang terus. Ada bayi yang dilahirkan di luar nikah, jadi untuk menutupi rasa malunya di depan masyarakat (hanya rasa malu yang penting, nyawa tidak), ibunya membuang bayi tanpa dosa itu untuk menangis sendiri di tengah semak, atau di dalam kardus di belakang gedung. Kadang, dibunuh dulu, baru dibuang. Hal ini terjadi terus karena anak Indonesia bukan prioritas. Tidak ada usaha yang serius untuk mengurangi jumlah anak yang hamil di luar nikah. Dan tidak ada informasi tentang APA yang bisa dilakukan dengan sebuah bayi yang tidak diinginkan (sebelum dibunuh atau dibuang). 

Tidak ada info bahwa (misalnya) bayi tersebut bisa ditinggalkan di puskesmas tanpa kesulitan, tanpa ibunya ditangkap, tanpa harus berikan nama. Dan tidak semua perempuan yang menjadi hamil itu adalah hasil hubungan di luar nikah. Sebagian disebabkan pemerkosaan. Oleh bapak kandung, bapak tiri, tetangga, kenalan medsos, guru ngaji, dukun, dll. Jadi perempuan yang hamil itu sudah menjadi korban, lalu menjadi korban kedua kalinya ketika tidak bisa dapat bantuan, dan merasa tidak ada pilihan selain bunuh dan buang bayi itu.

Jadi ketika anak remaja bingung dan trauma, dan pemerintah TIDAK memberikan informasi atau bantuan, dan masayarakat hanya ingin menyebarkan gosip tanpa menolongnya juga, hasilnya seperti ini. Bayi yang tidak berdosa dibuang seperti sampah, lalu dimakan anjing, seperti sampah. Faktanya, 80 juta anak yang sudah besar tidak merupakan prioritas. Apalagi yang belum lahir. 

Di saat yang sama, ada ratusan ribu pasangan suami-istri yang sulit dapat keturunan, dan siap adopsi anak, tetapi prosesnya sulit. Kalau ada stok barang, dan ada calon konsumen, tetapi barang tersebut malah dibuang dan dibiarkan rusak, ruginya sangat jelas. Dalam dunia bisnis tidak masuk akal sedikitpun. Apalagi kalau membahas nyawa anak yang bersih dari dosa...

Semoga bermanfaat sebagai renungan. Walaupun tidak ada harapan akan terjadi perubahan, karena kebanyakan orang tidak akan peduli selain bilang, “Memprihatinkan ya”. Lalu kita semua akan lupa lagi sampai mayat bayi yang berikutnya ditemukan di tengah tumpukan sampah. Merdeka!! 
-Gene Netto 

Bayi Baru Lahir Ditemukan Tewas dalam Kantong Plastik di Kampar, Ada Bekas Gigitan Anjing 
https://suaraindonesia.co.id



29 October, 2025

Asrama Putri Ponpes di Situbondo Ambruk, 1 Santriwati Meninggal-11 Luka

Assalamu’alaikum wr.wb. Harap ingat: “Ini Musibah, dan Takdir Allah, dan Kami Tidak Menyangka!” Ketika anak tewas di pesantren atau sekolah, kalimat sakral itu sudah cukup sebagai penjelasan. Tidak ada pihak yang salah atau lalai. Tidak ada yang perlu ditangkap. Musibah saja. Kegiatan di pesantren harus segera mulai lagi bagi anak yang belum mati, dan gedung yang rusak harus dibangun kembali dengan uang rakyat. 

Anehnya, ketika bis masuk jurang, sikap itu tidak berlaku. Sopirnya ditangkap, tidak ada usaha beli bis baru dengan uang rakyat, dan sopir itu tidak disuruh segera mengantar penumpang lagi. Sopir itu tidak sengaja bunuh orang, tapi dianggap bersalah. Pengurus pesantren tidak sengaja bunuh orang, jadi bebas dari kesalahan? 

Selain itu, ketika melihat video berita di YouTube, saya kaget. Terkesan bahwa seluruh TKP sudah “bersih” ketika Polisi datang. Semua puing, beton, genteng, dll. sudah dipindah. Jadi kalau insinyur sipil mau periksa “tata cara bangunan itu jatuh”, sudah mustahil. Tidak bisa lihat apa yang jatuh duluan, atau jatuhnya ke mana.

Apa usaha pelaku membersihkan seluruh TKP bukan perkara hukum? Kalau seorang bapak membunuh anaknya lalu bilang “tidak sengaja”, apa juga boleh begitu? Ketika polisi datang, mayat anak sudah hilang dari rumah, darah sudah dibersihkan, dan barang-barang rusak sudah hilang sampai TKP menjadi steril dan bersih? Apa boleh dilakukan di semua TKP? Atau hanya boleh di pesantren saja? 

Mungkin kondisi ini bisa menjadi bahan bagi mahasiswa fakultas hukum. Mereka bisa menulis makalah menarik tentang tipe orang yang kebal hukum, atau yang kena sanksi hukum, padahal perbuatannya mirip. Bedanya adalah satu pihak merupakan ahli agama di pesantren, dan pihak lain adalah orang biasa. Dan kalau seluruh barang bukti dihilangkan, apa di pesantren boleh, tetapi di rumah dilarang? 

Kenapa nyawa anak di pesantren kalah penting dengan nyawa anak di tempat lain? Sepertinya, investigasi terhadap anak yang tewas di rumah bisa luas dan lengkap. Tetapi bagi anak yang tewas di pesantren, ada kesan bahwa hukum negara kurang berlaku, dan tidak ada pelaku yang perlu bertanggung jawab, karena itu hanya musibah dan takdir Allah saja. Betul? 
Semoga bermanfaat sebagai renungan.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto 

Asrama Putri Ponpes di Situbondo Ambruk, 1 Santriwati Meninggal-11 Luka
Musibah terjadi di Pondok Pesantren Salafiah Syafi'iyah Syekh Abdul Qodir Jaelani, Situbondo. Salah satu bangunan asrama putri di ponpes itu ambruk menewaskan seorang santriwati dan melukai 11 orang santriwati lainnya.
https://www.detik.com

Kamar Ponpes di Situbondo Ambruk, Belasan Santri Putri Tertimpa Reruntuhan & 1 Orang Tewas
https://www.youtube.com 



28 October, 2025

Siswa SD di Cianjur Ditemukan Tewas di Rumahnya, Diduga Bunuh Diri

Assalamu’alaikum wr.wb. Berkali-kali ada berita dengan informasi yang sama. Seorang anak kecil tiba-tiba berubah, menjadi diam, murung, dan hanya ingin di kamar terus. Orang dewasa di sekitarnya selalu bingung. Mereka selalu “tidak paham” kenapa. Kalau seorang anak berubah dan menjadi murung, itu merupakan tanda dia sudah alami trauma. Dua kondisi yang paling umum adalah 1) Dia menjadi korban bullying, dan 2) Dia menjadi korban pencabulan.

Keluarganya, gurunya, dan teman-temannya yang kenal anak itu bisa melihat perubahan tersebut. Tetapi dalam setiap kasus, semuanya “bingung”. Dalam beberapa kasus, anak tersebut bunuh diri. Ketika perubahan sikap itu muncul, anak itu perlu dibantu secara cepat. Tetapi yang sering terjadi adalah semua orang dewasa diam saja dan menunggu dia kembali normal. Lalu dia bunuh diri.

Dalam kasus ini, keluarganya merasa “kasihan” pada mayat korban, jadi tidak rela dilakukan autopsi dan investigasi polisi. Dalam kata lain, mereka tidak ingin korban dapat keadilan, dan pelakunya boleh dibiarkan melakukan kejahatan terhadap anak-anak yang lain. Biar ada banyak korban sekaligus. Biar banyak keluarga lain menderita juga.

Ada dua hal yang terulang, dan patut disayangkan. Pertama, banyak orang dewasa tidak sanggup mengingat satu fakta sederhana: Anak yang berubah menjadi murung telah mengalami trauma! Kedua, sering ada rasa “kasihan pada mayat”. Tetapi sikap itu sama dengan membebaskan pelaku untuk mengulangi perbuatannya. Keadilan bagi korban dibuang ke laut?  Rasa “kasihan pada mayat” lebih utama, seakan-akan mayat akan dapat suatu manfaat? 

Dua perubahan dibutuhkan. Pertama, pelatihan anti-pencabulan dan anti-bullying secara nasional. Semua orang dewasa perlu memahami tanda-tanda seorang anak mengalami trauma. Kedua, ketika anak wafat di luar dugaan, keluarga harus dukung investigasi polisi, demi mencari pelaku (kalau ada), agar bisa ditangkap, untuk selamatkan anak lain. Autopsi tidak mengganggu mayat seditpun! (Belum pernah ada mayat yang bangkit dan protes!) 

Kalau kedua perubahan ini tidak terjadi (dan sepertinya tidak ada yang cukup peduli), anak-anak Indonesia akan menjadi korban terus. Dan ribuan pelaku akan tetap bebas, karena tidak dicari polisi, karena keluarga korban menolak investigasi dan autopsi. Terkesan banyak orang tua telah mengalami pencucian otak agar punya rasa “kasihan pada mayat”. (Dari mana sikap umum itu??) Hasilnya adalah mereka tidak peduli pada keadilan, dan tidak mau melindungi anaknya orang lain! Ibaratnya mereka berkata, “Mayat anak saya lebih utama daripada anak lain yang masih hidup!!” Semua orang dewasa harus berubah, agar ribuan anak bisa diselamatkan dan tidak perlu menjadi korban!
Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto 

Siswa SD di Cianjur Ditemukan Tewas di Rumahnya, Diduga Bunuh Diri
Seorang anak laki-laki berinisial MAA (10 tahun) di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, ditemukan tewas di rumahnya, Rabu (22/10). "Memang ada kebiasaan yang berubah, biasanya cucu saya sering bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Tapi, belakangan ini lebih memilih diam di dalam rumah, dan terlihat murung," tuturnya.
https://kumparan.com

 

Santri Bunuh Diri, Investigasinya Nol, Pelaku Penyebab Trauma: AMAN

 


Assalamu’alaikum wr.wb. Ada berita tentang seorang anak yang bunuh diri, dan setelah beberapa hari, terungkap dia seorang santri. Saya cari beritanya di Google, tetapi malah ketemu beberapa kasus yang berbeda (3 santri bunuh diri di bulan Oktober 2025!) Pertanyaan saya, APA yang menimpa mereka sampai merasa tidak tahan, tidak bisa dapat bantuan, dan satu-satunya jalan keluar dari penderitaannya adalah bunuh diri? Kita tidak akan tahu. Selalu dianggap musibah dan takdir Allah. Jadi tidak perlu investigasi dari polisi (siapa yang mau bayar?) 

Dua hal yang paling mungkin adalah mereka korban bullying atau pencabulan. Dalam kasus pencabulan di pesantren, biasanya ada korban lain. Jarang ada berita pencabulan dari pesantren dengan 1 korban saja. Tetapi siapa yang mau investigasi? Kalau pencabulan atau bullying, hampir terjamin ada beberapa atau bahkan puluhan korban lain. Seharusnya Kemenag, Kemen PPPA, KPAI, dan Polri sangat peduli dan wajib melakukan investigasi. Ternyata tidak. Setiap kasus hanya musibah dan takdir Allah. Semua orang dewasa selalu berkata, “Kami tidak menyangka!”

Dan setelah saya cari berita tentang santri yang bunuh diri, juga muncul kasus anak SD dan SMP (bukan santri) yang bunuh diri. Dan dalam setiap kasus, dicap musibah dan takdir Allah, dan tidak ada investigasi, jadi penyebabnya tidak ketahuan, dan pelaku (bullying atau pencabulan) aman. Tidak ada yang mencarinya. Saksi mata utama sudah tewas. Simsalambim, kasus itu dilupakan. Dan besoknya, ketika terjadi lagi di dengan anak yang lain, boleh dilupakan juga. 

Kapan anak dan santri Indonesia akan dinilai penting, dan patut dijaga dan dilindungi? Kenapa mereka bisa dibiarkan menjadi korban terus, tanpa ada yang peduli pada kondisi hidupnya, sampai akhirnya sebagian anak merasa terpaksa bunuh diri untuk akhiri penderitaan mereka? Kalau ada sumber pertolongan yang jelas, seharusnya tidak ada anak yang bunuh diri, dan kasus bullying dan pencabulan berhenti cepat. Kenapa tidak ada yang mau berusaha selamatkan para anak dan santri dari takdir yang buruk itu? 
Wassalamu’alaikum wr.wb. 
-Gene Netto

Ini beberapa kasus yang saya temukan hari ini. Mungkin ada yang lain. Semuanya judul berita asli. Kalau juga cari berita anak SD-SMP yang bunuh diri, hasilnya lebih banyak. 

* 15 Oktober 2025, santri bunuh diri di Merangin, Jambi

Izin Mendadak, Santriwati Ini Ditemukan Tewas Gantung Diri di Pesantren
https://www.batamnews.co.id

* 11 Oktober 2025, santri bunuh diri di Muara Enim, Sumsel.

Santri di Muara Enim Ditemukan Gantung Diri dalam Kamar, Polisi Selidiki 
https://www.detik.com

* 3 Oktober 2025, santri bunuh diri di Musi Rawas, Sumsel.

Santri Tewas Gantung Diri Tinggalkan Surat untuk Ibu: Gading Sudah Tak Kuat dengan Cobaan Ini
https://news.okezone.com

* 11 September 2025, santri bunuh diri di Mangkubumi, Tasikmalaya,

Santri yang Tewas Tergantung di Mangkubumi Dikenal Sosok Baik dan Pendiam, Ponpes Bantah Korban Bullying
https://www.insiden24.com 

* 31 Juli 2025, siswi di asrama sekolah Islam bunuh diri di Tanjungpinang

Siswi yang Diduga Gantung Diri Hafidzah 30 Juz, Sekolah di SMA As-Sakinah Tanjungpinang
https://ulasan.co

* 26 April 2025, santri bunuh diri di Bener Meriah, Aceh

Seorang Santriwati di Bener Meriah Ditemukan Meninggal Tergantung di Pesantren
https://www.ajnn.net 

26 October, 2025

Anak Yang “Bodoh” Mungkin Punya Masalah Dengan Matanya


Assalamu’alaikum wr.wb. Ada seorang anak SD yang cerdas dan cepat memahami sesuatu yang dijelaskan kepadanya, menurut anggota keluarganya. Tetapi anak laki-laki itu dicap “bodoh”, dan dianggap “lambat belajar” oleh guru kelasnya, jadi diyakini ada gangguan “cacat mental” yang membuatnya tidak bisa tangkap pelajaran di kelas. Guru itu suruh orang tuanya kirim anak itu ke SLB, karena dia dianggap beban bagi gurunya.

Saudaranya anak itu konsultasi dengan saya, lalu saya dapat kesan anak itu “normal” dan bisa berpikir dan diskusi secara baik. Yang menjadi masalah, dia tidak suka baca buku jadi belajar dan kerjakan PR menjadi sulit. Saya bertanya, apa pernah dicek matanya dan telinganya? Ternyata belum. Setelah dicek, diketahui MATANYA MINUS 5 !!! Jelas dia tidak akan bisa baca tulisan di papan tulis. Gurunya selalu tempatkan “anak bodoh” itu di belakang, agar tidak mengganggu, jadi anak dengan mata minus akan makin menderita. Apalagi dilarang pindah tempat duduk. 

Saya bertanya tentang guru itu. Dia PNS di SD negeri. Saya bisa paham kalau dia seorang guru honorer (dengan ilmu terbatas) di pelosok. Tetapi guru PNS yang profesional seharusnya punya ilmu pendidikan yang cukup, dan mau mencari akar masalah. Kalau ada anak “bermasalah” dan sulit belajar, selalu harus dimulai dengan pemeriksaan fisik. Guru tidak berikan petunjuk, orang tuanya tidak paham, dan anak itu tidak sanggup jelaskan apa yang dia rasakan. Hasilnya adalah anak cerdas malah dicap “bodoh” dan hanya bisa naik kelas karena pandai menghafal (daripada membaca). 

Berapa banyak anak mengalami gangguan serupa, dan menderita di kelas karena gurunya anggap anak itu “bodoh” dan tidak periksa matanya dulu? Jadi kalau ada orang lain yang menyatakan anak anda “bodoh” atau cacat mental, tetapi anda yakin tidak, tolong jangan percaya begitu saja. Ada banyak guru yang kurang profesional dan punya ilmu yang terbatas. Mereka dibayar untuk mendidik anak, tapi lebih inginkan yang mudah bagi dirinya. Jadi anak yang dianggap “tidak normal” dan sulit diatur mau dibuang dari kelasnya. Orang tualah yang harus protes dan cari informasi sendiri dari pihak lain.

Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
-Gene Netto

6 Pelajar SMP Karawang Perkosa Temannya: Direkam-Dilihatkan ke Orang Tua Korban

Sudah ada banyak tulisan di media tentang “generasi emas” dan “bonus demografi”. Katanya, jumlah pemuda di Indonesia sangat besar, jadi hal itu bisa membawa masa depan yang berjaya. Jumlah pemuda yang besar mungkin bermanfaat. Tetapi bagaimana kalau otaknya rusak? Berapa persen dari anak Indonesia punya IQ yang tinggi dan hati yang baik? Mayoritas? Kalau 70% dari 100 juta anak baik, berarti ada 30 juta anak yang rusak. Dan bagaimana kalau SEBALIKNYA?! Yaitu, ada 30 juta anak yang baik, tetapi ada 70 juta anak yang ber-IQ rendah, dan hatinya juga rusak?! Mereka akan melakukan apa di masa depan? Sekarang saja di usia remaja sudah jelas ada banyak remaja yang rusak, apalagi menjadi dewasa dan lebih bebas nanti. 

Berapa banyak anak yang bodoh, dan akhlaknya juga rusak? Berapa banyak yang sadis? Saya sudah baca ribuan artikel tentang kasus pemerkosaan bergilir. Dari semua remaja dan pemuda yang dapat tawaran “ikut perkosa anak perempuan”, ternyata 100% SETUJU. Tidak ada SATUPUN anak dalam puluhan tahun terakhir yang menolak tawaran itu, dan kabur cari bantuan, atau berusaha selamatkan korban. 

Dalam berita di atas, 6 anak remaja itu melakukan kejahatan secara bersamaan, merekam kejahatan itu, sebarkan ke medsos, sampai dikasih lihat kepada orang tua korban. Apa mereka tidak berpikir akan ditangkap dan masuk penjara? Akalnya tidak ada? Bagaimana mau menjadi generasi emas kalau otaknya rusak seperti ini? Dan siapa yang mau berusaha memperbaiki keadaan ini? Tidak cukup menambahkan ujian di sekolah, atau ganti buku teks. Masalah seperti ini hanya bisa diatasi kalau 100 juta orang tua bersatu dan menuntut perubahan pendidikan yang membangun generasi yang berakhlak baik dan juga cerdas. Diam saja, dan berharap “semoga bukan anak saya yang diperkosa”, bukan solusi. 
-Gene Netto 

6 Pelajar SMP Karawang Perkosa Temannya: Direkam-Dilihatkan ke Orang Tua Korban
https://kumparan.com
 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...