Seorang hakim bebaskan guru yang potong rambut siswa dan
disidangkan oleh orang tuanya siswa. Banyak guru langsung gembira, dan merasa
dibenarkan. Dalam kasus itu, guru sudah salah, dan orang tua lebih salah lagi.
Kl orang tua tidak senang, mau laporkan guru, silahkan. Ancam dan menyerang
guru salah sekali. Tapi dari awalnya, guru sudah salah. Memotong rambut siswa
dgn cara memalukan bukan bagian dari tugas guru. Tidak pernah ada dosen yang
ajarkan di Fakultas Pendidikan. Guru sendiri yang memutuskan utk lakukan hal
itu terhadap siswa. Itu bukan “bagian dari disiplin sekolah” spt yg dikatakan
oleh hakim. Itu bagian dari penyiksaan emosional terhadap siswa, dan salah.
Sampai sekarang, tidak pernah ada yang bisa berikan argumen
yang kuat ttg KENAPA guru harus potong rambut siswa secara paksa. Dan tahun 1960-80an,
rambut siswa tidak pernah menjadi masalah. Sepertinya hanya menjadi masalah
setelah Petrus (penembak misterius) yg mulai di tahun 1980an, dan rambut panjang
serta tato dianggap “tanda orang tidak benar, yang layak dibunuh tanpa sidang”.
Sepertinya sesudah itu, guru baru mulai razia rambut gondrong di sekolah. Dan
guru2 itu tetap tidak peduli pada rambut perempuan (silahkan gondrong dan tidak
rapi kl perempuan). Di dalam kasus Petrus, hanya laki-laki dgn rambut gondrong
yg dibunuh, perempuan tidak. Jadi para guru yg takut pada pemerintahan Soeharto
memilih utk diam dan taat, dan mulai pedulikan pada ukuran rambut siswa
laki-laki. Dan masih diteruskan sampai sekarang.

